Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pujian tak Terduga
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Vilov teringat bahwa hari ini bukan jadwal latihan resmi di sekolahnya. Namun, bukan Vilov namanya jika menyerah begitu saja. Ia segera menghampiri Tije dan merangkul lengannya dengan manja.
"Tijeeee, hari ini Tije latihan di sekolah lain nggak?" tanya Vilov dengan muka penuh harap, berdoa dalam hati agar Tije mengiyakan.
"Iya, mau ikut?" ajak Tije.
Vilov bersorak dalam hati. Jawabannya benar-benar sesuai ekspektasi! "Okey, gue jemput di rumah lu ya. Dadahhhhh!" Vilov melambaikan tangan dan meninggalkan Tije dengan wajah yang sangat bahagia.
Sesampainya di rumah, kesibukan baru pun dimulai. Vilov menggeledah lemarinya, mencari pakaian terbaik untuk latihan. Ia mencoba baju satu per satu di depan cermin, merasa bingung harus memakai yang mana agar terlihat oke. Mamanya yang memperhatikan tingkah aneh putri bungsunya itu akhirnya duduk di tepi kasur.
"Mau ke mana sih? Dari tadi nggak selesai-selesai?" tanya Mama heran.
"Mau latihan, Mah," jawab Vilov singkat, lalu ia mematung sejenak sambil menunjukkan baju yang ia pakai. "Mah, bagus nggak?"
Mamanya tersenyum tipis melihat tingkah anaknya yang mulai beranjak dewasa. "Bagus, bagus... Udah buruan, lihat tuh udah jam berapa."
Vilov melirik jam dan tersentak. Ternyata sesi pilih bajunya sudah menghabiskan waktu yang sangat lama! Ia pun buru-buru berganti pakaian dan menyiapkan perlengkapan latihan. Tak lama, ia berpamitan dan mencium tangan Mamanya. "Mah, Vilov pamit ya. Assalamualaikum."
"Iya, hati-hati ya," sahut Mamanya sambil menatap punggung anak bungsunya yang pergi dengan tergesa-gesa.
Vilov langsung memacu motornya ke rumah Tije. Begitu sampai, ia langsung membunyikan klakson. Ttiinnn! Tije yang sudah menunggu di depan rumah segera menghampiri.
"Lama amat lu! Pasti dandan dulu ya?" dumel Tije begitu naik ke motor.
"Hahahaha, etdah bisa tahu! Lu pasang CCTV ya di badan gue?" jawab Vilov tertawa. Mereka pun meluncur menuju sekolah Putra, tempat latihan gabungan hari ini diadakan.
Begitu sampai di sekolah Putra, Tije langsung turun dari motor. Namun, sebelum masuk ke lapangan, Vilov menyempatkan diri untuk bercermin di spion motornya. Tije yang melihat itu langsung berteriak pelan, "Bener-bener ya lu! Hahaha, masih sempet-sempetnya ngaca!"
Vilov yang malu karena terciduk pun ikut tertawa. "Hahahah, biasalah... namanya juga orang lagi jatuh cinta," ucap Vilov sambil memasang muka imut.
"Bodo amat!" sahut Tije sambil tertawa meninggalkan Vilov. Vilov pun berlari kecil mengejar temannya itu menuju lapangan.
Namun, sesampainya di pinggir lapangan, semangat Vilov mendadak luntur. Ia mencari-cari ke seluruh sudut, tapi sosok Putra tidak terlihat di mana pun. Muka Vilov yang tadinya sumringah berubah menjadi lesu. Tije yang menyadari perubahan ekspresi itu pun mulai menggoda.
"Hahahah, gimana rasanya? Sedih ya?" ledek Tije. Vilov hanya bisa cemberut. Ia pun memulai pemanasan dengan gerakan yang sangat tidak bersemangat.
BBRAKKK!
Tiba-tiba terdengar bunyi keras peralatan hockey yang jatuh. Vilov menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu Putra! Laki-laki itu sedang membawa tumpukan alat hockey, termasuk perlengkapan kiper yang akan digunakan latihan. Detik itu juga, wajah Vilov kembali bersinar. Ia tersenyum-senyum sendiri, merasa perjuangannya datang ke sini tidak sia-sia.
Putra menaruh alat-alat tersebut lalu masuk ke area lapangan. Vilov, dengan jurus basa-basinya, memberanikan diri mendekati Putra yang kebetulan berdiri di sebelahnya.
"Put, bawa apa tadi?" tanya Vilov, sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya.
Belum sempat Putra menjawab, Tije langsung menyambar, "Aelah Vilov, barang segede itu lo masih nanya! Basa-basi banget lu!" Tije tertawa puas. Putra yang mendengar itu pun ikut tertawa karena sadar Vilov memang hanya sedang mencari topik pembicaraan.
Vilov melirik tajam ke arah Tije. "Ikut-ikut aja!" ketusnya.
