Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama di gudang
Malam semakin mencengkram saat Luciano membuka pintu kamar bernuansa putih gading itu, tatapannya tajam, rahangnya tajam. Atmosfer kamar itu seketika berubah menjadi panas saat lelaki bertubuh kekar itu turut duduk di hadapan Alana.
Sontak Alana menjauh, namun bibir Luciano terangkat naik keatas membentuk sebuah lengkungan indah, namun terasa mematikan bagi Alana.
"Apa yang kau bayangkan tentang malam pengantin, Alana?"
Alana masih bergeming, ia masih menunduk sambil meremas kedua sisi seprei yang saat itu membungkus ranjang hangat pengantin itu.
Tidak mendapat respon dari Alana, Luciano mendengus pelan lalu memajukan wajahnya lebih dekat dengan wajah Alana.
"Minggir, aku nggak mau lihat muka kamu, Luciano."
"Biasakan dirimu, Alana. Karena setelah ini, kau tidak akan bisa menjauh dari ku," tukas Luciano, seolah mematikan harapan Alana saat itu juga.
Luciano semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka berdua. Sedangkan Alana hanya bisa menutup mata saat hembusan napas Luciano menyapu hangat permukaan kulit wajahnya.
Satu tangan Luciano menyapu lembut pipi milik Alana, lalu menyentuh bibir Alana yang masih terpoles lipstik dengan warna pink merona.
Cup.
Satu kecupan singkat membuat Alana berhenti bernapas saat itu.
Menyadari reaksi Alana, Luciano tersenyum smirk dan menjauhkan tubuhnya dari Alana.
"Kau tahu Alana? Sejak kejadian di gereja seminggu yang lalu, aku bahkan tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan kamu," ucapnya.
Alana masih terdiam, mencoba untuk pura-pura tuli saat itu.
"Kau begitu menggoda, aku bahkan sangat sulit untuk mengendalikan diriku, Alana." Luciano mendekatkan lagi tubuhnya, lalu ia mendorong tubuh Alana hingga membuat gadis itu jatuh terlentang diatas kasur yang dipenuhi dengan kelopak mawar warna merah menyala.
"Lepaskan aku, Luciano." Alana mendorong dada bidang Luciano dengan semua kekuatan yang ia punya. Namun sayangnya nihil, tenaga Luciano jauh lebih besar dibandingkan dengan Alana.
"Apa kau pikir aku akan mendengarkan ocehan mu, Alana? Sama sekali tidak. Malam ini kau harus bersama ku."
Luciano mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Alana, meskipun gadis itu berusaha untuk menghindar, namun Luciano sama sekali tidak berhenti sampai disitu.
Lelaki itu terus saja mencari celah agar Alana menyerah malam itu.
Tok tok tok.
"Maaf, tuan. Paviliun arah timur di serang."
"Shitt, siapkan perlengkapan ku, aku segera ke sana."
Luciano menatap sejenak wajah Alana, kedua tangan pria itu mengepal keras, barulah setelah itu ia mencoba untuk tersenyum pada Alana.
"Malam ini kamu bisa selamat, Alana. Tapi tidak dengan malam selanjutnya. Aku segera kembali," bisiknya dengan suara serak. Mendengar itu membuat sekujur bulu Alana merinding.
Alana tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya dengan mata tertutup, sementara dadanya memacu lebih cepat dari biasanya.
"Akan ku pastikan, malam itu tidak akan pernah terjadi, Luciano." Alana membatin, namun Luciano tahu persis apa yang saat itu sedang Alana pikirkan.
"Aku pastikan, mimpimu untuk kabur itu tidak akan pernah terjadi, Alana."
Setelah mengatakan itu, Luciano langsung bangun dan bergegas keluar dari kamar itu.
Setelah kepergian Luciano, Alana langsung duduk sambil memeluk kedua lututnya yang terasa melemah saat itu.
Suara tembakan dan teriakan terdengar jelas di telinga Alana. Meskipun ia menutupi kedua tangannya dengan telapak tangan, tetap saja suara ledakan itu seolah menusuk hingga ke gendang telinga nya.
"Tuhan, aku bahkan tidak pernah bermimpi apa lagi berdoa untuk menikah dengan seorang mafia. Lalu kenapa takdir ku begitu buruk, tuhan? Aku ingin kembali untuk hidup layaknya manusia normal. Bukan seperti ini," keluh Alana, ia menatap ke atas, berharap jika tuhan akan mendengar doanya saat itu.
Brak!
Suara pintu terbuka paksa itu berhasil membuyarkan lamunan Alana saat itu. Dua orang bersenjata lengkap datang menghampiri Alana.
"Nyonya Alana, tuan Luciano meminta kami untuk memindahkan nyonya ke tempat aman. Disini sangat beresiko dengan keamanan nyonya!" kata salah satu dari mereka berdua.
Alana masih membeku, mencoba mencerna kembali ucapan orang tersebut.
"Tidak ada waktu untuk berpikir, nyonya. Tuan Luciano memerintah," katanya lagi. Dan kali ini Alana mulai ter konek kemana arah pembicaraan tersebut.
"Lebih baik aku mati malam ini, dari pada harus menjadi istri seorang pembunuh," decih Alana, ia bahkan tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya.
"Maaf nyonya, kami tidak ada pilihan lain selain memaksa nyonya untuk ke tempat yang lebih aman."
Tanpa menunggu persetujuan dari Alana, pria bertubuh kekar itu langsung mengangkat tubuh Alana keatas pundaknya bak sebuah galon mini yang enteng.
