Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keyakinan
Rais masih berusaha menenangkan Anin yang terkulai lemas di teras rumahnya, air mata setetes demi setetes masih mengalir membasahi pipi Anin.
Rais mencoba meminjamkan bahunya untuk Anin menyandarkan kepalanya.
Tiba-tiba mobil putih yang El kendarai kembali datang kerumah Anin. El melihat pemandangan yang membuat cemburunya memuncak.
Tanpa kata El kembali menghampiri Anin yang masih menangis dan menyandarkan kepalanya di bahu Rais. Rais terlihat salah tingkah dan merasa sangat bersalah, tatapan tajam El sangat menusuk membunuhnya. El berjalan melewati Anin dan Rais yang masih terduduk dilantai itu, tanpa kata. El kembali masuk kedalam kamar Anin, untuk mengambil ponselnya yang sempat ia simpan di atas kasur, hingga membuatnya tertinggal disana.
Anin dan Rais seketika menoleh dan terus melihat kemana El melangkah. Tapi Anin tak berani untuk mengikuti ataupun bertanya pada El, semua hanya terdiam membisu.
Tak lama El kembali keluar dengan ponsel ditangannya.
"Ponsel ku tertinggal!" ucap El dingin
"Sekarang aku makin yakin untuk perpisahan ini.. Terimakasih Nin!" lanjut ucap El lalu pergi meninggalkan Anin dan Rais yang masih terdiam seribu bahasa itu
El kembali melajukan mobilnya menjauh dari rumah Anin. Anin terdiam seketika, melihat kepergian El. Anin merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut suaminya itu.
Rasanya air mata enggan untuk kembali mengalir, semua terasa tertahan.
Rais semakin merasa bersalah, ia tak tahu harus bertahan disamping Anin ataukah kembali menghilang untuk selamanya dan menjauhi Anin.
Tapi melihat Anin terpuruk seperti ini ia tak akan mungkin bisa tenang bila pergi meninggalkan Anin.
"Nin, Aku janji.. Jika masalah mu sudah membaik dan kamu sudah baik-baik aja, aku akan pergi meninggalkan kamu, jauh dari hidup kamu.. Aku Janji.." ucap Rais dengan lirihnya
"Tolong jangan pergi Is.. Aku gak yakin bisa baik-baik saja.." ucap Anin lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rais
"Kenapa kamu datang terlambat Is.. Kenapa kamu terlambat dengan cinta kamu.." lanjut ucap Anin penuh penyesalan
Rais hanya terdiam, ia menatap dalam raut wajah Anin yang penuh harap pada dirinya sendiri.
...----------------...
Seminggu berlalu, Anin mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana kabar suaminya, bagaimana kabar masalahnya, dan bagaimana kabar rumah tangganya.
Anin sungguh tak ingin mencari tahu tentang apapun.
Anin memutuskan untuk kembali menyibukan dirinya, Anin selalu ikut dengan Pak Hendra berjualan di toko sembakonya.
Hari-hari Anin habiskan ditoko sembako milik ayahnya itu, dari pagi hingga petang. Hingga ia bisa mengendalikan dirinya agar tidak mual muntah menjalani kehamilannya itu.
Sementara di tempat lain, Hana dan Erwin, calon suaminya sedang asik menikmati makan siang bersama di sebuah cafe. Karena Erwin sibuk bekerja membuatnya jadi jarang bertemu, sekalinya punya waktu bertemu ia selalu menyempatkan untuk bertemu, walau hari pernikahan mereka sudah semakin dekat.
Rais yang juga mau makan siang tak sengaja bertemu dengan Hana di cafe itu, melihat Hana dalam kebersamaannya dengan Erwin, membuat Rais tersenyum ikut bahagia. Hana menyadari kedatangan Rais.
"Is.." panggil Hana sembari melambai-lambaikan tangannya
Rais membalas dengan senyum mengembang di wajahnya, lalu menghampiri Hana dan Erwin yang duduk berdekatan itu.
