Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBENDUNG AMARAH
Nyonya Zhao berdiri dari kursinya, air mata mulai mengalir di pipinya yang mulai berkeriput. Ia mendekati putranya, Zhao Chen, dan mencoba memegang tangannya yang masih menggenggam erat gagang pedang dengan kaku.
"Chen-er, dengarkan ibumu kali ini saja," ucapnya dengan suara bergetar penuh kecemasan seorang ibu yang takut kehilangan.
"Amarah adalah racun yang paling mematikan bagi pemiliknya sendiri sebelum ia membunuh lawannya. Kau ingin membalas dendam demi martabat tunanganmu, atau kau hanya ingin memuaskan egomu yang terluka karena kesombongan? Lihatlah Meili. Dia sudah kehilangan ketenangannya. Jangan sampai aku harus kehilangan putra tunggal keluargaku juga hanya karena mengejar seorang bocah miskin di gubuk bambu."
Zhao Chen menepis tangan ibunya dengan perlahan, sebuah gerakan yang menunjukkan rasa hormat yang sudah mulai luntur oleh ambisi. Matanya tetap tajam menatap ayahnya.
"Ibu tidak mengerti bagaimana hukum dunia ini bekerja! Di dunia para pendekar, jika kita membiarkan seorang pelayan rendahan menginjak kepala kita sekali saja tanpa pembalasan, maka esok hari semua orang di Desa Qinghe akan berani meludahi pintu rumah Zhao! Aku tidak akan membiarkan nama keluarga kita menjadi bahan tertawaan dan lelucon di kedai-kedai hanya karena seorang yatim piatu yang secara ajaib mendapatkan sihir murahan!"
Ia kemudian menoleh ke arah Meili dengan tatapan penuh kekecewaan, seolah-olah menyalahkan gadis itu atas kekacauan ini.
"Dan kau, Meili! Berhentilah menangis seperti orang lemah yang tidak punya tulang belakang! Kau membuang Fang Han karena dia miskin dan tidak punya masa depan, dan sekarang kau justru ketakutan padanya hanya karena dia menunjukkan sedikit taringnya? Kau benar-benar memalukan namaku sebagai tunanganmu! Jika kau ingin menebus rasa malumu, ikutlah denganku besok atau kapan pun aku memutuskan untuk menyerang. Lihat dengan matamu sendiri bagaimana aku menghancurkan harapan terakhirnya berkeping-keping di bawah kakiku."
Meili menunduk semakin dalam, bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan.
"Aku tidak ingin melihatnya lagi, Zhao Chen. Aku serius. Ada sesuatu yang sangat salah dengan Fang Han yang sekarang. Dia seolah-olah bukan lagi manusia yang dulu pernah menyatakan cintanya padaku dengan malu-malu. Saat dia menatapku kemarin... aku merasa seperti sedang melihat ke dalam jurang hitam yang tak berdasar. Dingin, sunyi, dan sangat mematikan. Seolah-olah jiwanya sudah ditukar dengan sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih kuat."
Sersan Hu tertawa kasar, suara tawanya kering seperti daun-daun mati yang terinjak dan menusuk telinga siapa pun yang mendengar.
"Jurang? Hahaha! Dia hanya anak kecil yang kebetulan menemukan buku mantra tua di tumpukan sampah atau mungkin secara tidak sengaja menelan ramuan terlarang yang merusak saraf otaknya. Tuan Zhao, dengarkan nasihatku. Jika kita membiarkan Fang Han tumbuh lebih kuat setiap harinya tanpa hambatan, dia akan menjadi ancaman nyata bagi bisnismu dan keselamatan kita semua. Dia tahu betul bagaimana kita memperlakukan pamannya secara tidak adil selama bertahun-tahun ini. Apakah kau cukup bodoh untuk berpikir bahwa dia akan diam saja setelah dia merasa memiliki kekuatan yang cukup?"
Kalimat Sersan Hu menghantam tepat di titik terlemah Tuan Zhao. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan, harta, dan dominasi yang telah ia bangun dengan darah dan keringat mulai merayapi hatinya yang tamak. Tuan Zhao menatap langit-langit aula yang megah, lalu menatap putra tunggalnya dan rekan lamanya yang haus darah itu.
