Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Iring-iringan kendaraan taktis dan SUV hitam bertuliskan logo EOD meluncur kencang membelah kegelapan jalanan kota Los Angeles. Sirine darurat meraung-raung di bawah pendar lampu lalu lintas yang berkedip kilat.
Jalanan downtown yang biasanya padat malam itu terasa mencekam, seolah-olah seluruh kota sedang menahan napas menantikan apa yang akan terjadi.
Di dalam kabin penumpang SUV utama, suasana terasa sangat dingin dan hening.
Zacheriyya duduk di kursi samping pengemudi, memeriksa perlengkapan penjinak bahan peledak di dalam kotak perlengkapannya.
Di kursi belakang yang gelap dan temaram, Evander duduk tegap. Pria Knight itu sengaja memajukan posisi duduknya, bersandar pada celah di antara dua kursi depan.
Di balik keremangan kabin dan sudut pandang yang tertutup oleh tumpukan rompi anti-peluru, tangan kanan Evander terulur secara perlahan.
Jemari kekarnya yang hangat dan tegap merangkak masuk, menggenggam jemari Zacheriyya dengan sembunyi-sembunyi.
Cengkeraman Evander begitu erat, menyalurkan kehangatan, kekuatan, dan ketakutan tersembunyi seorang pria yang tak sanggup membayangkan bahaya apa pun menyentuh wanita tercintanya malam ini.
Zacheriyya tidak menepis cengkeraman rahasia itu. Ia menghentikan gerakan jemarinya yang sedang mengecek tang kawat taktis.
Tanpa menoleh ke belakang demi menjaga kerahasiaan di depan anggota tim di sebelahnya, Zacheriyya membalas genggaman jemari Evander dengan meremasnya pelan.
Ibu jari Zacheriyya mengusap punggung tangan kekasihnya, menyalurkan ketenangan yang luar biasa.
"Aku akan baik-baik saja, Evan..." bisik Zacheriyya sangat pelan, suaranya hampir menyerupai hembusan angin yang tenggelam di balik raungan sirine di luar kabin. Zacheriyya mengangguk tipis—sebuah janji rahasia yang teramat tegas.
Evander menatap bagian samping wajah kekasihnya. Binar matanya yang tajam mendadak melunak penuh kasih sayang.
Pria itu memajukan tubuhnya sedikit lagi, lalu mengulurkan tangan kirinya secara perlahan merayap turun ke bawah barisan sabuk taktis yang melingkari tubuh Zacheriyya.
Jemari Evander yang hangat mendarat tepat di atas perut rata Zacheriyya.
Melalui lapisan kain kemeja taktis, Evander mengelus perut lembut wanita itu dengan gerakan mengusap yang teramat pelan dan protektif—sebuah gestur penuh doa dan kerinduan mendalam akan hadirnya kembali benih cinta mereka di sana.
"Lindungi Mommy ya, sayangnya Daddy..." bisik Evander dengan nada suara bass yang teramat dalam dan bergetar halus di balik kegelapan kabin.
DEG.
Jantung Zacheriyya serasa berhenti berdetak seketika. Sentuhan halus Evander di perutnya dan bisikan sarat doa itu membuat sensasi hangat yang sangat menyengat memenuhi rongga dadanya.
Zacheriyya memejamkan matanya rapat-rapat selama dua detik, menahan getaran emosional yang meluap di dalam dirinya. Ia menepuk pelan tangan Evander di perutnya, mengisyaratkan bahwa mereka harus kembali fokus pada misi mematikan di depan mata.
Evander menarik kembali tangannya perlahan, menyandarkan punggungnya di kursi belakang saat kendaraan mereka mulai melambat dan berbelok tajam memasuki area pelataran Museum Mobil dan Showroom Mewah Downtown Los Angeles.
Suasana di pelataran Museum Mobil Downtown tampak mencekam luar biasa.
Garis polisi berwarna kuning bercahaya telah terpasang membentang di sekeliling bangunan megah bergaya modern itu.
Beberapa unit mobil polisi dan pemadam kebakaran bersiaga dengan lampu strobo merah-biru yang berputar cepat, memantul di kaca-kaca besar pameran. Seluruh staf kebersihan dan petugas keamanan gedung telah dievakuasi keluar.
