Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Amara menatap Alessa dengan dingin. Ia melihat, jika gadis itu ketika didunia nyata sangatlah baik pasa puterinya, namun saat ini, segala sikap buruk dan baik diperlihatkan dengan jelas, dan puterinya harus tau memilah dengan siapa ia berteman saat nantinya selamat dari tempat ini.
Taaak
Sebuah pukulan yang dilayangkan oleh Gita, kepada seorang wanita muda yang berada didalam ruang tahanan. Manda menarik wanita itu dengan kasar, membantu rekannya dalam bekerja.
"Ayo, kamu sudah dipilih oleh raja untuk menemaninya tidur malam ini, maka kamu harus mandi dulu disendang bidadari." Manda menjambak rambut wanita muda itu, hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Ciiih, aku tak mau melayani iblis! Mengapa tiak kalian saja yang melayaninya!" maki wanita itu, menilak untuk dibawa dipersembahkan kepada sang raja.
Tak
Sebua cambukkan kembali melayang ke punggungnya, dan Gita melakukannya dengan kasar.
'Diam, Kau! Jangan membantah!" hardik Gita dengan kasar.
Akan tetapi, tindakannya terhenti saat tanpa sengaja menatap Amara yang saat itu sedang dibawa oleh Jhony dan Axel.
Ia menatap wanita itu dengan penuh kebencian. Sebab ia adalah mama dari Sena, dimana gadis itu selalu saja beruntung dalam segala hal.
Contohnya saat ini, bahkan saat mereka harus bermutasi menjadi setengah manusia dan iblis, tetapi Sena tetap menjadi manusia utuh, itu semakin membuat kebenciannya bertambah.
"Biar aku yang mengurusnya, dan kalian urus saja gadis itu, sebab malam nanti akan dipersembahkan kepada Raja." titahnya pada Jhony dan Gita.
Axel melangkah maju. Menatap gadis itu. "Boleh saja kita bertukar tugas, tapi kau harus membayarku," pemuda itu mengedipkan matanya pada Gita.
"Kau sangat menjijikkan, apakah perlu aku merobek perutmu lagi," jawabnya dengan kasar.
Axel merasa tersinggung, sebab hal ini sangat penghinaan baginya. "Kalau begitu, kau tangani saja masalahmu sendiri, aku akan membawanya menghadap raja!" pemuda itu menepis pundak Gita dengan kasar, lalu menarik pergelangan tangan Amara untuk menuju ruangan tempat dimana Raja Gemet sedang menunggu.
"Tunggu." Gita menahan langkah Axel, sebab baginya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membalaskan segala rasa kesal pada Sena melalui mamanya.
Axel menghentikan langkahnya, mengulas senyum licik. Ia tahu jika Gita akan setuju dengan permintaannya.
"Kita sepakat," jawab Gita, dan hal itu membuat Axel merasa menang.
"Okey, tapi jangan sampai kau curang!" ancamnya itu dengan menegaskan.
Amara yang mendengar pernyataan keduanya merasa mual, sebab tidak menghargainya sedikitpun sebagai orangtua.
Gita tak menjawab, lalu mengambil alih Amara dan membawa wanita itu untuk menemui Raja Kala Gemet.
Sedangkan Alessa menatap Axel dengan decak kesal, lalu berbalik arah dan melangkah pergi. Sedangkan Manda dan Jhony membawa wanita muda itu pergi ke sendang Bidadari untuk dimandikan sebelum diserahkan kepada Raja Kala Gemet.
"Kenapa tidak disendang Srengenge saja," tanya Axel pada keduanya.
"Raja tidak mengijinkannya, sebab hanya Sena yang diperbolehkan mandi disendang itu," sahut Manda.
"Ck! Bahkan didunia seperti ini saja ia juga bernasib beruntung," sahut Alessa kesal, sebelum pergi menuju lorong.
Axel berdiri menjaga ruang tahanan para wanita, sedangkan Jhony dan Manda membawa wanita itu ke sendang Bidadari.
****
Gita membawa Amara memasuki lorong yang tampak panjang. Keduanya masih saling diam, hingga saat tiba dilorong yang gelap, Gita menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya menatap Amara.
Tatapannya tajam, seperti menghujam jantung yang cukup membunuh.
"Tante. Kamu tahu gak? Sudah lama sekali aku menahan rasa benci pada Sena, dan saat ini adalah waktu yang tepat aku untuk melampiaskannya." gadis itu memegang sebuah cambuk yang terbuat dari tali akar yang cukup kuat dN dibentuk kepang.
