Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Operasi
Kara tidak peduli dengan panggilan Sarah yang ingin tumpangan untuk pulang, dia meninggalkan Rumah Sakit tanpa menoleh.
Sedangkan Sisil sudah kembali ke ruangan Ibunya, dia sangat senang melihat Kara mengabaikan Sarah, bahkan mengumpatnya karena tidak tau diri.
Di malam hari, Kara juga menceritakan kepada Tama apa yang dia lakukan seharian, meski sudah tahu, Tama tetap mendengarnya dengan penuh perhatian.
Kara menceritakan kehidupan Sisil yang sulit beberapa tahun terakhir, sampai dia dipecat karena sering absen di kantor.
"Kapan Tante Mira kecelakaan?" tanya Tama.
"Katanya sekitar enam bulan yang lalu, atau mungkin sudah tujuh bulan!" balas Kara.
Alis Tama mengerut, dia merasa ini sangat kebetulan. "Bukankah dilaporan penyelidikan, Sarah ada menyewa seseorang untuk membuat orang celaka?"
"Ya. Aku juga membacanya. Maksudmu bisa jadi orang itu yang menabrak Tante Mira?" Tanya Kara seraya menebak.
"Masih perlu diselidiki, disitu tidak tertulis kejahatan apa yang dilakukan orang itu!" jelas Tama.
Nafas Kara sudah memburu, dia teringat perkataan Sarah yang mengetahui jika Ibu Sisil sedang dirawat.
"Jika dia pelakunya! Maka dia juga harus mengalami hal yang sama!" kata Kara dengan geram.. Tapi dia heran, Kenapa Sarah begitu membenci Sarah?
"Hmm, aku akan meminta seseorang untuk menyelidikinya!" Tama juga bersedih mendengar kondisi Ibunya Sisil.
"Terima kasih!" Kara memeluk Tama dari samping, karena posisi mereka sedang duduk bersebelahan.
Tama mengusap kepalanya dan berkata. "Kita sudah saling kenal sejak kecil. Tante Mira juga sangat baik sama kita.!"
"Ya.!" balas Kara sambil mengangguk. Mereka sering bermain di rumah Sarah jika hari libur. Dan Ibu Sarah menyambut mereka dengan ramah. Melayani mereka seperti anak kandung sendiri.
...----------------...
Kara menuju Rumah Sakit, hari itu adalah jadwal operasi Ibunya Sisil. Dia datang sedikit terlambat, karena Kara memasak untuk makan siang Tama terlebih dahulu.
Padahal Tama meminta Koki saja yang memasak, tapi Kara menolak. Karena dia juga ingin membawa makanan untuk Sisil.
Dari jauh, Kara sudah melihat Sisil sedang duduk di depan ruang operasi. Pandangan Sisil hanya tertuju pada lampu yang masih menyala.
Sisil menoleh saat mendengar langkah kaki, dia sangat terkejut melihat kedatangan Kara. Dia beranjak dan langsung memeluknya, dia menangis, dia takut operasinya gagal, dan Ibunya pergi meninggalkannya seorang diri.
Kara juga tak kuasa menahan tangisnya, "Semuanya pasti baik-baik saja!" suaranya tersendat.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Sisil selama ini menjaga Ibunya seorang diri, menunggu dengan perasaan khawatir di depan ruang operasi.
Tidak ada yang menemaninya, tidak ada yang membantunya. Dia sendiri, ke sana kemari meminjam uang.
"Maaf aku terlambat!" Kata Kara sambil menuntun Sisil untuk duduk kembali.
Sisil sebenarnya tidak tahu jika Kara ingin datang, "Kamu datang saja aku sudah sangat bersyukur!"
"Sudah berapa jam?" tanya Kara.
Sisil mengusap sisa air mata di sudut matanya, "Sudah satu jam lebih!" Balas Sisil sambil menghela nafas.
Kara sebenarnya ingin memintanya untuk makan terlebih dahulu, tapi Sisil pasti menolak. Mana mungkin dia bisa makan, sedangkan Ibunya sedang berjuang di dalam sana.
Akhirnya mereka berdua duduk dengan perasaan campur aduk. Berdoa agar operasinya berjalan lancar.
***
Satu jam berlalu, akhirnya lampu indikatornya mati. Sisil dan Kara langsung beranjak dan menunggu Dokter keluar dengan perasaan was-was.
