Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Pria Bertelanjang Dada
Matahari bersinar terik memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan Sungai Roh Azure. Deburan air terjun raksasa yang jatuh dari puncak gunung terdengar bagaikan raungan naga purba yang marah. Di tepi sungai yang dangkal tersebut, puluhan calon murid sedang berkumpul, sebagian berlatih menahan napas, sebagian lagi hanya duduk bermeditasi menahan tekanan gravitasi yang mulai terasa memberatkan.
Langkah Li Fan, Jin Tianyu, dan Lei Bao memecah konsentrasi orang-orang di sekitar. Ketiga sosok ini memiliki aura yang sangat kontras namun entah mengapa terlihat sangat harmonis saat berjalan berdampingan. Begitu tiba di tepi sungai berbatu, Li Fan berhenti sejenak. Tanpa ragu, ia melepaskan sabuk sutranya dan melucuti jubah putih mewahnya, menyisakan celana panjang berbahan linen halus.
Tindakan spontan itu langsung memicu reaksi luar biasa dari para calon murid perempuan yang berada di sekitar sana. Meskipun usia Li Fan baru menginjak sepuluh tahun, namun berkat kultivasi Nadi Surgawi Sembilan Putaran yang terus menyempurnakan fisiknya secara pasif, proporsi tubuhnya tumbuh dengan sangat ideal dan sempurna. Kulitnya seputih giok berkualitas tinggi, bahunya tegap, dan di perutnya terdapat pahatan massa otot yang ramping namun terlihat sangat padat dan bertenaga.
Ditambah dengan wajahnya yang tampan, alis yang tegas bagaikan pedang, dan mata hitam pekat yang dalam, pesona Li Fan bagaikan racun memabukkan bagi gadis-gadis remaja di sana. Apalagi dengan efek cahaya matahari siang yang menembus embun air terjun, menciptakan bias pelangi melingkar tepat di belakang tubuh Li Fan. Visualnya saat itu benar-benar terlihat seperti dewa muda yang baru saja turun dari kahyangan.
“Astaga pencipta langit... apakah dia benar-benar baru berusia sepuluh tahun? Tubuhnya terlihat seperti pahatan seniman agung,” bisik seorang gadis berseragam merah muda sambil menutupi wajahnya dengan lengan baju, memerah malu hingga ke telinga, namun matanya tetap mencuri pandang melalui celah jari-jari.
“Tuan Muda Ma benar-benar sempurna. Jika dia bersedia, aku rela menjadi pelayan pencuci kakinya seumur hidup,” sahut gadis lain di sebelahnya dengan napas tertahan.
Mendengar pujian yang tidak ditutup-tutupi itu, beberapa calon murid pria mendengus kesal. Wajah mereka berkerut penuh rasa iri yang membakar hati.
“Cih, dasar pamer. Dia pikir ini kontes kecantikan? Bertelanjang dada tidak akan menyelamatkannya dari hantaman air terjun. Tunggu saja sampai tulang rusuknya remuk ditekan gravitasi,” gerutu seorang pemuda berwajah panjang yang sejak tadi gagal mendekati pusat air terjun.
“Benar. Dia hanya mengandalkan wajah. Sebentar lagi kita akan melihat Tuan Muda Hebei ini menangis memanggil ibunya,” timpal temannya dengan senyum sinis.
Tidak ingin kalah dari tuan mudanya, Jin Tianyu dan Lei Bao yang berdiri tegak di belakang Li Fan juga ikut melepaskan baju bagian atas mereka. Jin Tianyu memamerkan tubuh bongsornya yang kini tidak lagi dipenuhi lemak, melainkan otot-otot tebal sekeras batu karang. Sementara itu, Lei Bao memperlihatkan dada bidangnya yang dipenuhi bekas luka pertarungan masa lalu, memancarkan aura maskulinitas yang liar dan buas.
Formasi ketiganya yang berjalan bertelanjang dada menyusuri sungai langsung menjadi pembicaraan hangat dan tontonan utama. Ketiganya cukup terkenal di Pos Kedua dengan reputasi masing-masing. Tuan Muda Pemalas yang misterius, si Pengawal Rakus yang sangat kuat, dan mantan Raja Murid Gagal yang jatuh dari takhtanya.
