**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Dibongkar di Depan Umum
Mobil hitam itu kembali ke wisma keesokan siangnya.
Kali ini Rangga turun lebih dulu.
Seragamnya rapi, pangkat kapten terlihat di bahu. Melati menyusul dengan gaun panjang berwarna lembut dan plester baru di dahi. Sopir mengeluarkan dua parcel besar dari bagasi, lengkap dengan pita emas dan label toko mahal dari Jakarta.
Kedatangan mereka segera menarik perhatian.
Beberapa penghuni wisma berhenti menyapu. Perempuan dari rumah sekitar mendekat dengan alasan membeli sayur. Dalam hitungan menit, halaman depan yang biasanya sepi dipenuhi orang.
Kirana berdiri di teras bersama Bu Marni. Ia sudah mengirim kabar kepada Bagas, tetapi laki-laki itu sedang mengambil salinan rekaman KUA bersama Gunawan.
"Kami ingin bicara," kata Rangga.
"Bicaralah di sini," jawab Kirana.
Melati melihat kerumunan. "Ini urusan keluarga. Lebih baik di dalam."
"Kemarin kamu menemuiku di jalan. Hari ini kamu datang dengan parcel dan mobil besar. Orang sudah melihat. Kalau kita masuk, mereka akan membuat cerita sendiri."
Rangga menatap Bu Marni. "Apakah ada tempat yang lebih tenang tapi tetap terbuka?"
"Ruang depan," jawab Bu Marni. "Pintunya tetap terbuka."
Kirana tidak bergerak. "Aku tidak mau parcel itu masuk ke kamar. Katakan tujuan kalian."
Salah satu perempuan berbisik, "Itu Kapten Rangga Adiningrat, kan?"
"Istrinya yang membantu membongkar skandal Prawira."
"Cantik dan baik hati. Sampai membawa hadiah untuk adiknya."
Melati menunduk seolah malu menerima pujian. Rangga justru tampak semakin kaku.
"Aku membawa Melati untuk meluruskan masalah lama," katanya.
"Masalah yang mana? Surat atas namaku, perjodohan, atau unggahan palsu?"
Gumaman langsung menyebar.
Melati mencengkeram pegangan tas. "Kirana, jangan membuat keributan baru."
"Aku hanya meminta penjelasan."
Rangga mengambil napas. "Sebelum itu, aku ingin tahu apa yang terjadi kemarin. Melati pulang dengan luka di kepala."
"Dia mencoba meraihku, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh."
"Dia bilang kamu mendorongnya."
Bu Marni maju setengah langkah. "Saya melihat setelah dia jatuh. Mbak Kirana berdiri cukup jauh. Saya tidak melihat ada dorongan."
Melati menyentuh plester. "Bu Marni tidak melihat awalnya."
"Benar," kata Kirana. "Tapi ponselku merekam percakapan sebelum kamu jatuh. Termasuk saat kamu memberiku tiga hari untuk mencabut pernyataan dan meninggalkan Magelang."
Wajah Melati memucat sesaat.
Rangga menoleh kepadanya. "Kamu mengancam dia?"
"Aku hanya meminta dia berhenti menyeret keluarga kita. Rekaman bisa dipotong."
"Salinan utuhnya sudah kusimpan di dua tempat," ujar Kirana. "Kalau perlu, kita dengarkan di depan petugas."
Seorang perempuan di kerumunan mengangkat ponsel untuk merekam. Melati melihatnya dan segera mengganti nada.
"Aku datang untuk meminta maaf soal surat-surat lama," katanya. "Aku memang pernah membantu membalas pesan yang seharusnya dijawab Kirana. Aku salah karena tidak selalu mengatakan siapa yang menulis."
"Membantu?" Kirana tertawa pendek. "Kamu memakai namaku untuk membangun hubungan dengan Rangga."
"Aku tidak merencanakannya seperti itu."
"Kamu membalas hal-hal yang tidak pernah kubaca. Kamu membuat Rangga mengira kebiasaan dan pikiranmu adalah milikku. Lalu saat keluarga Adiningrat datang menagih perjodohan, kamu berdiri di tempatku."
Kerumunan semakin rapat.
"Jadi Mbak Melati menikahi calon adiknya?" tanya seseorang.
"Bukan begitu," jawab Melati cepat. "Perjodohan itu milik keluarga Prawira. Aku juga anak Pak Suryo."
"Bohong," kata Kirana.
Suara itu tidak keras, tetapi halaman langsung sunyi.
