Kejadian pada masa lalu diramalkan akan kembali terjadi tidak lama lagi. Tuan kegelapan dari lautan terdalam merencanakan sesuatu. Enam sisi alam dunia mitologi sedang dalam bahaya besar. Dari seratus buku komik yang adalah gerbang penyebrangan antara dunia Mythopia dan dunia manusia tidak lagi banyak yang tersisa. Tapi dari sekian banyak kadidat, hanya satu yang paling berpeluang menyelamatkan Mythtopia dari ramalan akan kehancuran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4: Comic Book(Part 1)
"Sampah sampah dan sampah! Ew!" Teresa mengeluh. Walaupun memungut sampah dengan sarung tangan, tapi dia merasa terlalu elegan untuk melakukan pekerjaan menjijikan itu. Terutama karena baunya. "Oh yaampun!" Berusaha menjaga jarak wajahnya dari sampah yang dipegang oleh tangannya seperti permainan mesin penjepit.
Bukan hanya Teresa... Yang lainnya yaitu seluruh teman sekelasnya melakukan tugas kotor sebelum mereka boleh pulang kerumah. Benar-benar kotor. Termasuk Melody, yang kerenanya mereka semua ikut dihukum.
Memungut sampah yang berserakan di halaman sekolah, menyapu, dan lainnya.
Crrap!
"Arggggh! Baiklah Cukup! Aku sudah tidak tahan lagi!" Seketika dari dalam diri Teresa meledak. Sebagian sampah bercampur lumuran lumpur yang diangkatnya malah jatuh mengenai sepatu kesayangannya. Sepatu yang baru dibelinya kemarin.
"Bisa tidak kau berhenti mengeluh?!" Melody ikut campur.
"Maaf... apa tadi kau bilang?!" Teresa terpancing.
"Aku bilang berhentilah mengeluh dasar gadis manja!" Ulang Melody. Tapi dengan pandangannya yang tajam menatapnya. Sedikit mencondongkan atas tubuhnya.
"Berani-beraninya kau! Sudah bisa melawan rupanya!"
"Apa kau kira aku takut padamu selama ini?! Aku bisa melawanmu kapan saja jika aku mau!" Sahut lagi dari Melody. Mereka berdua terus melempar rasa kesal. Sedangkan yang lain hanya memperhatikan pertengkaran mereka.
"Jangan memancingku dasar kutu buku! Apa aku perlu mengingatkanmu lagi kalau kita semua dihukum karena ulahmu hah?!
"Itu tidak perlu. Tapi sebaiknya kau fokus pada sampahmu agar kau dapat cepat pulang dan membersihkan sepatu mahalmu itu dengan sikat wc!" Balas lagi dari Melody, dengan nada suara di akhir kalimatnya yang lebih ditekankan kepada Teresa. Itu otomatis membuat Teresa naik darah.
Tidak terima karena merasa direndahkan seperti itu, Teresa, langsung cepat merebut sekop dari tangan yang lain yang berdiri tidak jauh di sebelahnya. "Hey" Yang direbut protes.
Dan Teresa mulai berjalan cepat mendekati Melody.
"Wow wow wow! Sudah!" Salah seorang murid pria yang tadi sedang mengobrol bersama golongan yang tidak terkena hukuman langsung datang mencegat Teresa. Menahan Teresa yang tetap berusaha mendekati Melody.
"Tenanglah Adik! Kau seharusnya bersikap sedikit lebih dewasa!" Tegurannya. Dia yang dari kelas satu tingkat lebih tinggi.
Di tengah Teresa yang amarahnya sedang berusaha diredahkan oleh saudaranya, Delphine datang menghampiri Melody dan menyuruhnya untuk langsung pulang.
"Tapi... Aku belum selesai di sini," Melody bingung. Tapi Delphine serius memintanya untuk langsung pulang.
"Kau juga!" Lanjut ucapnya. Tapi dia berganti menunjuk ke arah Abigail yang berdiri di antara yang lain yang dari tadi hanya bisa memandang pertengkaran antara Melody dan Teresa.
"Aku?!" Abigail bingung. Menunjuk dirinya sendiri karena tidak yakin apa yang dimaksud Delphine sungguh dirinya atau bukan.
Sampai si Delphine mengeluarkan guntingnya itu lagi. Itu sontak langsung membuat Abigail melepas sarung tangannya cepat, bergegas mengambil tasnya, dan pergi.
Walaupun tidak diberi tahu apa alasannya, Melody dan Abigail hanya mengikuti dan menurut apa katanya. Dia ketua OSIS sekolah. Jadi siapapun harus lebih hormat padanya. Apalagi dia kan anak dari kepala sekolah. Membuat siapapun harus berpikir dua kali sebelum ingin macam-macam dengannya.
Melihat Melody mengambil tas dan mulai berjalan pergi menyusul Abigail..., "Apa?! Hey itu tidak adil!!" Teresa protes di balik cegatan tangan kakaknya. Tangan Teresa terus berusaha meraih-raih ke arah Melody yang berjalan pulang.
"Awas kau ya, Melody! Ini belum berakhir! Kau dengar aku?! Ini belum berakhir...!!!" Teriaknya panjang dan keras di akhir dari kejauhan, sambil terus fokus memandang Melody yang semakin pergi menjauh.
...----------------...
"Aku akan mengabarimu lagi jika menemukan sesuatu yang baru," Ucap Abigail sebelum masuk ke toko kue orang tuanya.
