Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.
Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.
Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Baru Dimulai
Dua hari berlalu dalam sekejap. Selama waktu itu, Sekte Dua Pedang Petir tetap berjalan seperti biasanya. Para murid menjalani latihan, para tetua mengurus berbagai urusan sekte, dan banyak yang mengetahui bahwa tiga orang kuat akan segera meninggalkan tempat itu untuk menjalankan misi yang sangat penting.
Pagi itu, udara pegunungan terasa begitu segar. Matahari baru saja muncul dari balik puncak gunung, memancarkan cahaya keemasan yang menyinari halaman rumah Boqin Changing.
Hari keberangkatan akhirnya tiba. Tidak ada pesta perpisahan dan tidak ada keramaian.
Boqin Changing memang telah mengatakan sejak awal bahwa kepergiannya kali ini bukanlah untuk waktu yang lama. Begitu seluruh urusannya selesai, ia berharap akan segera kembali ke Sekte Dua Pedang Petir.
Di halaman rumah hanya berdiri beberapa orang. Boqin Feng, Ehang Baiye, Patriark Wang Zhou, Guru Wang Tian dan Tabib Yi Min.
Di samping Boqin Changing telah berdiri Long Aotian dan Yan Luo. Ketiganya sudah membawa perlengkapan masing-masing untuk perjalanan yang akan segera dimulai.
Boqin Changing melangkah maju beberapa langkah. Ia memberi hormat kepada ayah dan ibunya terlebih dahulu.
"Ayah. Ibu. Aku pamit."
Boqin Feng tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Pergilah. Ayah tahu kau memiliki urusan penting."
"Jangan terlalu memaksakan diri."
Ehuang Baiye memandang putranya beberapa saat sebelum berkata dengan suara lembut,
"Kalau sudah selesai... cepat pulang."
Boqin Changing tersenyum hangat.
"Baik, Ibu."
Setelah itu ia berbalik menghadap Patriark Wang Zhou, Guru Tian, dan Tabib Yi Min. Boqin Changing kembali memberi hormat.
"Patriak."
"Guru."
"Nenek Min."
"Selama aku tidak berada di sekte... aku titip tempat ini."
Wang Zhou tersenyum.
"Tenang saja. Kau sudah meninggalkan seorang pendekar hebat di sini. Kalau masih ada yang berani mencari masalah, berarti mereka memang bosan hidup."
Semua orang tersenyum mendengar ucapan itu.
Boqin Changing kemudian menoleh ke arah Wu Xing.
"Wu Xing."
Wu Xing segera melangkah maju.
"Tuan Besar."
Boqin Changing menatapnya dengan tenang.
"Sekte ini... kuserahkan kepadamu. Jagalah tempat ini sebaik mungkin."
Wu Xing mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan khawatir, Tuan Besar. Selama aku masih berada di sini... tidak akan kubiarkan siapa pun mengganggu Sekte Dua Pedang Petir."
Boqin Changing menganggukkan kepala puas.
"Itu sudah cukup."
Setelah berpamitan kepada seluruh orang yang dihormatinya, Boqin Changing tidak berkata apa-apa lagi.
Swusss...
Tubuhnya perlahan melayang ke udara. Jubahnya berkibar pelan tertiup angin pegunungan. Ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah tempat kedua orang tuanya berdiri.
Kemudian...
Swusss!!
Sosoknya melesat ke kejauhan, meninggalkan Sekte Dua Pedang Petir.
Tak lama kemudian...
Swusss!
Satu bayangan lain menyusul dari belakang. Itu adalah Long Aotian. Ia mempercepat kecepatannya hingga berhasil menyamai Boqin Changing.
Keduanya akan menuju Ibu Kota Kekaisaran Qin. Di sanalah penyelidikan mereka akan dimulai.
Beberapa saat setelah kedua sosok itu menghilang di balik awan, Yan Luo melangkah maju. Ia memberi hormat kepada Boqin Feng, Ehuang Baiye, Wang Zhou, Guru Tian, Wu Xing, dan Tabib Yi Min.
"Kalau begitu... aku juga pamit."
Patriark Wang Zhou menganggukkan kepala.
