Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Emerald
Ballroom lantai 45 Hotel Grand Shimizu malam itu berubah menjadi lautan cahaya. Lampu kristal gantung seharga ratusan juta berpendar keemasan, memantul di lantai marmer yang mengkilap. Aroma parfum mahal bercampur dengan alunan musik biola klasik yang dimainkan secara live. Malam itu adalah malam tahunan Shimizu Group, tempat berkumpulnya semua kolega, investor, dan rekan bisnis besar dari Jepang dan Indonesia. Dan juga peresmian Proyek Resort di Bali.
Semua tamu wanita tampil dengan gaun terbaik mereka. Gaun gold, gaun merah marun, gaun hitam dengan belahan tinggi. Mereka berlomba-lomba menjadi yang paling cantik. Termasuk Lalita dengan gaun silver ketatnya dan Clara dengan gaun gold berkilauan yang sengaja ia pesan dari Paris.
Tapi semua kemewahan itu seketika tenggelam ketika pintu utama ballroom terbuka perlahan.
Seorang wanita masuk.
Isyana.
Langkahnya pelan, sedikit gugup. Gaun Emerald yang ia kenakan bukanlah gaun desainer seharga puluhan juta seperti milik Lalita dan Clara. Itu adalah gaun sederhana yang ia jahit sendiri semalam, di kamar kecilnya, sambil menahan air mata rindu pada suaminya.
Kain satin emerald itu menjuntai sempurna, membalut tubuh mungil Isyana dengan anggun. Warnanya membuat kulitnya yang putih bersih semakin bercahaya. Rambutnya digelung sederhana, tanpa mahkota berlian. Tapi entah kenapa, semua orang menoleh.
Bukan karena gaunnya yang mahal. Tapi karena sesuatu yang berkilau di ujung gaunnya.
Benang emas.
Ya, di sepanjang ujung bawah gaun, dari pinggang hingga ke lantai yang tersapu, ada jahitan benang emas yang tidak biasa. Jahitan itu bukan motif bunga atau daun. Jika diperhatikan dari dekat, itu adalah tulisan. Tulisan tangan yang dibuat dengan sangat hati-hati, penuh kesabaran, dengan benang emas asli.
Brayen yang sejak tadi berdiri di tengah kerumunan, bersama Tuan Yamamoto dan beberapa rekan bisnis penting dari Jepang, tiba-tiba terdiam.
Matanya yang biasanya dingin dan datar, kini membelalak. Gelas wine di tangannya sampai berhenti di udara.
Ia hafal tulisan itu.
Ia mengenal setiap lekukan hurufnya.
Tanpa sadar, Brayen melangkah. Satu langkah, dua langkah, meninggalkan para koleganya yang kebingungan. Ia berjalan mendekati Isyana, matanya tidak lepas dari ujung gaun itu.
Semakin dekat, semakin jelas tulisan itu terbaca.
Di setiap helai benang emas, tertulis dengan huruf kanji yang indah dan rapi: Isyana Love Brayen. Berulang-ulang. Seperti doa yang dijahit dengan cinta.
Brayen tertegun. Napasnya tercekat. Pria yang selama ini dikenal sebagai CEO paling kejam, paling dingin, tidak pernah menunjukkan emosi, kini dadanya naik turun dengan kencang.
Ia ingat. Dua minggu lalu, ia sempat mengajari Isyana sedikit huruf kanji, karena Isyana bilang ingin belajar bahasa Jepang agar bisa menemani Brayen saat meeting. Isyana selalu mencatat dengan serius di buku kecilnya.
Dan malam ini, semua catatan itu ia wujudkan di gaunnya sendiri.
"Isyana..." suara Brayen akhirnya keluar, berat dan parau.
Isyana yang dari tadi menunduk malu karena semua orang melihatnya, akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. "Ma... Mas Brayen... maaf, gaunnya jelek ya? Aku cuma bisa bikin ini. Aku... aku jahit semalam. Aku ingin Mas Brayen tahu..."
Para rekan bisnis dari Jepang yang ikut mendekat karena penasaran, langsung terpukau. Tuan Yamamoto, pria tua berusia 60 tahun yang paling dihormati di Shimizu Group, sampai menunduk untuk melihat tulisan itu lebih dekat.
