Indah, seorang gadis dari kampung yang merantau ke kota demi bisa merubah perekonomian keluarganya.
Dikota, Indah bertemu dengan seorang pemuda tampan. Keduanya saling jatuh cinta, dan mereka pun berpacaran.
Hubungan yang semula sehat, berubah petaka, saat bisikan setan datang menggoda. Keduanya melakukan sesuatu yang seharusnya hanya boleh di lakukan oleh pasangan halal.
Naasnya, ketika apa yang mereka lakukan membuahkan benih yang tumbuh subur, sang kekasih hati justru ingkar dari tanggung-jawab.
Apa alasan pemuda tersebut?
Lalu bagaimana kehidupan Indah selanjutnya?
Akankah pelangi datang memberi warna dalam kehidupan indah yang kini gelap?
Ikuti kisahnya dalam
Ditolak Camer, Dinikahi MAJIKAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 awal petaka 2
Masih flashback.
"Hiks… hiks… hiks…"
Jerry terjaga dari tidurnya karena suara isak tangis yang memilukan. Pemuda tampan itu mengerjapkan mata dan mencoba mengingat apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian…
"Indah…!" gumamnya pelan. Kekasihnya menangis pilu sambil memeluk lutut. Jerry segera mendekat dan merengkuh tubuh ringkih itu.
"Maaf… maafkan aku…!" ucap Jerry sambil mengusap kepala Indah. "Aku benar-benar khilaf, maaf!" Ia berusaha menenangkan gadis dalam pelukannya. Untuk saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan selain meminta maaf.
"Hiks… hiks… hiks…"
Tak ada kata yang keluar dari bibir Indah, selain isak tangis yang semakin pilu. Ia menyesali kejadian itu. Ini bukan hanya kesalahan Jerry yang tergoda dan menyetubuhinya.
Ini juga kesalahannya karena tak bisa menolak ajakan Jerry. Karena kesalahan mereka yang tak bisa menahan hawa nafsu,
Kini, Indah merasa dirinya kotor dan tak lagi suci. Kehormatannya yang dijaganya selama ini telah direnggut oleh nafsu setan.
"Aku pasti akan bertanggung jawab, Indah. Aku yang telah mengambil kehormatanmu, aku pasti akan bertanggung jawab! Percayalah padaku, Indah! Aku pasti akan bertanggung jawab!" ucap Jerry, mencoba meyakinkan dan menenangkan Indah sambil terus mengusap punggungnya.
"Aku sangat mencintaimu, dan aku tak akan lari!" lanjut Jerry. Ia jujur, ia memang sangat mencintai Indah. Baginya, Indah berbeda jauh dari gadis-gadis yang pernah mengejarnya.
Indah memejamkan mata dalam pelukan Jerry. Hatinya sedikit tenang setelah mendengar janji Jerry. Ia sangat percaya pada Jerry, pria baik yang tak akan mengingkari janjinya.
Terbayang di pelupuk mata Indah, kejadian beberapa saat yang lalu.
Jerry mencoba membetulkan resleting di punggung Indah. Ia bahkan melakukannya sambil memejamkan mata agar tak tergoda oleh kulit putih mulus itu. Namun, tanpa sengaja tangannya menyentuh kulit Indah. Jerry merasakan kulit halus mulus itu.
Baik Indah maupun Jerry merasakan desiran aneh akibat sentuhan tak sengaja itu.
Byar…
Jerry membuka mata. Kelembutan yang tersentuh membuatnya kembali menelan salivanya. Ia ingin menarik tangannya, tetapi hati dan otaknya berlawanan. Tangannya justru tak mau berpindah dan malah semakin penasaran ingin menyentuh lebih jauh. Jerry pun menggerakkan jemarinya menelusuri punggung mulus itu.
"Mas…!" Indah tersentak kaget karena dua tangan Jerry sudah membelai pundaknya. Ia ingin menepis tangan itu, tetapi tak bisa, atau tak ingin?
