Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: GERBANG NERAKA DAN DARAH YANG MEMANGGIL
Menara hitam yang terbalik itu tampak seperti taring raksasa yang mencoba merobek langit dari bawah. Penjara Dasar Langit bukan sekadar penjara; itu adalah sebuah dimensi saku yang dibangun di atas pusaran energi negatif. Badai petir hitam yang melingkarinya bukan berasal dari alam, melainkan hasil dari Formasi Sembilan Kematian yang dirancang untuk menghancurkan jiwa siapa pun yang mencoba mendekat.
Han Jian berdiri di tepian tebing pulau melayang, menatap menara tersebut. Di belakangnya, ribuan murid Sekte Tulang Langit mengepung dengan senjata terhunus, namun tak satu pun dari mereka berani maju setelah melihat nasib Tetua Mei yang kini pingsan dengan wajah tertanam di reruntuhan marmer.
"Berhenti, Han Jian!" sebuah suara berat menggelegar dari kejauhan.
Tiga sosok pria tua dengan jubah emas mendarat serentak. Mereka adalah Tiga Tetua Agung Sekte—penguasa tertinggi di bawah Sang Master Sekte. Aura mereka begitu padat hingga udara di sekitar Han Jian terasa membeku.
"Kau memiliki bakat yang mengerikan, putra Han Shuo," ucap Tetua Agung Pertama, seorang pria dengan janggut putih panjang yang memancarkan aura tahap Transformasi Jiwa tingkat puncak. "Namun, masuk ke Penjara Dasar Langit adalah pengkhianatan tingkat tinggi. Menyerahlah sekarang, dan kami akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu hidup sebagai pelayan sekte."
Han Jian tertawa, suara tawanya memecah keheningan yang mencekam. "Pelayan? Kalian menjebak ayahku, merantai kehormatannya, dan sekarang kalian memintaku menjadi pelayan? Kalian benar-benar sudah terlalu lama duduk di kursi tinggi hingga lupa bagaimana rasanya menginjak bumi."
Han Jian mengangkat Tombak Pemutus Takdir. Cahaya emas mulai merambat dari sumsum tulangnya, keluar melalui pori-pori kulit, dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga ia tampak seperti dewa perang yang baru bangkit dari tungku api surgawi.
"Hari ini, aku tidak datang untuk bernegosiasi. Aku datang untuk menjemput ayahku, dan siapa pun yang menghalangi jalan ini... akan menjadi bagian dari puing-puing sekte ini!"
Tepat saat Han Jian bersiap untuk melompat, sebuah ledakan asap hitam muncul di sampingnya. Dari dalam asap itu, muncul dua sosok berjubah abu-abu dengan topeng perak. Salah satu dari mereka membisikkan sesuatu yang membuat Han Jian menunda serangannya.
"Tuan Muda, jangan menyerang langsung. Formasi Sembilan Kematian akan menghancurkan fisikmu dalam sekejap jika kau tidak memiliki kunci frekuensi energinya," bisik salah satu dari mereka.
"Siapa kalian?" tanya Han Jian waspada.
"Kami adalah Sisa-Sisa Fraksi Jenderal. Kami tetap setia pada Han Shuo meski sekte ini mengkhianatinya. Ikuti kami, ada jalur rahasia melalui 'Saluran Pembuangan Jiwa' yang akan membawamu langsung ke lantai dasar tanpa memicu formasi luar."
Han Jian menatap mata orang bermasker itu. Ia merasakan kejujuran yang pahit di sana—kejujuran orang-orang yang telah ditekan terlalu lama. Ia melirik ke arah Tiga Tetua Agung yang mulai merapal mantra besar.
"Cepat! Kita tidak punya waktu!"
Han Jian mengangguk. Dengan satu gerakan cepat, ia mengikuti kedua sosok itu melompat ke dalam jurang di bawah tebing. Para murid sekte berteriak kaget, mengira Han Jian mencoba bunuh diri. Namun, di tengah terjun bebas itu, salah satu sosok berjubah melempar sebuah jimat yang membuka celah dimensi kecil di dinding tebing.
Mereka mendarat di sebuah lorong yang gelap, lembap, dan berbau karat. Suara jeritan yang menyayat hati terdengar sayup-sayup dari balik dinding batu. Inilah Saluran Pembuangan Jiwa, tempat di mana energi sisa dari para tahanan yang disiksa dibuang.
"Nama saya adalah Ling, kapten unit pengintai ayahmu dulu," ucap sosok berjubah itu sambil membuka topengnya, menyingkapkan wajah seorang wanita dengan bekas luka bakar di pipinya. "Jenderal Han Shuo tidak mencuri Inti Sumsum Surgawi. Dia justru menemukannya dan ingin membagikannya agar semua murid bisa berkultivasi tanpa ketergantungan pada sumber daya elit dewan tetua. Itulah alasan mereka menjebaknya. Mereka takut kehilangan kendali."
