Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin cucu
Sejak dari hari itu, aku dan pak Rama tidak pernah saling sapa lagi. Kami tidak bicara sedikit pun satu sama lain. Kami tinggal satu atap, dirumah yang sama, dikamar yang sama pula. Tapi kami tidak saling bicara, jangankan bicara, saling sapa saja tidak pernah.
Kamar kami pun dibagi menjadi dua. Sebelah milik aku dan yang sebelahnya lagi milik pak Rama. Kami juga membagi ranjang menjadi dua bagian. Kami membatasi kasur dengan selimut tebal yang dilipat lalu diikat disisi ranjang.
Intinya, kami sepakat untuk saling tidak ikut campur dalam urusan masing-masing. Itu bukan permintaan aku, melaikan permintaan pak Rama. Tapi aku minta diizinkan oleh pak Rama untuk tetap mengurusi semua keperluan pak Rama. Intinya, aku ingin menjadi istri yang seperti kebanyakan istri diluar sana. Yang menyiapkan semua kebutuhan suamiku. Pak Rama mengizinkan aku melakukan hal itu.
Aku sangat bahagia saat pak Rama mengizinkan aku mengurus semua keperluannya. Itu bagaikan lampu hijau buat aku. Aku ternyata masih punya kesempatan untuk merasakan jadi seorang istri.
Aku menyediakan pakaian pak Rama untuk kekampus. Menyediakan air hangat untuk mandinya, dan melakuakan semua yang aku bisa untuk pak Rama. Aku mekakukan semua itu dengan senang hati, walaupun tidak pernah dianggap ada oleh yang aku sediakan itu.
Aku juga menyediakan sarapan untuk pak Rama. Setiap hari sarapan bersama sebelum kekampus. Tapi tidak untul berangkat bersama pergi kekampusnya. Aku berangkat dengan mobilku, sedangkan pak Rama berangkat dengan mobilnya.
"Nia, bisakah mama bicara sebentar," kata mama mertuaku saat aku baru pulang dari kampus.
"Bisa ma," ucapku sambil duduk disamping mama.
Aku pulang kuliah agak cepat hari ini, karna mata kuliah yang terakhir ditunda besok.
"Nia, mama ingin tahu, bagaimana hubungan kamu dengan Rama, apa ada kemajuan."
Aku terdiam saat mendengarkan perkataan mama. Apa yang mau aku jawab sekarang, pasti mama sudah curiga sama aku dan pak Rama. Karna kami memang tidak saling bicara, baik saat berdua atau didepan mama dan papa.
"Hubungan kami baik-baik saja kok ma," ucapku berbohong.
"Bagus deh kalo kalian baik-baik saja. Mama tunggu setiap kemajuan dari hubungan kalian ya."
"Iya ma."
Apa lagi yang bisa aku jawab selain kata-kata itu. Aku tidak mungkin bilang sama mama, kalau aku dan pak Rama tidak mungkin ada kemajuan sama sekali. Karna, hati pak Rama itu sangat keras selali. Mungkin hatinya terbuat dari kayu, atau bahkan dari batu.
"Nia, mama sangat ingin punya cucu. Mama harap, kamu dan Rama segera memberikan mama seorang cucu yah."
Kata-kata mama itu membuat aku terpaku. Ia berniat punya cucu dari aku dan pak Rama. Bagaimana mungkin aku bisa punya anak, sedangkan pak Rama tidak suka sedikit pun padaku.
"Nia, apa kamu dengar apa yang mama katakan?" kata mama membuyarkan lamunanku.
"Den ... dengar kok ma, Nia dengar apa yang mama katakan. Kalo soal itu, Nia masih butuh waktu ma."
Aku terpaksa berbohong lagi, agar aku dan pak Rama baik-baik saja didepan kedua orang tuanya.
"Iya, mama tahu kamu dan Rama sama-sama butuh waktu. Tapi mama yakin kok, kalo kamu pasti bisa memberikan mama cucu," kata mama sambil senyum manis.
Aku ikut tersenyum, tapi bukan senyum manis yang aku rasakan. Melainkan senyum kecut, karna memikirkan nasibku yang ntah bagaimana kedepannya.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif