Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 DUEL HARIS DAN ANCHOR
Puluhan pisau hitam melayang serentak di bawah langit malam.
Tak ada aba-aba, tak ada tawa. Hanya desing, kilau hijau beracun yang menyala samar di kegelapan, dan bau busuk yang menusuk tenggorokan.
"Haris - san" bisikku.
Malam telah jatuh di Latoona. Lentera-lentera kotall pecah dan padam, dan satu-satunya cahaya datang dari rumah-rumah yang terbakar, dari bulan separuh yang tersangkut di antara asap, dan dari pisau-pisau beracun yang berpendar seperti mata ular.
Rantai Hanzo menyambar dari kanan. Aku melompat. Pisau menghujani tempatku berdiri, menancap, meleleh, mengepulkan asap hitam yang nyaris tak terlihat di kegelapan. Aku berguling, bangkit, menebas. KLANG! Bilahku bertemu rantai, percikan api menyembur sesaat, dan getarannya menghantam rusukku yang retak.
Aku terhuyung setengah langkah. Hanya setengah langkah.
Itu cukup.
Sesuatu berkilat hijau di sudut mataku. Kecil. Tajam. Dekat sekali.
Anchor. Ia sudah ada di sisiku, tanpa suara, tanpa hawa. Satu pisau hitam terangkat setinggi mata, ujungnya meneteskan cairan hijau pendar yang jatuh sangat pelan, seolah waktu mengental. Di bilah itu kulihat pantulan wajahku, diterangi api yang berkobar di kejauhan. Mata terbelalak. Mulut terbuka. Tak sempat berteriak.
Mataku akan ditusuk olehnya.
Satu jengkal.
Setengah jengkal.
Hampir.......!!!!!
SRAAAAT!
Darah hitam menyembur. Pisau itu terlepas, berputar di udara, jatuh berdenting di tanah.
Belati Haris menancap di pergelangan Anchor, memutus separuh tulangnya. Napasnya memburu di belakang telingaku.
"Kau!!!!," katanya pada Anchor, dingin sekali, "jangan sentuh muridku"
"BERMAINNYA UDAH SELESAI, WAKTUNYA MODE SERIUS!!!!!!!" teriak haris
Anchor menatap tangannya yang menggantung. Lalu menatap Haris. Dalam gelap, mata merahnya menyala seperti bara, dan bibirnya tertarik memperlihatkan gigi runcing.
"PAK TUA YANG MEREPOTKAN......"
"Arka." Haris tak menoleh. "Yang besar aku serahkan padamu. Yang kurus ini milikku."
"Guru, tapi lenganmu..."
"Pergilah...."
Satu kata, tapi kudengar semua yang tak ia ucapkan. Aku mengangguk dan melompat mundur. Haris menendang Anchor ke samping, dan keduanya melesat menjauh, menabrak puing, menghilang di balik asap dengan dentang logam yang riuh.
Di depanku, Hanzo menggeram, mengayunkan rantainya.
"Sekarang tinggal kita berdua, bocah."
Aku tahu aku akan kalah.
Bukan perasaan, tapi hitungan. Tulang rusukku seperti mau patah. Napasku pendek. Kakiku gemetar, dan pedangku terasa seperti besi yang tak bisa kuangkat. Di depanku berdiri raksasa yang tak berdarah, yang menutup lukanya seperti menutup pintu.
WUUUNG!
Rantai menyapu. Aku menunduk, dan rantai kedua sudah menunggu di bawah.
BRAAAKK!
Dunia putih. Lututku menghantam tanah. Sesuatu melilit pinggangku, mengangkatku, dan aku tergantung di udara seperti boneka kain. Hanzo mendekat, napasnya panas dan berbau darah.
"Dengarkan lah," katanya, hampir lembut. "Tulangmu berbunyi sebelum patah."
KRAAAK.
Jeritanku tak keluar. Tenggorokanku hanya mengeluarkan desis.
