NovelToon NovelToon
Masuk Ke Tubuh Selir Terlupakan

Masuk Ke Tubuh Selir Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.

Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.

Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.

Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Di kereta kuda yang membawa mereka kembali ke istana, Elara sudah tertidur di bahu Lucian. Napasnya halus dan teratur, dan ada sedikit bekas remah kue wijen di sudut bibirnya.

Lucian menatap wajah Elara yang damai. Ia mengangkat tangannya, dengan lembut menyeka remah kue itu dengan ibu jarinya.

"Kau selalu berhasil lolos dari masalah dengan cara yang paling aneh," bisik Lucian pelan. "Tapi aku tidak akan selalu bisa melindungimu, Elara. Gereja Matahari bukan musuh yang bisa dikalahkan dengan argumen teologis dan kue wijen."

Elara bergumam dalam tidurnya, mengerutkan hidungnya. "Mmm… kirim email saja… jangan telepon… aku benci telepon…"

Lucian tidak mengerti apa itu email atau telepon, tapi ia tersenyum.

"Tidurlah," bisiknya. "Aku yang akan mengurus semuanya."

Kereta kuda terus melaju menembus jalanan ibukota yang masih dipenuhi sisa-sisa dekorasi festival. Di langit, matahari musim dingin bersinar redup, seolah-olah bahkan Dewa Matahari sendiri sedang mengamati wanita aneh yang baru saja menggunakan nama-Nya sebagai tameng hukum.

Dan di suatu tempat di dalam kepalanya yang tertidur, Elara bermimpi tentang kasur bulu angsa generasi keempat yang bahkan lebih empuk dari yang sekarang.

Itu, adalah satu-satunya hal yang benar-benar layak diperjuangkan di dunia ini.

***

Elara membenci malam.

Sebenarnya, ia mencintai malam. Malam adalah waktu suci untuk tidur. Tapi tiga malam terakhir, tidur adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa ia beli dengan seluruh kas negara Aethelgard.

Setiap kali ia memejamkan mata, ia tidak melihat kegelapan yang menenangkan. Ia melihat teks-teks bercahaya yang melayang-layang di balik kelopak matanya.

[WARNING: Plot deviation at 47%. Anomaly detected in Sector 4.]

[System correction in progress...]

Dan yang lebih buruk, ia merasa kedinginan. Bukan dingin karena lupa pakai selimut, melainkan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah ada seseorang yang menaruh blok es di dalam otaknya.

"Yang Mulia," panggil Nira pelan, memegang nampan berisi teh herbal yang berasa seperti air rendaman rumput. "Tabib Morvan mengatakan teh ini akan menenangkan jiwa Anda."

Elara menatap teh itu dengan tatapan curiga. "Nira, kalau aku minum ini dan muntah busa, aku akan menghantui kamarmu seumur hidup."

"Hamba janji ini teh biasa, Yang Mulia. Hanya dicampur akar valerian dan bunga chamomile."

Elara menghela napas, mengambil cangkir itu, dan meminumnya. Rasanya seperti tanah basah, tapi setidaknya perutnya menghangat.

"Kasur ini," gumam Elara, memukul-mukul bantalnya dengan frustrasi. "Kasur ini dikutuk. Atau ada hantu penagih hutang yang tidur di bawahnya. Nira, besok pagi, panggil dukun. Atau minimal tukang pijat."

Sebelum Nira bisa menjawab, pintu kamar terbuka. Kaisar Lucian masuk.

Lucian terlihat... khawatir. Ini adalah ekspresi yang sangat langka di wajah Kaisar Aethelgard. Biasanya, wajahnya hanya mengekspresikan dua hal: datar dan mematikan.

"Kau terlihat buruk," ucap Lucian langsung, tanpa basa-basi.

Elara menatapnya dari atas bantal. "Terima kasih. Kau juga. Lingkaran hitam di bawah matamu hampir menyentuh pipi. Apakah Anda juga dikejar hantu penagih hutang?"

Lucian tidak tersenyum. Ia berjalan ke sisi tempat tidur, duduk di tepi kasur, dan mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Elara. Tangannya hangat, dan kontras dengan kulit Elara yang terasa dingin seperti es.

"Kau dingin," gumam Lucian, alisnya berkerut. "Tabib Morvan bilang detak jantungmu melambat. Seperti saat kau... mati di awal."

"Itu minggu lalu, Yang Mulia. Bukan di awal," koreksi Elara lemah. "Dan saya tidak mati. Saya hanya sedang mode hemat energi karena sistem pendingin ruangan di jiwa saya rusak."

Lucian menatapnya tajam. "Inkuisitor Valerius melakukan sesuatu padamu. Di dalam kuil. Aku tidak tahu apa, tapi sejak hari itu, kau tidak bisa tidur."

