Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Elang tergeletak lemah di sebuah ranjang kayu, yang di lapisi dengan kasur kapas, tubuhnya yang penuh sayatan telah di perban dengan rapi. perlahan-lahan kelopak mata Elang bergerak-gerak, dan akhirnya terbuka.
Pandangan pertama yang ia lihat adalah sebuah kamar sederhana dengan ranjang kayu dan lemari kayu kuno di samping nya. Namun kamar itu rapi dan bersih. Udara pagi yang terasa sejuk. Padahal di sini tidak ada pendingin udara.
Seorang nenek dengan rambut yang tak lagi hitam. Jalan nya pun sudah membungkuk dengan tongkat kayu, yang membantu nya untuk menyeimbangkan tubuh nya yang sudah tak lagi muda. Di tangan nya ada sepiring Singkong goreng.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar le?" Kata sang nenek, yang menghampirinya. Tubuh Elang Masih terasa nyeri semua. Dia ingin bangun namun tak bisa.
"Ee...Ndak usah di paksakan Le, luka mu masih basah, nanti pak mantri akan kesini lagi untuk memeriksa mu." Kata sang nenek yang terlihat ramah padanya. "Me.. Meme.. !" Sang nenek memanggil nama cucunya.
"Iya mbah, ada apa, panggil Meisya?" kata seorang gadis manis yang baru saja melangkah masuk ke kamar itu, karena panggilan sang nenek. Elang tertegun dengan wajah manis wanita yang baru saja masuk. Namun dia segera menetralkan kembali raut wajahnya.
"Hih.. Kamu ini gimana to, ini lo, orang yang Semalam kamu bawa pulang, keadaan nya kaya gini, yo mana bisa makan sendiri. Si mbah mu iki sudah tua, yo mana bisa, nyuapin anak bagus iki!"
Mesya mengangguk mengerti, segera mengambil piring di tangan sang nenek, "yo wes, mbah tak ngurus kebun lagi."
Sang nenek melangkah dengan pelan mengunakan tongkat kayu nya.
Mesya menghela nafas panjang, karena nenek nya ini sangat sulit untuk di larang pergi ke kebun.
"sudah to mbah, ndak usah lagi, ngurusin kebun. Kan sudah ada pak lek, yang mbah bayar untuk ngurus kebun. Mbah istirahat saja."
"Hus.. Ya ndak isa begitu, itu kan kebun milik kita, ya kita tetap bantu ngurus nya, jangan mentang-mentang sudah bayar, lalu lepas tangan."
Akhirnya Meisya membiarkan saja, neneknya berbuat sesuka hatinya. Yang terpenting bagi Meisya, sang nenek bahagia. Sedangkan Elang hanya diam saja, jujur dia tidak terlalu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, hanya bisa menangkap sedikit-sedikit.
Mesya mendekat ke arah ranjang kayu di mana Elang berada, sambil mengangkat kursi kayu, yang tidak jauh dari sana. Meisya menyodorkan sepotong singkong goreng yang masih hangat. "makan lah."
Elang mengeryit, Dia baru pertama kali melihat makanan aneh, yang terlihat berminyak itu. Namun dia tetap membuka mulutnya sedikit, antara ragu dan penasaran. Karena kedua lengannya terluka dan di perban. Maka Meisya yang menyuapinya.
Rasa gurih, lembut, crispy dan asin yang pas, langsung memanjakan indra pengecap nya. Membuat Elang tak menyangka, bahwa makanan yang terlihat aneh itu, ternyata memiliki rasa yang sangat unik dan lezat. Hingga tak terasa piring yang di pegang Meisya kosong. Meisya sampai melongo di buatnya. ternyata pemuda tampan ini, lumayan rakus juga, satu piring singkong goreng habis dengan waktu yang sangat singkat. Atau mungkin pria tampan ini sedang sangat kelaparan. pikir Meisya.