"Oh... Subarashii... Sugoi desu ne..." gumam Tuan Yamamoto dengan mata berbinar. "Lihat, tulisan kanji yang sangat indah. Artinya sangat dalam. Isyana Love Brayen... ini bukan sekedar tulisan, ini adalah cinta yang dijahit. Kirei... kirei desu..."
Rekan-rekan bisnis lainnya langsung mengangguk dan berbisik kagum. "Nyonya Brayen sangat mencintai suaminya, ya. Sangat romantis." "Gaun emerald ini menjadi gaun paling indah malam ini, bukan karena harganya, tapi karena maknanya."
Semua kamera, semua mata, kini tertuju pada Isyana. Lalita dan Clara yang tadinya menjadi pusat perhatian, kini terlupakan di pojokan.
Isyana semakin salah tingkah, pipinya merah padam seperti tomat. "Aku malu, Mas..."
Brayen tidak menjawab dengan kata-kata. Rasa haru, rasa bersalah, rasa cinta yang selama ini ia kubur dalam-dalam karena menganggap Isyana hanya istri pengganti, istri kontrak yang ia nikahi karena perjodohan bisnis, kini meledak begitu saja.
Tanpa peduli ratusan pasang mata yang melihat, tanpa peduli reputasinya sebagai CEO dingin, Brayen meraih pinggang ramping Isyana dengan satu tangan, tangan satunya lagi mengangkat dagu Isyana lembut.
Dan di bawah cahaya kristal yang berkilauan, di depan semua kolega, investor, dan rekan bisnis dari Jepang...
Brayen mengecup bibir Isyana.
Ciuman itu tidak terburu-buru. Ciuman itu dalam, lembut, penuh dengan semua perasaan yang tidak bisa ia ucapkan. Seolah Brayen ingin mengatakan, "Aku juga mencintaimu, Isyana. Maafkan aku yang baru menyadarinya sekarang."
Isyana membelalak kaget, tangannya mencengkeram jas Brayen erat. Air matanya akhirnya tumpah juga.
Hening.
Seluruh ballroom hening selama tiga detik.
Lalu...
"PROK PROK PROK PROK PROK!!!"
Tepuk tangan membahana! Teriakan dan sorak sorai menggema di seluruh ruangan. Para tamu berdiri, para kolega dari Jepang bertepuk tangan sambil tertawa haru dan mengacungkan jempol pada Brayen. Tuan Yamamoto bahkan sampai meneteskan air mata.
"Selamat! Selamat untuk pasangan paling romantis malam ini!"
Di tengah riuhnya tepuk tangan itu, Isyana dan Brayen masih berpelukan, tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
Namun, tidak semua orang bertepuk tangan.
Di sudut paling gelap ballroom, Lalita berdiri mematung. Matanya merah menyala penuh iri dan benci. Kuku-kukunya yang panjang menancap ke telapak tangannya sendiri sampai berdarah. Ia melihat Brayen, pria yang selama ini ia kejar-kejar, kini mencium wanita lain dengan begitu mesra.
Tidak jauh darinya, Clara meremas gaun gold mahalnya sendiri sampai kain Paris itu kusut dan hampir robek. Wajah cantiknya berubah menjadi menyeramkan karena amarah.
Tatapan Lalita dan Clara bertemu dari kejauhan. Dua wanita yang tadinya saling tidak suka, kini disatukan oleh satu rasa yang sama: dengki.
Lalita berjalan pelan mendekati Clara. Dengan suara berbisik yang penuh racun, ia berkata, "Lihat dia. Istri pengganti sok polos itu. Kita tidak bisa biarkan dia menang."
Clara menyeringai, matanya menatap tajam ke arah Isyana yang masih dalam pelukan Brayen. "Kau benar. Aku punya rencana. Kita bersatu. Kita hancurkan reputasi Isyana di acara selanjutnya. Biar semua orang tahu siapa dia sebenarnya. Istri pengganti yang cuma numpang nama."
Mereka berdua tersenyum licik, berjabat tangan di balik bayangan lampu kristal.
Malam indah dengan Gaun Emerald yang penuh cinta itu pun, tanpa disadari Isyana dan Brayen, menjadi awal dari badai besar yang akan mencoba menjatuhkan cinta mereka.
---BERSAMBUNG---