NovelToon NovelToon
Lima Tahun Setelah Perceraian

Lima Tahun Setelah Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Wanita perkasa / Lari Saat Hamil / Single Mom
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jalur Langit

Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Viola menjalani hari pertama bekerja di restoran yang merangkap sebagai kafe tongkrongan anak muda hari ini. Berkenalan dengan banyak orang baru, mempelajari tata cara kerja baru beserta aturannya, dan beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru.

Tugasnya sebagai waiters tidaklah sulit. Yang penting ia bisa melayani pelanggan dengan baik, selalu memasang senyum ramah, dan tidak boleh cemberut. Rambutnya tidak boleh tergerai, harus digelung tinggi. Dan terdapat dua shift di sana.

Shift pagi akan bekerja dari jam setengah delapan pagi, hingga jam empat sore. Sementara shift siang akan dimulai sejak pukul dua belas siang hingga malam. Pergantian shift akan dirolling setiap seminggu sekali.

Viola mendapatkan bagian shift pagi selama seminggu ke depan. Untuk hari ini apakah ia akan lembur hingga malam sesuai dengan yang Rasta katakan, ia tidak tahu. Jika iya, itu artinya Viola akan mengingkari janjinya dengan Vita, di hari pertamanya bekerja.

"Viola, istirahat duluan yuk, ntar gantian sama yang lain." Widia, rekan sesama waiters yang baru bergabung selama beberapa bulan, mengajaknya istirahat di jam satu siang. Istirahat siang biasanya dilakukan secara bergilir setelah rombongan dari shift siang datang.

"Eh, aku nanti aja. Biar yang lain aja yang duluan," tolak Viola.

"Ah, nggak apa-apa, kita duluan aja." Widia menarik tangan Viola, lekas mengajaknya ke belakang.

Tak semua senior menyukai karyawan baru. Sebagian di antaranya memasang wajah tidak suka dan berkata ketus, meski tidak semuanya. Sejak Viola bergabung tadi pagi, Widia adalah yang paling welcome dengannya. Dia yang paling sabar mengajari dan menjelaskan banyak hal pada Viola.

"Nah, biasanya kita istirahat di ruangan ini, Vi. Kamu bisa makan, istirahat sebentar di sini selama tiga puluh menit." Widia menerangkan ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang dekat dengan kitchen.

Di sana ada sebuah meja panjang dengan beberapa kursi. Di atasnya terhidang berbagi makanan, minuman, dan alat-alat makan khusus untuk karyawan. Di sudut ruangan ada pintu yang terhubung dengan mushola kecil.

"Sebagai karyawan baru, istirahatnya nggak boleh lebih dari tiga puluh menit, ya? Nanti dijulidin sama yang lain," Widia menambahkan dengan berbisik.

Lalu, mereka terkikik bersama.

"Iya, aku paham kok. Kalau masih baru emang gak boleh seenaknya sendiri," sahut Viola.

"Nanti kalau udah jadi senior, baru boleh deh mau istirahat sampai satu jam. Yang penting Pak Rasta nggak tau aja."

"Curang dong itu namanya."

"Hehehehe."

Kedua waiters itu duduk berdampingan, mulai mengisi piring mereka dengan makanan yang tersaji.

"Kamu tadi pagi berangkatnya telat. Tadi dimarahin sama Pak Rasta, ya?" tanya Widia.

Viola mengangguk. Memang begitu adanya. "Iya. Terus aku dihukum, katanya nanti disuruh lembur."

"Waduh, tumben loh ini."

Viola mengernyit sambil mengunyah. Tumben apanya?

"Pak Rasta tuh biasanya cuek sama karyawan. Jadi, aku bilang tumben. Tumben-tumbenan Pak Rasta turun tangan ngasih hukuman sama karyawannya langsung. Apalagi karyawan baru dan baru pertama kali ngelakuin kesalahan. Biasanya sih Pak Rasta memasrahkan semuanya ke Mbak Gia. Biar Mbak Gia yang urus semuanya. Kalau sama Mbak Gia, kamu nggak bakalan dihukum. Mbak Gia kan lebih pro ke karyawan," tutur Widia.

"Oohh," sahut Viola. "Emang apesnya aku berati."

"Emang tadi kamu telat kenapa?"

"Anak aku agak rewel, gak mau ditinggal kerja. Jadi aku tenangin dia dulu, daripada aku paksain ninggalin dia dalam keadaan tantrum. Ntar aku sendiri yang gak tenang kerjanya."

"Oh, kamu udah punya anak?"

"Iya, satu. Perempuan, umur empat tahun."

Widia mengangguk paham. "Emang ayahnya kerja apaan? Sampai kamu harus ikut cari uang segala?"