"Aku mengerti," Melody mengangguk. Mereka berdua lalu berpisah di sana, dan Melody melanjutkan langkahnya berjalan sampai ke rumah. Ibunya tidak akan sempat menjemputnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kalau Ibu Melody menjadi duta pelestarian ekosistem laut. Jadi dia terlalu sibuk. Dia juga kadang tidak akan pulang sampai dua hari atau lebih lama.
Jadi Melody harus mengurus dan menjaga rumah seorang diri.
Makanan di rumah sudah Ibunya sediakan. Setidaknya cukup untuk hari itu. Tapi jika Ibunya lagi-lagi tidak bisa pulang dalam beberapa hari, Melody bisa membuat masakan sendiri untuk ia makan di rumah. Memasak makanan seadanya dengan bahan-bahan persediaan dapur yang masih tersedia.
Persediaan menumpuk di lemari pendingin. Jika Melody sedang malas memasak dia juga bisa memakan makanan bungkusan yang instan dapat langsung dimakan.
Itu tidak baik. Dia tahu itu! Tapi itu hanya sementara untuk mengganjal perut.
Soal masakan yang bisa dimasaknya... Untuk sekarang Melody baru bisa membuat pancake, pasta, sup kentang, juga tentu saja telur mata sapi dan mie instan. Dua yang terakhir sudah pasti hampir semua yang seumuran Melody bisa melakukannya. Easy Peasy !
Tapi Melody melewatkan makan siangnya.
Sebelum dirinya langsung mandi, dan pergi tidur untuk sejenak, Melody, harus menyimpan barang-barang lama yang terlalu memenuhi ruang kamarnya. Buku-buku lama, sampai boneka-boneka masa kecilnya. Terkecuali satu boneka Barbie peri bersayap dan satu mermaid miliknya, yang sudah begitu lama menemaninya di saat sedang sendiri di rumah.
Dinamainya Elfa dan Mercy. Dia tahu itu nama yang ironi untuk kedua penampilannya. Sulit untuk memikirkan nama yang tidak terlalu menonjolkan siapa mereka sebenarnya. Disamping itu, dulu Melody juga sempat mengajak bicara mereka, seakan-akan mereka berdua memang teman yang hidup.
Tapi jangan berpikir Melody gila. Hanya berimajinasi dan wajar bagi anak-anak ya kan?! Walaupun sejujurnya, sampai saat itu pun diri Melody masih melakukan itu.
Oke lupakan!
Melody memindahkan semua yang mungkin tidak lagi terlalu penting ke sebuah kotak kardus. Termasuk action figure penyihir yang kata Ibunya itu milik Ayahnya dahulu. Ayah Melody. Dia lalu membawa semua itu keluar dari kamarnya yang tidak terlalu luas.
Semua itu tidak akan dibuangnya. Hanya menyimpannya di tempat lain. Yaitu loteng penyimpanan barang yang pintu masuknya berada di atas_ di tengah lorong lantai dua rumahnya.
Menggunakan gagang pengait dan menarik pintu loteng tepat di arah atas kepalanya. Tangga untuk menaikinya juga langsung turun berdomino dari atas sana setelah pintu terbuka. Melody tidak akan naik dengan satu tangan karena satu tangannya lagi membawa sekotak barang lama yang terlalu berbobot untuk diangkat hanya dengan satu tangan.
Tidak! Tapi dia memiliki satu trik yang sudah lama pernah dilakukannya untuk membawa barang-barang ke loteng rumahnya.
Melody membuat sendiri semacam alat katrol yang hampir serupa dengan yang ada terdapat pada sumur. Katrol sumur.
Hanya saja Melody menggunakan keranjang untuk mengangkut barang ke atas sana. Dia menarik tali yang terlihat menggantung dan menurunkan tali katrol dengan keranjang itu. Semua barang beserta kardus tadi lalu di taruh semua di dalam sana.
Dan Melody mulai menarik tali yang kedua. Semua barang lama miliknya itu pun perlahan naik ke atas sana. Memudahkannya dalam memindahkan setiap barang-barang berkuran kecil sampai berukuran sedang. Terkecuali yang seukuran papan selancar.
Setelahnya, Melody tinggal menyusul naik dengan tangga dan merapihkan barang itu ke posisi yang tepat di atas sana. Bersama barang-barang lama lainnya.
Dan jangan khawatir. Di atas sana sudah di taruh sediakan sebuah lentera gantung dengan tenaga baterai guna untuk penerangan.
"Clak!" Melody langsung menyalakannya, dan menaruhnya di dekat lokasi yang akan ditempatkan sebagai peristirahatan terkahir untuk barang-barang tua miliknya tadi.
Memang masih siang hari. Tapi loteng dirumah mereka anehnya dari awal tidak memiliki jendela. Pagi maupun malam akan terlihat tidak ada bedanya. Begitu Gelap.
Suasana yang sungguh Menyeramkan! Apalagi dengan barang-barang lama milik Ibu dan Ayahnya, juga bekas barang dari pemilik rumah sebelum mereka yang aneh-aneh. Melody tidak tahu yang mana saja barang milik Ibu atau Ayahnya. Tapi di sana terdapat pajangan berupa kepala buah labu atau biasa disebut sebagai Jack O Lantern di dalam sebuah kotak kaca yang diikat kunci dengan rantai dan gembok. Mungkin itu untuk dekorasi Halloween.
Juga sebuah kotak badut kejutan berukuran besar. Kepalanya yang seakan mengintip dari balik sela kotak yang rusak terbuka selalu membuat diri Melody merinding.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...