Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Eugene
Usai makan malam, mereka nonton tivi. Walaupun mereka tidak mengerti bahasa Italia, tapi lumayan terhibur. Fian mencari acara hiburan yang bisa mereka mengerti tanpa harus tahu bahasanya. Tak sengaja Fian membuka channel berbahasa Inggris dan kebetulan sedang acara berita.
"Seorang model terbunnuh ...."
"Aduuh ... berita pembunuhan lagi ... aah ...." Fian kemudian mencari siaran lainnya yang tidak membuat Lana stres. Kemudian jarinya berhenti pada siaran lagu-lagu Itali. Setidaknya nyaman didengar. Ia kemudian meletakkan remote dan memeluk pinggang ramping Lana agar menempel padanya. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dan kemudian menonton.
Lana melirik suaminya. "Apa kalau aku sudah melahirkan, sikapnya akan sama?" Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah tivi. "Sudahlah, Lana. Jangan terus bermimpi. Bukankah orang ini bilang kalau ia sangat menginginkan bayimu? Itu karena Mbak Lynda sama sekali belum memberinya keturunan. Tapi setelah ini, mungkin dia akan menyiapkan surat cerai. Percayalah, Lana, cintamu hanya bertepuk sebelah tangan. Kamu tak boleh jatuh cinta padanya karena sesungguhnya pria ini tidak mencintaimu. Dia hanya menjadikanmu mesin pembuat anak saja dan kemudian membuangmu ke jalan." Setelahnya, Lana fokus menonton tivi.
Berbeda dengan Fian, ia memikirkan Lynda. "Kenapa tiba-tiba aku memikirkan Lynda? Seharian mood-ku jadi kurang bagus. Apa aku masih mencintainya? Ah, tentu saja. Pertanyaan apa ini? Bukankah aku menikah dengannya? Tapi kenapa tiba-tiba perasaanku nggak enak? Ah, mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengannya. Sayang, aku tidak pegang handphone. Kalo ada, aku bisa menghubunginya, memastikan dia tidak kenapa-kenapa. Ke mana disembunyikannya ponselku oleh Sophie? Aku tidak bisa menemukan di kamarnya." Ia mendessah pelan.
***
Adrian menatap Eugene yang terbaring di atas ranjang brankar dengan kepala diperban. Eugene adalah bawahannya yang paling setia yang sudah bekerja dengannya selama bertahun-tahun. Tentu saja Adrian merasa gamang tidak ada Eugene disampingnya.
Terlihat istri Eugene menangis di hadapan.
"Sudah, jangan bingung. Biaya Eugene selama pengobatan, ditanggung perusahaan," sahut Adrian berusaha menghibur.
Istri Eugene mengangkat kepalanya. "Terima kasih, Tuan."
"Mmh."
***
Fian mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Keringat mengucur di dahi dan leher setelah setengah jam latihan karate di halaman belakang di siang yang cerah ini. Ia menatap ke arah istrinya yang sibuk memilah baju kering di jemuran untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Sebuah potret rumah tangga di rumah orang biasa yang menyenangkan hati Fian.
"Rasanya menyenangkan hidup jadi orang biasa. Kenapa aku tidak bisa? Kenapa takdir tidak berpihak padaku?" batin Fian.
Terdengar bel berbunyi oleh Lana yang tengah masuk ke dalam rumah membawa pakaian kering. "Mas, ada paket!" Ia sendiri bingung belum dekat jam makan siang, kenapa ada pengantaran?
Fian bergegas masuk. "Oke, biar aku ambil." Ia keluar setelah memakai jaket dan topi lalu menemui seorang pengantar barang yang memang membawa paket. Fian membawa masuk paket yang bentuknya terlihat aneh. "Aku tidak tahu Sophie beli apa, tapi kita periksa saja."
Setelah bungkus dibuka, keduanya bingung. Ada kemasan kotak suatu produk yang mereka tidak tahu karena ditulis dalam bahasa Itali.
"Apa ini?" Fian melihat gambarnya lebih teliti. Sepertinya susu bubuk, tapi untuk siapa?
"Apa ini susu untuk ibu hamil?" Tebak Lana.
Fian melirik istrinya dengan wajah masih kebingungan. "Untukmu? Eh, mungkin saja."
Lana tersenyum lebar. "Ternyata Sophie baik ya." Ia memeluk salah satu kotak karena saking senangnya.
"Iya." Fian pun ikut senang.
***
Patricia menyalakan rokok. Ia kemudian berdiri dan menjepit ujung rokok yang tidak terbakar pada pinggir dudukan toilet yang ditutup. Kemudian ia keluar dari area toilet. Ia melangkah ke pintu depan gedung dan keluar.