Tanpa disangka, Putra justru melangkah lebih dekat ke arah Vilov. Sebelum bergegas menghampiri pelatih, Putra menggumam sesuatu, tepat di depan Vilov. "Lu... gue lihat-lihat lucu juga ya."
Vilov terpaku di tempat. Rasanya seolah dunia berhenti berputar. Kalimat singkat itu membuat Vilov sangat senang, bahkan ia menjalani latihan hari itu dengan semangat yang lebih dari biasanya.
Selesai latihan, Pelatih mengumpulkan semua pemain untuk memberikan pengumuman penting. Sebentar lagi akan diadakan pertandingan antar pelajar se-Kota Cilegon. Kabar itu disambut sorak-sorai antusias dari para pemain. Tapi di balik keriuhan itu, Vilov justru merasa bingung dan gugup. Ini adalah kali pertama ia mengikuti pertandingan, apalagi posisinya sebagai seorang kiper.
"Kak, Vilov baru pertama ikut pertandingan loh. Ini asli Vilov jadi kiper?" tanya Vilov ragu pada sang Pelatih.
"Iya, Vilov," jawab Pelatih mantap.
"Asli dong, Sayang! Seperti cintamu pada dia..." timpal Tije sambil menunjuk ke arah Putra.
Sontak, seluruh pemain yang ada di lapangan tertawa dan mulai menggoda Vilov habishabisan. Vilov tertunduk malu, menyadari bahwa sekarang semua orang sudah tahu tentang perasaannya pada Putra. Namun di samping rasa malunya, pikirannya mulai bercabang: bagaimana nasibnya nanti saat harus berjuang di kejuaraan sungguhan?
Sesampainya di rumah, pikiran Vilov tidak bisa tenang. Perasaan bangga karena terpilih menjadi kiper kini mulai bercampur aduk dengan rasa cemas yang luar biasa. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Duh, gimana ya nanti gue pas pertandingan? Mana gue harus pakai baju kiper yang gede banget itu lagi," gumamnya cemas. Ia membayangkan dirinya berdiri di depan gawang yang luas dengan perlengkapan berat, sementara bola-bola hockey melesat ke arahnya. Pikiran itu sempat membuatnya merinding.
Vilov pun mulai berguling-guling di kasur, mencoba mengusir rasa gugupnya. Namun, di tengah kebingungan itu, tiba-tiba memori di lapangan tadi berputar kembali. Suara Putra yang berbisik, "Lu... gue lihat-lihat lucu juga ya," mendadak terngiang jelas di telinganya.
Entah kata-kata yang dikeluarkan Putra itu sebuah pujian tulus, sekedar candaan, atau ejekan karena melihat tingkah konyolnya, Vilov tidak peduli. Kalimat singkat itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang Vilov tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ia membenamkan wajahnya di bantal, lalu kembali memandang langit-langit atap sambil memegang kedua pipinya yang terasa panas merona.
Sesekali ia berteriak dengan nada pelan agar tidak terdengar sampai ke luar kamar, "Ya ampun... lucu bangetttt!" serunya tertahan sambil menendang-nendang udara.
Namun, perlahan kegembiraan itu berubah menjadi rasa penasaran yang mengusik hati. Sebagai seorang gadis yang sedang jatuh cinta, muncul satu pertanyaan besar di benaknya: Apakah Putra sudah punya pasangan?
Saking penasaran yang tidak bisa dibendung, Vilov segera meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi Facebook, tempat di mana semua informasi biasanya tersimpan. Dengan jari yang sedikit gemetar karena gugup, ia mengetikkan nama "Putra" di kolom pencarian.
Tak butuh waktu lama, nama yang ia cari langsung muncul di urutan paling atas. Jantung Vilov berdegup kencang saat melihat foto profil laki-laki itu. Meski sangat ingin, Vilov masih menahan diri untuk tidak menekan tombol "Tambah Teman". Ia merasa belum cukup berani untuk muncul di notifikasi ponsel Putra.
Akhirnya, ia hanya menjadi penonton rahasia. Vilov mulai menelusuri profil Putra, men-scroll layarnya dari atas sampai ke bawah. Ia memperhatikan setiap foto yang diunggah dan membaca satu per satu komentar yang ada. Ia mencari tanda-tanda kehadiran seorang perempuan, seperti foto berdua atau status hubungan yang mencurigakan.
Setelah hampir setengah jam melakukan "investigasi" kecil-kecilan, Vilov tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Beranda Facebook Putra didominasi oleh foto-foto kegiatannya dan obrolan seru sesama teman laki-lakinya saja. Tidak ada tanda-tanda pacar atau gombalan untuk perempuan lain.
Hal itu membuat Vilov menarik napas lega. Keyakinannya kini tumbuh berkali-kali lipat. Dengan senyum lebar yang kembali terukir, ia mematikan ponselnya dan memeluk guling erat-erat. Ia merasa jalannya kini sudah bersih. Ia semakin yakin untuk terus maju dan mencoba mendapatkan hati Putra, bagaimanapun caranya nanti.