Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Iblis Vs Amarah Naga
Episode 28
Suasana di dalam kubah Arena Maut kini terasa seperti di dalam kawah gunung berapi yang siap meledak. Udara tidak lagi sekadar dingin, melainkan terasa berat dan berbau amis belerang. Vance, yang kini sudah kehilangan akal sehatnya akibat ramuan Darah Iblis, berdiri dengan tubuh yang terus mengeluarkan uap hitam. Otot-otot lengannya membengkak hingga merobek zirah peraknya, dan kuku-kukunya memanjang menjadi cakar yang dialiri energi korosi.
"Reno... mati... KAU HARUS MATI!" raung Vance. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan geraman binatang buas yang bergema menyakitkan di telinga.
Vance menerjang. Kecepatannya meningkat tiga kali lipat. Langkah kakinya menghancurkan ubin batu hitam di bawahnya, menciptakan ledakan debu di setiap pijakan.
BAM!
Tombak listrik hitam milik Vance menghantam tempat Reno berdiri. Reno berhasil melompat mundur tepat waktu, namun gelombang kejut dari serangan itu melemparkannya hingga menabrak dinding arena.
"Ugh!" Reno meringis, merasakan tulang rusuknya bergetar hebat. "Nidhogg, dia bukan lagi manusia. Frekuensi energinya sudah menyatu dengan kegelapan arena ini."
"Reno, biarkan aku mengambil alih sedikit porsi jiwamu," Nidhogg menawarkan dengan suara yang dalam. "Jika kau hanya mengandalkan Arus Bumi, kau akan remuk sebelum sempat menyentuhnya. Darah Iblis itu adalah nutrisi kotor, tapi sangat padat. Aku akan menyerapnya langsung dari serangannya!"
"Lakukan, tapi jaga agar auranya tidak berubah menjadi warna merah naga. Tetaplah pada warna hitam!" perintah Reno.
Reno bangkit berdiri. Ia melepaskan ikat rambutnya, membiarkan rambut hitamnya terurai. Ia menarik napas panjang, bukan lagi pernapasan Arus Bumi yang tenang, melainkan teknik Pernapasan Naga Hitam yang baru saja diajarkan Nidhogg melalui kontrak jiwa.
Seketika, tato naga di tangan Reno merambat naik ke lehernya. Pupil matanya berubah menjadi vertikal seperti reptil.
Vance kembali menyerang. Kali ini ia tidak menggunakan tombak, melainkan cakarnya sendiri. Ia menebas udara, menciptakan lima garis energi hitam yang tajam meluncur ke arah Reno.
"Nidhogg, Bentuk Cambuk!"
Nidhogg memanjangkan tubuhnya menjadi sekitar dua meter. Ia tidak lagi melingkar di bahu, melainkan digenggam oleh Reno seperti sebuah cambuk hitam yang bersisik tajam.
CRAAAK!
Reno mengayunkan Nidhogg. Cambuk hitam itu berbenturan dengan cakaran energi Vance, menciptakan percikan api ungu yang menerangi kegelapan arena. Hebatnya, Nidhogg tidak hanya menangkis, tapi ia juga memakan energi hitam yang dilepaskan Vance.
"Apa?! Kau... kau menyerap energiku?!" Vance berteriak gila. Ia melompat ke udara, kakinya menendang dinding untuk menambah momentum, dan menukik ke arah Reno seperti meteor hitam.
"Vibrasi Tanah: Langkah Penghancur!"
Reno tidak menghindar. Ia memusatkan seluruh energi mental dan fisiknya ke kaki kanannya. Saat Vance hampir mencapainya, Reno menghentakkan kakinya ke lantai batu dengan kekuatan penuh.
BOOM!
Lantai batu hitam itu meledak, menciptakan bongkahan-bongkahan batu raksasa yang melayang ke udara akibat gelombang kejut. Vance kehilangan keseimbangannya di udara karena ledakan tersebut.
Di saat itulah Reno beraksi. Ia menggunakan bongkahan batu yang melayang sebagai pijakan, melompat dari satu batu ke batu lain dengan kelincahan yang mustahil dimiliki murid tingkat pertama.
"Sekarang, Nidhogg! Segel Jiwa!"
Reno muncul tepat di atas Vance. Ia melilitkan Nidhogg ke leher Vance. Nidhogg mengeluarkan aura hitam yang sangat pekat, langsung menyerang pusat saraf mental Vance.
"ARGGHHHHH! KEPALAKU! KELUAR DARI KEPALAKU!" Vance meronta ronta di udara sebelum akhirnya keduanya jatuh menghantam lantai arena dengan keras.
DUAAR!
Debu tebal menutupi seluruh pandangan di dalam kubah. Penonton di luar tribun berdiri dalam ketegangan. Master Gandos dan Tuan Malaka bahkan sampai mendekat ke tepi pagar energi, mencoba melihat apa yang terjadi di balik debu hitam tersebut.
"Siapa yang menang? Siapa yang bertahan?" bisik para murid dengan nada cemas.