Han Jian mengepalkan tangannya. "Di mana dia sekarang?"
"Lantai terendah. Lantai Kesembilan. Tempat itu disebut 'Ruang Keheningan Abadi'. Dia dirantai dengan Paku Penembus Tulang yang terus-menerus menyerap energinya agar dia tidak bisa memulihkan kekuatannya."
Mendengar kata "Paku Penembus Tulang", aura Han Jian meledak hebat hingga dinding lorong retak. Paku itu adalah senjata kejam yang menghancurkan tulang secara perlahan. Bagi seorang kultivator yang bergantung pada kekuatan fisik dan tulang, itu adalah siksaan paling mengerikan.
"Bawa aku ke sana. Sekarang!"
Mereka bergerak cepat menembus labirin bawah tanah. Han Jian menghancurkan setiap penjaga yang mereka temui dengan kecepatan yang mengerikan. Ia tidak lagi menggunakan teknik; ia hanya menggunakan tinjunya. Setiap pukulan emasnya menembus zirah penjaga seolah-olah itu hanya terbuat dari kertas.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah pintu raksasa yang terbuat dari besi meteorit. Di balik pintu itu, tekanan energinya begitu berat hingga Ling dan rekannya harus berlutut, tak kuat menahan beban.
"Ini adalah lantai kesembilan. Kami tidak bisa melangkah lebih jauh. Tekanan di dalam hanya bisa ditahan oleh seseorang dengan struktur tulang sepertimu, Tuan Muda," ucap Ling dengan napas tersengal.
Han Jian mengangguk. Ia menendang pintu meteorit itu hingga hancur berkeping-keping.
Di dalam ruangan yang gelap dan dingin, hanya ada satu sumber cahaya: pendaran Qi perak yang meredup dari sesosok pria yang tergantung di tengah ruangan. Kedua tangan dan kakinya dipaku ke dinding dengan pasak hitam yang mengeluarkan asap ungu.
Han Jian berjalan mendekat, langkah kakinya bergetar. "Ayah...?"
Pria itu perlahan mengangkat kepalanya. Rambutnya putih panjang dan berantakan, wajahnya kurus kering, namun matanya—mata yang sama dengan Han Jian—masih memancarkan kilatan tajam yang tak kunjung padam oleh siksaan.
"Jian-er...?" suara Han Shuo serak, seolah-olah ia sudah bertahun-tahun tidak berbicara. "Kau... kau datang? Dan... tulang itu... kau benar-benar berhasil mencapai tahap Emas?"
Han Jian berlutut di depan ayahnya, air mata yang selama enam belas tahun tertahan kini mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Ayah. Aku terlambat."
"Tidak..." Han Shuo tersenyum lemah, sebuah senyum penuh kebanggaan. "Kau datang tepat waktu. Tapi dengarlah... penjara ini adalah jebakan. Dewan Tetua tahu kau akan datang. Mereka sengaja membiarkanmu masuk agar mereka bisa memanen Tulang Emas Abadi milikmu untuk menghidupkan kembali 'Dewa Kuno' mereka."
Tiba-tiba, tawa dingin bergema dari segala penjuru ruangan. Pintu yang hancur tadi tertutup kembali oleh energi hitam yang sangat pekat.
"Tepat sekali, Han Shuo. Kau selalu terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri," suara itu berasal dari Master Sekte Tulang Langit yang tiba-tiba muncul dari bayang-bayang. Ia adalah pria muda dengan wajah cantik namun mematikan, memegang tongkat yang terbuat dari tulang naga asli.
"Selamat datang, Han Jian. Terima kasih telah membawakan 'bahan' terakhir yang kami butuhkan untuk menguasai Dunia Atas ini."
Han Jian berdiri perlahan. Ia menyeka air matanya dan memutar tombaknya. Aura emasnya kini tidak lagi hanya bersinar, tapi membakar. Ia bisa merasakan setiap inci sumsum tulangnya berdenyut dengan kemarahan yang bisa meruntuhkan langit.
"Kau ingin tulangku?" Han Jian menatap Master Sekte dengan tatapan yang membuat sang Master sekilas merasa merinding. "Ambillah... jika kau sanggup menahan beban dari seluruh kebencian yang kupikul selama ini!"
Pertempuran puncak antara Kaisar Tulang Emas dan Penguasa Dunia Atas baru saja meledak di kedalaman neraka paling gelap.