NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditinggal Berdua

Sore telah tiba. Nadira terbangun dari tidurnya. Perlahan ia mengucek matanya yang terlihat sembap karena menangis akibat ulah suaminya. Wanita itu mengubah posisi tidurnya. Kini, ia menghadap ke arah Rayzan yang masih tertidur di sampingnya.

“Darah.”

Lagi-lagi Nadira melihat hidung lelaki itu berdarah. Ia segera beranjak dari ranjang untuk mengambil selembar tisu. Dengan perlahan, ia mengusap noda darah di area hidung Rayzan agar tidak membangunkan suaminya.

“Kenapa dengan laki-laki ini? Apa aku harus percaya kalau dia memang sedang sakit?” gumam Nadira pada dirinya sendiri.

“Tapi nggak mungkin. Bisa saja dia bohong.”

“Kalau dia benar-benar sakit, rugi sekali aku menikah dengan lelaki penyakitan.”

Tubuh Rayzan bergerak sejenak. Nadira pun segera menjauhkan tangannya dari lelaki itu.

“Nasibmu memang buruk, Rayzan. Memiliki saudara seperti Daulat dan istri seperti diriku.”

Nadira membuang tisu tersebut ke tempat sampah, kemudian keluar dari kamar. Rasanya ia sangat lapar setelah terbangun dari tidur akibat pertengkarannya dengan sang suami.

“Lho ... Ada tamu, ya, Ma?” tanya Nadira.

“Nggak, memangnya kenapa?” tanya Merry.

“Ini koper siapa?”

“Aku sudah siap, Ma,” ucap seorang lelaki yang keluar dari kamarnya. “Kakak...”

“Sultan, kamu mau ke mana bawa koper sebesar itu?”

“Liburan,” jawab Sultan sambil tersenyum simpul.

“Liburan? Kok nggak ngajakin aku sih?” tanya Nadira kesal. Pasalnya ia juga sudah lama tidak liburan bersama keluarganya.

“Nggak liburan, sayang,” ucap seorang pria yang juga berada di tengah-tengah mereka. “Papa ada kerjaan di luar kota selama beberapa hari.”

“Terus aku ditinggalin sendiri?” Nadira memasang raut wajah cemberut. Seoalah-olah ia masih berusia kanak-kanak yang tidak mau ditinggal berlibur oleh kedua orangtuanya.

“Kamu ini, ya!” Merry terkekeh geli. “Rayzan kan ada. Dia suami mu, udah pasti dia yang akan menjaga dan menemani mu. Paham!"

“Tapi, Ma—”

“Kak ... Semoga kepergian kami ini membuat Kakak dan Abang secepatnya punya bayi.”

“Sultan!” Nadira kesal. “Kamu masih kecil, belum tau apa-apa. Jangan ngomong begitu.”

Sultan sangat hobi membuat kakaknya emosi, apalagi sekarang ia memiliki cara lain dengan membahas suami dari kakaknya, sudah pasti Nadira akan sangat kesal karena sejatinya sang kakak tidak menyukai Rayzan.

“Kami sekarang mau berangkat. Tolong bilangin ke Rayzan, ya.”

“Aku ikut, Pa.”

“Sudah besar begini masih manja, hm?” tanya Eros.

“Papa tau aku penakut. Masa ditinggal sendirian di rumah?”

“Ya Tuhan, anak ini ... Kamu sudah punya suami. Nggak baik ikut orang tua terus.”

“Tapi, Ma—”

“Sudah, sudah, jangan membantah. Ayo, kita pergi sekarang.”

“Kak, buatin aku keponakan yang lucu-lucu, ya.”

“Kamu!”

Nadira sangat kesal karena ditinggalkan begitu saja. Ia hanya bisa memperhatikan keluarganya berlalu pergi meninggalkan rumah. Matanya berkaca-kaca saat memandangi kepergian kedua orang tuanya.

“Nadira!!!”

“Rayzan,” ucap Nadira sambil menoleh ke dalam rumah.

Tanpa sadar, wanita itu langsung berlari menuju kamarnya. Namun, Rayzan tidak ada di sana. Melihat pintu kamar mandi terbuka, Nadira segera melangkahkan kakinya ke sana.

“Nadira, tolongin aku.”

“Ya Tuhan! Kamu menyusahkan banget, sih.”

Dengan kesal, Nadira tetap berusaha membantu suaminya berdiri.

“Kepeleset?”

“Iya ... Ada sabun tadi.”

“Hmm ... Aku nggak sengaja menumpahkannya tadi.” Nadira memapah tubuh suaminya untuk berjalan ke arah ranjang. “Aku nggak sempat menyiramnya lagi.”

“Teledor banget jadi istri. Sekarang suaminya dapat musibah.”