Zacheriyya melangkah keluar dari SUV dengan helm taktis dan rompi pelindung EOD kelas berat menyelimuti tubuhnya.
Di belakangnya, Evander melangkah tegap mengenakan rompi pelindung yang disodorkan oleh tim medis.
Instruktur Hendrick dan dua teknisi EOD senior berlari mendekati Zacheriyya dengan membawa alat pemindai frekuensi radio dan detektor bahan kimia.
"Lapor, Instruktur Zacheriyya!" ujar Hendrick tegang, napasnya memburu. "Hasil pemindai frekuensi di area atas lantai pameran bersih! Namun... pemindai dan frekuensi radio di lantai basemen bawah tanah mendeteksi adanya getaran sinyal abnormal yang sangat kuat!"
Zacheriyya menyipitkan matanya tajam. "Di area basemen mana tepatnya?"
"Di ruang penyimpanan koleksi mobil balap klasik langka," sahut Hendrick. "Sesuai dengan teka-teki ketiga yang dianalisis oleh peserta Evander!"
Evander yang berdiri di samping Zacheriyya langsung memasang raut wajah sangat fokus. Binar mata pria Knight itu berkilat oleh kombinasi antara keahliannya di dunia otomotif balap dan insting protektifnya terhadap Zacheriyya.
"Basemen museum ini memiliki tiga kompartemen ruang pamer," potong Evander cepat, mengambil alih denah digital yang dipegang oleh teknisi. "Koleksi mobil balap legendaris disimpan di kompartemen paling belakang—ruangan dengan ventilasi terisolasi dan pengatur suhu khusus."
"Bawa peralatan pemotong kabel dan cermin taktis. Kita turun ke basemen sekarang!" perintah Zacheriyya tegas pada timnya.
Zacheriyya, Evander, Hendrick, dan dua teknisi EOD melangkah menyusuri tangga beton menuju kedalaman basemen museum.
Semakin jauh mereka melangkah turun, aroma bensin mahal, oli khusus balap, dan hawa dingin bertekanan tinggi makin terasa menusuk indra penciuman.
Lantai basemen itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna kuning di sepanjang dinding.
Puluhan mobil balap langka bernilai jutaan dolar terparkir rapi di bawah kain penutup khusus.
BZZZZT... BZZZZT...
Alat pemindai sinyal di tangan teknisi berbunyi makin nyaring ketika mereka mendekati sebuah mobil balap klasik legendaris berwarna merah menyala—sebuah Ferrari 250 GTO bernilai ratusan miliar rupiah yang terparkir di tengah ruang pamer utama.
"Sinyal peledaknya memancar tepat dari bawah chassis mobil ini!" bisik teknisi dengan wajah pucat pasi.
Zacheriyya berlutut di lantai beton yang dingin, menyalakan senter taktisnya dan mengarahkannya ke kolong mobil.
Napas Zacheriyya tercekat.
Di sana—terikat rapat pada bagian kerangka utama chassis di antara tangki bahan bakar dan sistem knalpot mobil—terpasang sebuah rangkaian bom rakitan yang teramat rumit dan mengerikan!
Bom tersebut terdiri dari empat batang peledak plastik berbasis C-4 kelas militer, dihubungkan dengan rangkaian kabel bercabang sepuluh, sensor getaran digital, serta sebuah timer LED berwarna merah yang menyala tajam:
[ 00 : 14 : 32 ]
Empat belas menit tiga puluh dua detik tersisa sebelum seluruh basemen ini—bersama ratusan miliar aset dan bangunan museum—meledak menjadi debu!
"Demi Tuhan..." desis Hendrick melangkah mundur satu tindak, peluh dingin bertumpuk di dahinya. "Ini bom rakitan tipe Anti-Handling Switch dengan dua pemicu independen! Jika kita salah memotong kabel atau terjadi goncangan sekecil apa pun pada chassis mobil, sensor getarannya akan langsung memicu ledakan seketika!"
Zacheriyya mengarahkan cahaya senternya lebih dekat ke rangkaian bom tersebut, menganalisis alur kabel dengan kecermatan tingkat tinggi.
Keringat dingin mulai merembes di pelipis Zacheriyya.
Sebagai penjinak bahan peledak profesional, Zacheriyya tahu betul kerumitan skenario ini.