"Ndah…" Jerry mendekatkan hidungnya ke tengkuk Indah. Aroma harum menyeruak, memberikan rasa nyaman. Ia memejamkan mata, sementara tangannya bergerak semakin berani.
"Mas… ini tidak benar…!" ucap Indah dengan suara mendesah lemah. Ia merasakan sensasi menggelitik yang belum pernah dirasakan sebelumnya,
seperti ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutnya. Indah tahu itu salah, tetapi ia juga tak kuasa menepis tangan Jerry. Badannya sendiri meremang menginginkan lebih.
"Jangan, Mas…!" Indah mencoba menguasai diri. Nafasnya tersendat, wajahnya memerah, seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Ia bahkan merasa sesuatu di bawah sana berkedut cepat.
"Indah…" Jerry menyebut nama kekasihnya dengan mata terpejam. Hanya hidung dan tangannya yang terus bergerak, membelai kulit mulus itu.
"Ini tidak benar, Mas…!" Suara Indah yang parau justru membuat Jerry semakin bernafsu dan tergoda. Telapak tangannya yang semula berada di pundak bergerak semakin ke depan dan semakin liar, hingga akhirnya mendapati dua bongkahan kenyal yang sangat menggoda untuk diremas. Ukurannya yang tidak terlalu besar terasa pas dalam genggaman, membuat Jerry seperti bocah yang mendapat mainan baru.
"Emh…!" Indah menggigit bibirnya ketika remasan tangan Jerry semakin intens. Logikanya ingin memberontak, tetapi tubuhnya berkhianat. Apalagi ketika Jerry menggigit lehernya. Ia merasakan sakit, tetapi sakit yang berbeda, sakit yang tak bisa diungkapkan, bukan sakit terluka, tetapi sakit yang membuatnya menginginkan lebih.
Ditambah suara nafas Jerry yang memburu, Indah benar-benar menginginkan sentuhan yang lebih. Begitu pun dengan Jerry. Otak warasnya menghilang, akal sehatnya tiba-tiba kosong. Ia hanya ingin bergerak dan terus bergerak.
Sekarang bukan lagi tangan yang memegang dan meremas, melainkan mulutnya yang mulai mengulum, menghisap, menyedot, dan menggigit. Tubuh Indah menggelinjang, kelonjotan layaknya cacing di atas pasir panas. Tanpa sadar, tubuh Indah sudah polos, layaknya bayi baru lahir, tanpa sehelai benang pun.
Keduanya sudah tak sadar bahwa posisi mereka sudah berpindah ke atas ranjang.
"Jangan, Mas…!" Indah mencoba tersadar, tetapi sudah terlambat. Akal sehat Jerry sudah benar-benar menghilang. Suara Indah bagai tak terdengar. Yang tersisa hanya keinginan untuk bergerak dan mendapatkan lebih.
Jerry bergerak semakin liar. Dengan hidung dan lidahnya, ia turun semakin ke bawah. Tak ada yang dibiarkan terlewat.
Indah pun tak kuasa menolak. Ia bahkan menekan kepala Jerry ketika lidah pria itu bermain-main di lembah surgawinya. Ia menginginkan lebih, sehingga Jerry pun menuruti keinginannya, yang juga adalah keinginannya.
Akhirnya, semuanya terjadi begitu saja. Indah yang awalnya menolak pun terseret arus dan ikut menikmati, bahkan membalas setiap sentuhan Jerry. Keduanya larut dalam keindahan sesaat surga dunia itu.
Bagi Indah dan Jerry, ini adalah pertama kalinya mereka jatuh cinta dan menikmati kesesatan. Keduanya seolah mabuk, melakukannya lagi dan lagi, hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
Sekarang, saat keduanya terjaga, semua terasa seperti mimpi buruk. Yang ada hanya sesal telah mengikuti hawa nafsu bujukan setan.
Tetapi sesal mereka sudah terlambat. Waktu yang sudah berjalan tak bisa diputar.
Flashback off.
keselek biji kedondong gak tuh/Smug//Smug/