“Aku bukan istrimu,” tegas Nadira.

“Eh, mau ke mana?” tanya Rayzan ketika melihat Nadira hendak pergi.

“Keluar, lah. Kaki kamu kan sakit.”

“Aku mau ke toilet, sayang. Belum selesai.”

Nadira terdiam sejenak.

“Bantuin aku, ya.”

“Ih, jorok banget.” Nadira langsung melepaskan rangkulannya dari pinggang Rayzan.

Rayzan memutar bola matanya dengan malas.

“Aku ini suami mu. Kamu nggak usah malu.”

“Siapa juga yang malu?”

“Terus apa?” tanya Rayzan.

“Sudahlah. Aku mau keluar aja.”

“Bantu pegangin, ya.”

Nadira membulatkan matanya. “Kamu mau aku tampar?”

Rayzan terkekeh geli melihat tingkah sang istri.

“Ya ampun, istriku ini suka suuzan. Kamu bantu pegangin aku biar nggak jatuh. Kaki ku sakit.”

“Memangnya nggak bisa sendiri?”

“Nggak bisa, sayang ... Atau mau aku minta bantuan Mama?”

“Jangan kurang ajar kamu, Rayzan.”

Lelaki itu hanya mengedikkan bahunya. Ia sama sekali tidak peduli dengan ucapan sang istri.

“Mama!” teriak Rayzan tiba-tiba.

“Sialan kamu, Rayzan!” umpat Nadira. “Iya, iya ... Aku bantuin. Lagian Papa sama Mama nggak ada di sini.”

“Belum pulang?” tanya Rayzan sambil mulai melangkahkan kakinya.

“Ada kerjaan di luar kota. Sultan juga ikut. Sekarang di rumah ini cuma tinggal kita berdua.”

“Ternyata kamu nggak rela ya ada yang lihat aku di toilet.”

“Rayzan!” Nadira kesal sambil menatap tajam suaminya. “Awas aja kalau kamu macam-macam.”

“Hmm ... Kamu nggak nyaman ya kita tinggal berdua? Kalau nggak mau, kita menginap di rumah Umi saja.”

“Aku nggak mau ke sana. Aku benci sama Daulat.”

“Terus maunya gimana?” tanya Rayzan.

“Ya di sini. Berhubung Mama sama Papa nggak ada, kamu jangan tidur di kamarku, ya.”

“Terus aku di mana dong?” tanya Rayzan kebingungan.

“Ya terserah. Di ruang tamu, kamar tamu, atau di gudang juga boleh. Hehehe...”

“Kita pulang ke rumah saja,” ucap Rayzan lagi.

“Aku nggak mau! Kamu dengar nggak, sih?”

“Oke ... Kita di sini.”

Akhirnya mereka sampai di area toilet.

“Balik badan atau mau lihat?” tanya Rayzan sambil menahan senyumnya.

“Beneran mau iseng?” tanya Nadira sambil memainkan alisnya. “Kaki kamu lagi sakit, lho. Apa saja bisa aku lakukan sekarang.”

“Ampun, sayang. Mas nyerah.”

“Dih!”

[] [] []

Di tempat lain, Indah dan Resya tengah berada di halaman rumah. Keduanya sedang membereskan tanaman yang ada di sana. Mereka merapikan bunga, memotong rumput, hingga menyiram tanaman.

“Gimana dengan pernikahan kalian?” tanya Indah saat menyiram tanaman.

“Baik, Umi. Kenapa Umi tanya begitu?”

“Ya, cuma memastikan saja. Kalian berdua menikah tanpa adanya persetujuan dari kami.”

“Jadi, Umi belum merestui hubungan ku sama Daulat?” tanya wanita itu.

“Saya nggak bilang seperti itu. Tapi kalau kamu berpikir demikian, itu artinya sangat bagus. Berarti kamu sadar diri.”

“Tolong terima ku, Umi ... Ini juga bukan kesalahan ku sepenuhnya. Kalau aku yang membuat keluarga ini hancur, aku minta maaf,” lirih wanita itu.

“Daripada aku tersiksa dengan hubungan ini, aku ikhlas. Umi boleh meminta Daulat untuk menceraikan ku.”

Wanita itu kemudian melepaskan sarung tangan yang dikenakannya dan membuangnya begitu saja.

“Aku permisi.”

Indah hanya memperhatikan menantunya pergi begitu saja dari hadapannya.

“Selagi Rayzan masih belum bahagia dengan pernikahannya, aku memang nggak bisa menerima pernikahan kalian.”

“Tapi bukan berarti aku menginginkan kalian berpisah. Aku hanya mencoba memberikan ujian kecil untukmu, Nadira.”

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!