Bom ini dirancang oleh seorang ahli peledak gila yang paham betul cara menjebak tim EOD. Kabel pemicu utama sengaja disamarkan di balik lipatan braket besi yang sangat sempit di kolong mobil.
"Sempit sekali..." gumam Zacheriyya parau. "Posisi kolong mobil ini terlalu rendah. Postur tubuh anggota EOD berpakaian pelindung tebal tidak akan sanggup menjangkau kotak pemicu di dalam braket tanpa menyenggol sensor getarannya."
"Biar aku yang melakukannya."
Suara bass yang begitu tenang dan mantap memotong keputusasaan di udara.
Zacheriyya menoleh cepat. Evander sudah melepaskan rompi pelindungnya yang tebal, membiarkan tubuh tegapnya hanya dibalut oleh kaos taktis berlengan pendek.
Matanya menatap lurus ke dalam iris Zacheriyya tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa takut.
"Evander! Jangan gila!" bentak Zacheriyya panik, matanya membelalak lebar. "Ini bom C-4 sungguhan! Satu kesalahan kecil dan kau akan hancur berkeping-keping!"
"Dengar aku, Zacheriyya," bisik Evander penuh ketenangan yang luar biasa. Pria Knight itu berlutut di samping Zacheriyya, memegang kedua bahu kekasihnya dengan cengkeraman mantap. "Aku tahu setiap jengkal anatomi dan sasis mobil balap ini luar-dalam. Aku bisa merayap ke bawah sana tanpa menyenggol sensor getarannya. Kau yang memanduku memotong kabelnya... kita lakukan ini bersama-sama."
Zacheriyya mematung, dadanya naik-turun memburu oleh ketakutan yang teramat sangat akan keselamatan Kekasihnya. Namun, melihat Binar keberanian mutlak dan kepercayaan tanpa batas di mata Evander, Zacheriyya tahu... tidak ada orang lain di dunia ini yang sanggup melakukan hal gila ini selain pria di hadapannya.
"Janji padaku..." bisik Zacheriyya dengan suara bergetar yang ditahannya rapat-rapat. "Kau harus menuruti setiap instruksiku tanpa terlewat satu milimeter pun, Evan."
Evander menyunggingkan senyuman miring yang begitu tampan dan tenang, lalu mengecup kening Zacheriyya dengan sangat cepat dan hangat di depan para anggota tim EOD yang melongo.
"Siap, Instruktur Zacheriyya," sahut Evander mantap.
Tanpa membuang waktu, Evander mengambil tang kawat taktis berujung mikro dan cermin pandu dari tangan teknisi.
Pria raksasa itu kemudian merebahkan tubuhnya di lantai beton, merayap dengan kelenturan tubuh yang sangat luar biasa masuk ke dalam celah sempit di kolong Ferrari 250 GTO tersebut.
[ 00 : 09 : 15 ]
Timer digital terus bergerak mundur tanpa ampun.
Di bawah remang cahaya senter yang dipegang oleh Zacheriyya dari luar kolong mobil, Evander berhasil menggapai posisi kotak pemicu bom.
Tubuhnya dalam posisi terlentang, napasnya diatur sangat halus agar dadanya yang kempas-kempis tidak menyenggol sensor getaran ultra-sensitif di atasnya.
"Aku sudah melihat kotak pemicunya, Cherry," bisik Evander dari bawah kolong mobil, suaranya terdengar jernih melalui mikrofon taktis. "Ada lima kabel di sini. Merah, biru, hijau, kuning, dan satu kabel serat optik berwarna putih transparan."
Zacheriyya mengarahkan cermin pandunya dari sudut luar, menajamkan penglihatannya untuk membaca pola sirkuit listrik buatan sang teroris.
"Dengar, Evan..." instruksi Zacheriyya dengan nada suara sedingin es, menekan seluruh kepanikan di dalam jiwanya. "Kabel merah dan kuning adalah pemicu balik. Jika kau memotong salah satunya, timer akan langsung melompat ke nol dalam satu detik."
"Mengerti. Berarti merah dan kuning bukan pilihan," sahut Evander tenang, jemarinya yang panjang dan stabil mulai menjepit tang mikro pada kabel biru. "Lalu bagaimana dengan kabel biru?"
"Kabel biru terhubung ke sensor getaran," analisis Zacheriyya memiringkan cermin pandunya. "Potong kabel biru terlebih dahulu untuk mematikan sensor getarannya!"