Elara terdiam. Ia tidak bisa memberitahu Lucian tentang teks bercahaya itu. Ia tidak bisa menjelaskan tentang Sistem atau Koreksi Plot. Jika ia bilang bahwa dunia ini adalah novel dan ia adalah anomali yang sedang diperbaiki oleh sistem, Lucian akan memanggil tabib jiwa, dan tabib jiwa akan memberinya minum teh rasa tanah basah yang lebih parah.

"Hanya insomnia biasa," bohong Elara. "Efek samping dari terlalu banyak berpikir tentang pajak. Otak saya belum terbiasa bekerja keras."

Lucian jelas tidak percaya, tapi ia tidak mendesak. Ia hanya menggenggam tangan Elara, menghangatkannya dengan telapak tangannya yang besar.

"Beristirahatlah," ucap Lucian pelan. "Aku akan membereskan beberapa urusan. Dan Elara... jika kau bermimpi buruk, bangunkan aku."

Elara hampir tersedak ludahnya sendiri. "Bangunkan... Yang Mulia? Jam berapa pun? Bahkan jika itu jam tiga pagi?"

"Jam berapa pun," konfirmasi Lucian tegas.

"Baiklah. Tapi Anda harus mentraktir saya makan malam di Paviliun Musim Semi. Dengan menu ikan kakap bakar utuh."

"Disetujui." Lucian berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. "Oh ya, aku memerintahkan Pengawal Kerajaan untuk berjaga di luar paviliunmu. Tidak ada satu pun pendeta atau anggota Gereja yang boleh masuk tanpa izin langsung dariku."

Pintu tertutup.

Elara menatap pintu itu, lalu menatap tangannya yang masih terasa hangat sisa sentuhan Lucian.

Sial, Dia terlalu baik. Ini berbahaya. Kalau aku sampai jatuh cinta, itu berarti aku harus memikirkan perasaannya, dan itu akan mengurangi jatah tidurku secara signifikan.

***

Pagi harinya, Elara memutuskan bahwa jika sistem dunia ini mencoba mengganggunya secara psikologis, ia akan melawan dengan cara yang paling ia kuasai: rekayasa lingkungan.

"Nira," perintah Elara, berdiri di tengah kamarnya dengan tangan berkacak pinggang. "Pindahkan kasur ke sudut utara. Geser lemari ke sebelah jendela. Dan buka semua tirai."

Nira menatapnya bingung. "Y-Yang Mulia? Tapi itu akan membuat ruangan menjadi sangat terang dan berangin. Kasur Anda akan kedinginan."

"Tepat," Elara mengangguk puas. "Di desa kuno saya, ada ilmu bernama Feng Shui dan Kognitif Behavioral. Hantu atau gangguan psikologis suka tempat yang gelap, pengap, dan penuh bayangan. Dengan memindahkan furnitur dan membiarkan sinar matahari masuk, kita memutus aliran energi negatif... eh, kita memperbaiki ventilasi dan pencahayaan."

Nira tidak mengerti setengah dari kata-kata itu, tapi ia segera memerintahkan pelayan lain untuk memindahkan furnitur.

Hasilnya? Elara tidak tahu apakah itu karena Feng Shui, karena sinar matahari, atau karena ia sudah terlalu lelah untuk bermimpi aneh, tapi malam itu, ia akhirnya bisa tidur nyenyak selama enam jam penuh.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.

Keesokan paginya, saat Elara sedang menikmati sarapan bubur ayam truffle yang kini menjadi hak asasinya, pintu paviliun dibuka dengan suara yang sangat keras.

Bukan Lucian. Bukan Nira.

Itu adalah Jenderal Kael, komandan Pasukan Perbatasan Utara. Pria itu mengenakan zirah perang yang masih berlumuran debu dan darah kering. Wajahnya pucat, dan ia berjalan dengan langkah terseok-seok.

Di belakangnya, Kaisar Lucian masuk dengan wajah yang lebih gelap dari badai musim dingin.

"Elara," suara Lucian terdengar sangat berat. "Aku butuh otakmu. Sekarang."

Elara menelan suapan buburnya. Ia menatap Jenderal Kael, lalu menatap Lucian.

"Apakah ini tentang pajak?" tanya Elara hati-hati.

"Bukan," jawab Lucian. "Ini tentang perang."

Jenderal Kael maju, membungkuk kaku. "Yang Mulia Kaisar. Selir Elara. Hamba baru saja menempuh perjalanan tiga hari tiga malam dari Perbatasan Utara. Pasukan kita... kita kehilangan rantai pasok."

Elara meletakkan sendoknya. "Maksudnya? Kereta logistik dirampok?"

"Bukan dirampok," suara Kael parau. "Tapi... barangnya tidak sampai. Dua puluh ribu ton gandum, lima ribu ton daging asin, dan seratus ribu panah. Semuanya tercatat keluar dari gudang ibukota, tapi tidak pernah tiba di garis depan. Pasukan kami kelaparan. Dan suku barbar Utara sedang berkumpul di seberang sungai. Jika kami tidak mendapat makanan dalam lima hari, garis depan akan runtuh."

Elara menatapnya. Otaknya yang biasanya malas tiba-tiba berputar dengan kecepatan tinggi.

