Bagi Roselia, musuh dia hanya satu: Gabriel, putra Adipati saingan keluarganya.
Dua keluarga Adipati itu sudah bermusuhan turun-temurun, jadi tontonan seluruh istana.
Sampai sebuah fitnah keji dari Pangeran Ke-4 menjatuhkan keluarga Roselia. Ia dibuang ke perkebunan terpencil yang kumuh.
Roselia pikir hidupnya sudah berakhir.
Sampai takdir mempertemukan mereka lagi.
Ia menemukan Gabriel — sang musuh bebuyutan yang sombong itu — hanyut pingsan di sungai dekat perkebunannya.
Saat terbangun, Gabriel menatapnya kosong.
"Siapa... aku?"
Dia hilang ingatan!
Dendam Roselia membara. Inilah kesempatannya!
Ia menjadikan pewaris Duke yang angkuh itu sebagai pesuruh kebunnya. Disuruh mencuci, memanen, tidur di gudang!
Balas dendam kecilnya terasa manis... sampai Roselia sadar, Pangeran Ke-4 yang menghancurkan keluarganya, ternyata juga dalang di balik kecelakaan Gabriel.
Mereka dijebak. Diadu domba sejak awal.
Kini, saat ingatan Gabriel perlahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Samudra
Matahari merayap menuju puncaknya, namun hawa dingin di sekitar perkebunan Hazel tak kunjung surut.
Di luar gerbang utama, barisan prajurit Serigala Hitam kian kacau tanpa kehadiran Kapten Vane. Tanpa komandan yang memegang kendali atau surat izin penggeledahan resmi, para wakil perwira hanya bisa berdebat kusir di dalam kemah mereka. Sebagian mulai mengusulkan untuk mundur dan melapor ke markas wilayah utara, sementara sisanya bertahan dengan ketakutan akan amukan Pangeran Cedric jika pulang dengan tangan hampa.
Di lantai dua mansion, Roselie berdiri di balik tirai perpustakaan pribadi Adipati, mengamati kekacauan di luar gerbang dengan tatapan dingin.
*Ketuk... ketuk...*
Paman Bret melangkah masuk seraya mengunci pintu kayu tebal di belakangnya. Raut wajah pelayan tua itu memancarkan binar kelegaan yang sulit disembunyikan.
"Lady Roselie," panggil Paman Bret dengan suara setengah berbisik. "Kabar dari muara barat baru saja tiba melalui kurir perairan kita."
Roselie berbalik cepat, iris mata hijau zamrudnya berkilat tajam. "Bagaimana dengan tabung tembaganya?"
Paman Bret merogoh bagian dalam mantel tebalnya dan mengeluarkan sebuah tabung logam yang agak berjelaga namun masih tersegel utuh.
"Kurir laut kita berhasil menyergap tabung itu saat hanyut di muara sungai pada pukul empat pagi tadi, My Lady," urai Paman Bret mantap. "Kapten armada laut keluarga Hazel sudah mengonfirmasi keaslian dokumen pemalsuan stempel di dalamnya. Saat ini, salinan dokumen tersebut sedang berlayar menggunakan kapal dagang tercepat menuju jaringan rahasia Tuan Adipati Edward di ibukota!"
Napas Roselie berembus lega. Beban berat yang menjepit dadanya sejak kemarin malam perlahan terangkat. Dokumen kunci itu kini berada di jalur yang tepat untuk membongkar kejahatan Pangeran Cedric dan membebaskan ayahnya dari status tahanan rumahan.
"Kerja bagus, Paman Bret," puji Roselie, jemari lentiknya mengusap permukaan dingin tabung tembaga itu. "Pastikan kurir perairan kita tetap bersiaga. Begitu Ayah menerima dokumen itu, kita harus siap melakukan pergerakan balasan."
"Baik, Lady Roselie. Lalu... bagaimana dengan Tuan Gabriel dan adiknya?" tanya Paman Bret penuh kehati-hatian.
Roselie menyipitkan matanya. Pertanyaan itu membawa kembali rasa waswas yang terus mengendap di benaknya. Gabriel adalah senjata yang teramat ampuh—kemampuannya bertarung dan menyusun taktik telah terbukti semalam—namun ketidakpastian akan ingatannya membuat pria itu seperti bom waktu.
"Biarkan dia tetap berada dalam pengawasanku," sahut Roselie dingin. "Selama dia masih percaya pada kebohongan romantis yang kubuat, dia akan tetap menjadi perisai paling mematikan untuk keluarga ini."
Sementara itu, di dalam perpustakaan yang hening...
Gabriel melangkah masuk membawa baki perak berisi cangkir porselen dan teko teh beraroma rempah. Pria tegap itu melangkah sangat halus, tanpa suara sepatu yang menghentak lantai kayu.
Roselie melambaikan tangan memberi isyarat agar Paman Bret meninggalkan ruangan. Begitu pintu kembali tertutup, hanya tersisa Roselie dan Gabriel di antara tumpukan buku-buku sejarah dan peta wilayah Kerajaan.
Gabriel meletakkan baki di meja kerja kayu mahoni, lalu berdiri tegap dengan tangan terlipat di belakang punggungnya—posisi sempurna seorang pengawal yang disiplin.
"Nona Roselie," sapa Gabriel serak. "Pasukan di luar gerbang mulai membongkar sebagian tenda mereka. Tampaknya hilangnya Vane membuat mereka memilih mundur untuk meminta bantuan."