Evander menahan napasnya. Buku-buku jarinya memutih saat ia menekan tang mikro pada kabel biru.
KLIK!
Kabel biru terputus! Lampu indikator sensor getaran berwarna hijau di samping timer seketika mati!
Hendrick yang mengintip dari kejauhan menghembuskan napas lega yang sangat berat. "Satu tahap berhasil!"
Namun, ancaman utama belum berakhir.
[ 00 : 03 : 40 ]
Timer digital di atas kotak peledak mendadak berubah warna menjadi merah berkedip cepat, dan ritme hitungan mundurnya berakselerasi dua kali lebih cepat!
"Argh! Timer-nya mempercepat hitungan!" desis teknisi panik.
"Tenang semuanya!" seru Zacheriyya tegap, meski peluh dingin membasahi seluruh punggungnya. Ia menatap ke dalam kolong mobil, memfokuskan pandangannya pada kabel serat optik transparan yang terlilit di antara sakelar utama.
"Evan..." bisik Zacheriyya dengan nada teramat serius. "Kau harus memotong kabel serat optik transparan itu tepat di titik sambungan Kuningan di ujung sakelar. Jika potonganmu bergeser satu milimeter saja ke arah kanan, arus listrik cadangan akan memicu detonator C-4!"
Evander di bawah kolong mobil menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Otot-otot tangannya yang kekar begitu stabil, tidak ada sedikit pun getaran kecemasan pada jemarinya—sebuah ketenangan tingkat tinggi dari seorang pria yang terbiasa hidup di batas antara hidup dan mati di atas lintasan balap.
"Aku memegang kabel serat optiknya, Cherry," bisik Evander, menatap titik sambungan kuningan melalui cermin pandu. "Hitung mundur bersama dalam tiga detik..."
Zacheriyya memegang erat tepi roda mobil, matanya tak berkedip menatap pergerakan tangan Kekasihnya.
[ 00 : 00 : 05 ]
"Tiga..." desis Zacheriyya.
[ 00 : 00 : 03 ]
"Dua..." gumam Evander mantap.
[ 00 : 00 : 01 ]
"Satu... Potong!"
KLIK!
Ujung tang mikro Evander memotong tepat di tengah-tengah titik sambungan kuningan!
BZZZZT... STIK!
Timer digital berwarna merah yang berada di angka [ 00 : 00 : 01 ] seketika mati total! Angka merahnya melenyap, dan pendar lampu indikator peledak padam sepenuhnya!
Keheningan yang amat pekat mendadak melingkupi seluruh ruangan basemen tersebut.
Hendrick dan dua teknisi EOD membeku di tempatnya selama dua detik, sebelum akhirnya menghembuskan napas lega luar biasa dengan dada kempas-kempis.
"Bom... bomnya berhasil dilumpuhkan!" teriak teknisi dengan suara bergetar gembira. "Bom sudah aman!"
Evander merayap keluar secara perlahan dari bawah kolong mobil balap tersebut. Pria tegap itu berdiri, mengibaskan debu tipis di baju latihannya, lalu menyunggingkan senyuman miring yang begitu lega dan seksi.
Sebelum Evander sempat mengucapkan sepatah kata pun, Zacheriyya langsung melangkah maju dan menerjang tubuh tegap Kekasihnya!
Zacheriyya memeluk leher Evander dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya yang pucat di celah leher pria itu. Tubuh Zacheriyya bergetar halus oleh rasa lega yang tak tertandingi—lega karena pria yang sangat dicintainya ini selamat dari maut.
Evander tersenyum manis, melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Zacheriyya, mengangkat tubuh wanita itu sedikit dari lantai dan memeluknya dengan begitu protektif di depan seluruh tim EOD yang bertepuk tangan bangga.
"Sudah kubilang, kan?" bisik Evander lembut di telinga Zacheriyya, mencium pelipis kekasihnya dengan penuh kehangatan. "Aku akan selalu ada untuk melindungimu dan calon bayi kita, honey."
Zacheriyya mengangguk di dalam pelukan hangat itu, menyadari bahwa di tengah ancaman kegelapan dan bahaya peledak yang mengintai kota mereka, cinta dan keberanian pria di hadapannya ini adalah benteng terkuat yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua