Ketika laki-laki itu menabraknya di lobby rumah sakit, Melisa marah-marah. Pria blasteran itu dipanggilnya 'Bambang' karena menumpahkan kopi di baju kerjanya, padahal tak ada sebaris pun kumis melintang diatas bibirnya.
Pun ketika pria itu memberinya sapu tangan untuk membersihkan tumpahan kopinya dia menambah julukannya menjadi manusia kuno prasejarah.
Dan ternyata sejam kemudian Melisa tahu, Bambang yang kuno itu adalah Boss-nya.
●●●●
Cerita Vincent yang ditolak ama Liana dan Gendhis dimari. Yukkk masuk 🤣🤣🤣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEASON 1 Part 30. Karma Yang Manis
“Kau baik-baik saja, dia bicara padamu tadi? Apa yang dia katakan.”
“Kau tahu dia bicara denganku?”
“Tadi dia pamit dari meja di tengah pembicaraan, saat kau pergi mengantar tamumu sendiri. Kutebak dia pasti bicara padamu. Sekarang dia sudah pergi.” Aku hanya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Vincent.
“Laki-laki rendahan itu. Dia mengancamku untuk membuatku jobless, dia berpikir aku akan mengemis belas kasihannya, mengatakan aku kelelahan. Psycho**pat rendahan, dia berpikir semua orang harus mengikuti kata-kata absolutnya.” Aku kemudian ingat mereka juga membicarakanku. “Apa yang dikatakannya padamu?”
“Kau tak usah mendengarnya, itu akan membuat liburanmu menjadi buruk. Biar aku yang memberi kesulitan padanya, aku punya banyak cara mengerjainya.” Dia mengajakku kembali berjalan kembali ke meja kami.
“Aku mau mendengarnya! Aku ingin tahu apapun yang dikatakannya padamu!” Aku mencengkram tangan Vincent membuatnya berhenti dan memandangku. Dia menghela napas mendengar pertanyaanku.
“Dia bilang kau gold digger, pernah berada di ran*jangnya, kau murahan dan segala macamnya. Aku akan membalasnya untukmu didepan matamu nanti, kau tenang saja.”
“Besok aku akan menghajarnya sendiri dengan tanganku.” Delapan tahun tak bertemu, kupikir dia punya sedikit kedewasaan dalam dirinya, tapi ternyata sama saja. Tak bisakah dia meninggalkanku hidup damai.
“Kau tidak perlu merendahkan dirimu sendiri. Banyak cara lebih menyakitkan untuk membalas orang seperti itu.”
Tidak peduli apa yang dikatakan oleh Vincent, tanganku sudah gat*al ingin menghajarnya.
***$$***
Aku memasuki ruangan pesta, pesta coktail itu adalah private coktail party sekaligus makan malam prasmanan di sebuah lokasi restoran pinggir pantai terkenal di Bali, poolside dan sea view dengan romantic ambience. Tamu-tamu mulai berdatangan ke lokasi pesta yang sudah dibuka sejak jam enam, menikmati sunset yang mempesona dari balkonnya sambil mengobrol dengan para kolega, atau hanya menikmati sore dengan partner mereka.
Vincent bersikap manis sepanjang hari, aku hampir melupakan masalah semalam dan mendengarkan sarannya membiarkan dia yang mengatur cara membalas Simon. Sekarang aku merasa cantik dengan gaun maxi bunga-bunga pink yang memperlihatkan sedikit bahuku, sesuai dengan dress codenya.
“Sayang, kau sangat suka bunga-bunga nampaknya. Kau selalu cantik dengan bunga...” Aku tertawa saat Vincent memuji outfitku, dia menyelipkan sebuah plumeria di telingaku yang menjadi salah satu item dari panitia pestanya saat kami masuk, aku seperti seperti gadis Bali sekarang, sementara dia terlihat santai dengan kemeja casualnya. Kami berjalan dipinggir pantai, kala tamu-tamu masih sedikit. Acara belum dimulai. Hari ini kami tak akan menyembunyikan hubungan kami didepan Simon hari ini. Dia perlu tahu siapa yang dia jelek-jelekkan didepan orang yang ingin dia ambil hatinya. Dan sampai kapanpun dia takkan bisa masuk ke lingkaran kami.