"Hati-hati di perjalanan."
Yan Luo tersenyum tipis.
"Terima kasih."
Swusss...
Tubuhnya ikut melayang ke udara.
Namun arah yang ia tuju berbeda. Ia tidak mengikuti Boqin Changing. Sosoknya justru bergerak menuju arah timur, ke wilayah yang sangat jauh.
Tujuannya adalah Kekaisaran Jiu. Tempat berdirinya Keluarga Pei.
Dalam waktu singkat, bayangan Yan Luo pun menghilang dari pandangan. Halaman rumah kembali menjadi sunyi.
Kini hanya Wu Xing yang masih berdiri di tempat. Tatapannya terus mengikuti arah kepergian ketiga orang itu hingga mereka benar-benar lenyap di balik cakrawala.
Ia menarik napas panjang.
"Mulai hari ini... Tugasku benar-benar dimulai."
Tatapannya kemudian beralih menuju bangunan-bangunan Sekte Dua Pedang. Tempat ini kini menjadi tanggung jawabnya.
Ia mengepalkan tangan perlahan.
"Tuan Besar... Aku akan melaksanakan tugas ini sebaik mungkin. Aku akan menjaga sekte ini hingga kau kembali."
...*******...
Hari demi hari berlalu. Boqin Changing dan Long Aotian terus melakukan perjalanan tanpa banyak berhenti. Mereka melintasi pegunungan yang menjulang tinggi, hutan-hutan lebat, sungai-sungai besar, hingga beberapa kota yang menjadi jalur utama menuju pusat Kekaisaran Qin.
Perjalanan berlangsung dengan tenang. Keduanya hampir tidak banyak berbicara selama di perjalanan. Sebagian besar waktu mereka gunakan untuk bergerak secepat mungkin.
Kini di kejauhan, sebuah kota besar mulai terlihat. Temboknya menjulang puluhan meter, membentang sejauh mata memandang.
Puluhan menara pengawas berdiri kokoh di atasnya, sementara cahaya lentera memenuhi seluruh dinding kota hingga membuatnya tampak seperti lautan bintang di tengah malam. Itulah Kota Anyang. Ibu Kota Kekaisaran Qin.
Saat mereka tiba, malam telah larut. Bulan menggantung tinggi di langit, menandakan waktu telah melewati tengah malam.
Swusss...
Swusss...
Dua bayangan turun perlahan di sebuah gang sempit yang cukup jauh dari gerbang utama kota.
Tap. Tap. Tap
Begitu kedua kaki mereka menyentuh tanah, Boqin Changing segera menatap keadaan sekitar sebelum berkata pelan,
"Kita turun di sini."
Long Aotian menganggukkan kepala.
Boqin Changing kembali berkata,
"Aku tidak ingin keberadaanku terlalu mencolok."
Long Aotian langsung memahami maksud itu. Sebagai seseorang yang pernah berdiri di puncak dunia persilatan, Boqin Changing tentu tidak ingin menarik perhatian banyak orang begitu tiba di ibu kota. Terlebih lagi, tujuan mereka kali ini adalah melakukan penyelidikan, bukan menunjukkan kekuatan.
"Aku mengerti, Tuan Besar."
Keduanya segera berjalan keluar dari gang sempit itu.
Tak lama kemudian mereka telah bercampur dengan arus penduduk Kota Anyang. Meskipun hari telah melewati tengah malam, jalan-jalan utama kota masih tampak hidup. Beberapa rumah makan masih buka, pedagang makanan malam masih sibuk melayani pembeli, sementara kereta kuda sesekali melintas membawa para tamu yang baru tiba.
Long Aotian memandang suasana kota sambil tersenyum tipis.
"Ibu kota memang berbeda. Kota ini bahkan masih seramai ini di tengah malam."
Boqin Changing hanya menganggukkan kepala.
Beberapa saat kemudian Long Aotian bertanya,
"Tuan Besar... malam ini kita akan pergi ke mana?"
Boqin Changing menjawab dengan santai,
"Mencari penginapan. Aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu."
"Setelah itu tidur dengan tenang malam ini."
