Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Untuk Hidup
"Carilah ranting dan daun kering untuk membakar kelinci itu. Meski harus menunggu, kamu bisa makan dengan layak." Lalu dibuatnya sebilah pisau dari batu yang dipecah tipis.
Rapphael sudah kehabisan staminanya. Maka tidak bisa mengeluarkan sihir lebih banyak. Jika ada Lumon (monster yang hidup bebas dan memiliki kekuatan melebihi hewan biasa) akan sulit untuk dihadapi dengan keadaannya saat ini.
"Ba-baik ...." ucap gadis tersebut dengan berurai air mata. Jikapun nantinya hanya mendapatkan tulang belulangnya, itu sudah lebih dari cukup untuknya. Bahkan merasa sangat beruntung dapat mengisi perutnya. Dengan sigap ia mencari ranting dan daun kering untuk membakar kelinci di tangannya.
Setelah mengumpulkan ranting dan daun kering, gadis itu pun menguliti kelinci dan membersihkannya. Rapphael pergi dengan tubuh yang lelah untuk mencari air. Meski dapat mengeluarkan air, staminanya tidak cukup banyak sekarang.
Di dalam hutan terdapat beberapa mata air yang jernih. Dengan membuat wadah dari daun yang lebar, air dapat ditampung untuk sementara. Hidup di hutan harus mengandalkan diri sendiri baru dapat menikmati makanan.
Meski hanya seekor kelinci yang dimasak tanpa bumbu, cukup untuk membuang rasa laparnya. Jika tidak terlalu ke dalam hutan, maka tidak akan bertemu dengan Lumon atau monster yang hidup bebas di alam. Bisa disebut sebagai hewan di dunia ini.
"Sebelum membakarnya, cuci daging itu dengan air." Rapphael memberikan air untuk mencuci kelinci yang telah dikuliti dan dibuang kotorannya. Bahkan isi dalam perut kelinci sudah ditempatkan pada tempat berbeda.
"Terima kasih. Saya akan mencucinya." Dengan senang, ia menerima air dan mencucinya langsung. "Anu, maaf ... karena tidak ada bumbu, mungkin rasanya kurang enak."
"Tidak perlu enak. Yang penting bisa dimakan. Juga, siapa namamu?" tanya Rapphael. Jika mereka sering bertemu, maka lebih baik jika memanggil nama.
"Gwsyaa Naroom ..." lirihnya. Nama itu adalah pemberian dari orang tuanya. Satu-satunya warisan yang diberikan oleh mereka. Sejak kehilangan orang tuanya, ia bahkan tidak pernah menyebut nama itu lagi. Namun untuk pertama kalinya mengatakannya hari ini.
"Gwysaa Naroom? Baiklah ... namaku Rapphael Vistorness. Tolong masak sampai matang. Nanti kuberikan setengahnya untukmu. Aku akan mengambil air lagi untuk minum."
Gwysaa mengangguk dan melanjutkan tugasnya. Setelah mencucinya, ia kemudian menusuk daging dengan ranting agar dapat dimasak dengan mudah.
Satu ekor kelinci berukuran besar, cukup untuk makan dua sampai tiga orang. Namun gadis itu tidak berharap banyak akan diberi daging. Ia berharap jika diperbolehkan, makan tulang atau bagian dalamnya sedikit.
Untuk membuat api, Gwysaa menggunakan kekuatan sihirnya yang sangat lemah. Namun cukup untuk membuat perapian. Bahkan Rapphael tidak menyangka bahwa gadis malang itu bisa menggunakan sihir. Setelah melihat api yang membakar ranting dan daun, Rapphael membawa daun yang berisi air. Lalu menyodorkan air tersebut kepadanya.
"Ini untukmu minum. Sebelum diisi makanan, sebaiknya minum terlebih dahulu." Hanya untuk saat ini, Rapphael berbuat baik. Berharap ini yang terakhir kalinya.
Sambil menangis, Gwysaa pun menerima air pemberian tersebut. Lalu meminumnya tanpa rasa curiga. Biarpun jika dia mati saat minum air yang diberi racun, baginya mungkin lebih baik daripada disiksa kedepannya. Namun ketika airnya habis, tubuhnya terasa lebih bertenaga.
"Itu adalah air dari mata air yang ada di sekitaran hutan. Meski kualitasnya tidak terlalu baik, dengan minum itu akan membuatmu segar."