Roselie menyunggingkan senyuman tipis, melangkah mendekati meja dan menuangkan teh hangat ke cangkirnya.
"Kabar yang sangat bagus," ujar Roselie halus, matanya melirik luka perban di leher Gabriel. "Terima kasih padamu, Gabriel. Jika kau tidak melemparkan tabung itu dan melumpuhkan Vane, kita tidak akan mendapatkan ketenangan ini."
Gabriel mendongak, menatap lurus ke dalam mata Roselie dengan pandangan yang dalam. Ada kilatan jenaka nan dingin di balik iris mata birunya.
"Saya hanya menjalankan peran saya sebagai kekasih yang setia, Nona," jawab Gabriel mantap, sengaja menekankan kata 'kekasih' dengan nada yang dihaluskan. "Bukankah Nona pernah bilang... dulu kita sangat saling mencintai hingga saya rela melakukan apa saja untuk Nona?"
*Deg!*
Cangkir porselen di tangan Roselie sedikit bergetar, membiaskan uap teh hangat ke udara. Setiap kali Gabriel mengungkit "kebohongan masa lalu" itu dengan nada polosnya, Roselie mendadak merasa seperti sedang digiring masuk ke dalam perangkap yang tak terlihat.
Roselie meletakkan cangkirnya kembali ke piring porselen dengan dentang pelan, lalu melangkah satu tindak mendekati Gabriel. Wajah cantiknya menengadah, mengikis jarak di antara mereka hingga dia bisa merasakan kehangatan dari tubuh tegap pria itu.
"Tentu saja," bisik Roselie manis, jemari cantiknya mengusap kerah kemeja Gabriel seraya merapikan perban di lehernya. "Kau adalah pria paling hangat dan penurut yang pernah kukenal, Gabriel. Dulu di ibukota, kau selalu menuruti setiap kata-kataku tanpa pernah membantah."
*‘Menuruti tanpa membantah?’* batin Gabriel tertawa dingin di balik dadanya yang tegap. Potongan ingatan saat mereka saling berteriak dan berdebat sengit di kelompok belajar Akademi mendadak melintas begitu jernih di kepalanya.
Gabriel menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan, menangkap jemari halus Roselie yang berada di dada kemejanya, lalu menggenggamnya pelan—tindakan berani yang membuat Roselie tersentak kaget!
"Kalau begitu..." bisik Gabriel dengan suara berat dan dalam yang bergetar di dekat telinga Roselie, "mengingat musuh di luar gerbang mulai mundur... apakah 'kekasihmu' ini boleh mendapatkan hadiah kecil atas kerja kerasnya semalam, Lady Roselie?"
Jantung Roselie seakan berhenti berdetak seketika!
Mata hijau zamrudnya membelalak lebar menatap Gabriel dari jarak yang teramat dekat. Sentuhan genggaman tangan Gabriel terasa sangat hangat, namun tatapan mata biru pria itu menyiratkan dominasi dan intimidasi tersembunyi yang membuat bulu kuduk Roselie berdiri!
*‘Tunggu... apa-apaan reaksi pria ini?!’* jerit batin Roselie panik seraya menahan napasnya. *‘Dia... dia benar-benar mengira kita pasangan romantis, atau dia sedang mempermainkanku?!’*
Roselie buru-buru menarik tangannya dari genggaman Gabriel dengan gerakan yang dipaksa tetap anggun, menetralkan raut wajahnya yang sempat menegang.
"Ehem!" Roselie berdehem pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Hadiah terbaikmu adalah keselamatan adikmu dan tempat tinggal yang aman di perkebunan ini, Gabriel. Jangan bertindak lancang."
Gabriel membungkukkan tubuhnya sedikit dengan penuh hormat, menyembunyikan kilatan puas di matanya melihat pertahanan mental sang putri Hazel sedikit goyah.
"Maafkan kelancangan saya, Nona Roselie," ucap Gabriel polos. "Saya hanya sangat bahagia bisa berada di sisi Nona."
*‘Dasar pria gila...’* umpat Roselie dalam hati, berusaha keras meredakan detak jantungnya yang berdebar kencang akibat canggung dan rasa terancam.
Namun sebelum mereka sempat melanjutkan interaksi tersebut, suara kepakan sayap burung pembawa pesan menghantam kaca jendela perpustakaan secara mendadak!
Roselie dan Gabriel secara bersamaan menoleh ke arah jendela. Sebuah burung merpati hitam berstempel lilin emas khusus—lambang tertinggi dari faksi rahasia Kerajaan—terlihat hinggap di ambang jendela!
"Stempel rahasia Istana...?" bisik Roselie heran, melangkah cepat membukakan jendela.
panik Khan Rosalie..
kebayang malunya gimana 🥲. Rosalie udh donk jangan sandiwara trus. Gabriel udh inget itu 😭😭😭
eeehhhh🤭🤭🤭
trus gimana donk.. satu2nya jalan keluar Gabriel terjun ke sungai.. tapi..... 😮💨😮💨
. Gabriel udh inget lagi...🤭🤭🤭 gmNa nasib Rosalie yang mentah2 membohongi Gabriel..🤣🤣🤣 aduuhh pasti abis ini Gabriel pura2 deh sama Rosalie.. mau ngapain coba dia🤣, nggak mungkin kalo nggak balas dendam