Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Arni!"
"Sayang!"
"Heiii!"
Arni tersadar kala Tina, Laluna dan Steven memanggilnya beberapa kali, wajahnya pucat pasi serta mata celingak-celinguk mencari orang yang baru saja membentaknya itu, namun ia tak menemukan siapapun disana kecuali mereka berempat.
"Kalian dengan suara itu tidak?" Tanyanya kebingungan, membuat ketiga orang bersamanya kini ikut melihat sekitar.
"Suara apa, Arni?" Tanya Tina sedikit menaikkan nada suaranya.
"Aku yakin seseorang baru saja berbicara di belakangku!" Jawab Arni yang mulai merasa ketakutan.
Laluna tersenyum sambil menarik lengan calon menantunya tersebut.
"Dari tadi kita hanya berempat, kamu sedang berhalusinasi dan itu biasa terjadi kalau kita sedang kelelahan!"
Tina mengangguk tanda setuju sambil menepuk pelan punggung Arni agar gadis itu merasa tenang.
"Baiklah kalau begitu, Jeng. Sebaiknya kami pulang sekarang agar tidak terlalu malam sampai ke rumah"
"Biar Steven yang mengantar kalian"
"Tidak usah, kami mungkin saja akan mampir sebentar ke rumah keluarga. Nanti jadi merepotkan Steven karena disana tidak ada laki-laki!" Ucap Tina menolak tawaran Laluna.
Setelah berpamitan, keduanya lalu berangkat dengan mobil yang mereka miliki, bukan pulang kerumah melainkan menuju makam ayahnya Raisa untuk memastikan kalau Raisa tak sedang berada di sana. Selang belasan menit kemudian mereka sampai di makam umum tersebut, Arni yang masih memakai gaun pertunangan itu turun untuk bertanya pada petugas makam apakah ada orang yang datang berkunjung ke makam ayah tirinya tersebut beberapa hari ini.
"Tidak ada, Bu. Sudah lama tidak ada yang datang berkunjung ke makamnya Pak Bagas!" Jawab lelaki tua penjaga makam. tersebut.
Arni menoleh pada Tina yang masih duduk di kursi kemudi mobil sambil menggelengkan kepalanya, sementara Tina mengangguk lalu menyuruh anak gadisnya tersebut kembali masuk kedalam mobil.
"Ma, kira-kira kemana Raisa pergi? Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, apa jangan-jangan dia sengaja kabur agar dia tidak perlu lagi mengirim uang pada Mama?"
"Mama juga tidak tahu, Arni. Sudah, tidak perlu memikirkan anak sialan itu, terserah dia mau pergi ke mana, asal jangan pernah dia kembali untuk meminta harta warisan!" Ucap Tina ketus sambil kedua tangannya memutar setir mobil dengan serius.
***
Angga menguap setelah terbangun dari tidurnya dan mendapati kalau malam sudah tiba dan mereka belum juga sampai ke tempat dimana Raisa berada. Ia melirik arloji ditangannya dan jam menunjukkan pukul delapan malam, dinginnya AC yang dihasilkan oleh mobilnya tersebut tampaknya membuat lelaki kembali mengantuk, beberapa kali ia menggosok kedua telapak tangannya untuk menghangatkan diri sebab kota yang mereka lewati kini merupakan daerah dingin.
"Berapa lama kita akan sampai?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam.
"Satu setengah jam lagi, Pak!"
"Eummm!" Gumam Angga lalu ia kembali tertidur.
Sementara itu Indra dan Pak Suparmin baru saja pulang dari rumah Pak RT karena Indra sudah mengantuk, meninggalkan Raisa yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan suaminya.
"Angga pasti senang kalau tau aku bisa menemukan cincinnya kembali!" Batin Raisa.
Kembali pada kejadian beberapa hari lalu saat Raisa tenggelam di pantai yang luas itu, saat tubuhnya hampir saja jatuh ke dasar sebuah kilauan dari muncul diantar bebatuan, membuat kesadaran Raisa kembali, didorong oleh tekad yang kuat ia berenang menghampiri cahaya tersebut lalu menariknya sekuat tenaga walaupun kedua tangannya mengeluarkan darah segar akibat goresan yang ia dapatkan dari tajamnya bebatuan tersebut.
Begitu benda berkilau itu berhasil ia tarik, sebuah cincin yang begitu Indah berada di depan matanya, cahaya matahari dari atas permukaan pantai membuat benda itu tampak menyala. Menyadari bahwa dirinya akan segera kehabisan nafas, Raisa segera memakai cincin tersebut lalu berenang ke permukaan, lalu tanpa sadar ia pingsan terbawa arus ombak selama tiga hari sebelum Indra dan Pak Suparmin menemukannya.
"Raisa, apa kau sudah menghubungi suamimu? Sudah dimana mereka sekarang?" wanita paruh baya disamping Raisa membuka kembali pembicaraan.