Alana mencoba memberontak, namun tetap saja ia gagal, karena mereka begitu terlatih.
"Turunkan aku, aku mau mati di tangan musuh Luciano," pekik Alana, namun satu orang pria bertubuh kekar itu langsung menempelkan mulut Alana dengan lakban berwarna hitam. Sehingga suara Alana tidak lagi mereka dengar.
***
Sementara itu, suara ledakan dan tembakan terdengar begitu merdu di mansion milik Luciano. Setengah dari paviliun itu sudah habis terbakar. Menyisahkan beberapa arsitektur yang sudah berwarna hitam karena terbakar.
"Lepaskan Alana, atau kau selesai malam ini," ancam Oliver, ia menodongkan senjata miliknya tepat di depan Luciano.
Luciano hanya tersenyum penuh ejekan saat itu. "Kau siapa? Berani sekali menyuruhku seperti itu. Alana milik ku dan tidak akan pernah menjadi milik siapa pun," jawab Luciano, ia berjalan beberapa langkah kedepan, agar lebih dekat dengan Oliver.
"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Kau berhasil mengambil wilayah kekuasaan ku, tapi jangan berpikir kau bisa mengambil Alana dari ku, bangsat!" Rahang Oliver mengeras saat itu.
"Sayangnya kau terlambat, Alana sudah menjadi istriku saat ini, hahaa! Apa kau senang mendengar kabar bahagia dari ku?"
"Luciano bangsat, akan ku habisi kau malam ini," sarkas Oliver.
Ia pun menarik pelatuk pistol miliknya dan mengarahkan lebih dekat di dahi Luciano.
Namun saat belum selesai Oliver menarik pelatuk itu, seseorang sudah terlebih dahulu menembak dari belakang.
Dor!
"Bajingan, kau menjebak ku, Luciano."
Oliver jatuh tersungkur ke tanah, darah segar mengalir deras dari leher nya. Ia mengerang kesakitan, namun sayangnya tidak satu pun dari anak buah Oliver yang datang untuk membantu.
"Kau lihat, Oliver? Bahkan saat malaikat maut ingin menjemput mu, anak buah mu yang tidak berguna itu sama sekali tidak ada yang datang untuk menolong." Luciano menginjak punggung Oliver, sehingga membuat pria berjaket coklat itu berusaha payah menahan rasa sakit di lehernya.
"Kau akan mati, Luciano. Kau akan mati," pekik Oliver dengan suara serak.
"Oh ya? Sebelum aku mati, akan ku pastikan kau yang terlebih dahulu mati, Oliver! Ucapkan selamat tinggal pada dunia yang kejam ini!"
Dor!
Dor!
Dua tembakan di punggung Oliver berhasil membuat lelaki itu berhenti bernapas saat itu.
Luciano tersenyum puas saat melihat tubuh rival nya yang tidak lagi bergerak itu, ia tersenyum bangga untuk dirinya sendiri.
"Sungguh, pemandangan yang begitu dramatis. Kirimkan mayatnya kepada tuan Robert, dan sampaikan salam hangat dari ku untuk tua bangka itu!"
Beberapa anak buah Luciano pun langsung mengangguk, mereka mengangkut tubuh Oliver dengan tidak ada rasa empati sedikitpun.
Lebih tepatnya lagi, seperti bongkahan kayu yang tidak ada harganya sama sekali.
Setelah memastikan jenazah Oliver dibawa oleh anak buahnya, ia pun bergegas pergi dari halaman paviliun, menyisahkan kobaran api yang tengah di padamkan oleh anak buahnya yang lain.
"Alana, maaf sudah membuatmu takut malam ini," bisik Luciano yang hanya dapat di dengar oleh telinganya sendiri.
Langkah Luciano mengayun cepat menuju gudang bawah tanah. Sebuah markas rahasia yang sengaja ia buat jika sewaktu-waktu terjadi penyerangan seperti malam ini.
Beruntung Alana sudah di amankan, dan Luciano segera berlari agar lekas sampai di gudang tersebut.
Setelah beberapa menit berlalu, Luciano sampai di gudang tersebut dan segera membuka pintu.
"Alana!" panggil Luciano dengan wajah cemas.
Ia segera berlari menghampiri Alana yang saat itu sedang duduk termenung menatap dinding berwarna abu-abu tua itu.
"Hey, Alana. kamu baik-baik saja, kan? Apa ada yang terluka?" tanya Luciano dengan cemas, ia memeriksa tubuh Alana, menepuk pelan kedua pipi Alana.
"Bukan kehidupan seperti ini yang aku inginkan," tukas Alana dengan tatapan sendu.
"Maaf, kamu harus ada diantara kehidupan ku yang seperti ini, Alana."
"Bagaimana aku bisa hidup ditengah hujan peluru? Aku bukan manekin yang nggak punya perasaan sama sekali, Luciano. Aku ingin hidup yang tenang, bukan penuh dengan ketakutan seperti ini." Alana menatap wajah Luciano, ia menangis namun berusaha untuk terlihat kuat di depan Luciano.
"Maaf, Alana. Aku tidak berjanji untuk tidak membuat hidupmu dalam ketidak takutan, tapi aku akan selalu melindungi kamu," ucap Luciano, meyakinkan Alana.
Sepersekian detik kemudian, Luciano langsung menarik Alana kedalam dekapannya. Memeluk gadis itu seolah tengah memberi ketenangan dan perlindungan pada wanitanya itu.
"Malam pertama, kita akan menghabiskannya di gudang ini, Alana!"
***