Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mendadak menikah.
" Sah !" Air mata Arina tumpah seketika, bukan tangis bahagia seperti mimpi nya sejak dulu, melainkan tangis pilu. Rasanya lengkap sudah penderitaan nya. Pernikahan yang seharusnya terjadi sekali seumur hidup ini sangat jauh dari pernikahan impiannya.
Tidak ada senyum Ayahnya yang mendampingi nya, tidak ada resepsi pernikahan, tidak ada teman-temannya yang mengucapkan selamat. Yang ada hanya beberapa warga sekitar yang telah menggerebek nya, memperlakukan nya dengan tidak baik seakan ia melakukan sesuatu yang memalukan, menikahkan nya secara paksa karena menganggap nya membawa petaka bagi desa mereka yang menurut nya sangat kolot.
Dari pada di arak keliling kampung dalam keadaan bugil, menyanggupi pernikahan yang mereka tawarkan sebagai pilihan sedikit lebih baik menurutnya.
" Rin, cium tangan suami mu" ucapan bang diki semakin membuat kekalutannya semakin terasa, apalagi tatapan nya yang mengasihani nasib sial yang menimpa nya saat ini.
Sebelum mengecup punggung tangan pria gila itu, Arina lebih dulu melayangkan tatapan nyalang padanya. masih terekam dalam memorinya bagaimana mengesalkan nya pria itu, dia diam saja saat ia berusaha mati-matian membela diri dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, seakan memberikan konfirmasi kalau mereka beneran berbuat mesum.
Jika tak ingat ancaman salah satu warga yang mengancamnya akan di bawa ke rumah sakit jiwa atau kantor polisi saat ia akan menyerang pria itu, mungkin wajah tampan yang kebanggaan pria itu sudah tinggal kenangan.
" bang diki, bagaimana keadaan Ayah bang?" tanyanya saat mereka dalam perjalanan untuk pulang, tentu setelah orang gila yang mendadak menjadi suami nya itu meminta nomor nya dan juga bang diki.
Padahal ia berharap, pria itu akan menalaknya setelah massa bubar. Tapi, dengan sok alim nya ia mengatakan tidak mau mempermainkan pernikahan. Dia memang tidak mempermainkan pernikahan tapi Arina merasa kalau pria itu tengah mempermainkan nya.
Apa tujuan pria itu sehingga dia diam saja, seakan menerima segala tuduhan keji yang di layangkan kepada mereka berdua, mengingat percakapan mereka sebelum kejadian serta lancar nya pria itu saat melantunkan kalimat ijab qobul, ia tidak akan berpikir jika pria itu pria idiot yang bisu.
" kata Sarah, pak dharma drop. Tapi, kamu tenang saja. Beliau sudah ditangani oleh dokter dan sedang istirahat." Arina memejamkan matanya, perasaan bersalahnya semakin menggunung, ia teringat bagaimana terkejut nya sang ayah meskipun hanya dengan via telepon ia bisa membayangkan bagaimana reaksi cinta pertamanya itu.
Bahkan saat suara lirih nya melemah ketika melakukan ijab qobul tadi dan berakhir dengan suara mbak sarah yang terdengar panik di seberang sana setelah pria gila yang sial nya adalah suaminya itu berhasil menikahinya. Membuatnya panik seketika. Ia sudah menduga, darah tinggi Ayahnya pasti akan kumat saat mendengar kabar buruk ini.
" sudah kamu tenang saja, Rin. Pak dharma sudah baik-baik saja."
" bang diki percayakan kalau aku tidak melakukan hal menjijikan itu? Aku tidak mengenal laki-laki idiot itu bang" lirih nya tergugu, rasanya sakit sekali merasakan serentetan masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.
" huss! Dia suami mu sekarang, jangan bicara seperti itu. Aku percaya kamu karena aku sangat mengenal karaktermu. Tapi, orang-orang tadi tidak, Rin. apa lagi Alvian sama sekali tidak menyangkal tuduhan itu, sangat sulit untuk terlepas dari amukan massa selain pernikahan yang mereka tawarkan."
Bahkan jika bang diki tidak menyebut nama pria itu saat ini, ia sama sekali tidak ingat namanya. Selama akad nikah tadi ia sibuk memikirkan nasib dirinya yang begitu tragis, sehingga ia tidak mendengar dengan jelas saat penghulu menyebutkan nama pria itu.
