Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suara Kevin meninggi saat memanggil nama istrinya. Namun, panggilan itu sama sekali tidak mendapat respons. Iren justru berlalu begitu saja setelah selesai berbalas pesan, seolah kehadiran Kevin tidak lagi penting untuk diperhatikan.
Kevin berdiri kaku di tempatnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena marah, melainkan karena kepastian yang akhirnya ia terima tanpa perlawanan.
Ia tidak perlu bertanya. Ia sudah bisa menebak siapa yang barusan menguasai dunia Iren. Nama itu terlalu sering hadir di antara mereka, meski tak pernah benar benar diakui.
Untuk pertama kalinya, Kevin tidak mencoba memahami. Ia juga tidak berusaha menenangkan diri dengan alasan apa pun.
Pagi itu, Kevin membulatkan tekad.
Jika selama ini ia memberi tanpa pernah meminta, maka kali ini ia akan mengambil kembali apa yang pernah ia serahkan. Bukan karena dendam, melainkan karena ia lelah menjadi orang yang terus mengalah dan tetap disalahkan.
Beberapa jam kemudian, Kevin melangkah masuk ke sebuah kantor pengacara. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang staf.
Kevin menarik napas pelan sebelum menjawab. Namun, saat mulutnya terbuka, dari arah belakang terdengar suara yang sangat ia kenal.
“Kevin?”
Kevin menoleh cepat. Sosok itu adalah Nurma, pengacara keluarga Haris yang sejak lama memegang kendali setelah kakek Haris meninggal dunia. Bahkan, warisan yang sempat berada di tangan Kevin kini sepenuhnya diserahkan kepada perempuan itu, mengingat kedua orang tua Kevin telah meninggal sejak ia masih kecil.
“Bu Nurma,” ucap Kevin dengan nada setengah tak suka.
“Sepertinya kamu sedang punya masalah,” tebak Nurma.
“Tidak ada hubungannya dengan Anda. Lagipula orang penting seperti Anda tidak akan mengurus hal hal kecil seperti ini.”
Nurma menarik sudut bibirnya. Ia tahu betul Kevin tengah membencinya setengah mati.
“Kalau begitu kita bisa duduk di sana. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan,” ucap Nurma.
Kevin tidak menjawab. Namun kakinya tetap melangkah mengikuti arah yang ditunjuk Nurma. Pemandangan itu membuat Nurma menggeleng pelan. Lelaki yang ia kenal sejak kecil itu tidak berubah sedikit pun, masih angkuh dan keras kepala.
“Apa yang ingin Anda bicarakan?” tanya Kevin setelah mereka duduk berhadapan.
“Aku tahu kamu sangat membenciku. Tapi aku juga tahu kehidupanmu sekarang tidak baik-baik saja. Kalau kamu sudah selesai dengan permainan rumah tangga itu, kembalilah. Banyak yang menunggumu.”
Kevin berdecak pelan. Sindiran halus itu terasa menusuk, apalagi datang dari perempuan yang baginya bukan siapa siapa.
“Jangan sok tahu dengan urusanku.”
“Apa yang tidak aku tahu?” balas Nurma tenang. “Wanita yang kamu puja bak malaikat itu tidak pernah menganggapmu sebagai suami. Apalagi sekarang sahabatmu sudah kembali. Percaya atau tidak, kesempatanmu untuk diakui sudah hilang. Kamu bahkan tidak akan mendapat giliran.”
Tangan Kevin mengepal kuat. Lalu berkata dengan nada penuh amarah, “Kamu mengawasiku?”
“Kalau bukan karena permintaan kakekmu, aku tidak akan sudi melakukannya,” jawab Nurma dingin. “Dulu anti cinta, sekarang mati karena cinta buta. Kevin, kamu dididik kakekmu sebagai pewaris. Tapi hanya karena seseorang yang tampak baik di permukaan, kamu kehilangan segalanya.”
“Diam!”
Nurma tidak berhenti. Ia meraih sebuah kartu nama lalu meletakkannya di hadapan Kevin.
“Namanya Lidya. Wanita yang diam-diam didukung kakekmu. Semua warisan yang seharusnya menjadi milikmu sekarang ada padanya. Jika kamu ingin kembali dan mengambil semuanya, kakekmu hanya memberi satu syarat. Kamu harus menikahinya.”
Kevin terdiam. Matanya melirik ke arah kartu itu tanpa sadar, tapi ia merasa ada yang janggal.
