Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam berdua
"Akhirnya kita kembali ke sini."
Vara menghirup udara segar sambil memandang pulau pribadi miliknya yang terbentang indah di hadapan mereka. Laut biru, pasir putih, dan pepohonan yang bergerak pelan diterpa angin membuat suasana terasa begitu tenang.
Dirga memang pintar memilih tempat liburan. Atau lebih tepatnya, pintar mencari tempat yang tidak perlu mengeluarkan uang.
Pulau pribadi ini milik Vara. Jadi tak ada dana yang ia keluarkan sepeser pun.
Dirga menghampiri Vara dari belakang, lalu memeluk pinggang istrinya dengan lembut.
"Suka?" bisiknya.
"Tentu dong." Vara tersenyum. "Ini kan pulau pribadiku."
Dirga terkekeh. "Aku sengaja membawamu ke sini karena aku ingin kita punya waktu berdua. Jauh dari kesibukan, jauh dari orang lain."
Vara menahan senyum. "Romantis sekali kamu."
"Selama ini aku sibuk sampai jarang memberikan waktu untukmu. So, nggak ada salahnya romantis sama istri sendiri."
Dirga menatap wajah Vara. "Sekarang aku ingin menebus semuanya."
Vara hampir mendengus. Menebus? Kalau bukan karena sedang menjalankan rencana busukmu, mana mungkin kamu seromantis ini.
Namun, ekspresi Vara tetap lembut.
"Aku senang kamu mengajakku ke sini."
Dirga tersenyum puas. "Aku ingin melihat kamu bahagia seperti ini setiap hari."
Vara memaksakan tersenyum yang lebih lebar. "Terima kasih, Sayang."
Dalam hati, Vara justru merasa geli mendengar setiap rayuan pria ini.
Manis sekali mulutnya. Sayang, aku tahu apa yang ada di balik semua ini.
Meski begitu, ia tetap memainkan perannya dengan sempurna.
Siang itu mereka menikmati makan bersama tanpa gangguan apa pun. Mereka berbincang, tertawa, dan menikmati pemandangan laut yang tenang. Sesekali Dirga memuji Vara, sementara Vara hanya membalasnya dengan senyum dan tawa kecil.
Semuanya terlihat seperti pasangan yang sedang menikmati bulan madu.
Padahal, di balik senyum Vara, ia tahu persis apa yang sedang direncanakan suaminya.
Malam pun tiba.
Setelah selesai makan malam, Vara kembali ke kamar dengan penampilan yang jauh berbeda dari siang tadi. Ia mengenakan dress tipis dengan tali kecil di bahunya. Rambutnya dibiarkan tergerai, sementara riasan di wajahnya dibuat sederhana. Begitu Vara keluar dari kamar mandi, Dirga yang sedang duduk di tempat tidur langsung menoleh.
Tatapannya terpaku. Untuk beberapa detik, ia bahkan lupa hendak melakukan apa.
"Vara..."
Vara pura-pura bingung. "Kenapa?"
Dirga berdiri dan menghampirinya. "Kamu cantik sekali."
Vara tersenyum malu. "Benarkah?"
"Iya." Dirga menatapnya lekat-lekat. "Aku sampai nggak tahu harus bilang apa."
Vara hampir ingin memutar bola matanya. Namun, ia justru menundukkan wajah sambil tersenyum.
"Kamu bisa saja."
Dirga semakin dekat dan menggenggam tangannya. "Malam ini adalah malam kita."
Vara tersenyum kecil. Ia sudah paham maksud suaminya.
"Nggak bisa, Sayang. Aku lagi datang bulan."
Wajah Dirga seketika berubah cemberut.
Vara terkekeh melihat ekspresinya. "Kenapa mukanya begitu?" tanya Vara sambil tertawa kecil.
"Jadi aku harus puasa?"
Vara mengangguk. "Sabar, Sayang. Cuma tujuh hari."
"Tujuh hari?" Dirga semakin cemberut. "Itu bagaikan tujuh abad, Sayang," rengeknya.
Vara kembali terkekeh.
"Sabar."
Tatapan Dirga masih sulit berpaling dari Vara. Kecantikan istrinya malam ini benar-benar membuat pikirannya kacau. Sampai-sampai ia lupa menghubungi Monica untuk memberitahukan bahwa mereka sudah tiba di pulau.
Ponselnya bahkan masih tergeletak begitu saja di atas meja.
Sementara Vara diam-diam melirik benda itu.
Kasihan sekali. Pasti wanita itu sedang menunggu kabar dari Dirga.
Sudut bibir Vara terangkat tipis. Dirga masih menatapnya seolah tak ingin mengalihkan pandangan.
"Katanya mau membuatku terbang ke langit lalu menjatuhkanku? Kita lihat saja nanti siapa yang lebih dulu jatuh!"
••••
Sementara itu, Monica sejak tadi hanya mondar-mandir di dalam kontrakannya. Sejak Dirga pergi, pria itu belum juga menghubunginya. Ia beberapa kali mengambil ponselnya, membuka nama Dirga, lalu mengurungkan niat untuk menelepon.
Sebenarnya Monica ingin menghubunginya lebih dulu, tetapi ia takut Vara yang justru mengangkat telepon tersebut. Selama ini, Dirga memang selalu menghubunginya lebih dulu. Mereka sudah sepakat untuk tidak saling menelepon sembarangan demi menghindari kecurigaan Vara.
"Dirga... kamu ke mana sih?" gerutu Monica kesal. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, lalu kembali menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan dari Dirga.
"Katanya masih kasih kabar, sampai sekarang dia nggak menghubungiku, sial." Monica mendengus kesal. "Jangan-jangan dia malah sibuk sama Vara."
Pikiran itu membuat wajah Monica semakin masam. Ia kembali membuka percakapan mereka. Jarinya sempat mengetik sebuah pesan, tetapi sebelum sempat dikirim, ia menghapusnya lagi.
"Ah, kenapa sih aku yang harus menunggu?"
Monica melempar ponselnya ke sofa dengan kesal.
"Jangan bilang kamu lupa aku gara-gara wanita bodoh itu, Dirga!"
Monica mengusap wajahnya dengan kasar. Entah kenapa, tiba-tiba pikirannya dipenuhi bayangan Dirga yang sedang bermesraan dengan Vara. Ia langsung menggeleng, berusaha mengusir bayangan itu.
"Tidak! Dirga pasti nggak akan tergoda sama wanita polos itu!"