" Ayah." Setibanya nya di kotanya, ia menolak saran bang diki untuk istirahat dan bergegas menuju rumah sakit tempat ayah nya di rawat.
Air matanya tumpah ruah, bibir nya tak henti-hentinya mengatakan permintaan maaf, sekali lagi karena dirinya, Ayah nya berakhir menderita.
Berharap ayah nya memarahinya, bahkan tak masalah jika pria itu menamparnya asal jangan diam saja, jantung Arina seakan merosot saat melihat salah satu sudut bibir ayah nya tampak jatuh kebawah, ia meminta penjelasan pada dokter lewat isyarat matanya saat melihat sang ayah kesulitan mengeluarkan kata-kata dari bibir nya. hatinya sudah lebih dulu hancur saat dirinya sibuk menerka kemungkinan buruk yang akan segera ia dengar.
" Ayah anda mengalami struk ringan karena pembuluh darah nya pecah, mohon untuk menjaga pikiran ayah nya agar tidak terlalu stress untuk mempercepat pemulihan nya." Arina meraung seketika, ia menangkap tangan ayah nya yang kesulitan saat akan menggapai nya, lalu menciumnya dengan ribuan kata maaf yang tak henti terucap.
" Rin, Arin. Jangan begini Rin, bapak akan semakin tertekan melihat mu begini." mbak sarah yang tiba-tiba masuk panik melihat kondisinya dan sang ayah yang begitu memprihatinkan.
Ia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi suaranya tak kunjung keluar selain tangisan, Arina menangkupkan tangan ayahnya pada wajah nya lalu menangis di sana.
Setelah cukup lama, meski dada nya masih sesak, ia memutuskan untuk menghentikan tangisannya, menangis bukan jalan keluar untuk saat ini, justru membuat kesehatan ayah nya semakin memburuk karena melihat nya bersedih.
Arina menyentuh tangan ayah nya yang mengusap pipi nya dengan gerakan acak, matanya sembab, Bibir nya bergerak seakan mengatakan permintaan maaf padanya.
" Arina nggak apa-apa, yah! Maaf, maafkan Arina karena sudah mengecewakan ayah." kenapa akhirnya seperti ini? setelah gagal menikah, ia malah menikah dengan pria yang tidak di kenalnya sama sekali. Dan sekarang, Ayahnya terbaring di rumah sakit. Meski ia tidak salah, tapi ini semua karenanya.
Seseorang membuka pintu, awal nya ia kira dokter. Tapi, ternyata pria sialan itu. " mau apa kamu kesini?" desisnya, tatapan nya sangat tidak bersahabat.
" aku ingin menjemput istri ku!" ucapan tanpa beban yang keluar dari lisannya membuat Arina meradang, tapi, ia urung mengumpat pria itu karena ayahnya bergerak tidak nyaman. Wajah nya tampak panik, bibir nya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu.
" ada apa ayah?" Arina mendekatkan telinganya pada bibir ayah nya, berharap ia bisa mendengar dan memahami apa yang Ayahnya katakan.
" Jangan.." hanya itu yang bisa ia tangkap dari gumaman Ayahnya yang tidak ia mengerti.
" jangan kenapa ayah?" Ayah nya menunjuk ke arah Alvian, membuat ia dan sarah menatap nya penuh selidik.
Tapi pria itu justru tersenyum sembari mendekati Ayahnya." Ayah, kami sudah menikah. Tolong restui kami, meski tanpa cinta saya akan berusaha untuk menjalankan tanggung jawab saya sebagai suami dengan baik" ucap nya dengan senyum yang tak lekang dari bibir nya.
Meski Arina tidak mengharapkan kalimat itu keluar dari bibir nya. Tapi sedetik kemudian ia berharap jika kata-kata itu bisa memberikan ketenangan untuk Ayahnya. Biarlah setelah ini pria itu akan menjadi urusannya. Yang penting Ayah nya tenang dulu.
Di luar dugaan, Ayah nya tak berhenti menggumamkan suara yang sama sekali tidak dia mengerti, Air matanya juga tumpah kembali. Apa itu artinya ayah nya sedang terharu? Apa ayah nya sedang ingin mengungkapkan rasa terima kasih pada Alvian? Kalau seperti ini bagaimana dia akan meminta pria itu menceraikan nya.
Arina memijat pelipisnya, hal seperti ini sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh nya. Sialan! Pandai juga pria itu merangkai kata untuk Ayahnya.