Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerah pada Rasa
Sentuhan Sulung terasa begitu asing, liar, sekaligus intimidatif bagi Hera Grahansa.
Pria itu menekan bibirnya dengan intensitas tinggi yang sama sekali tidak menyisakan ruang bagi Hera untuk mengajukan protes ilmiah ataupun pembelaan diri.
Cengkeraman tangan kiri Sulung pada kedua pergelangan tangan Hera di atas kepala terasa sangat kokoh, mengunci seluruh gerakannya dengan kedigdayaan fisik yang mutlak dari seorang penguasa rimba.
Namun, di balik dominasi yang begitu kasar dan primitif, ada kehangatan yang perlahan-lahan merembes masuk, mengalir di bawah pori-pori kulit Hera, dan mulai melumpuhkan setiap jengkal pertahanan logika modern yang selama ini ia banggakan.
Jantung Hera berdegup kencang, berdentum liar di dalam rongga dadanya seperti genderang perang yang dipukul bertubi-tubi tanpa jeda. Profesor muda berusia 28 tahun itu benar-benar terkejut dengan reaksi biologis tubuhnya sendiri.
Otaknya yang biasa memikirkan struktur sel molekuler, analisis linear jurnal sains internasional, dan formula medis untuk ibunya kini mendadak kosong melompong.
Semua tentang peradaban versus alam liar yang sering ia tulis dalam catatan penelitiannya mendadak menguap, digantikan oleh hukum-hukum kimia tubuh yang jauh lebih purba dari sains mana pun.
Yang tersisa hanyalah rasa panas yang menjalar dari permukaan bibir, turun memenuhi dada, hingga membuat ujung-ujung jarinya bergetar hebat.
Hawa dingin malam Alas Purba yang menyusup ke dalam gubuk bambu hitam seolah menguap begitu saja, digantikan oleh bara keintiman yang mendadak meledak di atas ranjang tanaman merambat tersebut.
"Sulung_mmh_" sebuah leng-uhan pelan tanpa sadar lolos dari sela bibir Hera saat Sulung memberikan sedikit celah napas yang sangat sempit, sebelum pria itu kembali menautkan bibir mereka dengan ritme yang jauh lebih memburu dan mendalam.
Keadaan di atas kasur tanaman merambat itu mendadak berubah secara drastis dalam hitungan detik.
Rontaan fisik Hera yang semula liar, agresif, dan penuh amarah karena merasa dilec-ehkan, perlahan-lahan mulai merosot kehilangan kekuatannya. Watak keras kepala seorang Grahansa yang terkenal angkuh mendadak runtuh berkeping-keping.
Ada sesuatu yang patah di dalam egonya yang rasional, disapu bersih oleh gelombang has-rat primitif baru yang belum pernah ia rasakan selama hidup di tengah kenyamanan dunia kota modern.
Sentuhan Sulung yang semula dinilai mengintimidasi dan kasar, justru bertransformasi menjadi sebuah candu misterius yang menghanyutkan seluruh kesadaran logisnya ke dasar jurang gai-rah yang pekat.
Tangan kiri Hera yang semula terkunci rapat di atas kepala, perlahan-lahan dilonggarkan oleh Sulung seiring meredanya perlawanan fisik dari wanita kota itu.
Sulung seolah tahu, lewat naluri hewani yang tajam, bahwa musuh di bawah kuasanya tidak lagi berniat melarikan diri. Insting bertarung Hera telah padam sepenuhnya, digantikan oleh insting lain yang jauh lebih mendalam, lebih int-im, dan menuntut pemenuhan.
Alih-alih menggunakan kebebasan tangannya untuk menjauhkan diri, mendorong dada tegap pria itu, atau memukul bahunya seperti yang biasa ia lakukan saat mempertahankan harga diri, jari-jemari Hera yang masih berbalut sarung tangan lapangan kotor justru bergerak naik dengan sendirinya.
Gerakan itu terasa begitu alami, ditarik oleh daya magnetis yang tak kasat mata. Tangannya mencengkeram erat bahu kekar Sulung yang telanjang. Kulit pria itu terasa kasat, hangat, dan dipenuhi oleh bekas-bekas luka masa lalu yang menceritakan kerasnya kehidupan di belantara ini.
Hera meremas kulit punggung dan bahu tegap pria itu, menarik tubuh besar Sulung agar menindih tubuhnya lebih dekat dan lebih erat lagi tanpa menyisakan sekat udara di antara mereka.
Dia seolah begitu menginginkan sentuhan dari sang Panglima rimba, haus akan kehangatan tubuh maskulin yang beraroma kayu gaharu, tanah basah yang diguyur hujan sore hari, dan hawa dingin Alas Purba yang mistis.
"Ah, Sulung_" des-ah Hera lagi berulang kali. Suaranya kini tidak lagi memancarkan ketegasan seorang profesor yang biasa berdiri di balik mimbar ruang kuliah bertaraf internasional.
Nada suaranya terdengar begitu mesra, parau, lambat, dan pasrah di tengah keheningan gubuk pohon yang hanya diterangi oleh keremangan sisa bara api tungku di sudut ruangan.
Hera mendongakkan lehernya sedikit, menyerah pada sensasi asing yang membakar kesadarannya. Ia memberikan akses penuh ketika bibir Sulung mulai bergeser turun dari bibirnya, meninggalkan jejak-jejak basah yang membakar kulit.
Sulung memberikan ciuman-ciuman panas yang menuntut di sepanjang garis rahangnya hingga menuju ceruk lehernya yang sensitif. Setiap sentuhan bibir yang memburu dan usapan tangan kanan Sulung yang kokoh pada lekuk pinggangnya memicu getaran euforia yang hebat di dalam kepala Hera.
Logikanya benar-benar telah mati total malam itu. Dia tidak lagi memedulikan status sosialnya sebagai ilmuwan terpandang, tidak memedulikan rencana pelarian mutlak yang baru saja ia susun beberapa menit lalu di dalam benaknya dengan penuh ketelitian logistik.
Dia juga tidak memedulikan jarak jutaan tahun cahaya dari kenyamanan peradaban kotanya yang serba teratur, serbadigital, dan dingin.
Di bawah kuasa malam Alas Purba yang magis, Hera Grahansa telah menyerahkan seluruh kendali dirinya ke dalam pusaran gai-rah primitif yang dipimpin oleh sang pemilik Khanjar purba.
Sulung sendiri dapat merasakan perubahan total yang terjadi pada wanita di bawah kungkungan tubuhnya. Dari seekor pelanduk liar yang terus mencakar dan menggigit, kini wanita itu telah melunak, menjelma menjadi oase hangat yang menyambut kedatangannya.
Desahan mesra yang keluar dari bibir Hera serta cengkeraman erat jari-jemari wanita itu di bahu kekarnya menjadi bahan bakar instan yang membakar insting teritorialnya semakin menggila dan liar.
Selama ini, Sulung hanya mengenal Alas Purba sebagai tempat berburu, bertahan hidup, dan menumpahkan darah musuh. Namun malam ini, di atas gubuk pohon ini, belantara itu memberinya jenis buruan lain yang menuntut penaklukan total, bukan dengan senjata, melainkan dengan penyatuan jiwa.
Napas pria itu kian memburu, terdengar berat, dalam, dan terasa sangat panas di atas permukaan kulit leher Hera yang halus.
Tangan besar Sulung yang dipenuhi kapalan akibat menggenggam gagang senjata kini merayap turun lebih dalam. Jari-jarinya menyusup di antara lipatan pakaian lapangan Hera yang tebal, mencari kehangatan kulit asli yang tersembunyi di baliknya.
Sulung mencengkeram pinggang Hera dengan cengkeraman jari yang semakin pekat dan kuat, mengangkat sedikit tubuh wanita itu agar semakin melekat pas pada dada telanjangnya yang berotot kokoh.
Setiap kali kulit mereka bertemu tanpa perantara, seolah ada percikan listrik statis yang meledak di dalam pembuluh darah mereka. Hera bisa merasakan detak jantung Sulung yang besar dan kuat, berdegup dalam ritme yang sama liarnya dengan detak jantungnya sendiri.
Mereka bukan lagi dua manusia dari dimensi yang berbeda; malam ini, mereka adalah dua makhluk hidup yang tunduk pada panggilan alam yang paling mendasar.
Atmosfer di dalam gubuk di atas pohon tertinggi itu mendadak dipenuhi oleh kabut keintiman yang begitu panas dan pejal. Angin malam yang berembus kencang di luar gubuk, menggoyang dahan-dahan pohon raksasa tempat mereka bernaung, seolah-olah mengisolasi mereka dari dunia luar.
Suara jangkrik, derit pohon yang bergesekan, dan raungan samar hewan malam di kejauhan menjadi latar musik yang mengiringi kejatuhan sang profesor ke dalam pelukan sang penguasa hutan.
Yuk mana komennya