Viola tersenyum tipis. "Ayahnya ... Ada kok," jawabnya sekenanya.

Di saat Viola dan Widia menghabiskan makanannya sambil mengobrol, seseorang masuk ke dalam ruangan. Cowok, berambut gondrong, penampilannya agak berantakan, dan ada tato di bagian lehernya.

"Hei, karyawan baru kan ya?" katanya, menyapa Viola. "Dari tadi belum kenalan. Nama gue Ariel, lo siapa?"

Tangan cowok itu terulur ke arah Viola, namun lekas ditepis kasar oleh Widia, sebelum Viola sempat menjabatnya.

"Jangan mau diajak kenalan sama dia, Vi. Dia ini playboy cap kakap. Buaya darat," sela Widia.

"Idih, apaan sih lo. Gue cuma mau ngajak kenalan aja kenapa malah bahas buaya," balas Ariel.

"Halah. Lo kan emang gitu. Setiap kali ada karyawan baru, pasti langsung gercep ngajak kenalan, abis itu dipacari," omel Widia. Entah kenapa ia lantas memeluk Viola. "Yang ini jangan. Dia udah punya suami dan anak!"

"Oh udah ada yang punya, ya?" desah Ariel, pura-pura memang wajah kecewa. "Padahal cantik, sayang banget udah punya suami."

Viola tertawa kecil. "Aku ... Single mom, btw."

"Ha?" Widia terkejut, wajahnya jadi terlihat lucu. "Single mom? Tadi kamu bilang katanya ayahnya anak kamu ada."

Ariel juga gegas menjawab, "Cocok! Janda jauh lebih menggoda. Gue siap kok jadi bapak baru buat anak lo ... Siapa lo namanya?"

"Idih!" Widia bergidik serta memasang ekspresi jijik begitu mendengar perkataan Ariel.

"Viola."

"Yes, Viola!"

Widia memukul Ariel, lalu Ariel membalas, hingga mereka terlibat saling pukul tangan selama beberapa detik.

"Berhenti lo jadi playboy!" sengit Widia.

"Kenapa sih lo? Nggak suka banget tiap gue deketin cewek. Cemburu, ya?"

"Najis gue cemburu sama lo!"

Tingkah Widia dan Ariel membuat Viola tertawa.

"Eh tadi belum dijawab pertanyaanku, Vi. Kenapa kamu jadi single mom? Ayahnya anak kamu, maaf, meninggal? Atau kalian bercerai?" cecar Widia, akhirnya menghentikan pertengkarannya dengan Ariel.

"Kepo banget sih lo!" sembur Ariel, namun ia sendiri sedang sangat menanti jawaban dari Viola. Nyatanya, ia sendiri pun penasaran.

"Dih, kayak lo nggak kepo aja."

"Ayahnya anakku ada, kok. Kami .... " Viola melirik pintu masuk, ada Rasta berdiri di sana sedang menatap ke dalam. Lalu, pandangan mereka beradu.

"Riel," panggil Rasta kepada Ariel.

"Iya, Pak Rasta." Ariel sigap menghampiri.

"Kamu lagi istirahat atau ngapain?"

"Mmm." Ariel menggaruk tengkuk. "Saya habis dari kamar mandi, Pak. Berak. Tadi udah istirahat sih," jawabnya cengengesan.

"Kalau udah ya langsung balik dong ke depan. Ramai tuh."

"Siap, Pak."

Ariel lalu kembali ke depan, dia seorang barista. Rasta masih berdiri di sana. Menatap Viola dan Widia.

"Kalau kami emang lagi istirahat, Pak," kata Widia, seolah ingin menjelaskan. Takutnya Rasta salah paham.

"Hmmm," Rasta mengangguk. Tanpa sadar, tatapannya tak lepas dari Viola, sang mantan istri.

Widia sampai heran. Ia melihat bergantian ke arah Rasta, lalu Viola, Rasta lagi, Viola lagi. Aneh, menurutnya. Keduanya bertatapan seperti dua orang yang sudah sangat mengenal satu sama lain.

"Kamu karyawan baru yang tadi telat itu, kan?" tunjuk Rasta. Viola mengangguk pelan.

"Jangan lupa nanti lembur sampai malem. Sampai restoran tutup."

Viola terbelalak. Mulutnya terbuka, ingin melayangkan protes, tetapi Rasta langsung melenggang pergi, tidak peduli.

*

Rasta tidak main-main dengan ucapannya. Kalau ia bilang Viola harus lembur, maka Viola harus melakukanya. Sepanjang hari ia mengawasi Viola. Cara Viola berjalan, bagaimana kerjanya, apa saja yang ia lakukan, semua tak luput dari pengawasan Rasta. Seolah Rasta sedang mengawasi murid tertindasnya yang sedang ujian.

