pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.
kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.
kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.
siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.
>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"
Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 4
Laras masih berada di restoran dengan kegiatan arisannya, ia menilik jam di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul dua lebih. Ia berpamitan pada teman-temannya untuk segera pulang, pasti cucunya juga sudah di rumah.
Di tengah jalan, Laras melihat Fara yang baru saja keluar dari salah satu toko mewah dengan menenteng beberapa paperbag. Tidak ingin berbasa-basi untuk menyapa, Laras melenggang pergi menuju mobilnya.
Sesampainya di rumah.
"Moly, dimana Aiden?"
"Aden sedang tidur, Nyonya besar," jawab Moly yang tergopoh mendekat ke arah Laras.
Laras mengangguk, hendak menuju kamar cucunya di lantai dua, namun baru undakan pertama Moly menghentikannya.
"Aden tidak tidur di kamarnya, Nyonya besar."
Laras berbalik, keningnya mengerut dalam. "Lalu?"
"Di sana, Nyonya besar," Moly menunjuk dengan jempolnya ke arah karpet tebal di depan TV.
Laras terkesiap. "Kenapa dia bisa tidur di sana, Moly?" tuntutnya menghampiri.
"Maaf, Nyonya besar. Tadi Aden diantar Nona Stella, Aden mengantuk, ingin ditemani Nona Stella, tapi Nona stella menolak untuk tidur di kamar Aden. Lalu Nona Stella mengajak Aden tidur di sana, Nyonya besar," jelas Moly menunduk hormat, mengikuti langkah Laras.
Langkah kaki Laras terhenti. "Stella?" gumamnya, sepertinya ia pernah mendengar nama itu. "Dimana dia sekarang?" tanyanya menoleh sekilas.
"Sudah pulang satu jam yang lalu, Nyonya besar."
Laras mengangguk. "Kamu bilang Aiden diantar Stella? Dimana Sandy?" tanyanya lagi.
"Tuan Sandy belum pulang, Nyonya besar. Nona Stella tadi bilang, kalau Aden sudah lama menunggu di sekolah, tapi belum ada jemputan, jadi Nona Stella mengantar Aden pulang," terang Moly menunduk hormat.
Laras mengangguk-angguk. "Baiklah, terimakasih, Moly."
"Iya, Nyonya besar. Permisi."
...***...
Malamnya, keluarga Van Houten sedang menikmati makan malam. Di meja panjang tersebut terdapat Vero, —Ayah Sandy, yang duduk di ujung. Sandy duduk di sebelah kanan dan Laras di sebelah kiri, serta Aiden yang duduk di samping Laras.
Suasana hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu bertemu piring yang memenuhi ruangan, sampai ucapan dari Aiden memecah keheningan.
"Moly," panggil Aiden.
"Iya, Aden?" Moly tergopoh menghampiri Aiden.
"Makanan buatan Bunda tadi siang masih ada?" tanya Aiden, dan seketika suara dentingan berhenti mendengar ucapan pria kecil itu.
Sandy tercengang. 'Bunda? Siapa Bunda?' bathinnya bertanya-tanya.
Tidak beda jauh dengan Sandy, Vero juga nampak terkesiap saat cucunya menyebut nama asing, sedangkan Laras yang sudah pernah mendengar tentang Bunda Stella, terkejut karena wanita itu bahkan membuatkan makanan untuk cucunya.
"Masih, Aden. Mau Bibi panaskan?"
Aiden mengangguk antusias.
"Aiden, siapa yang kamu maksud Bunda?" tanya Sandy penasaran.
"Bunda Stella, yang tadi pagi jemput Aiden sekolah," jawab Aiden dengan polosnya.
Jedarrr...!!
Sandy terkejut bukan main, bukankah tadi pagi ia menyuruh Fara untuk menjemput Aiden? Tapi kenapa jadi Stella Stella itu yang mengantar Aiden?
"Siapa Bunda Stella, Aiden?" tanya Vero penasaran.
"Dia Bunda Aiden, Opa. Bunda baik sama Aiden, mau nemenin Aiden di sekolah, terus juga mau masakin buat Aiden, bantu Aiden ngerjain pr, terus nyanyiin Aiden sebelum tidur," celoteh Aiden dengan mata berbinar, memuji kebaikan Bunda Stella-nya.
"Aiden, sudah Daddy katakan, jangan sembarang dekat dengan orang lain, apalagi mengajaknya ke rumah, kamu ingat itu!" tegur Sandy memperingati, menatap sang anak dengan tatapan dingin.
Seketika raut wajah Aiden berubah muram. "Maaf, Dad," lirihnya menunduk.
"Ini, Tuan Muda," Moly datang meletakkan mangkok makanan dengan berbagai macam sayuran di dalamnya.
