Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. PERTARUHAN PERTAMA
..."Ketika pengetahuan masa depan bertemu keraguan masa lalu, satu nyawa menjadi taruhan yang tak bisa dihindari."...
...---•---...
Air dalam kendil tanah liat mendidih. Gelembung udara pecah di permukaan... pop, pop, pop... seperti napas kecil yang putus-putus. Ibu Tari, yang memperkenalkan diri sebagai Mbok Wulan, menambahkan jahe dan kunyit tumbuk kasar. Aroma menyergap, pedas menusuk hidung sampai mata berair, hangat membakar tenggorokan meski cuma dihirup.
Doni mengamati setiap langkah. Jahe untuk radang. Kunyit untuk infeksi. Telapak tangannya basah dan dingin. Bukan antibiotik. Tapi inilah satu-satunya yang ia punya.
"Berapa lama harus direbus?" tanya Mbok Wulan, suaranya retak. Wajahnya basah, entah oleh keringat atau air mata.
"Sampai airnya tinggal setengah," jawab Doni, tenggorokannya kering seperti sabut kelapa. "Setelah matang, saring pakai kain bersih. Jangan sampai ada kotoran masuk."
Perempuan itu mengangguk. Tangannya yang biasa cekatan kini bergerak lambat mengaduk ramuan, seolah melawan arus air. Setiap beberapa saat, matanya menoleh ke putrinya yang terbaring tak sadar. Air mata menggenang di pelupuk, tapi tak jatuh.
Pak Karso duduk di pojok, kedua tangan terkepal di atas paha hingga buku jari memutih. Tatapannya kosong ke arah api. Bibirnya komat-kamit, tanpa suara. Doa atau kutukan, Doni tak bisa membedakan.
Karyo berjongkok di sampingnya. "Dari mana kau tahu semua ini?" bisiknya, napasnya hangat di telinga Doni. "Kemarin kau masih sakit keras, hampir mati. Sekarang tiba-tiba..."
Bagaimana menjelaskan aku dokter dari masa depan yang terperangkap di tubuh orang lain?
"Aku bermimpi," potong Doni, suaranya datar. Bukan bohong... semua ini memang terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung.
"Bertemu siapa?" Mata Karyo membulat. "Roh leluhur?"
"Mungkin."
Karyo mengangguk pelan, penuh hormat. "Kau beruntung. Tidak semua orang dapat wahyu. Mungkin kau ditakdirkan jadi tabib."
Tabib. Kata itu mengambang di udara. Dukun. Penyembuh tradisional.
Doni menatap tangannya. Dari ahli bedah jadi peracik ramuan. Ia mengepalkan jarinya, mengusir pikiran itu.
"Sudah matang."
Mbok Wulan mengangkat kendil dengan kain tebal. Cairan kuning kecokelatan mengalir melalui kain penyaring ke mangkuk tanah liat. Uap mengepul membawa aroma yang membuat mata perih.
Doni menunggu. Detik demi detik. Ketika uap mulai menipis, ia mengangkat kepala Tari. Tengkuk gadis itu lemas di telapak tangannya. Tubuhnya seperti rumput layu yang akarnya mulai mati. Kulitnya basah, lengket, panas membara.
Demam terlalu tinggi. Terlalu lama.
"Buka mulutnya sedikit."
Mbok Wulan membuka bibir putrinya dengan jari yang bergetar. Mulut kecil itu kering pecah-pecah. Doni menuangkan ramuan perlahan... sedikit, tunggu, sedikit lagi. Sebagian tumpah, tapi ada yang masuk. Tenggorokan gadis itu bergerak, refleks menelan yang lemah.
Setelah setengah mangkuk habis, Doni membaringkan Tari kembali. Ia mengambil kain basah dari Karyo, mengompres dahi, leher, ketiak. Kompres untuk turunkan demam. Pelajaran pertama di kedokteran. Dan kini, satu-satunya yang tersisa.
"Sekarang kita tunggu," ucapnya, meletakkan kain di jidat Tari. "Ramuan ini harus diminumkan setiap dua jam. Dan dia harus banyak minum air putih. Tubuhnya kehilangan banyak cairan."
Pak Karso bangkit mendekat. Bahunya yang tadinya membungkuk kini sedikit tegak. Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang ingin keluar.
"Apa dia akan...?"
Pertanyaan itu menggantung, tak perlu diselesaikan.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Doni, suaranya lebih pelan dari yang ia mau. "Tapi aku butuh bantuan kalian. Ikuti semua yang kukatakan. Jangan ada yang terlewat."
"Apa pun," Mbok Wulan menggenggam tangan Doni erat-erat, kedua tangannya kasar dan dingin. Cengkeramannya putus asa, seperti memegang tali terakhir di jurang. "Tolong selamatkan anakku. Kumohon."
Napas Doni tersangkut di tengah dada. Ia kenal tatapan itu... tatapan keluarga yang menggantungkan hidup pada setiap kata dokter. Tapi kali ini berbeda. Tangannya kosong. Tak ada stetoskop, tak ada oksigen, tak ada monitor.
"Aku akan..."
Langkah kaki dari luar. Berat. Diseret. Tongkat kayu mengetuk tanah... tok, tok, tok... seperti detak jam yang menghitung mundur.
Mereka semua menoleh.
Seorang pria tua membungkuk masuk. Sarung batik pudar, baju surjan jahitan kasar. Rambut putih diikat ketat ke belakang. Di tangannya tongkat kayu ujung lancip, tas anyaman penuh botol kecil dan daun-daunan tergantung di bahu.
