NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35 - Salam Kenal, Lawan

POV Aga

Jleb.

Satu kata itu yang pas banget buat ngejelasin apa yang Aku rasain sekarang. Gairah yang tadi lagi memuncak kayak gunung meletus, seketika itu juga langsung padam, mati suri, dan berubah jadi es batu dalam sepersekian detik.

Ibu Gwen ada di luar?!

Otakku yang tadi lagi penuh sama bayangan indah dan hal-hal 'nakal', langsung crash total. Layarnya biru. Sistemnya error parah.

Rasanya kayak ada petir nyambar tepat di ubun-ubun. Darah yang tadi lagi sibuk ngalir ke bawah, sekarang kabur semua balik ke atas bikin kepala pusing tujuh keliling. Wajahku rasanya panas dingin gitu, campur aduk antara malu, panik, dan ketakutan setengah mati.

Gila... ini bencana alam tingkat tinggi!

Badanku rasanya kayak disemen kering di atas Gwen. Nggak bisa bergerak sama sekali, gerakanku lambat sekali persis robot yang baterainya udah habis total. Mataku melotot lebar, natap lurus ke arah pintu, tapi pandanganku rasanya kosong hampa. Jantungku? Deg-degannya bukan main, kayak mau copot keluar dari rongga dada.

"Baby.." bisikku parau, suaraku serak dan bergetar hebat. "Ini... ini bukan mimpi kan?"

Gwen di bawahku juga sama saja, terpaku jadi patung batu. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar campur panik. Mulutnya sedikit terbuka, tapi nggak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Kami berdua diam membeku, seperti tombol pause yang tiba-tiba ditekan tanpa izin.

"Ag... Aga..." panggilnya pelan banget, suaranya bergetar hebat. "Ibu... Ibu beneran ada di luar..."

"AKU DENGER ITU!" jawabku juga berbisik tapi panik setengah mati, mata masih natap pintu lekat-lekat. "Sialan! Kenapa harus sekarang siiih?! Kenapa nggak nanti-nanti aja?!"

Tubuhku rasanya membeku total. Nggak berani gerak sama sekali. Rasanya pengen nyatu sama kasur atau lenyap dari muka bumi aja deh sekarang juga.

Dan sialan, badan bagian bawahku masih tegang dan nggak mau nurut. Kayaknya dia lebih berani daripada pemiliknya. Tahan, bro. Jangan khianatin gue di saat genting kayak gini.

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamar diketuk lagi, kali ini lebih keras.

"CEPATAN, GA!" suara Pandji terdengar putus asa dari luar. "Gue buka pintu sekarang! Nenek sihir udah mulai ngamuk!"

"Baby!" aku menunduk cepat natap wajah kekasihku yang udah panik setengah mati. "tolongin aku... kakiku lemes... yang bawah juga masih... siap tempur..."

“Cepat turun,” bisik Gwen cepat, suaranya gemetar.

Dengan gerakan super kaku dan secepat kilat yang bisa kulakukan dalam kondisi syok ini, aku langsung gulingkan badan ke samping jatuh dari kasur. Bruk!

"Bajuku! Bajuku mana?!" teriakku panik, langsung bangkit dengan tangan gemetar, mencari ke segala arah.

GEDEBUK!

Tiba-tiba sebuah bantal menghantam kepalaku dengan keras!

"AGA! BAJUNYA UDAH DIPAKAI MALAH NYARI!" bentak Gwen kesal setengah mati, mukanya merah padam campur emosi.

Baru saat itu aku sadar... ternyata kaos yang aku cari mati-matian itu masih rapi menempel di badanku sendiri! Cuma karena panik setengah mati, otakku langsung error total!

Aku menatap badanku sendiri dengan bingung, kayak orang baru bangun dari hipnotis. "Eh... eh... iya... sorry..." gumamku salah tingkah, buru-buru benerin posisi baju yang sebenernya udah bener dari sononya.

Gwen di atas kasur juga buru-buru narik selimut nutupin tubuhnya, terus buru-buru benerin bajunya yang udah kebuka dan berantakan. Mukanya merah banget, matanya berkaca-kaca antara malu dan takut.

"Rambut! Baby, benerin rambut kamu!" seruku panik

"Apaan sih! Ini semua salah kamu!" balasnya sambil ngacak-ngacak rambutnya biar kelihatan wajar, tapi makin berantakan malah.

Suara langkah kaki terdengar makin dekat di koridor.

Dug... dug... dug...

Bunyi itu kayak genderang perang yang mau nuntun aku ke pengadilan akhir zaman.