"Mbah Kartono menyelamatkan Pak Broto Adiningrat bertahun-tahun lalu. Kesepakatannya menyebut cucu Mbah Kartono. Aku cucunya. Kamu bukan. Mama Ratna adalah putri Mbah, sedangkan kamu anak Papa dari pernikahan sebelumnya."
"Itu hanya kesepakatan orang tua. Tidak punya kekuatan hukum," bantah Melati.
"Aku tidak pernah bilang perjodohan memaksa siapa pun menikah. Aku bilang kamu berbohong tentang siapa dirimu agar mendapat tempat di keluarga mereka."
Beberapa orang mulai berkomentar terang-terangan.
"Kalau memang cinta, kenapa pakai nama adik?"
"Kasihan adiknya dijebak menikah dengan orang lain."
"Jadi selama ini yang dipuji jujur malah mencuri identitas?"
Melati menatap Rangga, berharap suaminya menghentikan pembicaraan. Namun Rangga berdiri seperti batu.
"Mas, katakan sesuatu."
Rangga menatap Kirana. Wajah perempuan itu berbeda dari gadis yang selama bertahun-tahun ia kira menulis surat kepadanya. Ia pernah menyukai kecerdasan di balik kalimat-kalimat tersebut. Semalam ia baru tahu sebagian kalimat datang dari Melati, sedangkan sebagian lain disalin dari catatan Kirana.
"Melati sudah mengakui kepadaku bahwa dia menulis sebagian pesan dengan namamu," katanya akhirnya.
Kerumunan meledak oleh suara kaget.
Melati mencengkeram lengan Rangga. "Mas!"
"Kamu sendiri yang mengatakannya."
Untuk beberapa saat, arah simpati berbalik sepenuhnya kepada Kirana.
Seorang ibu mendekati teras. "Mbak Kirana, apa benar kamu dipaksa menikah dengan Bagas karena kakakmu mengambil calonmu?"
"Kami berdua dijebak dalam satu kamar dan difoto," jawab Kirana. "Setelah itu keluarga menekan kami menikah untuk menutup skandal. Bagas juga korban."
Ia tidak menjelaskan detail malam tersebut. Tidak ada seorang pun berhak memperoleh gambaran tubuh dan ketakutannya hanya karena berdiri di halaman yang sama.
"Ya Allah," bisik seseorang.
"Kejam sekali."
Melati melihat kendali lepas dari tangannya. Jemarinya menekan tas sampai buku-buku jarinya putih.
"Kalian mudah sekali percaya," katanya. "Tanya kenapa Kirana baru datang sekarang."
Beberapa kepala kembali menoleh.
"Keluarga Prawira bangkrut karena utang dan transaksi bermasalah. Rumah mereka disita. Kirana tidak punya tempat hidup, jadi dia mengejar mantan suaminya yang sedang punya kesempatan naik."
"Itu tidak ada hubungannya dengan kamu memakai namaku," ujar Kirana.
"Ada. Kamu selalu pandai membuat dirimu tampak sebagai korban. Sekarang kamu tinggal di wisma, memakai uang seorang perwira, dan memaksanya rujuk karena hamil."
"Aku sudah menyatakan di depan KUA dan petugas kesatuan bahwa tidak ada paksaan."
"Tentu saja. Kalau tidak kembali kepada Bagas, siapa yang akan membayar hidupmu?"
Bisikan berubah lagi.
Kata bangkrut memiliki kekuatan yang aneh. Orang-orang yang tadi marah kepada Melati mulai menjaga jarak dari Kirana, seolah utang keluarga dapat menular melalui udara.
"Saya dengar dia juga pernah mengirim pengaduan ke kesatuan," kata seorang perempuan dari belakang.
"Yang menghina prajurit kampung itu?"
"Ada unggahan baru juga. Katanya Letda Bagas menekan dia."
Melati mengangkat wajah. "Lihat? Bukan aku yang mengatakan. Semua orang sudah tahu bagaimana Kirana memperlakukan tentara."
"Pengaduan itu bukan dariku," kata Kirana.
"Buktinya mana?"
"Sedang diperiksa. Surel asli, catatan penerusan, pernyataan admin, dan rekaman KUA sudah diamankan."
Rangga menatap Melati. Ia baru menyadari bahwa istrinya tahu tentang unggahan itu sebelum ia sendiri sempat membacanya.
"Kamu bilang kemarin Kirana mengancam pernikahan kita," katanya pelan. "Kenapa sekarang kamu bicara seperti tahu isi pemeriksaan?"
"Semua ada di grup."
"Tidak semua."
Melati tidak menjawab.
Seorang perempuan yang sedang merekam mendekatkan ponselnya ke wajah Kirana. "Kalau benar bukan Mbak, buka semua buktinya sekarang."
"Bukti resmi tidak dibagikan sembarangan sebelum diperiksa."
"Alasan."
"Mungkin dia takut ketahuan bohong."
Orang lain mengangkat bungkus minuman kosong dan melemparkannya ke tanah dekat kaki Kirana. Tidak mengenai tubuhnya, tetapi bunyi plastik itu membuat Bu Marni segera berdiri di depan teras.
"Jangan ada yang melempar apa pun," katanya keras. "Ini wisma, bukan tempat mengadili orang."
"Dia menghina anggota TNI, Bu!"
"Tuduhan belum menjadi bukti."
Namun semakin banyak ponsel terangkat. Potongan video mulai dikirim ke grup keluarga dan akun media sosial. Sebagian hanya merekam pengakuan Rangga tentang surat. Sebagian lain dimulai saat Melati menyebut kebangkrutan dan kehamilan Kirana. Setiap orang memilih versi yang paling membuat gaduh.
Kirana mundur satu langkah ke teras. Ia ingin menelepon Bagas, tetapi ponselnya masih berada di dalam tas dan orang-orang bergerak semakin dekat.
"Dengarkan saya," katanya. "Perjodohan itu memang bukan hukum. Saya tidak menuntut Rangga menjadi milik saya. Saya menuntut nama saya berhenti dipakai. Mbah Kartono menyelamatkan Broto Adiningrat, dan surat kesepakatannya masih ada. Melati memakai hubungan itu tanpa hak, lalu seseorang memakai namaku lagi untuk menyerang Bagas."
"Seseorang siapa?"
"Itu yang sedang kami buktikan."
"Berarti belum tahu!"
Suara-suara menumpuk. Satu orang meminta Melati menjawab. Yang lain menyuruh Kirana pergi dari lingkungan perwira. Ada yang hanya ingin melihat wajahnya lebih dekat.
Rangga berdiri di samping Melati, seolah terbelah antara kebenaran yang baru didengar dan luka di dahi istrinya.
Ia mengangkat telapak tangan. "Cukup. Jangan sebarkan rekaman yang dipotong."
"Kapten takut istrinya ketahuan?" seru seorang laki-laki dari belakang.
"Saya takut kalian menghukum orang berdasarkan potongan yang menguntungkan prasangka masing-masing." Suara Rangga tegas, tetapi kalimat itu tidak lagi cukup untuk mengendalikan halaman. "Saya sudah menyampaikan apa yang saya ketahui. Melati mengaku menulis sebagian pesan memakai nama Kirana. Untuk pengaduan dan unggahan baru, belum ada kesimpulan."
"Kalau begitu suruh istri Kapten jawab soal nomornya," sahut perempuan lain.
Melati segera menyela. "Nomor lama bisa dipakai siapa saja. Kirana juga menyimpan banyak dokumen keluarga. Kenapa hanya aku yang dicurigai?"
"Karena nomor itu terdaftar sebagai kontak komunikasiku ketika aku tidak pernah memberimu izin," jawab Kirana. "Itu petunjuk, bukan vonis. Bedanya, aku berani menyebut batas bukti."
Bu Marni membuka pintu lebih lebar di belakang Kirana. "Mbak, masuk dulu. Mereka sudah tidak datang untuk mendengar."
Kirana mengangguk, tetapi kerumunan telah membentuk setengah lingkaran di depan anak tangga. Tak seorang pun menghalangi pintu secara utuh, namun celah untuk lewat terus menyempit ketika dua orang maju demi mendapatkan gambar yang lebih jelas.
Rangga melihat satu layar ponsel. Video yang baru direkam sudah diberi judul seolah seluruh perkara selesai: *Dua Saudari Berebut Perwira*. Ia meraih ponselnya sendiri, mungkin hendak memanggil petugas jaga, lalu berhenti saat Melati berbisik agar ia tidak mempermalukan keluarga lebih jauh.
Keraguan sesingkat itu cukup dibaca orang banyak sebagai kelemahan.
Bagas belum terlihat di ujung jalan.
Seseorang dari baris depan mengulurkan tangan ke arah bahu Kirana.