*
*
Orang-orang dari klan black tiger masih mencari keberadaan Elang, bahkan mereka memasang poster pencarian. Barang siapa yang dapat menemukan keberadaan elang akan di bayar Dua ratus juta. Untung saja mantri disana belum benar-benar mengenali wajah Elang , karena waktu itu keadaan elang yang penuh luka dan tak terbentuk. Sedang untuk warga sekitar belum pernah bertemu dengan elang.
Meisya masuk ke rumah dengan ter engah-engah."mbah.. Mbah..!" Meisya berlarian kesana kemari mencari sang nenek.
"Kamu kenapa to me?" Tanya sang nenek terheran-heran dengan kedatangan Meisya yang seolah baru saja di kejar anjing di jalan.
"Gawat nek, sepertinya orang-orang yang mau membunuh pria yang sedang di kamar itu, masih berusaha mencari nya. Bahkan mereka akan memberikan hadiah yang sangat besar, bagi orang yang dapat menemukan nya!" Kata Meisya panik.
Sang nenek pun jadi ikut panik di buat nya. "Lah gimana iki, kasihan bocah bagus iku." Meisya akhirnya memiliki ide. "Meisya tau mbah, kita rubah saja penampilan nya, dengan make-up. Buar tak bisa di kenali lagi.
Sang nenek pun setuju. Mereka berdua segera bergegas ke kamar Elang, dan sedikit meng makeover wajah Elang, menjadi sedikit gelap dan juga memberikan tahi lalat buatan di dekat hidung nya. Elang yang masih tak berdaya hanya mampu pasrah saja.
Kini penampilan Elang berubah total, apalagi dengan kaos yang warna nya sudah agak pudar, dan kulitnya yang di ubah sedikit gelap. Membuat Elang terlihat seperti pria dari penduduk setempat. Dengan di pasangkan kacamata bulat, membuat Elang tak lagi tampak seperti putra orang kaya lagi.
Hilang sudah wibawa nya, sebagai calon ketua mafia. Namun dengan begini, sang Daddy pun, juga tak akan mampu mengenali nya. Sehingga dia bisa bertemu dengan mommy nya tanpa halangan.
Elang tau, sang Daddy, masih belum rela jika dia bertemu dengan mommy nya, seolah ada hal besar yang ia sembunyikan.
*
*
Setelah Elang lumayan pulih, Meisya mengajak Elang untuk berjalan-jalan mengelitiki daerah pedesaan. saat di interogasi oleh Meisya, Elang pura-pura amnesia, Seolah dia tidak mengingat apa-apa termasuk dirinya.
Awalnya Meisya sedikit curiga, namun Elang dengan pintar nya, berlagak seperti orang idiot yang tak faham apapun. Sehingga Meisya dan neneknya mempercayai nya.
Mereka tengah berada di persawahan, bebek-bebek berjalan rapi di jalan, padahal tidak ada sang pengembala nya. "Bebek-bebek itu akan kemana?" Tanya Elang penasaran.
"O, Mereka tentu nya akan pulang ke kandang nya." Kata Meisya menjelaskan.
"Tanpa ada orang yang mengawal nya pulang?" Tanya Elang heran.
"Ya, bebek-bebek itu awalnya di arahkan ke sawah untuk mencari makan sendiri, di sawah yang sudah selesai di panen. Dan akan di giring pulang setelah sore tiba. Jadi sang peternak, tidak terlalu mengeluarkan biaya banyak untuk pakan bebek. Setelah beberapa kali di arahkan, maka bebek-bebek tersebut akan paham waktu keluar dan saat mereka harus kembali ke kandangnya, tanpa di kawal kembali oleh pemilik nya."
Elang mengangguk mengerti. sungguh pemikiran yang sangat bagus. Pikir nya, di desa tersebut pemandangan sawah nya sangat lah indah di pandang mata, dengan udara yang sejuk, serta penduduk nya yang terkenal akan keramahan nya. Elang bahkan betah tinggal di sana, meski jauh dari fasilitas mewah dan serba terbatas.
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.