Rapphael duduk untuk memulihkan tenaganya. Melihat api yang diciptakan dengan sihir tersebut. Lalu ia memeriksa status dari Gwysaa. Ketika melihat statusnya, ia merasa kaget karena memiliki potensi yang luar biasa padanya.
"Kamu bisa menggunakan sihir?" tanya Rapphael. Dengan mengetahui potensi seseorang, ada kemungkinan bisa menjadikannya teman dalam perjalanannya. Jika bisa, ia ingin membuatnya lebih kuat lagi untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Gwysaa mengangguk dan menjawab, "Saya hanya bisa membuat api kecil. Sebenarnya bisa mengeluarkan sedikit air dengan sihir." Tanpa ragu, ia mengeluarkan air dari tangannya. Dan anehnya juga, ia pun tidak merapalkan mantra.
"Sihir tanpa mantra? Apakah ini orang biasa? Ah, sebenarnya apa yang terjadi pada dunia ini? Kupikir orang yang bisa melakukannya hanya aku dan Raja Iblis. Tapi kelihatannya potensimu lebih tinggi dari kebanyakan orang."
Mendengar pernyataan dari Rapphael, Gwysaa kaget. Bahkan ia dipuji memiliki potensi yang luar biasa. Dalam kasusnya, ia adalah seorang gadis miskin yang tidak pernah belajar sihir. Namun kemampuannya untuk menciptakan api dan air dalam kapasitas kecil, menurutnya hanyalah kemampuan paling rendah yang ada di dunia.
"Setiap manusia di dunia ini lahir diberkahi dengan berbagai kemampuan. Setidaknya memiliki satu atau dua kemampuan yang telah tertanam dalam diri masing-masing. Jumlah bintang adalah potensi dari seseorang itu dapat melampaui batasannya. Semakin banyak bintang yang dimiliki, maka potensinya akan semakin besar. Jumlah bintangmu adalah lima. Sehingga potensimu lebih tinggi dari manusia pada umumnya."
"Lima bintang? Tidak. Tidak mungkin." Gwysaa menggelengkan kepalanya karena merasa takut. Meski tidak tahu bagaimana orang lain dapat melihat jumlah bintang yang dimiliki, ia takut kalau hidupnya akan berakhir di sini. Meskipun sejak ia minum air telah siap untuk mati.
Jika mati hanya karena memiliki potensi yang luar biasa, maka ia memiliki kesempatan untuk membalas dendamnya. Siapa sangka, ia tidak bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki sejak ia lahir. Jika tahu begini, ia akan berusaha lebih keras untuk bisa memiliki kekuatan besarnya.
Masa depannya akan jauh lebih baik jika bisa memaksimalkan potensinya. Ia adalah seorang yang bukan tidak mampu. Hanya saja tidak pernah belajar karena keterbatasan kesempatan yang dimiliki.
"Tenang saja. Jika kamu mengikutiku dengan patuh, pasti bisa menjadi lebih kuat. Kamu hanya perlu membunuh lebih banyak. Tapi untuk mempercepat peningkatan, lebih baik masuk dungeon dan membunuh banyak Gomon (monster yang terdapat dalam dungeon) dan kemampuanmu meningkat."
Sambil menunggu daging kelincinya matang, Rapphael menjelaskan apa yang perlu. Tentang bagaimana cara membunuh Gomon yang berada di level satu. Ada beberapa jenis Gomon yang ada di dalamnya. Maka mereka harus memiliki senjata terlebih dahulu.
Untuk saat ini, mereka tidak bisa masuk ke dalam dungeon karena keadaan mereka yang tidak memungkinkan. Jadi untuk sementara, mereka bisa memulai mencari penghasilan dari hutan untuk bisa membeli pakaian dan senjata lebih dahulu.
Setelah daging kelinci matang, Gwysaa memberikannya pada Rapphael. Yang dimana dagingnya langsung dibagi dua dan diletakan di daun. Setengah bagian untuk sendiri. Sementara bagian lainnya diberikan pada Gwysaa.
"Ini makan agar punya tenaga. Karena kamu harus membantuku membunuh banyak Lumon di hutan ini. Setelah itu, jual ke kota untuk membeli pakaian dan senjata. Selanjutnya kita masuk ke dungeon untuk meningkatkan kekuatanmu."
"Ba-baik." Tidak peduli nantinya akan bernasib seperti apa, karena diberi kesempatan hidup adalah hal yang paling diinginkan. Setelah tahu potensi luar biasa yang dimiliki, maka ada kesempatan untuk bangkit. Dia tidak akan mati sebelum tujuannya tercapai.
***