Aku natap sekeliling kamar panik. "Mana tempat persembunyian?! Ada lemari gak?! Atau aku masuk ke kulkas aja?!"

"Udah jangan ngomong aneh-aneh! Benerin rambut kamu!" sentak Gwen, mukanya udah merah padam banget.

Aku tarik napas panjang... atau lebih tepatnya nyomot udara karena rasanya sesak banget. Aku coba senyum... tapi kayaknya senyumku malah kelihatan kayak orang kesakitan atau mau nangis.

Oke, Aga. Kuat. Lo cowok keren. Lo berani...Tapi ngadepin Calon Mertua pas lagi kejepit keadaan begini?

Ah, sumpah, aku lebih milih berantem sama sekumpulan preman daripada harus buka pintu ini sekarang.

"Siap?" tanyaku gemetar.

Gwen cuma mangut-mangut pelan, matanya takut.

"Siapin mental..." gumamku pelan. "Ini mungkin hari terakhir aku kelihatan ganteng..."

Dan detik itu juga... gagang pintu bergerak.

Klik.

Pintu terbuka.

Aku melangkah keluar dengan senyum terpasang di wajahku — senyum yang kuharap terlihat sopan, tapi mungkin lebih mirip senyum orang kena sengatan listrik.

Pandji berdiri di depan pintu, wajahnya pucat dan panik. "Akhirnya!" serunya. "Gue hampir dobrak ni pintu!"

"Di mana?" tanyaku pelan, suaraku terdengar seperti orang asing.

"Di ruang tengah!" Pandji menunjuk. "Duduk di sofa!"

Aku menatap ke arah ruang tengah. Jantungku berdegup semakin kencang.

Aku melangkah pelan. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas paku. Gwen mengikuti di belakangku, tangan kami masih terjalin erat.

Dan di sana...

Di sofa ruang tengah...

Duduk seorang wanita paruh baya yang anggun dan berwibawa. Rambutnya diikat rapi, pakaiannya sopan tapi mewah. Matanya yang tajam menatap ke arahku begitu pintu kamar terbuka.

Ibu Gwen.

Di sampingnya, duduk seorang pria muda dengan postur tegak dan wajah tampan. Pria itu tersenyum sopan, tapi matanya menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca — campuran penasaran dan... tantangan?

Aku berhenti melangkah.

Seluruh tubuhku kembali membeku.

"Ibu..." Gwen melepaskan tanganku dan berlari kecil ke arah ibunya, memeluknya hangat. "Ibu tumben datang."

"Ibu tadi kebetulan lewat, terus memutuskan mampir kesini," jawab wanita itu dengan suara lembut, tapi matanya tak lepas menatapku. "Dan Ibu bawa tamu juga."

Pria muda di sampingnya bangkit, tersenyum ramah. "Halo. Saya Satria."

Gwen menatapnya bingung. "Satria?"

"Kita belum pernah ketemu," jelas Satria dengan suara tenang dan halus. "Saya senior Pandji di kantor. Kebetulan baru pindah ke apartemen ini, unit 15B. Tadi ketemu Ibu di lobi, dan beliau baik hati sekali mengajak saya naik bareng."

Aku menatap Pandji. Pandji mengangkat bahu, sama bingungnya.

"Oh..." Gwen mengangguk pelan, masih terlihat ragu.

"Salam kenal. Saya Gwen."

Satria meraih tangan Gwen. Bukan sekadar jabat tangan biasa. Ia menariknya dengan lembut, terlalu lembut, seolah ada keakraban yang tidak semestinya ada di antara dua orang yang baru kenal.

Genggamannya bertahan beberapa detik lebih lama dari batas wajar.

Sesuatu di dadaku serasa diremas kencang. Bukan cuma karena panik ketemu calon mertua, tapi ada perasaan lain yang mendidih... sesuatu yang bernama cemburu.

Aku bisa merasakan darah di urat leherku berdenyut kencang. Tanganku terkepal erat di samping tubuh, kuku-kukuku menancap tajam ke dalam telapak tangan.

Ibu Gwen menatap putrinya, lalu mengalihkan pandangan ke Satria, dan kembali lagi ke Gwen. Wanita itu tersenyum—senyum yang penuh arti, seolah sudah menyusun skenario di kepalanya.

"Satria ini anak teman Ibu," ucapnya lembut, nada bicaranya terdengar begitu bangga. "Pengacara hebat lho. Dan yang paling penting... dia belum punya pacar, lho."

Jantungku serasa berhenti berdetak sejenak. Mataku menatap tajam ke arah Satria yang masih berdiri dengan santai dan percaya diri di depan Gwen.