"Kamu mau makan siang juga?" tanya Hana pada Rais
"Iya Nih.." jawab Rais singkat
"Gabung disini aja.." ucap Hana menawarkan
"Boleh kan sayang?" tanya Hana pada Erwin
"Boleh kok, gabung aja.." jawab Erwin dengan ramah dan penuh kedewasaan
"Sebentar aja kok, aku beli makanannya dibungkus" ucap Rais karena merasa tak enak mengganggu waktu Hana dengan Erwin
Rais langsung duduk berhadapan dengan Hana dan Erwin yang bersampingan itu.
"Eh iya Na, bagaimana kabar Anin? Aku sudah lama gak ketemu dia.." ucap Rais yang penasaran
"Anin baik kok, mungkin Anin sekarang jauh lebih baik, Anin sekarang selalu ikut menyibukan dirinya berjualan dipasar sama Papanya, sebenarnya sih si Anin pengen banget balik lagi kerja, tapi aku larang, perut dia bakal semakin membesar, nanti kasihan dia kalau kelelahan.." ucap Hana dengan panjang lebar
"Alhamdulillah kalau Anin mulai membaik.. Aku sudah tugas ke Jakarta selama seminggu ini, ini pun aku belum pulang kerumah" ucap Rais memberitahukan
"Oh pantes aja kamu gak ketemu Anin.." jawab Hana
"Iya Na.. Oh iya, kemarin terakhir aku ketemu Anin dia habis bertengkar sama suaminya, Anin memberikan dokumen perceraiannya ke El.." ucap Rais memberitahukan
"Anin mau bercerai? Bukannya Anin lagi hamil?" tanya Erwin yang merasa tak percaya
Rais dan Hana sama-sama mengangguk, mengiyakan pertanyaan Erwin.
"Yang, kamu harus cegah dong.. Kasihan Anak Anin masa harus lahir tanpa seorang ayah, gak boleh juga lagi hamil bercerai bukan?" ucap Erwin yang mendukung Hana untuk menyelamatkan Anin sahabatnya
"Iya sih benar.. Tapi El sudah sangat yakin untuk berpisah dari Anin, terakhir dia bilang gitu saat Anin bersama aku, aku gak sengaja lihat Anin terduduk lemas di lantai makanya aku samperin, eh El datang lagi dan bilang gitu" ucap Rais memberitahu kejadian terakhir itu
"Ya Allah berat banget sih masalah Anin.. Kasihan Anin kuuu.." ucap Hana sangat merasa sedih
Tanpa Rais, Hana dan Erwin tahu, ada seorang wanita dengan kaca mata hitamnya mendengarkan percakapan mereka baik-baik. Elvira tak sengaja melihat Hana dan Rais, mendengar percakapan mereka, karena memang Elvira sedang makan siang dan bertemu dengan temannya yang tak lain adalah pemilik cafe itu. Sementara Erina ia titipkan dirumah saudaranya di Jakarta.
Elvira terus mendengarkan baik-baik percakapan mereka.
"Aku jadi ngerasa bersalah banget, El salah paham sama kedekatan aku dan Anin kayaknya. Soalnya waktu aku tidak sengaja dengar, El menanyakan aku pada Anin.." ucap Rais penuh penyesalan
"Kamu gak salah Is.. Anin berhaklah punya teman berbagi.." ucap Hana mencoba menenangkan Rais
"Yang salah itu suaminya Anin, plin plan banget!" ucap Erwin yang cukup dewasa itu ikut menimpali
Rais hanya membalas senyuman pada Erwin, karena ia tak mau membela dirinya sendiri.
Tak lama seorang pelayan mengantarkan bungkusan makanan milik Rais.
"Permisi Pak.. Ini pesanan anda.." ucap pelayan sembari menyerahkan 2 kantong makanan pada Rais
"Oh iya terimakasih.." jawab Rais cepat
Rais lalu berpamitan pada Hana dan Erwin, lalu berlalu meninggalkan cafe itu. Sementara Hana dan Erwin juga kembali bekerja.
Elvira yang juga selesai makan, lalu segera mengakhiri kebersamaannya dengan temannya itu. Sembari berjalan keluar, Elvira membuka ponselnya dan mencoba menghubungi El.
Tak lama sambungan telepon itu terhubung, dan langsung di terima oleh El.
