Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Ada Yang Salah
Azalea dan Suci telah tiba di rumah.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian santai, Azalea merebahkan tubuhnya di atas kasur busa tipis yang dialasi sprei bunga-bunga.
Melepas lelah adalah agenda utamanya. Namun sebelum benar-benar memejamkan mata, tangannya refleks meraih ponsel. Kebiasaan lama sulit hilang. Dia membuka aplikasi Mobile Legends, sekadar mencari hiburan singkat. Baru saja satu pertandingan dimulai, layar ponselnya berubah. Sebuah panggilan masuk dari Ayah.
Azalea menarik napas panjang, menggeser log hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo, Yah?"
"Kamu di mana, Lea?" Suara berat Bapak Sutopo terdengar di seberang sana tanpa basa-basi.
"Kan Azalea sudah bilang, Yah. Azalea mau membatalkan perjodohan itu. Sekarang Azalea ada di Desa Watuasih, lagi usaha buat bikin ilfeel calon mantu ayah." jawabnya tegas. Dalam hati Azalea, malah dia yang dibikin ilfeel oleh Adi.
Hening sejenak. Di seberang telepon, Sutopo terdiam mungkin sedang menimbang-nimbang kalimat apa yang harus dikeluarkan untuk menghadapi keras kepalanya sang putri tunggal.
Memanfaatkan momen itu, Azalea segera menyela sebelum ayahnya sempat berceramah.
"Yah, Azalea capek, mau tidur dulu. Pokoknya Azalea nggak akan pulang dalam beberapa hari ke depan. Belum tahu sampai kapan. Jangan disuruh pulang kalau pembahasannya masih soal itu."
Sutopo akhirnya bersuara, "Ya sudah, hati-hati. Ayah yakin kamu tidak bisa tidur di sana nanti."
Azalea mendengus remeh. "Kata siapa nggak bisa tidur? Aman aja kok, Yah. Tenang, nyaman."
"Ya sudah kalau begitu. Salam buat calon mantu," ucap Ayah singkat.
"Dih!"
Klik. Panggilan langsung diputus sepihak oleh sang ayah.
Azalea melempar ponselnya ke samping bantal dengan perasaan dongkol. "Bener-bener nih Ayah, nggak habis pikir yang dibahas itu mulu. Gue juga nggak habis pikir sama calon yang dipilih Ayah. Nggak ada mandirinya sama sekali. Sejauh ini belum ada yang baik nampak dari dia," gerutunya pada langit-langit kamar.
Dia terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada sosok Adi yang dia temui kemarin. Laki-laki itu... ah, memikirkannya saja sudah membuat kepala Azalea pening. Dia mulai ragu. "Apa gue salah orang ya?" bisiknya dalam hati. "Nanti aja deh gue pastiin lagi. Lagian Ayah kasih clue suruh nanya ke Pak Lurah. Ibu juga cuma bilang namanya Adipati. Tapi Adi ini... Adi apa ya? Jangan-jangan bukan Adipati yang itu."
Pikirannya kembali ke momen saat dia pertama kali menginjakkan kaki di desa. Waktu dia bertanya pada Pak RT dengan nada menyelidik, "Pak, kenal sama Adipati yang lagi dijodohkan tidak?"
Saat itu Pak RT menjawab dengan dahi berkerut, "Adi ya?" Sambil manggut-manggut seakan baru saja memecahkan teka-teki silang, Pak RT memberitahu bahwa ada seorang pemuda bernama Adi yang memang sedang sibuk mencari jodoh. Dan itulah yang membawanya bertemu dengan Adi si Petenteng bin Sruntul--begitu Azalea melabelinya dalam hati--yang sifatnya sama sekali tidak mencerminkan nama ningrat Adipati.
Dan ternyata saat ini, ucapan Ayah adalah sebuah kutukan yang menjadi kenyataan. Baru lima menit Azalea mencoba memejamkan mata, suara dengingan tinggi mulai menyerang telinganya. Ngiiiing...
Satu nyamuk mendarat di pipi. Dia menepuknya, tapi tiga kawan lainnya datang menyerang kaki. Azalea menarik selimut sampai menutupi kepala. Hasilnya? Dia malah merasa engap.
Akhirnya dengan perasaan dongkol, Azalea keluar kamar mencari solusi. Di dapur, dia mendapati Suci yang sedang meneguk air putih.
"Kenapa belum tidur, Lea?"
"Maaf, suci, banyak banget nyamuk di kamar. Aku nggak bisa tidur," aku Azalea sejujurnya.
"Oalah. Nih, ada pilihan. Mau pakai obat nyamuk yang dioles ke kulit, apa pakai obat nyamuk bakar?"
Karena seumur hidupnya selalu tinggal di ruangan ber-AC dengan pengharum otomatis, Azalea buta soal ini. "Dua-duanya boleh dicoba?"
"Boleh."
Percobaan pertama, obat nyamuk oles. Azalea membalurkan lotion itu ke lengan dan kakinya. Sesaat kemudian, dia meringis. "Aduh, panas ternyata."
Percobaan kedua, obat nyamuk bakar. Begitu asapnya mengepul dan memenuhi kamar, Azalea justru tersedak. "Uhuk! Uhuk! Ini mah bukan nyamuknya yang mati, tapi aku yang pingsan duluan karena sesak nafas."
Suci yang kasihan melihat penderitaan Azalea akhirnya mengeluarkan senjata pamungkas dari balik lemari. Sebuah raket nyamuk elektrik berwarna kuning cerah.
"Nih, pakai yang ini saja. Tinggal dipencet terus diayunkan."
Azalea menerima raket itu seperti menerima pedang pusaka. Cetet! Cetet! Bunyi nyamuk yang terpanggang listrik memberikan kepuasan tersendiri baginya. Akhirnya, dia bisa kembali ke kamar dengan senjata di tangan.
Baru saja dia hendak memejamkan mata untuk yang kedua kalinya, sebuah suara dari depan rumah memecah keheningan.
"Assalamu’alaikum! Pak RT! Pak RT!"
Azalea menajamkan pendengaran. Dia mengenali suara itu. Suara yang sangat ingin dia hindari. Dia mengintip sedikit dari balik celah pintu kamar. Ternyata Pak RT yang akan membukakan pintu.
"Lho, Adi? Ada apa malam-malam begini ke sini?"
"Anu, Pak RT... saya pengen ketemu Dek Azalea sebentar," jawab Adi masang muka lemah lembut.
"Sudah malam, Di. Nggak elok bertamu jam segini. Mending kamu pulang saja, besok lagi kalau mau ketemu," tegur Pak RT tegas.
"Sebentar saja, Pak. Sumpah, sebentar doang. Minta tolong dipanggilkan, Pak," Adi kekeuh, kakinya sudah mau melangkah masuk.
Namun Pak RT bukan orang yang mudah goyah. Beliau mulai mengeluarkan jurus ceramah panjang lebarnya tentang etika bertamu, norma kesopanan desa, hingga membawa-bawa hukum adat. Melihat Pak RT yang punya pendirian sekuat baja, Adi akhirnya menyerah.
"Ya sudah, Pak. Saya pulang. Tapi besok saya ke sini lagi." seru Adi sambil berbalik pergi.
Azalea yang menyimak di dalam kamar, membatin dengan perasaan was-was, Darimana si Adi tahu gue ada di sini? Wah, ini udah nggak aman. Benar-benar nggak aman.
Seperti Azalea sedang mempertimbangkan untuk pindah dari rumah ini.
.
.
Bersambung.
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