Rantai itu mengencang. Pandanganku menyempit jadi terowongan, ujung-ujungnya hitam, dan malam di sekelilingku terasa semakin pekat. Di kejauhan Iyan memanggil namaku. Di kejauhan lain, besi beradu besi di antara Haris dan Anchor.
Kalau aku jatuh di sini...
Bayangan datang tanpa diundang. Kissy yang tertawa di gendonganku, kelopak bunga berputar. Anak-anak Latoona meringkuk di gudang bawah tanah, gelap dan ketakutan. Ara di jinfa, berkata kita belum selesai latihan. Guruku di selatan yang tak mau menatap mataku.
Aku belum menjawab apa pun pada siapa pun.
"Oke, Tulang keduanya sekarang," bisik Hanzo.
KRAK.
Sesuatu di dadaku menyala.
Bukan angin. Bukan panas. Sesuatu yang lebih tajam, lebih bening, seperti benang listrik yang selama ini terselip di antara hembusan napasku. Sisa petir Iyan. Setiap kali kami menggabungkan kekuatan, kilatnya menjalar di pusaran anginku, dan diam-diam, sesuatu menempel di dalam diriku, menunggu.
Rambutku berdiri. Percik kecil menari di ujung jariku, putih keemasan, terang sekali di tengah kegelapan.
ZZZT.
Hanzo mengerutkan dahi. "Ah! Apa itu...?"
Aku mengangkat kepala.
"Wind element..."
Suaraku serak, hampir tak terdengar.
"...thunder step."
ZRAAAAKKK!
Malam Latoona meledak jadi putih.
Dunia berhenti. Atau lebih tepatnya, aku yang bergerak terlalu cepat untuk dunia.
Rantai yang melilit tubuhku mendadak kosong. Aku berdiri tiga langkah di sisi kiri Hanzo, percik putih berkeretak di sepanjang lenganku, menerangi reruntuhan di sekeliling kami seperti kilat di tengah badai. Bau ozon menusuk hidung.
Hanzo menatap rantainya yang kosong. "...Hah?"
Aku menghilang lagi.
ZZAPP!
Muncul di kanan. Kuiris pahanya, dan kilat putih memanjang di belakangku seperti jejak kaca. SRET! Aku sudah pergi sebelum darah hitamnya menyembur.
"Di mana kau...?" Hanzo berputar, rantainya menyapu udara kosong. "KAU DI MANA?!"
ZZAPP! Di atas. Pedangku menyabet bahunya. ZZAPP! Di belakang. Menebas punggung. ZZAPP! Di depan, kutendang dagunya sampai kepalanya terpental.
Tak ada ruang untuk berpikir. Tubuhku bergerak ke mana pun mataku menatap, secepat niatku sendiri. Setiap lompatan membelah kegelapan dengan kilatan putih-hijau, dan malam di sekeliling kami berkedip-kedip seperti lentera yang goyah, terang, gelap, terang lagi, dengan Hanzo selalu menatap tempat yang salah.
Ia meraung. Rantainya menghantam segala arah, menghancurkan dinding, tiang, tanah, bahkan bayangannya sendiri. Tapi tak satu pun mengenaiku. Ia hanya memukul bekas-bekas cahaya yang padam sedetik setelah kutinggalkan.
"HANTU....!" raungnya. "KAU.....HANTU....BUKAN MANUSIA...!"
Mungkin benar. Mungkin tidak. Aku tak peduli.
Paru-paruku terbakar, dan aku tahu tubuhku tak akan bertahan lama dengan kecepatan ini. Satu serangan. Hanya satu yang bisa kupakai.
Aku melompat ke belakang punggung Hanzo.
Ia berhenti. Seluruh tubuhnya menegang, mungkin merasakan hawa dingin di tengkuk, sama seperti yang kurasakan setiap kali bahaya mendekat.