Dengan tenang ia pergi ke kedai kopi yang berada beberapa toko di samping gedung. Saat itu kedai kopi tengah ramai orang. Ya, sore yang panas, tapi tak ada antrian di kasir hingga Patricia bisa langsung memesan minuman. "Aku mau cappucino hangat satu."
"Itu saja?" tanya kasirnya. Seorang wanita.
"Iya."
"Sebentar." Kopi dibuat dan saat disajikan, Patricia hanya mengambil gelas kopinya saja tanpa nampan dan langsung membayarnya. "Ambil saja kembaliannya."
"Oh, terima kasih." Sang kasir tersenyum senang.
Terdengar keributan di luar. Dinding kafe di depan yang merupakan kaca tebal, memperlihatkan orang-orang yang tengah berlarian karena panik. Pelanggan yang ada di dalam kafe menoleh ke arah pemandangan yang kacau itu. Sebagian penasaran dan ikut keluar ingin melihat apa yang terjadi, termasuk Patricia yang dengan tenang mengikuti rombongan yang keluar. Ternyata gedung yang tadi ia tinggal, kini dipenuhi dengan orang-orang yang berusaha keluar dari sana dengan tergesa.
"Oh, Patricia!" Seorang teman wanita yang bekerja di gedung itu, menemukannya. "Gedung kita. Ada peringatan kebakaran dari lantai satu jadi semua orang disuruh keluar."
"Oya?" Patricia pura-pura kaget.
"Untung kamu di sini. Coba kalau di atas? Pasti berebutan naik lift, dan kamu pasti dapat paling akhir. Aku saja serasa terjepit di antara orang-orang yang ingin cepat turun tadi. Lihat, bajuku kusut begini ...." Wanita itu merengut menunduk ke bawah tubuhnya.
Patricia menahan tawa.
"Eh, kamu beli apa? Kopi ya. Mau dong! Aku jadi haus."
Patricia menyodorkan kopinya. "Ini cappucino. Minum saja. Aku belum sempat meminumnya. Buat kamu aja. Biar aku beli yang baru."
"Oh, terima kasih." Wanita itu menyeruputnya sedikit. "Mmh, lumayan. Menenangkan."
"Ya udah, aku beli lagi." Patricia berbalik.
"Nanti kamu jangan balik ke kantor dulu ya. Mungkin orang-orang menunggu petugas pemadam kebakaran datang!"
"Iya!" Patricia masuk kembali ke kedai kopi. Ia bergerak ke toilet. Di sana ia masuk ke salah satu bilik dan membuka bajunya. Terlihat tubuh gemuk yang berlipat-lipat. Patricia mengeluarkan pisau lipat dari kantong rok lalu membelah dadanya. Ternyata ia hanya memakai kulit tubuh palsu. Di dalamnya ada sebuah tas punggung yang dipasang di dada.
Tenang tapi tangkas ia melepas kulit palsunya dengan pisau kemudian ia mengambil pakaian dari dalam tas. Setelah berpakaian, ia menguliti wajah gemuknya. Ternyata dia adalah Sophie. Sophie melepas rambut palsu dan kemudian memasukkan semua ke dalam tas. Ia pun bergerak ke luar. Di luar ia tidak pergi ke pintu depan melainkan pintu belakang tempat biasanya pegawai membuang sampah. Ia membuang tasnya ke tong sampah besar dan kemudian berlalu dari situ.
Sophie menatap USB di tangan. Ia tersenyum. Ketika ia mengantongi ke celana panjangnya, ia telah muncul kembali di depan kedai. Bahkan ia melewati teman wanitanya tadi tanpa ketahuan. Ia menoleh ke arah gedung yang tampaknya tak terjadi apa-apa selain kebingungan antar para pegawainya, Sophie pun meninggalkan tempat itu. "Tunggu aku Ale. Aku lapor dulu ke Rusia, baru aku urusin kamu. Semoga tidak ada yang mengusikmu." Ia merapikan kemeja dan melangkah ke arah stasiun kereta api bawah tanah.
***
"Lana!"
"Iya?" Lana menoleh. Ia sedang mencuci piring.
"Bagaimana kalau kamu belajar karate?"
"Eh? Oh, aku kurang cocok dengan olahraga seperti itu." Wanita itu kembali meneruskan membasuh piring.
"Tapi itu penting. Kamu 'kan istri seorang mafia." Fian berdiri di samping istrinya.
Lana hanya melirik sekilas tapi tak menjawab. Ia menyibukkan diri membilas sendok.
Bersambung ....