"Halooo El.. Kamu dimana?" tanya Elvira langsung
"Aku sedang di Pengadilan Agama kota Bandung.." jawab El datar
"Tunggu El, kamu jangan gegabah!" ucap Elvira dengan suara beratnya
"Kenapa?" tanya El masih dengan suara datar dan ekspresi dinginnya
"Tunggu aku!" ucap Elvira lalu mengakhiri sambungan teleponnya
Elvira terburu-buru menaiki taxi yang lewat di depan cafe itu, ia langsung meminta supir taxi itu untuk ke pengadilan Agama.
Elvira tahu El akan menceraikan Anin, karena mengurus di pengadilan agama Bandung, jika akan menceraikan dirinya pasti akan mengurus di pengadilan agama di Jakarta.
Elvira tak ingin egois, ia tahu bahwa Anin sedang hamil.
El sebenarnya bingung kenapa Elvira ada di Bandung, karena setahu dirinya Elvira dan Erina sudah kembali ke Singapur. El tak menghiraukan ucapan Elvira, ia turun dari mobilnya bersama seorang pengacara.
El dan pengacaranya mulai melangkahkan kakinya menuju gedung pengadilan. Dengan langkah berat, El memaksakan kakinya untuk bisa terus melangkah.
El kembali melihat ke belakang sesaat setelah sampai di teras halaman depan pengadilan agama, ia mencari Elvira sekilas, namun tak juga terlihat.
El semakin mendekat ke arah pintu utama pengadilan Agama. Hati El sungguh di landa ke gundahan yang sangat mendalam.
"Pak Elnino, apa sudah siap?" tanya pengacara yang melihat keraguan di raut wajah El
El hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis, penuh keraguan.
Tak lama sebuah mobil taxi biru berhenti tepat di halaman depan Pengadilan Agama. Menghentikan langkah El seketika, El langsung menoleh pada taxi yang berhenti itu.
"El hentikan!" teriak Elvira sembari berlari terburu-buru mendekat ke arah El dan pengacaranya yang menatapnya itu
"Elvira.." ucap El dengan perasaan tak percaya
Elvira dengan terengah-engah, mendekat ke arah El dan pengacaranya itu.
"Tunggu El.. Kita harus bicara.." ucap Elvira sembari mencoba mengatur nafasnya
Pengacara El langsung mengajak Elvira dan El untuk duduk disebuah kursi yang ada di teras depan pengadilan agama itu.
"Ada apa Elvira? Aku kesini akan mengurus perceraian ku dengan Anin.." ucap El dengan beratnya
"Kamu tidak boleh menceraikan Anin.." ucap Elvira menahan El
"Tapi kenapa? Bukankah kamu senang jika aku melepaskan Anin? Dan kamu akan memiliki ku sepenuhnya bukan?" ucap El penuh tanya dengan perasaan kesal karena keinginan Elvira itu
"Maafkan Aku El.. Maaf aku egois.." ucap Elvira penuh penyesalan
"Maaf sudah menggunakan Erina sebagai senjata ku... Maaf.." lanjut ucap Elvira matanya mulai berkaca-kaca
"Lalu sekarang apa mau mu?" tanya El dengan ketusnya
"Jangan ceraikan Anin, aku relakan kamu sepenuhnya dengan Anin.. Maaf sudah egois.." ucap Elvira dengan mulai menitikan air matanya
"Anin sedang hamil anak kamu.." lanjut ucap Elvira dalam isakan tangisnya
El sangat tercengang mendengar semua itu. Ia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Elvira yang selama ini sudah menghasut dirinya untuk bercerai dengan Anin.
"Aku mendengar percakapan seorang wanita bernama Hana dengan pria bernama Rais, pria yang kamu cemburui bukan? Dia hanya teman Anin.." ucap Elvira kembali menceritakan
El sangat serius mendengarkan ucapan Elvira. Ekspresinya datar tampak penasaran.
"Aku relakan kamu El.." ucap Elvira terisak tangisnya
"Aku dan Erina baik-baik saja kok tanpa kamu.. Maaf aku sudah egois.." lanjut ucap Elvira
El langsung bangkit dari duduknya, penyesalan terlihat jelas di wajahnya.
...----------------...
Kira-kira tindakan apa yang akan El lakukan?
Tunggu kelanjutannya yaaa
Terimakasih buat kakak-kakak readers yang selalu setia baca 😊
Jangan lupa vote, like dan komentar untuk mendukung Author. Makasih buat yang sudah vote 😊