NovelToon NovelToon
1000 Hari Bersamamu

1000 Hari Bersamamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Romansa
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Doni Pradipta, seorang koki berbakat yang kehilangan segalanya dalam kebakaran lima tahun lalu, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena sebuah undian aneh: menjadi personal chef (Koki Pribadi) bagi Naira Adani, aktris terkenal yang tengah terpuruk setelah perceraian dan skandal besar.

Pertemuan keduanya yang semula hanya soal pekerjaan perlahan berubah menjadi perjalanan penyembuhan dua hati yang sama-sama retak mencoba untuk bertahan. Di dapur itu, Naira menemukan kembali rasa aman, sementara Doni menemukan alasan baru untuk percaya pada cinta kembali.

Ikuti kisah mereka yang penuh emosi, tawa, dan luka yang perlahan sembuh.
Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, Comment, dan Vote agar cerita mereka bisa terus berlanjut. 🤍✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. PENOLAKAN YANG BERLANJUT

..."Kadang yang hilang bukan rasa lapar di perut, tapi rasa ingin hidup di hati."...

...---•---...

"Nona Naira bilang ia tidak lapar." Ratna meletakkan nampan di konter dengan hati-hati, matanya menghindari tatapan Doni.

"Ia sakit?" tanya Doni pelan.

"Tidak."

"Alergi dengan bahan tertentu?"

"Tidak juga."

"Lalu kenapa tidak makan?" Doni menunjuk mangkuk sup yang dingin itu.

Ratna terdiam lama. Jari-jarinya mengetuk konter pelan. Akhirnya ia menatap Doni. Untuk pertama kalinya, Doni melihat kelelahan yang tulus di mata wanita itu.

"Pak Doni..." Suaranya pelan, nyaris seperti mengaku rahasia. "Nona Naira sudah tiga bulan seperti ini. Ia makan sangat sedikit, kadang tidak makan sama sekali. Kami sudah mencoba berbagai koki sebelumnya, berbagai menu, tapi hasilnya tetap sama. Jadi tolong jangan diambil hati. Ini bukan soal masakan Bapak."

Doni terdiam. Napasnya tertahan sebentar di dada.

Ini tentang seseorang yang kehilangan kemauan untuk menerima kehangatan.

Ia pernah ada di titik itu.

Setelah Sari meninggal. Tiga bulan pertama, setiap makanan terasa seperti abu di lidah. Setiap suapan seperti pengkhianatan karena Sari tidak bisa lagi menikmati apa pun.

"Saya mengerti," ucapnya akhirnya. "Untuk makan malam, saya akan coba menu yang berbeda."

Ratna mengangguk, tatapannya melembut sedikit. "Terserah Bapak. Makan malam jam enam sore."

Setelah Ratna pergi, Doni menatap mangkuk sup yang mulai dingin. Ia mengambil sendok, mencicipinya. Rasanya sempurna. Kaldu hangat, jahe lembut, ayam empuk. Sup seperti ini biasanya membuat pelanggan Dapur Sari datang kembali.

Tapi bukan Naira Adani.

Doni menghela napas panjang. Ia menuangkan sup itu ke wadah dan menyimpannya di kulkas. Ia tidak suka membuang makanan.

...---•---...

Sore itu, ia memasak Nasi Goreng Kampung. Sederhana, tapi kaya rasa.

Wajan besar dipanaskan hingga berasap tipis. Minyak dituang, mengkilap di permukaan besi hitam. Bawang merah dan bawang putih masuk pertama, bunyi desis keras langsung memenuhi dapur. Aroma harum menyeruak cepat.

Lalu terasi, hanya sedikit. Bau pedasnya menyengat, membuat mata Doni sedikit perih, tapi justru itulah yang membuat nasi goreng kampung terasa autentik.

Nasi putih masuk, diaduk cepat dengan spatula. Kecap manis dituang, warnanya berubah cokelat keemasan. Ayam suwir dan sayuran ditambahkan.

Terakhir, telur ceplok. Minyak panas, telur pecah dengan bunyi desis lembut. Putihnya mengembang sempurna, pinggiran jadi renyah kecokelatan, kuningnya tetap bulat dan setengah matang.

Doni menatap hasil karyanya dengan harapan yang dipaksakan di dada. Aroma bawang, terasi, dan kecap manis yang memabukkan memenuhi dapur. Ia yakin aroma itu pasti sampai ke lantai atas.

Mungkin kali ini berbeda.

Pukul enam tepat, Ratna datang mengambil nampan. Doni menatapnya dengan senyum kecil yang penuh harap.

Namun pukul enam lewat empat puluh lima menit, bunyi langkah kaki Ratna terdengar lagi. Doni sudah tahu sebelum melihat. Nasi goreng di piring masih utuh. Telur ceploknya bahkan belum disentuh, kuningnya masih bulat sempurna.

Doni menatap piring itu. Kali ini dadanya tidak sesak seperti tadi siang. Kali ini ada sesuatu yang lebih berat: mati rasa.

Ia tidak berkata apa-apa. Tangannya bergerak mekanis: mengambil piring, membuka kulkas, menyimpan makanan. Ratna berdiri di ambang pintu, tapi Doni tidak menatapnya.

Berapa lama aku bisa bertahan seperti ini?

...---•---...

Malam menjelang. Doni duduk di tepi tempat tidur kamarnya yang terlalu besar. Lampu meja menyala redup di sudut. Udara sejuk, tapi entah kenapa terasa dingin sampai ke tulang. Ia menatap foto Sari di meja samping.

Jari-jarinya menyentuh bingkai foto, merasakan permukaan kaca yang dingin.

"Hari pertama tidak seperti yang kubayangkan," bisiknya pelan. "Ia bahkan tidak mau mencicipi masakanku. Tidak mau menemuiku."

Doni terdiam lama. Napasnya keluar perlahan, berat. "Aku tidak tahu kenapa aku di sini, Sari. Untuk memasak? Untuk siapa? Untuk apa?"

Foto itu tersenyum seperti biasa, tidak memberikan jawaban. Tapi entah kenapa, Doni merasa Sari akan berkata: "Mungkin bukan untuk memasak. Mungkin untuk sesuatu yang lebih besar."

Tapi apa itu?

Di luar, kota Bandung berkilau oleh lampu-lampu malam. Kabut turun perlahan. Suara jangkrik samar terdengar dari taman, tapi di dalam rumah ini, hanya ada keheningan yang menekan.

Doni berbaring, menatap langit-langit kamar yang gelap. Besok ia akan mencoba lagi. Dan lusa. Dan hari-hari berikutnya. Ia masih punya sembilan ratus sembilan puluh sembilan hari.

Tapi bisakah aku bertahan tanpa kehilangan diriku sendiri?

Doni tidak akan menyerah. Tidak setelah ia menandatangani kontrak. Tidak setelah meninggalkan Dapur Sari. Dan terutama, tidak setelah ia merasakan keheningan rumah ini yang menyiratkan luka seseorang.

Mungkin Naira Adani tidak menginginkannya di sini. Tapi entah kenapa, Doni merasa ia ditakdirkan datang. Bukan hanya untuk memasak.

Matanya perlahan tertutup. Napasnya melambat. Besok adalah hari baru.

...---•---...

Namun di suatu tempat di lantai dua rumah itu, di balik pintu yang terkunci rapat, Naira Adani duduk di tepi tempat tidur. Kamarnya gelap, hanya cahaya kota dari jendela besar yang menerangi siluetnya. Punggungnya bungkuk, bahu turun, seperti beban tak terlihat menekan dari atas.

Mata menatap gelap malam tapi tidak melihat apa-apa. Gedung-gedung di kejauhan berkilauan, lampu-lampu kecil seperti bintang yang jatuh ke bumi, tapi Naira tidak merasakan keindahannya. Napasnya pelan, hampir tidak terdengar.

Tidak menangis. Tidak marah. Tidak merasakan apa pun.

Hanya hampa.

Dan kehampaan itu terasa lebih menusuk daripada rasa lapar, lebih gelap dari malam tanpa bintang. Sebuah keheningan yang ia ciptakan sendiri sebagai benteng pertahanan, atau mungkin sebagai penjara. Ia tidak tahu lagi mana yang benar. Yang ia tahu, di balik benteng itu, ia aman.

Aman dari rasa sakit. Aman dari kekecewaan. Aman dari harapan yang selalu berakhir hancur.

Tapi aman juga berarti sendirian.

Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Naira Adani duduk sendirian di dalam kegelapan yang ia pilih sendiri. Menunggu fajar yang tidak membawa harapan apa pun.

...---•---...

...Bersambung...

1
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Hemm Tara Dimana...??🤔🤔
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
"Siiip" 👍🏻👍🏻👍🏻
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Wkwkwkwk 🤣🤣🤣
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Kasihan 😭😭😭
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Sabar Iya Naira 🥲🥲
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Kangen...😭😭😭
Waktu Pas Liburan Jalan² Ke Kebun Teh Kayu Aro..
Cahaya Tulip
wah.. mau bilang apa itu? aduh saya yang deg2an😌
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Manggil Mas, Sayang, Beb ... hehehe...🤭🤭🤭
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
"Jangan Liat" 🙈🙈🙈
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Kangen Masak Mie Soup Ibu ku ..🥺🥺😭😭
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Kesukaan Nasi Liwet Juga Nasi Bakar Ayam Suwir 👍🏻👍🏻😋😋
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Waah... Ada Novel Detektif Sherlock Holmes .. 🤭🤭
*•.⁴♡🅰ᵞ🅤♡⁴.•*
Ada Apa Dengan Naira...??
MARDONI: lagi mencoba latihan saling asing karena mau ada kunjungan evaluasi kontrak 😄
total 1 replies
d_midah
Naira kamu kenapa, jadi ikut sedih😭😭
d_midah
aku tau perasaan itu
sesak padahal belum apa-apa 🥲
d_midah
sakit banget pasti, kalo sampe rasa ingin hidup hilang dari dalam hati
@dadan_kusuma89
Kalau kalian berdua bisa saling melengkapi, bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, maka kerapuhan itu akan berubah menjadi kekuatan.
@dadan_kusuma89
Naira, Mungkin luka lama dan rasa bersalah masih membekas di hati Doni. Tapi aku yakin Doni adalah orang yang bijak, sehingga dia pasti mampu untuk bersahabat dengan kenangan yang menyakitkan itu. Apalagi lagi sekarang ditambah dengan kehadiranmu dalan hidupnya. Semoga kalian berdua bisa saling melengkapi satu sama lain.
Rezqhi Amalia
dih haus validasi, dasar
Rezqhi Amalia
bgus doni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!