Klek
Pintu terbuka, Dan keduanya tertegun melihat Dokter itu. Tapi itu urusan nanti, yang lebih utama kondisi Ibu Sisil.
"Dok, bagaimana operasinya?" tanya Sisil dengan badan gemetar.
"Semuanya berjalan lancar, pasien masih dalam pemantauan, nanti akan dipindahkan ke ruang rawat inap!" balas sang Dokter.
"Terima kasih Dok!" kata Sisil dengan haru, dia kembali memeluk Kara dan menangis tersedu-sedu.
"Ya. Sama-sama!" Dokter berpamitan dan kembali ke ruangannya.
Kara juga sangat bahagia, dia akhirnya menghela nafas lega. Keduanya masih tetap menunggu, sampai Ibu Sisil dipindahkan.
Setelah semua baik-baik saja, Sisil baru berani mendekat, dia melihat Ibunya yang sudah bangun dan menatapnya sambil tersenyum.
Sisil sangat ingin memeluk Ibunya, tapi dia takut Ibunya banyak gerak dan membuat bekas jahitannya sakit.
"Jangan menangis! Ibu baik-baik saja!" katanya dengan mata berkaca-kaca.
Sisil menghapus air matanya, "Aku hanya bahagia, Ibu bisa melewati semuanya!" jelas Sisil sambil memegang tangan Ibunya.
"Ya, Ibu pasti akan cepat pulih. Maaf sudah merepotkanmu selama ini,!" Dia tidak Tahu di mana lagi Anaknya meminjam biaya operasi.
"Hmm jangan bahas lagi! Ibu istirahatlah kembali. Aku akan menjaga di ruang tamu!" ujar Sisil.
"Baik!" kata Tante Mira dengan patuh, dia memejamkan matanya saat Sisil sudah keluar dari kamar.
Sisil menghampiri Kara yang sedang menunggunya di ruang tamu. Kara belum siap bertemu dengan Tante Mira.
Apalagi di kehidupan pertamanya, Tante Mira meninggal karena Kara sebagai orang dekatnya malah mengusir Sisil saat datang meminta bantuan.
"Ayo makan! Kamu tadi bilang belum makan sejak pagi, dan sekarang sudah jam 2 siang.!" Kara menata makanan yang dia bawa satu persatu.
"Kar terima kasih!" Sisil duduk sambil memandangi makanan enak yang dibawa Kara.
Dia tidak tahu kapan terakhir kali makan dengan menu yang lengkap. Untuk menghemat pengeluaran, terkadang Sisil berpuasa, dan makan malam di tempat kerja.
"Ya. Makanlah.!"
"Kamu tidak makan?" tanya Sisil yang melihat Kara malah ngemil makanan ringan.
"Aku masih kenyang, tadi sebelum OTW aku makan dulu!" Balas Kara.
Sisil mengangguk, dia tidak sungkan lagi. Akhirnya dia makan dengan lahap, beban dihatinya terasa jauh lebih ringan.
Kara tidak sanggup melihatnya, dia beranjak dan menuju kamar mandi. Dia menangis, hatinya sakit melihat kondisi sahabatnya itu.
Kara membasuh wajahnya dan menggunakan mekup yang tersedia di tasnya. Setelah beberapa menit, dia baru keluar dari kamar mandi.
Dia melihat Sisil yang baru saja makan, kemudian Kara berpamitan, dan berjanji akan datang besok pagi.
Sisil mengucapakan terima kasih sekali lagi, dan memintanya untuk tidak memaksakan diri untuk datang jika dia ada urusan yang lain.
...----------------...
"Apa? Kara menyita rumahmu? Jadi sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Sarah dengan terkejut mendengar cerita Arka.
Saat ini keduanya berada di Restoran Sepupu Arka. Dan dia baru menceritakan kenapa beberapa hari yang lalu dia tidak datang ke Rumah Sakit.
"Aku sementara tinggal di Mess karyawan Restoran!" kata Arka dengan wajah masam.
Wajah Sarah mengerut, dia tak menyangka Kara begitu tega sampai rumah pun disita. "Dia Kanapa sih?"
"Kayaknya dia tahu sesuatu!" tebak Arka. Karena orang yang disewa Sepupunya tidak menemukan ada orang lain disisi Kara, berarti tidak ada yang menghasutnya.
Tubuh Sarah menegang. "Maksudmu, kecelakaan itu?"
"Yaa."
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