“Aku melihat data investor hari ini, tadi pagi aku sempat bicara dengan Komisaris Utama, baji*ngan itu hanya di posisi paling ujung. Aku bilang mungkin dia masuk untuk melobby group kita, komisaris utama bilang tak usah terlalu sopan padanya, dia pernah merugikan kita, aku bisa bertindak semauku padanya sekarang. Jika dia mencoba sesuatu hari ini, dia akan membayar kontan. Sejak kemarin aku sebenarnya mau memberikan bogem mentah ke mulut sampahnya itu...”
“Iya dia di posisi paling ujung, mungkin jika dia menarik investasinya sekaligus pun, kita tak akan terpengaruh.”
“Jangan mengotori tanganmu. Kau sendiri bilang kau bisa mengatur pembalasan yang setimpal.” Aku tak ingin terlibat kekerasan fisik sebenarnya, aku takut itu akan berbahaya tapi kadangkala aku membayangkan mencakar mukanya dengan tanganku sendiri.
“Jika dia berani mengatakan sesuatu yang buruk dengan mulutnya didepanmu, aku akan memberinya pelajaran.” Aku tak bisa untuk tak memandang pembelaku dengan tatapan kagum dan senyuman lebar sekarang.
“Hmm... kau memang tampan Bambang.” Sekarang aku memeluk erat pinggangnya dan menciumnya sedikit. Bahagia pria disampingku akan melakukan apapun untuk membelaku, perasaan seperti ini membuatmu melambung tinggi. Berada disampingnya selalu membuatmu merasa bagai ratu, aku merasa entah bagaimana kesabaranku menanggung semua beban selama ini diganjar oleh semesta dengan pantas.
“Panggilan sayangmu itu memang aneh.” Dia memandangku dan merapikan rambutku yang tertiup angin.
“Kau mendapatkannya saat menabrakku, itu sudah takdirmu dipanggil Bambang.” Dia tertawa.
“Aku tak pernah menyesal menabrakmu, itu tabrakan yang mempertemukan kita. Mungkin kita akan menceritakan cerita itu kepada cucu kita saat tangan kita sudah keriput nanti...” Pantulan keemasan dari matahari yang terbenam yang ada di iris matanya sejenak membuatku terpukau. Harapan tentang masa depannya membuatku tersenyum. Sebuah keluarga yang pernah kuimpikan.
“Iya kita akan cerita...” Dan mataku berkaca-kaca saat aku mengiyakan kata-katanya, menjadikannya kalimat itu sebuah janji sekarang, dan bintang Timur yang terbit di horizon menjadi saksi kami sekarang. Semoga Sang Pencipta bersedia mengabulkan harapan kami. Dia tidak mengatakan sesuatu yang manis, tapi harapannya terhadap masa depan kami sudah mengatakan semua yang ada dalam hatinya.
“Kita kembali oke. Mungkin tamu sudah berdatangan. Tetaplah disampingku, jangan minum terlalu banyak okay, lebih baik kau minum jus, soft drink dan susu saja, coktail berbahaya untukmu...”
“Aku bukan bayi!” Langsung protes.
“Jika kau mabuk malam ini, jangan salahkan kau terbangun bersamaku besok.”
“Kau jahat...” Dia tertawa.
“Jangan mabuk, aku tak tahu apa bisa aku bertahan melihatmu secantik ini, ...”Ciuman kecilnya mengatakan dia tak menyembunyikan ketertarikannya padaku, itu s*exy, saat seseorang menginginkanmu begitu dalam, membuatmu aliran darahmu meningkat saat dia memandangmu, menanggung siksaan ini sungguh berat. “Lagipula besok pagi jam 9 kau masih ada pertemuan bersama dengan para Wakil Komisaris dan Direktur Keuangan bukan.”
“Iya, ada meeting dan makan siang sebelum ke Jakarta.”
“Sama aku juga masih meeting dengan Komisaris Utama dan para Direktur Unit.”
Kami sampai ke restoran kembali, tamu-tamu sudah berkumpul, kami berbaur dengan tamu-tamu yang lain, Vincent mengenalkanku dengan beberapa orang yang merupakan teman-temannya. Dan menyebutkanku sebagai calon istrinya. Aku tersanjung sekarang, malam ini banyak yang mendoakan kami segera menikah.
aku padamu kk othor
Sarange ... Author
u itu terlalu perpect, ga ada unsur badass nya 🤣