"Kalau nggak mau dihukum lagi, besok berangkatnya jangan telat. Kamu harus sampai jam setengah delapan tepat, gak boleh lebih," kata Rasta.

Keadaan restoran sudah sepi, karyawan yang lainnya sudah pulang sejak lima menit yang lalu. Tertinggal Rasta dan Viola di terasnya.

"Makasih untuk hukumannya, Pak Rasta," balas Viola. "Hari ini saya mengingkari janji sama seseorang yang sangat penting. Saya janji akan pulang sore dan membawakannya es krim, tapi hal itu tidak bisa saya lakukan karena anda menghukum saya."

Rasta mendengarkan sambil menatap wanita itu. Ia bisa menebak, seseorang sangat penting yang dimaksud Viola pastilah anak itu.

"Bisa anda bayangkan bagaimana kecewanya dia, saat dia duduk di teras rumah, menanti kepulangan saya bersama es krim yang saya janjikan. Tetapi, sampai malam nyatanya saya yang dia tunggu-tunggu nggak kunjung pulang."

Rasta tersenyum tipis, namun senyum itu bukan senyum tanda ia sudah menjadi ramah. "Kecewa, ya? Kamu nggak lupa kan kalau saya udah khatam sama rasa kecewa itu. Siapa yang kamu maksud? Anak itu, ya? Emang di mana bapaknya?" Rasta, tersenyum mengejek.

Viola terlihat tenang, namun dadanya bergemuruh. Ia maju selangkah, menjadi lebih dekat dengan Rasta. "Bapaknya, ya? Emang malang nasib gadis kecil itu karena bapaknya nggak mau mengakui kehadirannya," ucap Viola menohok, menyindir Rasta.

...****************...

1
Sunaryati
Naren. sudah akrab dengan Vita, ya
Jalur Langit: sudah kak, kan sudah kenal satu tahun yg lalu
total 1 replies
makjleebb ga ta🤭
R²: rasakaaann🤭🤣🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
total 2 replies
jgn mau vi.. ratu buaya insaf pura2 doank
partini
ini nanti sama ga ortunya ga suka apa lagi ini janda anak satu
Jalur Langit: nanti kita liat ya kak, gimana ortunya Naren tuh
total 1 replies
partini
lanjut
Sunaryati
Ternyata Viola sudah pindah ke lain hati. Luka hati memang cepat membalikkan perasaan seseorang.
Sunaryati
Itulah hukuman atas kebodohan dan kedzoliman kamu lima tahun yang lalu serta penderitaan Viola yang harus mengandung melahirkan serta banting tulang menafkahi Vita seorang diri sedangkan anda hidup enak di luar negeri dan bergelimang harta.
Sunaryati
Benar monologmu Viola, tapi tidak ada salahnya kau berbaikan dengan syarat ibunya Rasta yang melamarmu. Kamu dan Rasta sama- sama korban, sayang nya Rasta waktu itu lebih percaya sama foto daripada penjelasan Viola
Lala lala
istilah kata wlwpun emosi, istri diusir malam buta, dicerai, istilah kata udh di jak harga dirinya, demi anakpun ogah balik lg..real life mn mau.. takut sia2 baca taunya ntar balikan.. permisi undur dl 🙏
Jalur Langit: yahhh, padahal nanti ada plot twistnya loh kak. emang gak penasaran tah?
total 1 replies
Lala lala
lama2 jenuh jg, malah ngerjain trs kyk bocah
Lala lala
gaji pelayan cafe kecil umr, kasian jg pas²an mw sekolah anak, makan sekeluarga, tagihan2
partini
lah TK kira sadar malah semakin menjadi ,semoga kena stroke
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
partini
nyesal kan ,nanti lihat cucu yg so gumussss tambah nyesel deh kamu mak ,mak lampir
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
Jalur Langit: trauma gak sih, punya mertua kayak emaknya Rasta 🤭
total 1 replies
partini
berjuang dong ta tapi betul" jangan ujungnya nanti kamu lupa lagi, come on masa gitu aja udah melempem
partini
ibu lucknat tega nian
Jalur Langit
kalau masih menemukan typo, harap maklum dulu ya. saya belum sempat edit. makasih yg udah baca
R²: woleezz thor, paling colek2 dikit ya🤭
total 1 replies
partini
di sini jug ada cerita kaya gini anaknya laki" bersatu lagi malah selingkuh tapi di ma"afin ma istrinya aneh cerita nya
partini
good story
partini
lanjut Thor cerita nya bagus 👍👍👍aku kasih coffee
Jalur Langit: makasih kak 😍
total 1 replies
nah kaannn melek rasta.. meleekkk..
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu
R²: sambel ayam geprek lvl 20🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!