Dua puluh ribu ton gandum tidak bisa menguap begitu saja, Kecuali...

"Siapa yang menandatangani surat jalan logistik itu?" tanya Elara datar.

Jenderal Kael menelan ludah. "Departemen Perang. Di bawah pengawasan... adik Anda, Tuan Julian, sebelum ia ditangkap. Dan wakilnya, Lord Harris."

Elara memijat pelipisnya. Tentu saja. Julian yang bodoh itu tidak hanya menyelundupkan racun. Dia juga menjual makanan pasukan ke pasar gelap.

"Lord Harris," gumam Elara. "Dia yang menggantikan posisi Julian setelah Julian ditangkap?"

"Ya," jawab Lucian, suaranya dingin. "Aku mengangkatnya karena dia tampak kompeten dan tidak terkait dengan keluarga Clervant. Ternyata dia adalah tangan kanan Julian."

Elara menghela napas panjang. Napas yang mengandung seluruh kekesalannya terhadap orang-orang yang tidak bisa bekerja dengan jujur.

"Baiklah," ucap Elara, berdiri dan merapikan gaunnya. "Nira, ambilkan mantelku. Yang tebal. Kita pergi ke Departemen Perang."

Lucian menatapnya. "Kau akan ikut?"

"Ya," jawab Elara datar. "Karena jika garis depan runtuh, suku barbar akan mencapai ibukota dalam dua minggu. Dan jika ibukota jatuh, paviliun ini akan dibakar. Dan jika paviliun ini dibakar, kasur bulu angsa generasi ketigaku akan hangus."

Elara menatap Lucian dengan mata yang sangat serius.

"Saya tidak bisa membiarkan kasur saya hangus, Yang Mulia. Itu tidak efisien."

Lucian menatap Elara. Ia melihat kemarahan yang dingin di mata wanita itu. Bukan marah karena pengkhianatan, bukan marah karena perang, tapi marah karena seseorang mencoba mengganggu kenyamanan tidurnya.

"Baiklah," ucap Lucian, sebuah senyum tipis dan berbahaya menghiasi bibirnya. "Mari kita ajarkan pada Lord Harris tentang konsep Manajemen Rantai Pasok."

1
Luna
disini elara harus mematuhi peraturan novel kah? lah kalo emang gitu ngapain harus dihidupkan lagi di novel ? kan aneh sudah ditime travel eh GK boleh ngerubah alur ceritanya,🙏
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Luna
ternyata yg gelap itu putri mahkota aurelia sendiri🤣🤣🤣🤣🤣apa pendetanya buta semua yh,,,,wahai dewa matahari tunjukkan kuasamu untuk menghukum si aurelia gelap ini
Luna
sederhana jawabannya dari awal kamu masuk ke tubuh ini seharusnya sudah berfikir dampak nya jika berbeda jiwa dan berbeda sifat ,kamu memilih menjadi diri sendiri tapi tidak berfikir dampaknya, jawab saja saya dihidupkan dewa lagi
Ray
🤣🤣🤣
Ray
🤭🤭🤭
Luna
yg mau gimana lagi ,kamu sendiri lebih mentingin tidur daripada waspada , setidaknya harus bisa jaga diri apalagi hidup di kerajaan.
Ray
🤣🤣🤣
Ray
😄😄😄😄😄
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣GK takut gemuk kah nih anak makan tidur makan tidur GK aktivitas lain gitu
Luna
akhirnya nira sekarang naik tingkat menjadi asisten pribadi elara sudah bawa buku dan pena kemana mana🤣🤣🤣🤣🤣🤣, mencatat hal hal random ,jadi ingat pertama kali jadi sekertaris🤣🤣🤣🤣diajak bos rapat atau ketemu klien harus ada memo pad dan stylus pen🤣🤣🤣jadi kebiasaan sampai sekarang,malah sekarang pake iPad 🤣🤣🤣dan kebiasaan itu nurun ke anak anak ku🤭🤭
Luna
lucian itu kosakata bahasa modern,,,sebagai orang jaman purba kamu tidak akan paham🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
ayo digas elara,,,, keluarga mu itu perlu diberi kursus privat sedikit🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
gitu donk thor kalau punya cerita yang sering kocaknya biar kagak stres 🤭🤭🤭🤭
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kayaknya nanti sampai ending kalo kocak gini seru banget loh no drama drama ,selir elara harus pintar ngedrama biar lucian panjang umur kasian stress mikirin haremnya🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
ayo elara,,,kita bully selir badut ini🤣🤣🤣🤣🤣 tunjukkan kekuatan mu
Luna
mantap ,👍👍👍ayo elara ajari mereka yg namanya perekonomian, pembukuan,dan bisnis 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣itu adalah pelajaran pembukuan sederhana versi anak smk,,,,,lucian 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
lebih cocok jadi penasehat kerajaan daripada selir🤣🤣🤣🤣🤣
👑Lenny💣
Di tunggu kepanjutan nya, semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!