"Apa kamu mencoba menipuku? Harusnya warisan itu kamu yang pegang?" tanyanya.
Nurma dengan tenang menjawab, "Usiaku hanya beda lima tahun dari almarhum kakekmu, aku sudah memiliki segalanya, untuk apa aku mengambil yang bukan milikku? Tapi terserah kamu, mau percaya atau tidak itu tidak penting buatku."
Kevin tahu memang usia Nurma dengan kakeknya hanya beda sedikit, hanya saja Nurma masih terlihat usia 40 tahunan. Nurma memang memiliki segalanya bahkan kantor pengacara yang Kevin datangi saat ini salah satu cabangnya.
“Satu lagi jika kamu mau, aku akan mengurus seluruh proses perceraianmu dengan Iren,” lanjut Nurma. “Tapi sebelum itu, aset yang selama ini kamu kumpulkan bersama sebaiknya segera kamu pindahkan atas namamu sendiri.”
Nurma berdiri, lalu menatap Kevin dengan sorot mata tajam.
“Ingat apa yang diajarkan kakekmu dulu. Siapa pun yang membuangmu, hancurkan sampai ke tulang rusuknya. Jangan biarkan mereka punya kesempatan untuk bangkit kembali.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti sesaat.
“Aku menunggu keputusanmu,” katanya tanpa menoleh. “Jangan buat dirimu sendiri melewatkan kesempatan ini.”
***
Kevin terus memikirkan semua ucapan Nurma. Tanpa sadar, kakinya sudah menginjak gas hingga mobilnya berhenti di depan perusahaan Iren. Namun, begitu matanya menatap ke arah lobi, dadanya langsung terasa runtuh.
Iren berjalan berdampingan dengan Vano.
Mereka tertawa. Tawa itu ringan, lepas, seolah dunia tidak pernah memberi beban. Tawa yang selama ini Kevin tunggu setiap malam, tetapi tak pernah benar benar ia dapatkan.
Kevin tidak langsung turun dari mobil. Tangannya masih menggenggam setir erat, jemarinya memutih, seakan jika ia melepasnya sekarang, ada sesuatu di dadanya yang ikut hancur.
“Lucu ya,” gumamnya lirih. Suaranya nyaris tidak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri.
Vano mencondongkan tubuh sedikit, mengatakan sesuatu yang membuat Iren memukul lengannya pelan. Gestur kecil itu terasa seperti tamparan keras di wajah Kevin.
Ia memejamkan mata sesaat. “Jangan lebay,” katanya pada diri sendiri. “Kamu suaminya.”
Namun dadanya justru semakin sesak. Saat Kevin membuka mata, langkah Iren terhenti. Perempuan itu menoleh, pandangannya menyapu sekitar, lalu berhenti pada satu titik. Ke arah mobilnya.
Kevin refleks menunduk, lalu terkekeh getir.
“Kamu ini bodoh,” ucapnya pelan. “Sejak kapan kamu takut dilihat istrimu sendiri?”
Ia menarik napas dalam, lalu membuka pintu mobil. Kakinya menapak aspal dengan langkah ragu, tetapi tetap maju.
Iren sudah lebih dulu melihatnya. Ekspresi di wajah perempuan itu berubah. Bukan senang dan juga bukan terkejut. Lebih seperti terganggu.
“Kevin?” panggil Iren dengan nada datar.
Vano ikut menoleh. Senyum tipis masih bertahan di wajahnya, seolah mereka tidak sedang berdiri tepat di atas luka seseorang.
“Vin,” sapa Vano santai.
Satu detik. Hanya satu detik itu yang Kevin butuhkan untuk kehilangan kendali. Tangan Kevin mengepal, rahangnya mengeras. Dunia di sekelilingnya seakan menyempit, menyisakan wajah Vano yang masih tersenyum, santai, seolah tidak pernah ada yang salah. Seolah tidak pernah merebut apa pun dari hidup orang lain.
“Jangan panggil aku begitu,” suara Kevin rendah, tapi bergetar.
Vano justru tersenyum lebih lebar. “Kenapa? Dari dulu juga aku manggil kamu begitu.”
Kalimat itu jadi pemicu terakhir. Kevin melangkah maju dengan cepat. Tangannya terangkat tanpa rencana, tanpa logika. Yang ada di kepalanya hanya satu hal. Menghentikan senyum itu. Menghapus wajah tenang yang berdiri di hadapannya.