Di dalam debu, Reno berdiri dengan napas yang teratur namun berat. Bajunya sudah compang-camping, memperlihatkan luka-luka goresan di dadanya. Namun, matanya tetap jernih. Di depannya, Vance tergeletak tak berdaya. Tubuhnya kembali ke ukuran normal, namun kulitnya pucat pasi dan ia pingsan dengan mata terbuka tanda bahwa jiwanya baru saja menerima guncangan hebat.
"Reno... energinya lezat sekali," Nidhogg kembali merayap ke bahu Reno, ia terlihat sangat puas. "Aku sudah menyimpan fragmen energinya. Ini akan membantuku menstabilkan bentuk zirah ku."
"Cukup, Nidhogg. Masuk kembali ke persembunyianmu," bisik Reno.
Reno kemudian berakting kembali. Ia jatuh berlutut, memegangi lengannya yang terluka, dan membiarkan Nidhogg terlihat lemas di sampingnya. Ia tidak ingin orang menganggap kemenangan ini terlalu mudah.
Tiba-tiba, kubah energi ungu itu retak dan hancur berkeping keping. Sinar matahari kembali masuk ke arena, menerangi kerusuhan yang terjadi di dalamnya.
Master Gandos melompat masuk ke arena, diikuti oleh tim medis. Mereka segera memeriksa Vance yang sudah kritis.
"Dia masih hidup, tapi energinya habis total," ucap petugas medis dengan nada ngeri. "Ini adalah efek samping dari Darah Iblis."
Master Gandos menatap Reno yang sedang dibantu berdiri oleh Lani dan Dito yang berlari masuk ke arena. "Reno... kau berhasil mengalahkannya dalam kondisi dia menggunakan ramuan terlarang?"
Reno mengangguk lemah. "Saya hanya mencoba bertahan hidup, Master. Saya rasa... dia terlalu memaksakan diri sehingga binatangnya berbalik menyerangnya."
Tuan Malaka yang berada di podium VIP tampak sangat murka. Wajahnya merah padam. Rencananya untuk menyingkirkan Reno justru berbalik menjadi panggung bagi Reno untuk menunjukkan kekuatannya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa di depan publik yang kini bersorak sorai memanggil nama Reno.
"RENO! RENO! RENO!"
Suara gemuruh di stadion itu sangat luar biasa. Dari si penjinak cacing yang diolok olok, Reno kini menjadi pahlawan bagi murid-murid kelas bawah. Ia telah membuktikan bahwa dengan kecerdikan dan keberanian, seorang anak petani bisa menjatuhkan bangsawan yang menggunakan cara kotor.
Instruktur Raka berdiri di kejauhan, memberikan anggukan kecil pada Reno. Reno tahu, rahasianya tetap aman bersamanya untuk sementara.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Reno merasakan sebuah tatapan yang sangat tajam dari tribun khusus keluarga kerajaan. Di sana, duduk seorang pria muda dengan pakaian yang sangat megah, memegang sebuah tongkat emas. Pria itu menatap Reno bukan dengan rasa kagum, melainkan dengan minat yang sangat berbahaya seperti seorang kolektor yang baru saja menemukan barang antik yang unik.
"Reno, perhatikan pria itu," Nidhogg memperingatkan. "Auranya jauh di atas Raka. Dia memiliki aura kekaisaran yang sangat kuat."
Reno menyipitkan mata. Pangeran? Atau mungkin putra mahkota?
Petualangannya di akademi ini ternyata baru saja membuka pintu menuju politik tingkat tinggi kerajaan. Menang di 32 besar bukan hanya berarti maju ke babak berikutnya, tapi juga berarti ia baru saja masuk ke radar orang-orang paling berkuasa di negeri ini.
"Reno, kau hebat!" Lani menangis bahagia sambil memegang tangan Reno. "Aku benar-benar takut kau tidak akan keluar hidup-hidup dari sana."
"Aku janji padamu, Lani. Aku tidak akan mati sebelum aku bisa mengajakmu makan enak di kota sebagai perayaan," ucap Reno sambil tersenyum tipis.
Reno dibawa ke tenda medis untuk mendapatkan perawatan. Sepanjang jalan, ia berpikir tentang babak 16 besar besok. Jika Vance saja sudah sekuat ini, apa yang menunggunya di depan? Dan yang lebih penting, ia harus mencari tahu siapa organisasi Gerhana Hitam ini sebenarnya sebelum mereka mengirimkan pembunuh yang lebih kuat darinya.
Di kehidupan lamanya sebagai Arka, ia selalu berkata bahwa bisnis adalah perang. Di dunia ini, ia menyadari bahwa perang adalah satu-satunya bisnis yang ia jalani setiap hari.
Malam itu, Reno beristirahat di bawah pengawasan ketat instruktur. Namun, di dalam mimpinya, ia melihat bayangan naga raksasa yang memanggilnya dari kegelapan. Fragmen jiwa di dalam Nidhogg tampaknya mulai bereaksi dengan kemenangan Reno, membawa ingatan-ingatan kuno yang akan segera mengubah nasibnya sekali lagi.
Turnamen Tengah Semester masih berlanjut, tapi legenda Reno sudah mulai tertulis dengan tinta emas di hati setiap orang yang melihatnya hari ini.