Long Aotian sedikit heran.
"Padahal tadi kita sudah melewati beberapa penginapan."
Boqin Changing tersenyum tipis.
"Aku memiliki penginapan langganan di kota ini."
Long Aotian langsung mengerti.
"Kalau begitu mari kita ke sana."
Mereka terus berjalan menyusuri jalan utama Kota Anyang. Sekitar beberapa belas menit kemudian, sebuah bangunan megah akhirnya muncul di hadapan mereka.
Bangunan itu berdiri empat lantai dengan arsitektur kayu yang sangat indah. Lentera merah menggantung di setiap sudut bangunan, sementara papan nama besar bertuliskan Penginapan Kayu Mawar. Penginapan terbesar sekaligus termewah di Kota Anyang.
Boqin Changing tanpa ragu langsung melangkah masuk.
Krekk...
Pintu kayu besar terbuka perlahan.
Berbeda dengan keadaan di luar yang masih cukup ramai, suasana di dalam penginapan jauh lebih tenang. Sebagian besar tamu telah beristirahat. Hanya beberapa meja yang masih ditempati orang-orang yang menikmati arak sambil berbincang pelan.
Boqin Changing berjalan menuju meja administrasi di dekat pintu masuk. Ia baru saja hendak berbicara. Namun Long Aotian melangkah lebih dahulu.
Ia berdiri di depan meja sambil memberi senyum sopan kepada dua pelayan perempuan yang sedang berjaga.
"Kami ingin memesan dua kamar. Tolong siapkan dua kamar terbaik yang dimiliki penginapan ini."
Boqin Changing yang berdiri beberapa langkah di belakang hanya tersenyum kecil melihat tindakan pengikutnya itu. Ia mengenal Long Aotian jauh lebih baik daripada siapa pun.
Di kehidupan pertamanya, Long Aotian memang selalu seperti ini. Teliti, pandai membaca keadaan, dan selalu mengetahui apa yang harus dilakukan sebagai seorang bawahan.
Sifatnya benar-benar bertolak belakang dengan Sha Nuo. Kalau Sha Nuo hanya memikirkan cara menghancurkan musuh, Long Aotian justru memikirkan segala sesuatu hingga ke hal-hal terkecil.
Sementara itu, salah seorang pelayan mulai membuka buku pencatatan tamu. Ia memeriksa daftar kamar satu per satu. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kepala dengan ekspresi meminta maaf.
"Maaf, Tuan. Seluruh kamar terbaik kami telah dipesan. Bahkan kamar-kamar itu sudah disewa hingga satu minggu ke depan."
"Saat ini yang masih tersedia hanya kamar biasa."
Long Aotian sedikit mengernyit.
"Kalau begitu... setidaknya siapkan satu kamar terbaik untuk tuanku. Aku sendiri tidak keberatan menggunakan kamar biasa."
Pelayan perempuan itu kembali membungkukkan badan.
"Maafkan kami. Benar-benar sudah tidak ada. Kamar terbaik kami memang penuh."
Long Aotian terdiam. Sedikit rasa kesal mulai terlihat di wajahnya. Sebagai pengikut, ia tentu ingin memastikan tuannya memperoleh tempat terbaik untuk beristirahat.
Namun sebelum ia kembali berbicara, Boqin Changing melangkah maju.
Long Aotian langsung mundur setengah langkah lalu membungkukkan badan memberi jalan.
"Tuan Besar."
Kedua pelayan perempuan itu kini mengalihkan perhatian kepada Boqin Changing.
Mereka sama sekali tidak mengenal pemuda di hadapan mereka. Namun begitu melihat wajahnya, keduanya sempat kehilangan kata-kata.
Pemuda itu memiliki wajah yang sangat tampan. Pembawaannya tenang. Setiap gerakannya terlihat begitu berwibawa. Ditambah lagi pakaian dan auranya membuatnya tampak seperti keturunan sebuah keluarga bangsawan besar.
Boqin Changing tersenyum ramah.
"Benarkah sudah tidak ada kamar terbaik yang bisa kupakai malam ini?"
kalau betul , pas dong Paman Nuo sdg berada disana