---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Suasana pagi itu terasa tidak seperti hari pernikahan pada umumnya. Tidak ada dekor megah, tidak ada pesta meriah, tidak ada musik atau tamu berdandan mewah. Pernikahan Nirmala dilakukan sederhana, hanya di aula kecil desa yang biasanya dipakai rapat warga.
Tapi justru kesederhanaan itu membuat ibu tiri Nirmala semakin merasa menang.
melisa berdiri dengan lipstik merah mencolok, tangan terlipat di dada. Di sampingnya ada Aurelia , anaknya, berdandan berlebihan seolah hadir di pesta selebritas. Keduanya memandang Nirmala dengan tatapan sinis sejak awal acara.
“Ya ampun, Mala,” celoteh melisa sambil mengipas-ngipas wajah. “Kamu nikah sama laki-laki yang bahkan kita nggak tau namanya. Jangan-jangan cuma tukang kebun dari kota?”
Aurelia tertawa kecil, menutup mulut pura-pura sopan. “Iya, palingan pekerja lepas yang kamu pungut kemarin malam. Kasihan banget. Masa putri orang kaya jatuhnya ke sini?”
Nirmala hanya menatap mereka sebentar. Tidak terpengaruh. Hari ini bukan tentang mereka.
Daren berdiri di sampingnya, memakai kemeja hitam dan jas sederhana yang tetap terlihat mahal meski tidak mencolok. Wajahnya datar, tidak terganggu sama sekali oleh komentar itu. Justru ia merasa geli melihat bagaimana kedua perempuan itu meremehkannya.
Tapi ia diam. Belum saatnya membuka identitas.
Ibu tiri Nirmala melirik Daren dari ujung sepatu ke ujung rambut, wajahnya penuh hinaan.
“Ck… rambutnya juga model-model anak nongkrong. Benar ya Mala, kamu udah nggak laku sampai harus nikah sama pria yang nggak jelas begini?”
Nirmala menatap lurus.
“Apa pun kata kalian, aku tetap nikah sama dia,” jawabnya tenang.
Melisa mendengus. “Ih, terserah. Asal jangan bawa-bawa keluarga ini kalau nanti hidup kalian susah.”
Prosesi berlangsung cepat. Kepala desa menjadi penghulu. Saksi hanya ayah Nirmala dan seorang kerabat jauh yang kebetulan dekat dengan ayahnya.
Ketika ijab kabul berlangsung, Daren mengucapkan kalimatnya dengan mantap. Tidak terbata, tidak ragu.
“Soal itu kamu hebat juga ya,” gumam kepala desa setelahnya, setengah bercanda. “Biasanya yang nikah mendadak suka grogi.”
Daren hanya tersenyum tipis. “Saya tidak biasa ragu, Pak.”
melisa yang mendengar itu memutar bola mata. “Duh, gaya. Padahal nggak jelas kerjaannya.”
Nirmala menahan tawa sinis.
Oke, biarkan dulu. Tunggu sampai mereka tahu siapa kamu sebenarnya, batinnya.
Setelah sah, Nirmala dan Daren saling menandatangani buku nikah. Aurelia yang melihatnya langsung berbisik pada ibunya.
“Geli ih, kayak nikah sama pria pengangguran.”
Melisa menepuk tangan anaknya. “Sudahlah. Yang penting dia pergi dari rumah ini setelah nikah. Lumayan kan, Mama nggak perlu biayain dia lagi.”
Nirmala mendengar, tapi mengabaikan.
---
Setelah prosesi selesai, pak wira meminta mereka semua masuk ke ruang tamu rumah. Melisa dan Aurelia ikut, masih sambil berbisik-bisik menghinakan Daren.
Begitu pintu tertutup, ayah Nirmala meminta semua duduk.
“Ada hal penting yang ingin ayah sampaikan.”
Nada suaranya berbeda—lebih tegas daripada biasanya, meski masih terlihat gugup.
melisa spontan bersuara, “Apa lagi sih, Ayah? Mau ceramah soal pernikahan anakmu ini? Ya sudah lah, kita terima saja mereka nikah. Lagian laki itu terlihat—”
“Cukup.”