Li Fan mengabaikan semua tatapan lapar dari para gadis dan bisikan gosip iri dari para pria. Ia melangkah maju menembus sungai dangkal, berjalan lurus menuju hantaman air terjun utama. Semakin dekat ia melangkah, tekanan udara di sekitarnya semakin berat, menghantam pundaknya bagaikan batu tak kasatmata. Namun, langkah Li Fan tetap ringan dan anggun. Ia tidak perlu menggunakan teknik apapun, fisik alaminya sudah cukup untuk menahan beban tersebut.
Jin Tianyu juga tidak terlihat kesusahan sama sekali. Otot-ototnya menegang sesaat, beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan gravitasi. Apalagi Lei Bao, area ini seolah sudah menjadi rumah keduanya, ia berjalan seolah tidak ada beban yang menahannya.
Setelah jarak mereka cukup dekat dengan pusaran air di bawah air terjun, Li Fan berhenti. Ia menoleh ke arah dua pengawalnya dengan tatapan yang tajam.
“Minum ramuan yang kuberikan tadi, sekarang. Lalu duduk bermeditasi tepat di bawah hantaman air terjun itu. Biarkan air memukul tulang kalian sementara ramuan itu memurnikan meridian kalian dari dalam,” perintah Li Fan dengan tegas. “Dan ingat, jika kalian berteriak kesakitan dan membuatku malu, aku akan menendang kalian berdua ke dasar sungai.”
“Baik, Tuan Muda!” seru Jin Tianyu dan Lei Bao serempak.
Tanpa banyak bicara, keduanya meneguk habis Cairan Pemurni Nadi Emas di dalam botol giok mereka. Seketika, kulit mereka berubah menjadi kemerahan bagaikan besi yang dibakar di dalam tungku. Uap tipis mulai mengepul dari pori-pori kulit mereka, membawa aroma obat yang sangat kuat bercampur dengan bau kotoran yang berhasil dipaksa keluar dari meridian mereka. Keduanya melompat ke atas batu besar dan duduk bersila tepat di bawah guyuran berton-ton air yang jatuh dari langit.
Li Fan juga ikut mencobanya. Ia melangkah perlahan dan duduk di atas batu yang letaknya paling dekat dengan pusat air terjun. Hantaman air itu begitu kuat, rasanya seperti ribuan gada besi memukuli kepalanya secara bersamaan. Namun, bagi Li Fan, sensasi itu justru mengecewakan.
“Ini sungguh membosankan. Rasanya seperti dipijat oleh pelayan tua yang kelelahan dan kurang tenaga,” gumam Li Fan di dalam hatinya. Nadi Surgawi Sembilan Putaran di dalam tubuhnya secara otomatis berputar, menyerap tekanan itu dan menetralkannya menjadi energi murni seketika.
Bagi Li Fan, melakukan meditasi di bawah air terjun pembunuh ini sama mudahnya dengan berjalan kaki santai di taman bunga kediamannya di Hebei.
Ketiganya duduk bermeditasi dalam diam, tidak terpengaruh oleh dunia luar. Tanpa mereka sadari, aksi nekat itu telah membuat keributan yang jauh lebih besar di kalangan calon murid. Bertahan di bawah air terjun utama adalah ujian tersulit, dan kini ada tiga orang gila yang melakukannya bersama-sama dengan ekspresi wajah yang tenang.
“Mustahil! Bagaimana bisa anak sekecil itu menahan pusat air terjun tanpa menggunakan perisai Qi?” teriak pemuda berwajah panjang tadi, matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. Semua pria yang tadi mengejek kini hanya bisa menelan ludah dengan wajah pucat pasi.
Bahkan, dari kejauhan, Han Yu sang murid dalam berseragam biru muda yang sedang bertugas menjaga keamanan, tampak sangat tertarik. Pria yang selalu bermata layu itu kini duduk bersila di atas cabang pohon tinggi, menopang dagunya sambil menonton pemandangan langka tersebut dengan senyum tipis yang penuh minat.
“Aroma obat apa ini? Sangat murni dan kuno,” gumam Han Yu sambil mengendus udara. Matanya yang malas kini memancarkan seberkas cahaya tajam ke arah Li Fan. “Anak nakal dari Hebei ini... apa sebenarnya yang dia berikan pada dua monster berotot itu? Sepertinya Pos Kedua tidak akan membosankan lagi tahun ini.”
Cerdas...
Lucu...