"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Benang Merah Kematian
Baskara merasakan ketegangan yang meningkat di udara. Para penjaga berbadan besar di depan pintu akses staf mulai bergerak mendekat, mata mereka tajam menatap Arini yang baru saja muntah darah. Di mata mereka, keberadaan Arini dan Baskara bukan lagi tamu, melainkan ancaman yang harus segera disingkirkan.
"Tuan, sepertinya istri Anda membutuhkan penanganan medis segera. Biarkan staf kami membawa beliau ke ruang istirahat di belakang," ucap salah satu penjaga dengan suara berat yang dipaksakan sopan. Tangannya sudah berada di balik pinggang, bersiap meraih sesuatu.
Baskara menarik Arini ke belakang tubuhnya, sorot matanya sedingin es. "Tidak perlu. Saya akan membawa istri saya sendiri. Menyingkirlah."
"Maaf, Tuan. Ini demi keamanan pengunjung lain," penjaga itu melangkah maju, memblokade jalan keluar.
Di saat genting itu, Arini kembali mendengar bisikan Satria. Suaranya terdengar berat dan penuh tekanan, seolah ia sedang menahan sesuatu yang sangat besar dari luar gedung.
"Sekar... dengarkan aku. Kamu harus turun sekarang. Penjaga itu hanya pion manusia. Tapi di balik pintu itu, ada tangga menuju ruang bawah tanah. Di situlah tempat eksekusi itu berada... Aku tidak bisa masuk lebih jauh, energi penjaganya menolak keberadaanku, kekuatan dari keris ku hanya bisa untuk melihat apa yang ada didalam!"
Arini merasakan sensasi panas menjalar dari telinga hingga ke dadanya. Satria tidak bisa masuk, namun ia mengirimkan proyeksi energinya melalui bisikan yang mengarahkan indra Arini.
"Bas... pintu itu," bisik Arini parau, tangannya yang gemetar menunjuk ke arah pintu staf. "Kita harus masuk ke sana sekarang. Satria bilang itu jalan ke bawah."
Baskara tidak ragu. Ia tahu ini saatnya bertindak cepat sebelum mereka terkepung. "Pegang batu giokmu erat-erat, Rin."
Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, Baskara melakukan manuver tak terduga. Ia mendorong salah satu penjaga dengan bahunya dan melakukan tendangan lutut yang membuat penjaga lainnya terjajar. "Lari, Arini! Ke pintu itu!"
Arini berlari sekuat tenaga. Saat ia mencapai pintu staf, ia merasakan perlawanan gaib yang luar biasa. Pintu itu seolah membeku, terkunci oleh kekuatan hitam yang sangat pekat. Mika di dalam botol parfum memekik ketakutan.
"Rin! Pintu ini dikunci pakai tumbal! Nggak bisa dibuka pakai kunci biasa!" teriak Mika.
Arini teringat batu giok di tangannya yang masih bersinar redup. Ia menempelkan batu hijau itu ke gagang pintu. "Buka..." bisiknya dengan penuh penekanan.
CRACK!
Cahaya hijau dari giok itu merambat seperti akar, menghancurkan segel hitam yang menyelimuti pintu. Pintu itu terbuka dengan sendirinya, menampakkan sebuah lorong tangga yang gelap dan pengap, berbanding terbalik dengan kemewahan museum di atasnya.
Bau anyir darah yang luar biasa kuat langsung menyengat hidung Arini.
"Turunlah, Sekar... Ikuti benang merahnya," bisik Satria lagi, suaranya mulai menjauh.
Arini dan Baskara segera masuk dan mengunci pintu dari dalam, tepat sebelum para penjaga di luar berhasil mengejar. Mereka kini berada di tangga yang hanya diterangi lampu remang-remang.
Di mata batin Arini, tangga itu tidak kosong. Ada ribuan benang merah yang menjalar dari dinding ke arah bawah. Benang-benang itu bukan benang biasa, melainkan aliran energi kehidupan yang ditarik paksa dari para korban.
"Bas, kamu lihat benang-benang ini?" tanya Arini dengan napas tersengal.
"Aku tidak melihatnya, Rin. Tapi aku bisa mencium bau kematian di sini," jawab Baskara sambil mengeluarkan senter kecil dari sakunya. Tangannya yang lain tetap menggenggam tangan Arini. "Apapun yang ada di bawah sana, kita akan menghadapinya bersama."
Setiap anak tangga yang mereka turuni terasa seperti masuk ke dalam perut monster. Arini bisa merasakan kehadiran jiwa-jiwa yang terikat, namun mereka tidak bisa bicara. Mulut mereka seolah dijahit oleh benang merah yang sama.
"Kita hampir sampai," bisik Arini. "Aku bisa merasakan keberadaan Bella Luna. Dia... dia sedang dieksekusi sukmanya, Bas. Kita harus cepat!"
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