Rival.

Kata itu langsung terngiang di kepalaku. Ayah Gwen pernah memperingatkanku soal ini. Pria ini memang sainganku, calon menantu idaman yang selama ini diharapkan orang tua Gwen.

Dan sekarang, dia ada di sini. Di hadapanku.

"Nah, Ibu senang banget kan kalau kalian bisa kenalan baik," lanjut Ibu Gwen dengan nada manis yang terasa menusuk. "Siapa tahu bisa jadi teman dekat, atau bahkan... lebih dari itu."

Satria akhirnya melepaskan tangan Gwen. Ia tersenyum simpul, senyum yang terlihat sempurna tapi dingin. Matanya perlahan beralih menatapku, seolah penasaran siapa sosok yang berdiri di samping Gwen.

"Ini Aga," suara Ibu Gwen terdengar jelas memperkenalkan kami. "Sahabatnya Pandji, Ibu sudah menganggapnya seperti anak Ibu sendiri."

Aku terperangah. Sekejap, napasku terhenti. Lalu dadaku berdegup kencang penuh kebahagiaan.

Wah! Anak sendiri?! batinku girang bukan main, rasanya mau loncat kegirangan!

Pandanganku terkunci ke Ibu Gwen, penuh harap, rasa syukur, dan bangga yang hampir meledak.

Namun

Belum sempat rasa bahagia itu sampai ke ubun-ubun...

Ibu Gwen langsung nambahin kalimatnya dengan santai.

"Aga itu sudah seperti adiknya Gwen."

JLEB!

Rasanya kayak udah diterbangin tinggi-tinggi pake pesawat jet, terus tiba-tiba mesinnya mati, terus aku jatuh bebas, terus NYUNGSEP keras banget ke tanah! Perih! Sakit! Dan bikin emosi memuncak!

Dunia rasanya runtuh seketika! Harapan yang tadi udah setinggi langit, sekarang hancur lebur jadi debu!

Aku melirik Gwen. Dia balas menatapku dengan mata yang bilang, “Sorry.”

Lalu aku mengalihkan pandanganku ke Pandji.

Sialan! Si kunyuk itu cuma berdiri di pojok sambil nutupin mulutnya pake tangan, terus nyengir-nyengir lebar! Dia ketawa! Dasar sahabat gak guna! Cuma bisa senang-senang liat temannya susah! Tunggu saja. Aku pastikan akan kubalas nanti.

Aku berdeham dan melangkah mendekati Satria. Setiap langkah terasa berat, tapi aku paksa diriku tetap tegak.

Aku mengulurkan tanganku. Satria meraihnya.

Aku jabat tangannya kencang. Satria sedikit meringis, matanya melotot sekejap sebelum kembali tenang.

Tatapan mata kami bertemu. Mataku menatapnya tajam, mengintimidasi, seolah bilang 'jangan macam-macam'.

“Salam kenal… Bang Sat.”

Aku sengaja memberi jeda di antara tiap kata.

Pelan. Tegas.

Biar jelas.

Kalau disambung, artinya tetap sama.

1
mitha
Si aga sial banget 🤣
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ke apartemen kan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hubungan pernikahan iparan yang akur
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
🤣seperti anak kecil yang merajuk pada mamanya karena AC rusak...duh Aga ada-ada aja deh tingkahnya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ada-ada aja idenya Ga
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kalau belum sah, masih kalah starvsama ayahnya Gwen Agaaaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
wihhhh dah dapat yang diinginkannya si Aga, jadi so sweet
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
waduhhhh Aga
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
benar-benar si Aga, cari mati kayaknya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
duhhh dunia pergosipan di kantor, kejam bener
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
nahhh iyaaa betul pakk
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
agak canggung tepatnya jadinya mendengar kalimat itu kan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Aga tipenya kamu Gwen, tinggi dan agak kalem mungkin
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
antara terharu dikasih cheese cake ataukah terharus dengan suasana romantis antara mereka
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
OMG adek jangan kasih tahu dulu dek sama nadhine, sakit nanti dia dengernya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
OMG adek jangan kasih tahu dulu dek sama nadhine,csakit nanti dia dengernya
Patrish
kompak nih sama calon mertua...mantab Gwen
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
menjadi dewasa tidak seindah yg dibayangkan oleh masa kanak-kanak
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
perasaan sayang itu terlihat nyata dari psical touch lelaki itu bukan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
tiba-tiba jadi pengen nyanyi pas baca paragraf ini.
kau yang merajai hatiku, jiwa ragaku hanya untukmu..🎼🎼❤️‍🩹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!