Mata Aiden kembali berbinar melihat masakan Bunda Stella-nya.
"Oma ambilkan, ya?" tawar Laras diangguki Aiden.
Aiden memakan makanannya dengan lahap, sesekali tersenyum membayangkan wajah Bunda Stella saat menyuapinya siang tadi. Hal itu tak luput dari tatapan ketiga orang dewasa di meja makan.
"Oma boleh minta?" goda Laras mengulum senyum, melihat bagaimana Aiden berbinar menikmati makanannya.
"Bowyeh, Ohma," jawab Aiden dengan mulut penuh.
Laras mengambil sedikit dan mencicipinya. "Enak," pujinya mengangguk-angguk.
"Masakan Bunda Stella memang enak, Oma," kata Aiden tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya.
...***...
Setelah menidurkan Aiden di kamarnya, Laras menghampiri suaminya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Sandy, Mama mau bicara."
Sandy yang hampir menaiki tangga berbalik dan duduk di seberang orangtuanya yang terhalang meja. "Ada apa, Ma?"
"Tadi siang, Pak Udin bilang sama Mama, Miss Dewi sudah mengabari kalau sekolah pulang pagi, tapi kenapa kamu tidak menjemput Aiden?" tanya Laras penuh tuntutan.
"Dari mana Pak Udin tahu, Ma?"
"Kamu pikir saja sendiri!" hardik Laras ketus, yang seketika membuat Sandy bungkam. "Kalau kamu tidak bisa jemput Aiden, seharusnya kamu bilang sama Mama, biar Mama yang jemput Aiden. Jangan mengandalkan seseorang yang tidak pasti," ucapnya penuh sindiran, ia teringat dengan Fara yang ia temui di mall.
"Siapa yang kamu maksud, sayang?" tanya Vero.
"Siapa lagi kalau bukan Fara," jawab Laras bersungut-sungut, ia menatap kesal pada putranya.
Sandy terdiam menatap Laras.
"Tadi Mama ketemu dia sedang shopping di mall, dan Papa tahu? Fara yang nelpon Pak Udin buat jemput Aiden, karena dia bilang lagi sibuk pemotretan," tutur Laras melipat tangan. "Bahkan nelponnya juga telat. Pak Udin sampai di sekolah, Aiden sudah pulang sama Stella. Miss Dewi bilang, sekolah sudah selesai satu jam yang lalu," dengusnya, ia menatap Sandy. "Bisa kamu bayangkan? Berapa lama Aiden menunggu, Sandy?" cetusnya penuh tekanan.
Sandy mendesah, ia sadar telah salah, jadi ia tidak bisa membantah. "Maafkan aku, Ma," hanya itu yang bisa ia katakan.
"Maaf, maaf, kamu itu harus mikirin anak kamu juga, Sandy," semprot Laras kesal. "Sepertinya Fara bukan orang yang tepat untuk menjadi ibu sambung Aiden," imbuhnya sinis, kesal dengan ulah Sandy juga Fara.
"Aku akan ngomong sama Fara, Ma. Mungkin Fara butuh adaptasi."
"Terus saja bela dia!" sungut Laras keras.
"Sudah-sudah," Vero menengahi. "Sandy, apa yang Mama kamu bilang ada benarnya. Ingat, tujuanmu bukan hanya mencari istri, tapi mencari ibu untuk Aiden," sambungnya menatap Sandy, membenarkan kalimat istrinya.
Vero menghela nafas. "Papa tahu, mungkin Fara butuh latihan, butuh adaptasi, butuh proses. Tapi kalau dirinya menolak untuk beradaptasi, bagaimana dia bisa dekat dengan Aiden? Satu-satunya kunci adalah Aiden, kalau Aiden bahagia, Papa akan restui kalian, kalau Aiden terlantar, biarkan Aiden di sini."
"Aiden anakku, Pa," sela Sandy cepat.
"Papa tahu Aiden itu anak kamu, tapi kalau kamu tidak becus mengurusnya, biarkan Mama sama Papa yang mengurusnya," balas Vero tak mau kalah, ia juga tidak ingin cucunya tidak diperhatikan.
"Mama juga masih sanggup mengurus Aiden," ujar Laras menambahi.
Sandy memijit keningnya yang berdenyut, ia beranjak dari posisinya hendak ke kamar Aiden. "Aku ke kamar Aiden dulu," pamitnya kemudian.
Sandy menatap wajah putra tunggalnya dengan lekat, Aiden benar-benar fotocopy dari dirinya, hanya bola matanya yang mirip dengan mendiang istrinya.
Sandy mengelus kepala Aiden, kemudian mengecup keningnya. "Maafkan Daddy," sesalnya lirih.
~•
•~
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia
aneh sich
tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya