NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Penjara Wanita

Jessica duduk diam di ruang pertemuan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya, Jeff Zhou—pamannya sendiri.

"Jessica, bagaimana kabarmu? Kau terlihat sangat kurus. Apa kau tidak makan dengan baik? Paman akan membawakan makanan kesukaanmu nanti," ucap Jeff dengan nada khawatir.

Jessica menunduk. Wajahnya pucat, matanya kosong.

"Aku tidak berselera makan, Paman. Hidupku rasanya sudah tidak berarti lagi. Aku akan dihukum mati… dan mati sia-sia," jawab Jessica lirih.

Jeff menghela napas panjang.

"Jessica, paman percaya padamu. Sejak kecil kau adalah anak yang paling penurut dan tidak pernah melawan. Jangankan membunuh orang, memotong ikan hidup saja kau tidak tega."

Mata Jessica mulai berkaca-kaca.

"Paman… tolong carikan aku kebenaran. Aku tidak mau Papa dan Mama menjadi korban sia-sia. Dalam situasi seperti ini, hanya Paman yang bisa aku percaya. Kakakku sama sekali tidak mempercayaiku. Mereka menganggapku sebagai pembunuh."

Jeff menatap keponakannya dengan wajah berat. "Nico dan Catty langsung percaya pada kejadian itu tanpa mencari kebenaran. Mereka bahkan tidak peduli padamu, dan dengan cepat mengambil alih posisi ayahmu di perusahaan."

Jessica terkejut.

"Kenapa mereka bisa setega itu, Paman? Papa dan Mama bahkan belum dikremasi…"

"Harta bisa membutakan hati seseorang hingga kehilangan akal sehat," jawab Jeff pelan.

Jessica menatap pamannya, bingung.

"Apa maksud Paman?"

"Mungkin Paman terlalu berprasangka buruk… tapi tidak tahu kenapa Paman merasa Nico dan Catty sangat menginginkan posisi ayahmu sejak lama."

"Itu tidak mungkin, Paman. Kakak tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Selama ini Papa dan Mama selalu adil. Apa yang mereka berikan padaku, kakak juga mendapatkannya."

Jeff menggeleng pelan.

"Jessica, ayahmu adalah orang terpandang dengan kekayaan yang luar biasa. Nico dan Catty selama ini memang mengejar jabatan tinggi di perusahaan, tetapi mereka belum memiliki kemampuan yang cukup. Karena itulah ayahmu belum bisa pensiun."

Jessica terdiam, mulai diliputi keraguan.

"Menurut Paman… mereka yang menjebakku?"

"Paman hanya menduga. Tapi Paman akan menemui hakim untuk mengajukan banding. Semoga saja kasus ini bisa dibuka kembali."

Jessica menggenggam tangan pamannya erat, seolah itu satu-satunya harapan yang tersisa.

"Paman, aku hanya bisa mengandalkanmu untuk mencari keadilan. Tidak apa-apa kalau aku harus dihukum mati. Yang penting pembunuhnya harus ditemukan. Agar papa dan mama bisa tenang di sana."

***

Kota S.

Gedung Kehakiman.

Adrian dengan setelan rapi melangkah masuk ke dalam gedung tersebut. Setiap staf yang berpapasan langsung menundukkan kepala memberi hormat. Nama hakim itu semakin dikenal setelah beberapa vonis hukuman mati yang ia jatuhkan pada para pelaku kejahatan berat.

“Hakim Li!” sapa para staf dengan hormat saat pria itu melangkah masuk ke lobi gedung kehakiman Kota S.

Adrian Li berjalan tenang dengan setelan rapi yang selalu melekat pada dirinya. Tatapannya lurus ke depan, dingin namun berwibawa. Setiap langkahnya memancarkan wibawa seorang pejabat tinggi yang disegani, bukan hanya oleh pegawai, tetapi juga oleh para aparat penegak hukum di seluruh kota.

Ia bukan sekadar hakim biasa.

Adrian Li adalah Hakim Ketua Pengadilan Tinggi Kota S — posisi tertinggi dalam lingkup peradilan kota itu. Namanya dikenal luas karena ketegasan, kecermatan, dan keberaniannya menjatuhkan vonis tanpa bisa dipengaruhi uang, jabatan, ataupun tekanan dari pihak mana pun.

Di hadapan hukum, semua orang sama di matanya.

Setelah memasuki ruang kantornya, Adrian meletakkan tas kerja dan ponselnya di atas meja. Ia duduk, lalu membuka berita pagi—kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan sebelum mulai bekerja.

Tiba-tiba layar ponselnya menyala. Foto seorang gadis cantik muncul di layar, disertai nama kontak: Max.

Adrian mengangkat panggilan itu tanpa ragu.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Di seberang sana, suara Max terdengar serius.“Hakim Li, apakah Anda sudah melihat beritanya?”

Adrian menatap layar berita di hadapannya.

“Seorang ayah menjadi tersangka karena membunuh pria yang mencoba memperkosa putrinya. Iya, aku sedang membacanya.”

“Bagaimana menurut Anda?” tanya Max hati-hati.

Adrian bersandar di kursinya. Tatapannya mengeras.

“Kalian polisi, tapi justru menetapkan orang tua korban sebagai tersangka. Seharusnya aku yang bertanya padamu.”

Max terdiam sesaat sebelum menjawab.

“Ini bukan keputusanku. Kapten Joss bahkan bertengkar dengan atasan karena kasus ini. Kami tidak punya kuasa.”

Adrian menarik napas pelan, suaranya berubah lebih tegas.

“Kita penegak hukum untuk melindungi masyarakat, bukan menindas mereka. Bawa berkas kasus itu padaku. Aku yang akan menanganinya.” tanpa menunggu Adrian memutuskan panggilannya.

Adrian menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan berakhir. Senyum ceria gadis di foto itu terasa kontras dengan berita yang baru saja ia baca.

Ketukan pintu terdengar.

“Masuk,” sahutnya tenang.

Seorang pria berjas masuk dan memberi hormat ringan. “Hakim Li.”

“Jaksa Wu, ada apa?” tanya Adrian tanpa basa-basi.

“Pihak keluarga Julian Hu tidak puas dengan putusan sebelumnya. Mereka bersikeras ingin mengajukan banding,” jelas Jaksa Wu sambil duduk.

Alis Adrian sedikit terangkat. “Bukankah keluarganya sedang dalam proses hukum? Masih ada yang berani mengajukan banding?”

“Keluarga dari pihak ayahnya. Paman dan bibinya. Mereka ingin kasus itu dibuka kembali,” jawab Wu hati-hati.

Adrian terdiam sesaat, lalu suaranya turun, dingin dan tegas. “Tidak perlu.” Tatapannya mengeras.“Selidiki mereka. Sampaikan bahwa pengajuan banding ditolak. Tidak ada alasan seorang pembunuh mendapat perlindungan.”

Ia menatap lurus ke arah Jaksa Wu.

“Keputusanku tidak bisa diganggu gugat.”

1
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!