Untuk pertama kalinya, suara pak wira meninggi memotong istrinya.melisa terdiam. Aurelia memandang ibunya bingung.
Pak wira menatap Nirmala, kemudian ke Daren.
“Ayah sudah pikir panjang. Mulai hari ini, semua wewenang perusahaan ayah—kebun teh, kebun sawit, sawah, dan tanah-tanah yang ada di desa ini—ayah serahkan ke Nirmala.”
Ruangan mendadak beku.
“APA?!” melisa berdiri terpaku. “Kamu bercanda, kan?!”
Pak wira melanjutkan, tidak menghiraukan teriakan mereka.
“Ayah sudah siapkan semua dokumen. Mulai besok, Nirmala yang memegang kendali. Dia yang mengatur karyawan, hasil panen, keuangan, semuanya. Ayah ingin dia menjaga dan menyimpan semua ini sebaik-baiknya.”
Melisa mendekat sambil menunjuk wajah suaminya. “Kamu sadar nggak apa yang kamu lakukan?! Dia itu anak tiri aku! Dia bukan siapa-siapa!”
“Aku ayahnya,” jawab pria itu datar. “Dan aku tahu apa yang sudah kamu lakukan pada dia.”
Melisa membeku. Aurelia ikut pucat.
Daren memperhatikan ekspresi kedua perempuan itu dengan tatapan dingin. Ini baru awalnya.
pak wira menatap putrinya. Tatapannya bergetar, tapi penuh tekad.
“Nirmala… ayah minta kamu jaga semuanya. Jangan biarkan ada yang jatuh ke tangan orang yang tidak layak.”
Nirmala mengangguk. “Aku akan jaga, Yah.”
Daren meraih tangan Nirmala, menggenggamnya ringan sebagai bentuk dukungan. Ayahnya melihat itu dan mengangguk puas.
melisa akhirnya meledak, “KAMU NGGAK BISA LAKUIN INI! HARTA ITU MILIK KELUARGA KITA BERSAMA!”
Pak wira memutar wajah, menatapnya tajam.
“Tidak. Itu hasil kerja keras keluargaku sejak sebelum kamu datang. Dan Nirmala satu-satunya anak ku.”
Melisai gemetar, wajahnya merah padam karena marah. Aurelia sudah hampir menangis karena menyadari apa artinya semua ini: mereka kehilangan kekuasaan.
Nirmala bangkit dari duduknya.
“Mulai hari ini,” katanya tegas, “aku dan Daren akan pindah dari rumah ini.”
Melisa langsung tersenyum sinis, “Silakan! Pergi! Sekalian bawa suami nggak jelasmu itu!”
Nirmala tidak membalas. Ia hanya tersenyum tipis.
Daren berdiri di sampingnya, mendekat sedikit ke arah ibu tirinya.
Dengan suara rendah, ia berkata, “Bu… nanti kalau Ibu tahu saya siapa, jangan sampai malu sendiri.”
Melisa mengerutkan dahi. “Apaan sih gaya kamu? Sok kaya! Sok keren!”
Daren hanya tersenyum samar. “Kita lihat saja.”
---
Saat keluar rumah, Nirmala menarik napas panjang. Berat, tapi terasa melegakan.
“Kamu oke?” tanya Daren.
“Aku lebih dari oke. Ibu tiriku pasti akan ngamuk besar nanti.”
Daren memasukkan tangannya ke saku. “Biarin. Mereka memang harus dikasih pelajaran.”
Nirmala menatapnya. “Terima kasih ya… sudah ikut sejauh ini.”
Daren balas menatap. “Aku sudah janji. Dan aku akan pegang.”
Mobil mereka meninggalkan halaman rumah.
Di belakang mereka, rumah keluarga itu mulai dipenuhi suara teriakan melisa dan Aurelia yang panik.
Perang yang Nirmala sebut kemarin…
Sekarang benar-benar dimulai.