NovelToon NovelToon
Manuskrip Vyonich

Manuskrip Vyonich

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Cinta Terlarang / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Rifa'i

Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.

Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.

Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjaga Rahasia

Lorong bawah tanah yang sempit itu kini dipenuhi ketegangan. Arka dan Kiara berdiri membeku, cahaya senter mereka menyorot ke depan, memperlihatkan sosok-sosok yang muncul dari kegelapan.

Mereka bukan orang biasa.

Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang berbentuk spiral di dada, dan wajah mereka tertutup kain, hanya menyisakan mata yang tajam dan penuh kewaspadaan.

Kiara mencengkeram lengan Arka. "Siapa mereka?" bisiknya.

Arka menelan ludah. "Aku tidak tahu. Tapi aku rasa mereka sudah lama menjaga tempat ini."

Salah satu dari mereka melangkah maju. Suaranya dalam dan tegas saat berbicara dalam bahasa yang asing.

"Deyra Vyonich. Zyren vosh'kal."

Arka merasakan tengkuknya meremang. Kata-kata itu sama dengan yang diucapkan salah satu pengejarnya di Praha.

"Mereka tahu tentang manuskrip ini," gumamnya.

Kiara menoleh padanya. "Kau bisa mengerti bahasa mereka?"

Arka menggeleng. "Tidak sepenuhnya. Tapi dari cara mereka berbicara… aku rasa mereka menanyakan kenapa kita ada di sini."

Salah satu dari sosok berjubah itu mengangkat tangannya, menunjuk langsung ke lembaran Manuskrip Vyonich yang dipegang Arka.

Tanpa peringatan, cahaya dari simbol-simbol di naskah itu kembali menyala terang.

Reaksi para penjaga itu spontan—mereka langsung berlutut.

Arka dan Kiara saling berpandangan.

"Mereka… menghormatinya?" Kiara berbisik.

Arka tidak bisa menjawab. Yang ia tahu, saat ini, mereka bukan musuh—setidaknya belum.

PINTU KEDUA

Salah satu penjaga itu berdiri kembali dan memberi isyarat agar mereka mengikutinya.

"Aku tidak yakin ini ide yang bagus," gumam Kiara saat mereka berjalan menyusuri lorong lebih dalam.

"Kita tidak punya pilihan," balas Arka.

Terowongan itu semakin gelap, tetapi ada udara yang lebih segar, seolah-olah mereka mendekati suatu ruang yang lebih besar. Langkah mereka bergema, menandakan bahwa lorong ini telah ada sejak lama—mungkin ribuan tahun.

Tak lama, mereka tiba di depan sebuah pintu batu raksasa.

Pintu itu penuh dengan ukiran aneh, hampir menyerupai simbol-simbol di Manuskrip Vyonich.

Salah satu penjaga melangkah maju dan menempelkan kedua tangannya ke batu itu. Ia mulai melantunkan sesuatu dalam bahasa kuno.

Kemudian, sesuatu terjadi.

Simbol-simbol di pintu itu mulai bersinar, dan perlahan, pintu batu itu terbuka dengan sendirinya.

Kiara menahan napas. "Bagaimana mungkin…?"

Di balik pintu itu, ada sebuah ruang besar yang gelap. Tetapi di tengahnya, ada sebuah altar batu, dan di atasnya tergeletak sesuatu yang tampak sangat kuno—sesuatu yang terlihat seperti manuskrip asli.

Arka merasa jantungnya berdegup lebih kencang. "Itu… bagian asli dari Manuskrip Vyonich."

Namun sebelum mereka bisa mendekat, salah satu penjaga berbicara lagi. Kali ini, nadanya lebih serius.

"Deyra Vyonich. Melkarun ves'thal."

Kiara menatap Arka. "Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi dari cara mereka bicara… rasanya itu peringatan."

Arka menatap manuskrip di altar itu dengan penuh kehati-hatian. Ada sesuatu yang tidak beres.

Tetapi sebelum ia bisa bereaksi—

Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari belakang mereka.

PENGKHIANAT DI ANTARA MEREKA

Lorong tempat mereka datang kini dipenuhi asap, dan dari kegelapan muncul beberapa pria bersenjata.

Mereka bukan penjaga.

Mereka adalah orang-orang yang mengejar Arka dan Kiara sejak di Praha.

"Mereka menemukan kita!" teriak Kiara.

Para penjaga langsung menarik belati mereka dan bersiap bertarung. Tetapi musuh mereka membawa sesuatu yang lebih berbahaya—senjata api.

Tanpa ragu, salah satu pria bersenjata itu menekan pelatuknya.

DOR!

Salah satu penjaga terjatuh. Yang lainnya langsung menyerang, tetapi mereka kalah dalam persenjataan.

Arka dan Kiara menunduk, berlindung di balik batu.

"Apa yang harus kita lakukan?!" seru Kiara.

Arka melihat ke arah altar. Manuskrip itu masih di sana, utuh.

Ia tahu, apa pun yang ada di dalam teks kuno itu, semua orang di sini mempertaruhkan nyawa mereka untuk memilikinya.

Mereka harus mengambilnya terlebih dahulu.

"Ikut aku!" Arka berlari ke altar secepat mungkin, menghindari tembakan yang beterbangan di sekitarnya.

Saat ia sampai di depan altar, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Udara di sekitarnya menjadi lebih dingin.

Dan tiba-tiba—

Manuskrip asli di atas altar mulai bergetar.

Kiara sampai di sampingnya, terengah-engah. "Arka, ada yang aneh dengan ini."

Arka mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya.

Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan naskah itu, ia langsung merasakan sebuah penglihatan menyerang pikirannya.

Kilatan cahaya. Simbol-simbol berputar di udara. Suara-suara dalam bahasa kuno menggema di kepalanya.

Lalu sebuah kalimat muncul dalam benaknya.

"Pembawa Cahaya akan membuka gerbang yang telah lama terkunci."

Arka tersentak, napasnya terengah. Kiara mengguncang bahunya.

"Apa yang terjadi?! Kau baik-baik saja?"

Arka menatapnya dengan mata melebar. "Manuskrip ini… ini bukan hanya naskah biasa. Ini adalah kunci."

Kiara terdiam. "Kunci ke mana?"

Arka menelan ludah. "Aku belum tahu. Tapi kita harus keluar dari sini sebelum mereka mendapatkan ini."

Di belakang mereka, pertempuran masih berlangsung. Para penjaga berusaha melawan, tetapi musuh semakin banyak.

Salah satu pria bersenjata melihat mereka dan berteriak, "JANGAN BIARKAN MEREKA MENGAMBIL MANUSKRIPNYA!"

Mereka langsung menodongkan senjata ke arah Arka dan Kiara.

Tetapi sebelum mereka bisa menarik pelatuk

Seluruh ruangan tiba-tiba berguncang.

Batu-batu mulai berjatuhan dari langit-langit, dan suara gemuruh memenuhi lorong.

Arka dan Kiara langsung saling berpandangan.

Mereka harus keluar—sekarang juga.

1
Diana Dwiari
berasa nonton film lara croft
Ahmad Rifa'i: terima kasih kak sudah mampir ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!