NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menantu aib

“Dua hari lagi ulang tahun Mama, kan?”

Semua yang ada di meja makan menoleh ke arah Ardian, lalu serempak mengangguk. Suasana yang tadinya tenang, perlahan berubah lebih hidup.

“Iya, Mas,” jawab Layla dengan senyum lembut.

“Mama mau merayakannya?” tanya Ardian pada mama mertuanya, suaranya terdengar hangat namun tetap berwibawa.

Yuliana mengangguk mantap. “Tentu saja, Nak. Mana mungkin seorang Yuliana Mahendra tidak merayakannya.” jawabnya dengan penuh antusias, sorot matanya berbinar membayangkan pesta yang akan digelar. Lalu ia menoleh pada sang suami. “Mas setuju, kan?”

Bima mengangguk tanpa ragu. “Tentu, sayang. Mas akan membuat acara megah untuk ulang tahunmu,” ucapnya dengan nada penuh keyakinan, seolah perayaan itu sudah tergambar jelas di benaknya.

Yuliana tersenyum puas, senyumnya mengembang penuh kebanggaan, seolah sudah membayangkan kemewahan acara yang akan digelar.

“Undang semua relasi penting kita,” lanjutnya. “Aku mau semuanya hadir.”

“Tenang saja, Ma,” sahut Ardian santai. “Aku yang urus. Tahun ini harus lebih besar dari tahun sebelumnya.”

Layla tersenyum manis, menggandeng lengan suaminya. “Pasti akan jadi acara paling mewah, Ma.”

“Mama ingin merayakannya di mana?” tanya Liora, suaranya terdengar penasaran.

“Tentu saja di gedung yang mewah, sayang. Tidak mungkin, kan, ulang tahun Mama dirayakan di tempat biasa saja,” jawab Yuliana dengan penuh keyakinan, nada suaranya mencerminkan kebanggaan.

“Harus itu, keluarga Mahendra tidak boleh terlihat biasa di mata orang lain,” sambung Bima tegas, suaranya berat penuh wibawa.

Semua mengangguk setuju.

“Kalau begitu… kita pakai ballroom hotel bintang lima saja,” ujar Ardian santai, seolah itu hal kecil. “Aku punya kenalan, bisa langsung booking.”

“Bagus,” sahut Yuliana cepat. “Dekorasinya harus elegan. Jangan terlalu ramai, tapi tetap terlihat mahal.”

Layla tersenyum antusias. “Aku bantu pilih dekorasi dan katering, Ma.”

“Dan untuk tamu undangan…” lanjut Bima, “pastikan hanya orang-orang penting. Jangan sampai ada yang tidak pantas hadir.”

Ucapan itu menggantung.

Tanpa sadar, beberapa pasang mata melirik ke arah Xavero.

Ardian menyandarkan tubuhnya, lalu berkata dengan nada ringan namun terasa menusuk, sambil menatap Xavero. “Kamu jangan muncul.”

Deg!

Untuk pertama kalinya, Xavero benar-benar sadar, bahwa dirinya bukan bagian dari keluarga itu.

Xavero menatap Ardian, tatapannya menegang.

“Pernikahan kamu dengan Liora hanya karena terpaksa. Di luar sana, mereka belum tahu Liora sudah menikah,” sambung Bima dengan nada tegas.

Sunyi.

Kata-kata itu menggantung di udara, terasa berat dan menekan.

Xavero menatap Bima, lalu bergeser ke Ardian. Wajahnya tetap tenang, terlalu tenang.

“Jadi… aku nggak perlu datang?” tanyanya pelan, memastikan.

“Bukan ‘gak perlu’,” jawab Ardian santai sambil menyandarkan tubuhnya. “Lebih tepatnya, jangan.”

“Bisa sih kamu hadir, tapi jangan sampai ketahuan publik,” sahut Yuliana dengan nada santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang besar.

Xavero terdiam. Tangannya terkepal di bawah meja makan, menahan sesuatu yang terus menekan dadanya. Ia menatap sang istri yang tampak tenang, seakan tak terjadi apa-apa, tetap menikmati makanannya.

“Ini demi kebaikan semua orang,” ucap Liora tanpa menoleh.

Kalimat itu terdengar halus, tapi lebih menyakitkan dari hinaan.

Yuliana mengangguk ringan. “Kita hanya menjaga nama baik keluarga. Kamu pasti mengerti posisimu.”

Posisi.

Satu kata yang jelas menunjukkan tempatnya.

Xavero terdiam beberapa detik.

Tangannya yang berada di bawah meja masih mengepal lebih erat, lalu mengendur lagi.

“Aku mengerti,” ucapnya akhirnya.

Tidak ada emosi dalam suaranya.

Justru itu yang membuat suasana terasa berbeda.

Bima menatapnya sekilas, lalu mengangguk puas. “Bagus kalau kamu paham.”

Percakapan langsung beralih, seolah topik itu tidak pernah ada.

°°

Setelah makan malam, Xavero kembali ke kamar. Namun, sebelum melangkah masuk, suara Yuliana menghentikan langkahnya.

“Ada apa, Ma?” tanyanya.

“Kamu benarkan keran toilet Mama,” ucap Yuliana.

Xavero mengerutkan kening. “Kenapa harus aku, Ma? Itu kan tugas Pak Jarwo?”

Yuliana langsung menatap tajam ke arahnya. “Kamu berani membantah Mama?”

“Bukan seperti itu, Ma. Itu kan tugas Pak Jarwo…”

“Aku suruh kamu, bukan Jarwo,” potong Yuliana tegas. “Sekarang cepat perbaiki.” Setelah mengatakan itu, Yuliana pun meninggalkan Xavero.

Xavero hanya bisa menghela napas berat, lalu berjalan menuju kamar mertuanya. Sebelum masuk, ia mengetuk terlebih dahulu.

“Masuk!” ucap Bima dengan nada dingin.

Xavero mengangguk, lalu menuju toilet dan mulai memperbaiki keran air yang rusak.

Xavero menatap keran itu. Seolah ada yang sengaja merusaknya, atau memang dibuat untuknya. Tetapi ia tetap memperbaikinya tanpa banyak berpikir.

Bima yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum miring, lalu pergi meninggalkannya.

Setelah beberapa saat, Xavero berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Ia kemudian keluar dan meninggalkan kamar mertuanya.

Krek!

Xavero membuka pintu kamarnya. Hal pertama yang ia lihat adalah istrinya yang sedang fokus pada ponselnya sambil tersenyum.

Xavero melangkah masuk. Liora yang menyadari kehadirannya hanya menatap sekilas, lalu kembali pada ponselnya.

Xavero masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri, tak lupa mengganti bajunya yang basah kuyup. Setelah beberapa saat, ia keluar dan melirik istrinya yang masih sibuk dengan ponselnya. Xavero hanya bisa menarik napas berat, lalu melangkah ke sofa, tempat di mana ia tidur selama menikah dengan Liora.

“Kamu jangan lupa memberikan hadiah untuk Mama,” ucap Liora tanpa menoleh.

Xavero terdiam sejenak di tempatnya.

Matanya menatap punggung Liora yang masih sibuk dengan ponselnya. Senyumnya bahkan belum hilang sejak tadi.

“Hadiah?” ulangnya pelan.

Liora mengangguk kecil, masih tanpa menoleh. “Iya. Jangan sampai kamu buat aku malu.”

Xavero menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Apa yang Mama mau?” tanyanya lagi, suaranya tetap tenang.

Liora akhirnya menoleh, menatapnya dengan tatapan merendahkan. “Yang jelas, sesuatu yang pantas dan bukan yang murahan.”

Hening.

Xavero tidak langsung menjawab.

Liora kembali menatap ponselnya.

“Kamu harus bekerja lebih giat,” lanjutnya santai. “Jangan buat aku malu di hadapan Mama, apalagi di depan Kak Ardian.”

Kalimat itu terasa menusuk.

Xavero menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya kembali.

“Aku akan usahakan,” ucapnya singkat.

Liora hanya mengangguk kecil, tidak benar-benar peduli.

“Bagus,” jawabnya datar.

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!