"Ternyata puteriku selama ini salah dalam memilih sahabat, semoga saja ia menyadarinya," cibir Amara, sebab rasanya sangat memprihatinkan, jika puterinya harus memiliki circle pertemanan yang sangat buruk dan manis didepan saja.
"Kami terlalu muak dengannya, sebab ia selalu saja beruntung dalam.hal apapun, termasuk kasih sayang kedua orangtuanya!" sahut Gita dengan kesal.
"Lalu mengapa kau melimpahkan keberuntungan itu menjadi kebencian? Sangat aneh sekali dirimu!" cibir Amara dengan kesal.
"Ya, aku akan melampiaskannya pada, Tante!"
Tak
Gita mencambuk Amara dengan tiba-tiba. Namun hal itu tak semudah yang dibayangkan oleh sang gadis, sebab Amara sudah menangkap ujung cambuknya, dan menahan cukup kuat.
Gadis itu tersentak kaget, lalu menariknya dengan kencang, tetapi Amara menahannya, dan memutar ujung cambuk dengan dililitkan ditelapak tangannya.
"Kau sangat tolol, seharusnya kalian bekerjasama untuk dapat keluar dari tempat ini!" Amara balik menekan gadis tersebut.
Kali ini, Gita melihat sesuatu yang lain dari Amara, wanita dengan tiba-tiba bergerak cepat menggulung cambuk, lalu memberikan tendangan pada Gita.
Buuuugh
Taaaak
Tanpa dapat ditahan, Gita berbalik terkena serangan oleh Amara, dan wanita itu mengikat sang gadis menggunakan cambuk.
"Brengsek! Lepaskan aku! Aku akan membunuhmu!" maki Gita dengan kesal.
Amara tak menggubrisnya, lalu dengan menggunakan sebuah cincin bermata biru, ia menekan kening Gita, dan membuat gadis itu pingsan.
Ia tak ingin menyiakan kesempatan yang ada, dan bergegas menyeret tubuh Gita ke simpang lorong dan menyembunyikannya disana.
Ia menatap sejenak, lalu memungut tombak milik Gita, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.
Kali ini ia melangkah mencari ruangan sang Raja tempat dimana puterinya disembunyikan.
Saat ini, ia mendengar suara derap langkah yang yang terdengar menuju ke arahnya. Ia dapat merasakan kehadiran para makhluk astral yang bermutasi dengan hewan.
Amara merapatkan tubuhnya didinding goa, dan benar saja, dua makhluk mengerikan jenis sanca berkepala manusia sedang menyeret seorang gadis belia yang akan dipersembahkan kepada Kala Gemet, sembari menunggu gadis lain yang akan dimandikan ke sendang Bidadari.
"Lepasin, lepasin, aku tidak mau!" gadis itu meronta meminta dilepaskan, dan kedua makhluk itu tak mendengarkannya.
Ternyata keduanya adalah para petapa yang sudah lama tersesat dan terkurung didalam hutan Alas Purwo, lalu gak dapat lagi kembali ke alam nyata, jiwa mereka tertahan.
Amara memegang batu cincin ditangannya, dan ketika keduanya hampir melintasinya, ia melakukan penyerangan dan membuat keduanya kaget.
Sssssttttsss
Keduanya mendesis, lalu melepaskan sang gadis, dan menyerang Amara yang sudah berusaha menghalangi pekerjaan mereka.
"Dasar laknat! Beraninya kau menahan persembahan untuk paduka Raja, dasar mencari mati!" ucap sosok makhluk Siluman Sanca.
"Bedebah! Pantas saja kalian terkurung disini cukup lama, ternyata kalian memiliki hati yang busuk!" ucap Amara dengan menahan rasa emosinya.
"Jangan banyak bacot!" ucap salah satu petapa yang berniat jadi dukun santet tetapi gagal.
Ia meliukkan tubuhnya, dan menyerang Amara dengan tubuhnya yang akan membelit sang wanita, namun Amara menghunuskan ujung tombaknya.
Craaaaaash
Tombak mengenai tubuh petapa ilmu santet tersebut, dan membuatnya menggeliat dengan menahan rasa sakit.
Lanjut kak Author, semangat... 💪💪
Semoga kitab kuno segera ditemukan, jadi Sena dan yang lain bisa pulang dengan selamat ke rumah mereka masing-masing... 😙
untung wae lagsg crassss tesss tess tess ehh darah nya bukan merah ges apa mgkin darah nya biru 🙈🙈🙈