"Belum, Bu. Nanti sopirnya akan menghubungi Nisa jika mereka akan sampai sekitar setengah jam lagi"
"Kalau begitu mereka mungkin akan sampai sekitar jam sepuluh atau jam sebelas malam nanti. Nisa, bersihkan kamar dibelakang agar mereka bisa beristirahat disini sebelum mereka pulang besok!" titahnya pada anak gadis semata wayangnya tersebut.
Nisa mengangguk tersenyum kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan ikut membantumu"
"Jangan, kau duduk disini saja, aku hanya mengganti seprei dan sarung bantalnya. Kalau kamarnya sudah dibersihkan tadi" tolak Nisa menyuruh Raisa agar tak banyak bergerak.
***
Steven duduk menatap layar monitornya dengan serius, memilah-milah beberapa foto lama yang rencananya akan ia hapus sebagian. Semula foto-foto itu tampak biasa-biasa saja sebelum fotonya bersama Raisa sekitar enam atau tujuh tahun silam muncul di layar. Jemarinya menekan mouse untuk menggeser satu foto dengan foto lainnya, senyumnya begitu merekah saat melakukan pemotretan bersama Raisa.
"Raisa, apakah kau masih bisa tersenyum begitu indah seperti dulu lagi? Sudah bertahun-tahun aku tak pernah lagi mendengar kau tertawa lepas, maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk menikahimu" ucapnya pada foto Raisa, tanpa sadar ia meneteskan air matanya lalu tertunduk memegangi kepalanya.
Kringggggg
Suara ponsel yang tengah berdering itu mengejutkannya, hampir saja ia meloncat dari tempat duduknya. Melihat nama Arni di layar benda pipih tersebut ia segera mematikan laptopnya lalu berbaring diatas tempat tidur sambil berbicara pada Arni.
"Hai sayang, maaf ya, aku baru saja selesai mandi dan bersih-bersih. Tadi kamarku berantakan karena buru-buru pergi ke lokasi pertunangan kita, ngomong-ngomong apa kamu sudah makan?"
"Sudah, baru saja"
Arni yang tengah serius menatap wajah Steven dilayar ponselnya tentu menyadari ada yang berbeda dengan Steven. Arni segera meletakkan ponselnya dengan posisi berdiri lalu mendekatkan wajahnya ke layar.
"Kamu lagi mikirin apa? Jangan bilang kamu lagi memikirkan Kakakku, Raisa. Kamu belum moveon juga?" Tanya gadis itu mengintimidasi Steven.
"Kamu ini bicara apa sih? Aku hanya kelelahan dan mataku sudah mengantuk. Kamu mandinya lama sekali, sampai-sampai aku masih sempat mengerjakan berkas-berkas dari kantorku!" Jawab Steven mengelak dengan tegas.
"Lain kali jangan bicara seperti itu, lagipula aku tak sempat memikirkan kakakmu, memikirkan kakakku saja sudah membuatku pusing!"
Gadis itu membeku untuk beberapa waktu, ia tahu kalau Angga pasti belum kembali ke rumah. Ia tiba-tiba mematikan panggilan telepon itu secara sepihak sehingga Steven menghubunginya kembali beberapa kali, namun Arni sudah keluar dari kamarnya tak lagi memperhatikan telepon dari tunangannya tersebut.
"Mama!"
"Mama!" Panggilnya, Tina yang tengah menonton acara TV di ruang tamu segera berdiri manatap Arni.
"Kenapa Arni? Kamu ini bikin kaget saja" tegurnya.
Arni duduk diikuti Tina yang penasaran akan hal yang hendak disampaikan oleh anak gadisnya tersebut.
"Aduhh, gawat. Angga belum pulang juga Ma. Apa Mama pikir mereka lagi bersama?"
Tina mengerutkan keningnya, juga badannya agak dicondongkan kebelakang karena ia tengah kebingungan mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Angga.
"Memangnya kenapa kalau mereka lagi bersama? Mereka kan suami istri"
"Ihh, kenapa Mama tidak mengerti? Kalau ternyata mereka lagi bersama dan alasan Angga tidak menghadiri acara pertunangan tadi, itu artinya dia dan Raisa sedang pergi berbulan madu, Ma. Apa jangan-jangan Angga sudah menerima Raisa sebagai istrinya karena aku dan Steven sudah bertunangan dan sudah menikah juga?"
"Aduhhh, Ma. Aku pusing!"
Arni yang merengek tak jelas itu membuat Tina ikut cemas, wanita paruh baya itu lalu kembali berdiri dan menggigit ujung jarinya, berjalan mondar-mandir dari sisi yang satu ke sisi lainnya.
"Bayangin aja kalau sampai Raisa mengandung anaknya Angga, otomatis semua harta millik Angga akan jatuh ke tangan anak perempuan sialan itu. Sementara aku? Steven tak punya banyak harta Ma, dia hanya mengandalkan Bu Laluna saja, posisinya di perusahaan juga hanya sebagai CEO saja"
Mendengar perkataan Arni, Tina mulai gelisah. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar anaknya mendapatkan warisan milik Angga juga tanpa kehilangan Steven.
"Mama punya ide, Arni. Ide yang sangat luar biasa. Hahahahaha"