"Ki Darmo!" Pak Karso tersentak.
Ki Darmo berhenti di ambang pintu. Pandangannya menyapu ruangan, berhenti pada Doni. Tidak berkedip. Seperti elang yang sudah mengunci mangsa.
"Aku dengar dari tetangga," suaranya rendah, tenang berisi ancaman, "anak muda ini mencoba obati Tari. Dengan ramuan asal-asalan."
Tak ada yang bersuara. Bahkan api unggun seolah berhenti berderak.
"Apa kalian lupa?" Ki Darmo melangkah masuk, setiap langkah disengaja. "Aku sudah beri jimat. Sesajen. Penyakit ini karena makhluk halus. Bukan sembuh dengan jahe kunyit."
Doni bangkit. Lututnya terasa berat, tapi ia paksa diri tegak. Ini dia. Konfrontasi yang tak terelakkan. Jantungnya berdebar di telinga.
"Ki..." Mulutnya kering seperti amplas. Ia batuk, coba lagi. "Anak ini tak sampai malam."
Mbok Wulan menahan napas. Pak Karso membeku.
Ki Darmo mendekat. Sangat dekat sampai Doni mencium bau tembakau dan daun kering di napasnya. "Kau ini siapa? Anak yatim tinggal di gubuk Mbok Sarmi. Tak punya ilmu, tak punya guru." Tongkatnya mengetuk lantai. Tok. "Tiba-tiba merasa bisa menyembuhkan orang?"
Rahang Doni mengeras. "Aku tidak..."
"Kau bahkan tak bisa baca tulisan Jawa. Mana mungkin tahu penyakit dan obat?"
Dari luar, bisikan mulai terdengar. Kerumunan mengintip lewat celah dinding bambu.
"Itu anak Mbok Sarmi yang kemarin hampir mati."
"Sekarang berani tantang Ki Darmo?"
"Gila. Otaknya masih demam."
Pak Karso melirik antara Ki Darmo dan Doni. "Ki Darmo... kami sangat hormat. Tapi sudah lima hari sejak jimat itu, dan Tari... malah makin parah..."
"Kalian tak sabar!" Ki Darmo menghentak tongkat. Debu beterbangan. "Penyembuhan roh butuh waktu! Kalau tak percaya padaku..." tatapannya menyapu Doni, "...silakan percaya anak muda ini. Tapi jangan salahkan aku kalau Tari mati karena pengobatan sembarangan!"
Ancaman itu menggantung bagai asap beracun. Mbok Wulan menutup mulut, bahunya bergetar. Pak Karso seperti tersudut.
Doni menarik napas dalam. "Ki Darmo," suaranya keluar lebih tenang dari yang ia rasakan. "Bagaimana kalau begini: beri aku sampai besok pagi. Kalau Tari tidak membaik... bahkan makin parah... aku akui salah. Tapi kalau dia membaik..."
Ki Darmo menyipitkan mata. Ada perhitungan di balik tatapannya. Jelas ia tak percaya Doni bisa menyembuhkan Tari. Tapi menolak tantangan ini akan membuatnya terlihat takut di mata kampung.
"Baiklah," akhirnya ia berkata, suaranya dingin. "Besok pagi aku kembali. Kita lihat apakah anak ini masih hidup... atau malah mati di tanganmu."
Ia berbalik, tongkatnya mengetuk tanah... tok, tok, tok... ritme pelan yang menggema. Kerumunan di luar berpencar, bisik-bisik mereka seperti desis angin malam.
Pintu bambu berderak tertutup.
Suasana dalam gubuk berubah. Mencekam. Seperti udara sebelum petir jatuh.
Karyo menatap Doni, mata terbuka lebar. "Kau gila! Menantang Ki Darmo!" Suaranya naik setengah oktaf. "Kalau Tari mati, kau yang disalahkan. Seluruh kampung akan..."
"Dia tidak akan mati."
Kata-kata itu keluar keras, bergaung memenuhi gubuk.
Doni menatap Tari. Dada kecil itu naik turun susah payah, tersendat seperti mesin tua yang hampir mati.
Karyo menyentuh bahunya. "Doni... kau yakin?"
Doni tidak menjawab langsung. Ia berlutut kembali di samping Tari, meraba denyut nadinya. Lemah. Cepat. Tak teratur. Ia menatap wajah kecil itu: kulit pucat, bibir pecah-pecah, kelopak mata yang bergetar.
Aku harus membuktikan kata-kataku.
Ia merabakan kain basah ke dahi gadis itu. Kulitnya masih membara. Terlalu panas.
Matahari condong ke barat. Cahaya jingga berubah merah tua, menerobos celah dinding bambu. Bayangan dalam gubuk memanjang... merayap seperti air pasang yang perlahan menenggelamkan segala.
Pak Karso duduk kembali di pojoknya, kepala tertunduk. Mbok Wulan kembali mengipas, tangannya bergerak mekanis. Karyo menatap Doni dengan tatapan yang sulit dibaca, antara kagum dan cemas.
Doni menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang berbau jahe dan tanah basah.
Di rumah sakit, aku punya antibiotik. Aku punya ventilator. Aku punya tim. Di sini... aku hanya punya pengetahuan dan doa.
Tapi mungkin itu cukup.
Harus cukup.
Atau mati mencoba.
...---•---...
...Bersambung...
Jika kau gagal, maka tamatlah riwayatmu. Kau tak lagi bisa menyelamatkan warga. Keputusan ada di tanganmu, Don! Berpikirlah yang jernih.