"Fang Zhou memang selalu menjadi batu sandungan yang sangat keras kepala di desa ini," gumam Tuan Zhao pelan, suaranya membawa kembali kenangan pahit dari sepuluh tahun yang lalu.
"Dulu, dia menolak mentah-mentah untuk menjual tanahnya padaku meskipun aku menawarkan harga dua kali lipat. Dia menolak rencana pembangunan gudang gandumku. Dia membuatku rugi ribuan keping perak hanya demi memegang teguh prinsip 'keadilan' sialannya yang tidak memberi makan siapa pun. Dia pikir dia masih di medan perang, menegakkan moralitas di tempat yang hanya mengenal keuntungan."
Keputusan yang Terlahir dari Kebencian
Suasana menjadi sunyi sesaat, hanya suara deru angin malam yang berhembus kencang di luar aula yang terdengar. Zhao Chen menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang liar dan penuh energi destruktif. Ia mendekati ayahnya dan berlutut di atas satu kaki di hadapan kursi utama, sebuah tanda hormat yang dipaksakan demi mendapatkan izin untuk membunuh.
"Ayah, biarkan aku pergi menyelesaikan ini. Bukan sebagai perwakilan resmi keluarga Zhao yang bisa memicu sengketa hukum, tapi sebagai seorang pendekar yang memberikan tantangan duel resmi demi kehormatan tunangan. Dengan begitu, hukum militer tidak bisa menyentuh kita karena itu adalah urusan pribadi antar praktisi bela diri. Jika Fang Han mati dalam duel yang disepakati secara terbuka, itu hanyalah takdirnya yang buruk. Dan jika si tua Fang Zhou mencoba ikut campur... Sersan Hu dan orang-orang kita akan memastikan bahwa dia tidak akan pernah bangun lagi dari tempat tidurnya untuk selamanya."
Tuan Zhao menatap mata putranya dalam-dalam. Di sana, ia melihat ambisi yang membara, kemarahan yang meluap, dan juga sedikit kegilaan yang lahir dari kesombongan. Ia tahu benar watak Zhao Chen; jika ia menahan putranya lebih lama lagi, Zhao Chen mungkin akan meledak dan melakukan hal yang lebih fatal tanpa koordinasi.
"Tujuh hari," ucap Tuan Zhao akhirnya dengan suara sedingin es yang membeku di puncak gunung.
"Zhao Chen sudah memberi waktu tujuh hari sebagai peringatan terakhir untuk pembayaran pajak perak itu. Jangan bergerak secara mencolok sebelum waktu itu tiba. Biarkan Zhao Chen yang menjadi tameng kita dan biarkan dia yang menjadi alasan hukum kita di depan publik. Jika dalam tujuh hari Fang Han tidak bisa membayar seratus keping perak itu—dan aku akan memastikan dia tidak akan bisa mendapatkannya—maka kita akan pergi bersama-sama ke gubuk itu. Kita akan meratakan rumah itu dengan tanah dan menghapus nama mereka dari sejarah desa ini selamanya."
"Ayah! Tujuh hari itu terlalu lama bagi sampah seperti dia untuk tetap bernapas di bawah langit yang sama dengan kita!" protes Zhao Chen, ia ingin kepuasan itu segera datang.
"TIDAK! Dengarkan aku!" Tuan Zhao berdiri dari kursinya, auranya yang kuat dan penuh tekanan menekan seluruh ruangan hingga para pelayan di kejauhan tertunduk ketakutan.
"Kita harus bersiap secara sempurna agar tidak ada celah kegagalan. Sersan Hu, kumpulkan semua orangmu yang paling ahli dalam membunuh secara diam-diam dan kejam. Siapkan pemanah-pemanah handal di sekitar hutan yang mengelilingi desa untuk menutup jalan pelarian mana pun. Kita tidak akan memberi mereka celah sekecil lubang jarum pun untuk melarikan diri dari hukuman ini. Meili, hapus air matamu sekarang juga. Jika kau ingin tetap menjadi bagian dari keluarga Zhao dan menjadi istri seorang pejabat hebat di masa depan, kau harus belajar bahwa kemenangan yang paling manis adalah kemenangan yang direncanakan dengan dingin dan kepala jernih, bukan dengan amarah buta yang meledak-ledak."