Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar dari pingsan
“Aku tetap.”
Kalimat itu tidak bergema.
Tidak menggetarkan ruang.
Tapi terasa… mengunci sesuatu.
Bukan pada Li Wei.
Pada dirinya sendiri.
Dan tepat setelah itu
sesuatu berubah.
Bukan tiba-tiba runtuh.
Tidak pecah.
Tapi seperti lapisan tipis yang selama ini menahan dunia di sekelilingnya… mulai retak perlahan.
Cahaya lampion meredup.
Satu per satu.
Udara yang tadi hangat mulai terasa jauh.
Seperti ditarik mundur.
Kirana mengernyit.
Genggamannya masih ada dia masih merasakan tangan Li Wei.
Tapi sensasinya… mulai berbeda.
Lebih ringan.
Seperti memudar.
“Li Wei…”
Namanya keluar pelan, hampir seperti refleks.
Li Wei tidak bergerak.
Tatapannya tetap sama.
Tenang.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.
Bukan perubahan besar.
Hanya… penerimaan.
Seolah dia tahu ini akan terjadi.
Seolah ini bukan akhir.
“Jangan hilang lagi,” bisik Kirana.
Kali ini ada nada yang berbeda.
Bukan tuntutan.
Bukan paksaan.
Tapi… permintaan yang rapuh.
Li Wei tidak menjawab.
Dia hanya mengangkat tangannya sedikit
menyentuh sisi wajah Kirana.
Hangat.
Sama seperti sebelumnya.
Tapi lebih tipis.
Lebih jauh.
“Kalau kamu ingat,” katanya pelan, “aku nggak akan ke mana-mana.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang ingin dia pegang.
Tapi sebelum Kirana sempat merespons
suara lain masuk.
Tidak dari ruang itu.
Lebih kasar.
Lebih dekat.
“Kirana!!!!!!!”
Suaranya pecah.
Terpotong.
Tidak selaras dengan dunia di sekitarnya.
Kirana mengernyit.
Cahaya lampion berkedip.
Sekali.....
Dua kali.....
Lalu.....
hilang.
Pegangannya kosong.
Tiba-tiba.
Seperti tidak pernah ada.
Dingin langsung menggantikan.
Bukan dingin fisik.
Tapi kosong yang terlalu cepat.
“Kirana! Denger nggak sih”
Suara itu lebih jelas sekarang.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Kirana mencoba membuka mata.
Berat.
Seperti kelopak matanya dilapisi sesuatu yang menahan dari dalam.
“Nggak respon sama sekali dari tadi,” suara lain masuk. Lebih tenang. Tapi tegang.
“Gue bilang kan dia aneh dari pagi”
Cahaya masuk.
Terlalu terang.
Menusuk.
Kirana mengernyit keras sebelum akhirnya berhasil membuka mata sepenuhnya.
Langit-langit putih.
Lampu neon.
Bukan lampion.
Bau kopi.
Bukan dupa.
Dia berkedip beberapa kali.
Fokusnya belum sepenuhnya kembali.
Wajah muncul di atasnya.
Dekat.
Kabur di awal.
Lalu perlahan jelas.
“Risa…” suaranya serak.
Tenggorokannya kering.
Risa langsung menghela napas panjang.
“Anjir akhirnya sadar juga,” katanya, campuran lega dan kesal.
Di sampingnya, Wei berdiri dengan alis mengernyit.
“Tadi lo tiba-tiba diem di lorong, terus jatuh,” katanya singkat. “Kita kira lo pingsan doang, tapi udah hampir satu jam nggak bangun.”
Kirana tidak langsung menjawab.
Pikirannya masih tertinggal.
Bukan di kantor.
Di tempat lain.
Tangannya bergerak pelan.
Menyentuh udara kosong di sampingnya.
Seolah mencari sesuatu.
Tidak ada.
Kosong.
Dia menelan pelan.
Dadanya terasa… aneh.
Tidak sesak.
Tidak juga ringan.
Tapi seperti ada sesuatu yang baru saja hilang
dan masih menyisakan bekas.
“Lo bisa berdiri?” tanya Risa, lebih lembut sekarang.
Kirana mengangguk kecil.
Meski tubuhnya belum sepenuhnya stabil.
Wei mengulurkan tangan.
Kirana menerimanya.
Saat berdiri
kepalanya sedikit berputar.
Tapi tidak separah yang dia kira.
“Gue anter lo pulang aja,” kata Wei. “Nggak usah maksa kerja.”
Risa mengangguk setuju. “Iya, muka lo juga pucet banget.”
Kirana tidak membantah.
Dia hanya mengangguk pelan.
Seolah sebagian dari dirinya masih tidak sepenuhnya kembali.
Perjalanan pulang terasa… hening.
Bukan karena tidak ada suara.
Tapi karena Kirana tidak benar-benar mendengar.
Suara jalan.
Motor lewat.
Percakapan Risa dan Wei yang sesekali muncul
semuanya terasa jauh.
Seperti berada di balik lapisan tipis.
Tangannya tergeletak di pangkuan.
Diam.
Tapi sesekali
jarinya bergerak sedikit.
Refleks.
Seolah masih mengingat sesuatu yang tadi dia pegang.
Sampai akhirnya
mereka sampai di depan kos.
Wei membantu membuka pintu.
Risa masuk lebih dulu, memastikan jalan.
Kirana melangkah pelan.
Masuk ke ruang kecil yang familiar.
Terlalu familiar.
Tempat yang tadi terasa asing
sekarang kembali normal.
Tapi bukan berarti sama.
Dia duduk di tepi tempat tidur.
Diam.
Risa berdiri di depannya.
“Lo istirahat aja. Kalau masih aneh, kita ke dokter,” kalau ada apa- apa telpon kita ,katanya.
Wei mengangguk dari belakang.
Kirana hanya mengangguk pelan.
Tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian
mereka keluar.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Kali ini benar-benar sunyi.
Kirana menatap lantai.
Lalu perlahan
mengangkat tangannya.
Menatap telapak tangannya sendiri.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi,beberapa saat lalu…
ada yang menggenggamnya.
Kirana menutup matanya pelan.
Dan di antara keheningan itu
sesuatu masih tertinggal.
Bukan suara.
Bukan bayangan.
Tapi rasa.
Hangat.
Dekat.
Dan tidak benar-benar hilang.