"Bos gila ku" maksudnya adalah gila dalam artian benar-benar membuat Thifa stress. Bagaimana tidak? status Thifa yang merupakan sekretaris orang gila itu harus membuatnya menahan amarah.
"Selain bos ku, untungnya kau juga suami ku. kalau tidak, sudah ku gedik habis kau ini." Geram Thifa mengepalkan kedua tangannya.
Bagaimana kisah Arfen dan Thifa selanjutnya? yuk simak kekesalan Thifa bekerja di sana!
~Sequel dari My Special Boyfriend~ Diharap mampir dulu kesana baru ke sini yah^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Aku ... salah?
...***...
"Hahahaha, beneran jadi bahan gabutan dong, haha." Arfen tertawa sekerasnya, sepertinya itu memang hiburan untuknya.
"Siapa?" tiba-tiba suara Arfen suram dan dingin. Shiren dan Thifa sama-sama menatapnya aneh.
"Siapa yang berani jadiin adik ku yang paok sebagai bahan gabutan?" lanjutnya, dan suaranya semakin menajam bersamaan dengan tatapan mengerikan itu.
Shiren diam, dia tau kakaknya tengah serius saat ini. "Eng... Enggak ada bro, gabut doang. Dah lah, Shiren laper, mau nyari kebab." Shiren melangkah cepat keluar dari ruangan itu.
"Dia ada curhat ga sama kamu?" Arfen manatap Thifa.
"Ga tau sih ini bisa di sebut curhat atau ga, cuma akhir-akhir ini dia sering nanyain soal suka, rasanya jatuh cinta, terus patah hati. Gitu deh,"
"Udah ah, makan dulu gih." Thifa menyiapkan seblak yang baru di belinya tadi.
Gak mungkin kan? Mana mungkin di generasi dia, dia malah patah hati di sekolah itu. Saat semuanya berakhir bahagia?
Arfen menggoyangkan kakinya, ah dia rasa dia bisa setidaknya melakukan belasan kali tendangan.
"Thif, sini deh." Arfen menarik Thifa. "Naik aja, cukup tau nih ranjang buat berdua. Eh engga, kamu agak gendutan sekarang. Kayaknya ga muat deh." lanjutnya tanpa dosa.
Plak!! Thifa dengan senang hati menimpuk wajah itu. "Janji kamu mana? Katanya kalo udah nikah bakal waras? Sekarang kok makin menjadi-jadi?"
"Muka ku keseringan di timpuk sih, jadi gini deh, gak waras-waras. Ga ada obat emang."
Thifa menghela napasnya. "Gapapa gila yang penting gantengnya masih ada."
"Dialog aku tuh woy, jangan di ambil."
...***...
Di ruangan gelap itu, hanya ada Arfen yang terbaring di ranjang, dan Thifa yang tidur di dalam pelukannya. Entah bagaimana Arfen mengakalinya, itu bisa muat untuk berdua.
Seseorang telah membuka pintu ruangan iti, dan Arfen tau jelas orang itu siapa. Dialah oranh yang Arfen tunggu-tunggu. Orang itu menyalakan lampunya.
"Tuan muda, hasil laboratoriumnya sudah keluar. Anda bisa lihat sendiri." kata orang itu, ya Fero. Dia memberikan kertas itu pada Arfen.
Bola mata Arfen membesar seketika, dia benar-benar tidak menyangka bahwa hasil laporannya akan begini.
"Ini ... Apa semua laporan ini sudah jelas benar?" Arfen menatap Fero tidak percaya.
"Apa yang tertulis disana, adalah laporan yang sebenarnya. Saya bersumpah tuan."
...***...
Di sisi lain, ada Tara yang sedang duduk dikamarnya memegang gelas berisikan anggur merah. Dia tertawa, tersenyum bahagia. Sepertinya rencananya berjalan lancar.
"Arfen~ Arfen~ Ha~ kau pasti sedang terkejut sekarang kan? Kau tidak menyangka bahwa semua akan jadi seperti ini? Kau pikir kau yang terhebat? Kau pikir semuanya ada dalam kendali mu? Kau salah, semuanya sedang dalam kendali ku. Hahaha, nikmati keterkejutan mu itu." Gumam Tara sendiri, menggoyangkan gelas itu.
"Rasanya aku benar-benar ingin menatap wajah mu yang tengah terkejut sekarang. Karena--"
Waktu itu , Aku tanpa sengaja melihat Shiren yang bertabrakan dengan suster. Lalu aku melihat Shiren agak lama memegangi obat itu. Dari saat itu, aku sendiri sudah menaruh rasa curiga.
Dan benar saja, Shiren membahasnya, dan kau pun akan melakukan hal sesuai dugaan ku. Kau akan memeriksa obat itu. Kau memanggil seseorang ya kan?
Saat berada di parkiran, aku sengaja menabrakkan diri dengan orang itu, lalu obatnya jatuh, dan aku menukarnya. Bagaimana kecerdikan ku? Sungguh Arfenik Arkasa, aku ingin kau mendengar semua ini. Agar kau sadar, kau bukan apa-apa di mataku, hanya butiran debu kosong yang tak berharga tak bernilai.
Tara tersenyum senang, bibirnya terus saja meneguk anggur merah itu.
...***...
"Ini ... Apa semua laporan ini sudah jelas benar?" Arfen menatap Fero tidak percaya.
"Apa yang tertulis disana, adalah laporan yang sebenarnya. Saya bersumpah tuan."
"Gak mungkin. Laporan ini bilang, obat nya memang benar-benar berfungsi untuk pemulihan. Tapi, tapi--"
"Mungkin saja obat itu memang benar, dan efeknya agak berlangsung lama, karna luka anda yang parah tuan."
Arfen menghela napasnya kasar. "Fero, kau pergilah sekarang. Aku ingin sendiri."
Fero meninggalkan lagi tuannya itu. Arfen masih menatap laporannya tidak percaya. Meskipun fakta sudah di depan matq, tapi hatinya seolah menolak percaya. Feelingnya kuat, dia tidak salah.
"Apa memang aku yang salah? Dan aku yang terlalu berlebihan? Obat itu memang benar, dan dokter itu orang baik? Arghhh!!!! Alan!" Arfen mengacak rambutnya frustasi.
"Jadi diam-diam selama ini kamu nyelidiki obat itu, dan dokter itu. Apa-apaan kamu ini? Gimana kamu bisa naruh rasa curiga sama dokter sebaik itu. Dokter itu baik Fen, ramah, dia udah sering nolongin aku. Gak mungkin ada niat jahat sama kamu. Aku kecewa sama kamu. Kamu kekanak-kanakan." tiba-tiba suara itu datang dari seseorang yang berada di balim pelukan Arfen.
Tapi suara itu terdengar suram, ah ada rasa kecewa yang dalam di sana. Arfen terkejut, dia benar-benar lengah soal ini. Habislah dia.
Jangan bilang bakal ribut?
...***...
IPA dan IPS besanan