Aku mengangkat pedang tinggi-tinggi. Angin berputar di bilahnya, bercampur kilat, menyala putih-hijau menyilaukan, begitu terang hingga bayangan kami terlempar panjang di dinding-dinding yang runtuh.
"Wind element..."
Hanzo menoleh. Matanya yang merah melebar.
"...heaven splitter!"
ZRAAAAAAAAAAAAAAKKK!
Bilahku turun dalam satu garis lurus. Dari ubun-ubun sampai selangkangan, tanpa ragu, tanpa jeda.
Sunyi.
Hanzo berdiri membeku dengan mata terbelalak dan mulut terbuka, seperti hendak mengucapkan sesuatu yang tak sempat keluar. Garis cahaya tipis membelah tubuhnya dari atas sampai bawah, rapi seperti jahitan, dan satu-satunya yang menyala di kegelapan.
Lalu angin menyentuhnya.
Tubuh itu terbelah dua, jatuh ke sisi yang berbeda dengan dentuman berat. Darah hitam menyembur, menguap menjadi asap, dan kedua belahan itu runtuh menjadi serbuk kelabu yang terbawa angin malam.
Rantai-rantainya jatuh berdenting, kosong.
Aku berlutut. Pedangku tergelincir dari genggaman. Telingaku berdenging, dan bau hangus menguar dari kulitku sendiri. Setiap otot terasa terbakar.
"Aku..." gumamku, "...menang?"
Tak ada waktu merayakan.
Dari balik asap, dentang logam menggema seperti hujan es di atap seng, disertai percikan api yang berloncatan di kegelapan.
TRANG-TRANG-TRANG-TRANG!
Aku mengangkat kepala.
Haris dan Anchor berada di tengah jalan yang hancur, saling menghantam dalam jarak yang terlalu dekat untuk disebut pertarungan. Cahaya api dari rumah-rumah terbakar menari di wajah mereka, merah, lalu gelap, lalu merah lagi. Anchor kini memegang dua pisau panjang yang meneteskan cairan hijau pendar. Tangannya yang tadi dipotong Haris telah tumbuh kembali, hitam dan berurat, jemarinya bergerak seperti cakar laba-laba.
Haris menahan keduanya dengan belati tunggal di tangan kanan. Tangan kirinya terkulai, hitam sampai bahu. Batu kelabu di penutup matanya berpendar redup, satu-satunya cahaya dingin di antara kobaran api.
"Sembilan..," desisnya.
TRANG!
"Sepuluh...."
TRANG-TRANG!
"Sebelas...!"
Ia menghitung bukan serangan, tapi ritme. Setiap hitungan, belatinya tepat di tempat pisau Anchor akan tiba. Tapi aku melihat yang tak ia akui: darah menetes dari dagunya, langkahnya mulai berat, dan setiap goresan di tubuhnya meninggalkan jalur hitam yang merayap.
SRAAAKK!
Belatinya menebas leher Anchor. Kepala itu melayang, mata merahnya masih tersenyum, menyala di udara malam seperti dua bara yang terbang. Tubuh tanpa kepala itu menusukkan kedua pisaunya ke rusuk Haris.
CRAAAAT!
"GURU!!!!"
Haris tersentak, menggeram, tapi tangan kanannya mencengkeram pergelangan Anchor dan tak melepaskannya. Kepala Anchor jatuh, berguling, tertawa. Lalu urat-urat hitam menjulur dari lehernya, menarik kepala itu kembali ke tubuh dengan bunyi basah yang membuat perutku mual. SLURP-KRAK.
"Sudah kubilang," kata Anchor riang. "Aku tidak akan bisa dibunuh."
Haris menunduk. Darah mengalir dari mulutnya. Tapi ia terkekeh pelan, dan di antara napasnya yang putus-putus, bibirnya bergerak.
Tiga detik.
Aku mengerti.
Setiap kali kepala itu terpisah, Anchor butuh tiga detik untuk menyambung, dan selama itu ia buta. Haris sudah membaca celahnya. Tapi tubuhnya tak sanggup lagi mengejar celah itu sendirian.
"Arka." Suaranya serak, nyaris tak terdengar, tapi sampai ke telingaku seolah ia berbisik di sampingku.
"Bangun."
Aku mencoba. Lututku gemetar. Dunia berputar, dan ketika kuangkat tangan untuk menyeka wajah, jariku basah. Darah mengalir dari pelipis ke pipiku, dari mulut ke dagu, dari rusuk membasahi seluruh sisi kaosku. Pandanganku berkunang. Rasanya seperti berdiri di dasar sumur di tengah malam, dan semua suara datang dari atas.
"Aku... tak punya tenaga lagi..."
"Kamu masih punya." Haris menatapku, satu matanya terbuka, tajam dan tenang meski wajahnya pucat seperti kapur di bawah cahaya bulan. "Satu serangan lagi. Nanti aku kunci dia, lalu kamu potong."
"Tapi nanti kepala dia akan menyambung lagi."
"Tidak kalau kepalanya terlalu jauh dari tubuhnya." Ia menarik napas, dan aku melihat darah menetes dari ujung belatinya. "Nanti tebas pinggangnya dulu. Lalu kepala. Dua tebasan, tanpa jeda."
Anchor mengerutkan alisnya. "Kalian bicara apa?"
Haris tidak menjawab. Ia menatapku sekali lagi, dan aku mengerti: ia tak sedang meminta. Ia sedang memercayakan.
Aku meraih pedangku. Gagangnya licin oleh darah. Kuseret tubuhku bangkit dengan satu lutut, lalu dua, lalu berdiri, bergoyang seperti pohon tua diterpa badai malam.
Anchor tertegun. Mata merahnya melebar saat tangan kanan Haris yang kosong menyambar rantai Hanzo yang tergeletak di tanah, berat, berkarat, panjang. Dalam satu gerakan, rantai itu melilit pinggang Anchor, kemudian dada, lalu kedua lengannya, dengan kecepatan yang tak kuduga dari tubuh yang terluka separah itu.
KRAAANG-KRAAANG-KRAAANG!
"Apa—?!" Anchor meronta, pisaunya menebas, tapi rantai itu terlalu tebal. Di tempat sentuhan racunnya, besi mulai berkarat, melapuk, tapi Haris mengencangkannya lagi dan lagi, menggunakan seluruh berat tubuhnya.
Urat-urat di lehernya menegang. Darah menyembur dari rusuknya setiap ia menarik rantai. "Hanya itu yang kau dapat! Aku tak bisa menahan lebih lama!"
"Lepasin, bajingan tua!"
Rantai berderit. Karat menjalar cepat. Mata rantai pertama retak.
Satu napas.
Aku berlari.
Bukan thunder step. Tubuhku sudah tak punya sisa untuk itu. Hanya kakiku, yang satu menyeret, yang lain terpincang, bercak darah di setiap pijakan. Dunia sempit, hanya ada punggung Haris dan sosok kurus terbelit rantai di depannya, dikelilingi nyala api dan gelap.
Dua napas.
Mata rantai kedua patah. TRING!
Anchor menoleh. Mata merahnya menemukanku. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajah itu yang tak pernah muncul sejak malam ini: takut.
"Tidak... Tidak, kau..."
Aku mengangkat pedang. Angin di bilahku, yang tinggal setipis benang, kutarik sampai ke tetes terakhir. Setiap serabut tubuhku menjerit. Jantungku berdentum di telinga. Dunia memutih di ujung-ujungnya.
Untuk lembah itu. Untuk Latoona. Untuk Guru.
Tiga napas.
"Wind element..."
Rantai terakhir meledak.
"...severing gale!"
ZRAAAAAAAAAAAAAAKKKKK!
Pedangku menyapu mendatar. Gelombang angin hijau membentang selebar jalan, setipis helai rambut, memotong kegelapan seperti garis cahaya, menembus pinggang Anchor tanpa perlawanan sedikit pun. Dunia diam sesaat. Sebuah garis terang terbentang di tubuhnya, lurus dan sempurna.
Lalu tubuh bagian atas Anchor tergelincir.
SLAAAKKK.
Terpisah dari kakinya. Darah hitam menyembur seperti air mancur. Matanya melotot, mulutnya terbuka, tapi suaranya tak sempat keluar. Tubuh atasnya meluncur ke belakang, jatuh, masih bergerak, tangannya mencakar tanah.
"Sekarang, Arka!"
Tak ada jeda. Tak ada napas. Aku membalik pedangku ke atas, dan menebas lagi dari bawah ke atas dengan tenaga yang bukan lagi milikku sendiri.
"Wind element... crescent reaper!"
SWOOOOOOSHHH—KRAAAAK!
Bilah angin melengkung seperti bulan sabit melesat ke leher Anchor, bersinar hijau terang di tengah malam. Kepala itu terlepas dengan satu tebasan bersih, terpelanting tinggi di udara, berputar-putar, matanya masih terbuka, masih menatapku dengan sorot tak percaya.
"Tidak..." bisiknya. Satu-satunya kata yang sempat keluar. "Mustahil... Seorang pemula..."
Angin sabit itu tak berhenti. Ia membawa kepala itu terbang jauh, melewati atap-atap rumah, melintasi kanal yang pecah, dan jatuh di ujung distrik dengan bunyi samar yang nyaris tak terdengar, ditelan gelap.
Urat-urat hitam dari lehernya menggeliat di udara, mencari tubuh yang sudah tak ada di sana. Menjulur, menggapai, lalu layu satu per satu.
Di tengah jalan, tubuh Anchor berdiri sebentar dengan dua belahan yang tak lagi bersambung. Lalu retak.
Retak seperti tanah kering, dari pinggang ke dada, dari dada ke bahu, menyebar ke seluruh kulit. Cahaya biru pucat merembes dari celah-celahnya, seperti embun yang pelan-pelan menguap, hangat dan sejuk sekaligus, menerangi puing-puing di sekitarnya.
Tubuh itu hancur menjadi serbuk hitam dan melebur ke udara malam. Angin membawanya pergi, tak meninggalkan apa pun kecuali jubah koyak dan sebutir benda kecil yang jatuh berdenting di batu retak.
Sebuah batu lonjong biru pucat, retak halus di satu sisi, tapi masih berpendar lembut seperti embun yang menolak mengering, satu-satunya bintang yang tersisa di jalan yang gelap.
Sunyi.
Hanya desis air kanal yang tersisa, derak api di kejauhan, dan napasku sendiri.
Aku menjatuhkan pedang. Lututku menyerah. Aku terhuyung, tubuhku jatuh ke belakang, dan sebelum punggungku menyentuh tanah, sebuah lengan besar menangkapku. Hangat. Bau darah dan besi.
"Kamu," kata Haris. Suaranya hampir tak terdengar. Wajahnya putih pucat, tapi senyumnya lebar, dan satu matanya berkaca-kaca. "Kau berhasil, Nak."
"Guru..." Bibirku bergetar. "Lenganmu bagaimana..."
"Masih menempel kok."
"Tapi kamu berdarah..."
"Kamu juga kok." Ia tertawa kecil, lemah, lalu terbatuk. "Kita seperti dua pengemis yang bertarung di pasar tengah malam."
Dari belakang, langkah-langkah gontai mendekat. Iyan, dengan wajah penuh jelaga, memapah tubuhnya sendiri dengan gada seperti tongkat. Di bahunya, Vivi terisak dan tertawa sekaligus, wajah mungilnya basah. Mereka berlutut di samping kami tanpa berkata apa-apa.
Aku menengadah. Asap mulai menipis, dan di antara celahnya, bulan separuh menggantung di langit Latoona, dikelilingi bintang-bintang yang tak tahu apa yang baru saja terjadi di bawahnya.