NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius / Tamat
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

Alya adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Suara derit mesin medis yang teratur—*Bip... Bip... Bip...*—menjadi satu-satunya alunan suara yang memecah keheningan kamar utama Penthouse Lavender. Sisa-sisa aroma obat-obatan dan antiseptik masih tercium di udara, namun atmosfer ketakutan yang mencekam beberapa jam lalu perlahan mulai tergantikan oleh kehangatan yang protektif.

Lampu kamar dibuat temaram. Di atas ranjang *king size*, Alya terbaring lelap dengan selimut tebal membalut tubuhnya hingga sebatas dada. Selang infus terpasang rapi di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan nutrisi dan penstabil rahim secara berkala. Wajahnya yang tadinya sepucat kertas kini mulai mengembalikan rona merah muda alaminya.

Devan tidak pernah berpindah satu inci pun dari tepi ranjang. Pria itu duduk di kursi kulit, menggenggam erat tangan kanan Alya yang bebas dari infus, menempelkannya di pipinya sendiri. Mata abu-abunya yang tajam tampak sedikit redup karena kelelahan emosional yang luar biasa, namun binar protektif di dalamnya berkobar lebih terang dari sebelumnya.

Di dalam kesadaran batin Alya, getaran hangat yang melingkupi rahimnya semakin padat dan stabil. Suara Baby El—meskipun terdengar sedikit lemas dan sengau seperti anak kecil yang baru sembuh dari flu berat—kembali bergaung lembut di kepala Alya.

> *[Hoaam... Ibu... rasanya seperti baru saja maraton mengelilingi benua. Energi spiritualku terkuras habis untuk menahan gelombang infrasonik busuk itu. Tapi... heyy, struktur plasentaku sekarang makin tebal dua kali lipat!]*

> *[Lihatlah Ayah Siaga di sampingmu, Ibu. Dia tidak memejamkan mata sama sekali sejak semalam. Denyut jantungnya penuh dengan rasa cemas dan dendam yang sangat pekat. Kasihan dia...]*

Alya perlahan membuka kelopak matanya yang terasa agak berat. Pandangannya yang samar-samar kembali fokus, menangkap sosok Devan yang tertunduk seraya terus memegang tangannya.

"Devan..." panggil Alya, suaranya masih teramat pelan dan serak.

Devan seketika mendongak. Begitu melihat mata jernih Alya yang terbuka, napas pria itu tertahan sejenak. Ia langsung berdiri, membungkukkan tubuhnya dan mengecup kening Alya dengan penuh kelembutan yang sangat emosional.

"Alya... Kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Perutmu bagaimana? Mau minum?" Devan menanyakan beruntun dengan suara yang bergetar rendah, matanya yang biasa dingin kini memancarkan rasa khawatir yang amat transparan.

Alya mengulas senyuman tipis yang sangat manis, mengelus punggung tangan Devan dengan ibu jarinya. "Aku tidak apa-apa, Devan. Sakit di perutku sudah hilang sepenuhnya. Hanya sedikit lemas. Jangan khawatir lagi, ya?"

Devan mengecup jemari Alya berkali-kali, mengembuskan napas panjang seolah seluruh beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Dokter Kurniawan bilang kondisi kandunganmu sudah stabil. Tapi kamu harus bedrest total selama dua minggu ke depan. Tidak ada pekerjaan yayasan, tidak ada perjalanan, hanya istirahat di sini."

"Iya, aku menurut..." sahut Alya lembut. Tangannya bergerak pelan menuntun tangan besar Devan untuk berlabuh di atas perutnya yang membuncit di usia lima bulan. "Anak kita juga bilang... dia baik-baik saja sekarang. Dia sedang memulihkan tenaganya."

Devan merasakan sentuhan hangat di telapak tangannya saat menempel di perut Alya. Sepasang mata abu-abunya terpejam sejenak, membiarkan rasa syukur yang tak terhingga memenuhi relung hatinya. "Anak yang hebat... Sama seperti ibunya."

*Tok, tok, tok.*

Ketukan pelan di pintu kamar memecah keheningan. Yudha melangkah masuk secara perlahan dengan langkah kaki yang hampir tak bersuara, membungkuk hormat dari jarak aman. Wajah Yudha tampak sangat serius, membawa sebuah tablet enkripsi di tangannya.

Devan melirik Yudha, lalu menatap Alya dengan lembut. "Aku bicara sebentar dengan Yudha di luar, ya? Kamu istirahatlah."

Alya menggeleng pelan, menahan tangan Devan. "Tidak perlu di luar, Devan. Katakan di sini saja. Aku juga ingin tahu tentang orang-orang yang mencoba mencelakai anak kita."

> *[Betul, Ayah! Katakan di sini! Aku juga ingin tahu apakah eksekusi terhadap serangga Klan Blackwood itu berjalan sesuai standar kekejaman Dirgantara Group!]*

Devan menatap Alya sejenak, lalu mengangguk pelan. Pria itu memberi isyarat pada Yudha untuk mendekat.

"Lakukan laporannya, Yudha," perintah Devan, suaranya seketika berubah menjadi sedingin es yang membeku di udara malam.

Yudha membungkuk mantap, membuka tabletnya. "Lapor Tuan Muda, Nyonya Muda. Serangan balasan terhadap tim eksekutor Klan Blackwood di Gedung Komersial seberang telah tuntas seratus persen. Empat tentara bayaran elit yang berada di lokasi telah dilumpuhkan total oleh helikopter tempur dan tim taktis internal kita."

"Apakah ada yang selamat?" tanya Devan tajam.

"Satu orang pimpinan tim berhasil diamankan dalam keadaan hidup, Tuan Muda," jawab Yudha dengan nada dingin. "Sesuai perintah Anda, tim intelijen kita telah menginterogasi pria tersebut di fasilitas rahasia bawah tanah. Kami telah mendapatkan seluruh data, termasuk kode rekening transfer, identitas perantara di London, serta lokasi markas rahasia Klan Blackwood di kawasan Asia Tenggara."

Mendengar kata 'markas rahasia', sudut bibir Devan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat mengerikan—senyuman dari seorang iblis yang siap mencabut nyawa musuhnya.

"Bagaimana dengan jaringan bisnis mereka?" tuntut Devan lagi.

"Atas perintah Tuan Besar Abraham dan koordinasi dengan aliansi perbankan internasional," lanjut Yudha dengan binar kemenangan, "seluruh aset keuangan milik jaringan Klan Blackwood yang terhubung dengan akun offshore Edward Vance telah dibekukan secara permanen. Perusahaan-perusahaan cangkang mereka di Singapura, Hong Kong, dan Zurich mengalami kebangkrutan massal pagi ini. Dalam hitungan jam, organisasi tersebut telah kehilangan delapan puluh persen kekuatan finansial mereka."

Alya terperanjat mendengar skala balas dendam keluarga Dirgantara. Hanya dalam waktu satu malam, sebuah organisasi pembunuh bayaran internasional yang ditakuti di Eropa berhasil dihancurkan hingga ke akar-akar ekonominya!

> *[SKAKMAT! Luar biasa!]*

> *[Ayah Siaga memang tidak pernah mengecewakan kalau soal memusnahkan musuh! Tanpa uang dan tanpa markas, sisa-sisa anggota Klan Blackwood itu sekarang hanyalah tikus-tikus kelaparan yang sedang diburu oleh interpol!]*

"Dan untuk pimpinan mereka yang ditangkap..." Devan berdiri dari kursinya, merapikan lengan kemeja putihnya yang tergulung. Aura membunuh yang memancar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat udara di sekitar terasa berat. "Serahkan dia ke otoritas militer internasional atas kasus terorisme lintas negara. Pastikan dia menghabiskan sisa hidupnya di penjara bawah tanah paling gelap tanpa pernah melihat sinar matahari."

"Baik, Tuan Muda! Perintah dilaksanakan!" jawab Yudha tegas sebelum membungkuk dan mundur keluar dari kamar.

Setelah Yudha pergi, suasana kamar kembali hening. Devan menarik napas dalam-dalam, dengan cepat membuang aura kegelapan dan kekejamannya, lalu berbalik menatap Alya. Wajah dingin itu seketika melunak kembali, dipenuhi oleh kelembutan yang hanya diperuntukkan bagi istrinya.

Devan kembali duduk di tepi ranjang, merangkul tubuh Alya yang bersandar di bantal dan mengecup keningnya dengan sangat lama. "Maafkan aku jika tindakanku terlalu keras, Alya. Tapi siapapun yang berani menyentuhmu dan anak kita... tidak akan pernah mendapatkan ampunan di dunia ini."

Alya menyentuh rahang tegas Devan, menatap mata abu-abu suaminya dengan rasa cinta dan kepercayaan yang mendalam. "Aku tidak menyalahkanmu, Devan. Kamu melakukan apa yang harus dilakukan seorang suami dan ayah untuk melindungi keluarganya. Terima kasih..."

> *[Ehem... Ayah, Ibu... Karena masalah serangga-serangga busuk itu sudah selesai, apakah boleh aku minta sesuatu sekarang?]*

Suara Baby El yang mendadak muncul dengan nada menggemaskan membuat Alya dan Devan tertegun sejenak.

"El mau apa, Sayang?" batin Alya tersenyum.

> *[Aku merasa energinya masih belum pulih seratus persen. Aku ingin makan sup ayam herbal buatan Kakek Abraham dan es krim vanila lagi! Tapi kali ini harus dua porsi, karena aku baru saja menyelamatkan kekaisaran ini dari serangan infrasonik!]*

Alya tidak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah. Rasa lelah dan sisa ketakutan dari malam yang mencekam seketika sirna digantikan oleh kebahagiaan yang membuncah.

Devan yang melihat Alya tertawa, menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman hangat. "Dia meminta sesuatu yang aneh lagi?"

Alya mengangguk seraya terkekeh. "Iya. Anakmu minta sup ayam herbal dari Kakek... dan es krim vanila dua porsi sebagai imbalan karena sudah menjadi pahlawan semalam."

Devan terkekeh rendah—sebuah tawa lepas yang sangat seksi dan menawan. Pria itu mengecup perut Alya yang membuncit manis berkali-kali. "Baiklah, kaisar kecilku. Apapun yang kamu minta, akan Ayah siapkan."

Di atas awan ibu kota yang kini mulai disinari oleh berkas cahaya keemasan matahari pagi, badai besar yang sempat mengancam eksistensi keluarga kecil mereka telah berlalu sepenuhnya. Dengan perlindungan mutlak dari Devan dan ketahanan ajaib dari Baby El, Alya tahu bahwa kehidupan mereka ke depan akan diliputi oleh kedamaian, kejayaan, dan kehangatan cinta yang tak pernah bisa diruntuhkan oleh siapa pun.

1
dewi
kereeen
Ayu Rahayu
/Drool//Drool/
Riza Syamsi Y
aku mampir thor, semangat💪💪💪 untuk berkarya
Rina ylna: Terima kasih kk
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Devan and Alya 😄🙏 welcome to the world the new baby boy 🤭🙏
LanLan.CNL
semangat ya kak💪
LanLan.CNL: makin keren
total 1 replies
M. T🌻
keren juga, kalau punya bayi kayak gitu🤭
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya....
Ariany Sudjana
musik klasik bisa jadi stimulus yang bagus bagi perkembangan otak janin
beybi T.Halim
keren👍👍👍👍
beybi T.Halim
yaa jgn nama juga laa.,bisa hubby,ayah.,ayang beb🤭kannn gak sopan manggil nama doank
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!