NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 "KALIAN TETAP ANAK KECIL BUAT IBU!"

Sinar matahari sore yang membias keemasan perlahan-lahan merambat miring di atas langit Kecamatan Parung.

Angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan pekarangan rumah berpagar kayu sederhana di sudut jalan perumahan warga.

Suara cicit burung gereja yang berkejaran di dahan pohon mangga berpadu seirama dengan aroma wangi bunga melati yang bermekaran di tepi teras.

Laju mobil dinas berwarna abu-abu gelap yang dikemudikan Ipda Harumi melambat halus, lalu berbelok memasuki pekarangan rumah beratap genteng terakota tersebut. Ban mobil menggerus kerikil di atas tanah pekarangan dengan suara yang begitu familier.

Di halaman depan rumah, tampak seorang wanita paruh baya berusia empat puluh satu tahun sedang sibuk memindahkan deretan pakaian kering dari tali jemuran bambu ke dalam keranjang plastik.

Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Nisa—ibu angkat yang telah membesarkan Haruma dan Harumi dengan seluruh jiwa dan cintanya sejak mereka berdua masih berusia remaja.

Nisa mengenakan daster kain batik lengan panjang berwarna biru muda yang sederhana dengan rambut disanggul rapi di belakang leher.

Begitu mendengar deru mesin mobil, Nisa seketika menghentikan gerakannya. Ia meletakkan keranjang jemuran di atas bangku kayu teras, lalu melangkah cepat mendekati mobil dengan raut wajah yang membuncah oleh kebahagiaan.

Klek... sret.

Haruma dan Harumi melangkah keluar dari dalam kabin mobil yang sejuk.

Haruma membawakan dua tas kain berisi tiga porsi Iga Bakar Rempah Mbah Sambel yang masih hangat, sementara Harumi merapikan kemeja dinas cokelatnya seraya menyunggingkan senyuman bahagianya.

"Ya Allah... Anak-anak Ibu sudah pulang!" seru Nisa dengan suara renyah penuh kehangatan khas ibu-ibu desa.

Nisa merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Haruma dan Harumi langsung berlari kecil menyongsong ibu angkat mereka. Ketiganya berpelukan erat di tengah pekarangan rumah yang teduh.

Nisa mencium pipi kanan dan kiri kedua anak angkatnya bergantian, memegang kedua bahu Haruma dan Harumi seraya menatap paras cantik mereka satu per satu dengan mata yang berbinar-binar.

"Aduh, Haruma... Harumi..." bisik Nisa penuh rasa syukur, kehangatan jemarinya mengusap lembut pipi kedua putri kesayangannya. "Ibu kangen banget sama kalian berdua. Sudah dua hari rumah sepi banget nggak ada suara kalian. Gimana tugasnya? Capek ya, Nak?"

Haruma tersenyum manis, membalas genggaman tangan Nisa dengan kelembutan seorang anak sulung. "Alhamdulillah sehat dan lancar semua tugasnya, Bu... Rumi sama Ruma sengaja pulang sore ini soalnya kangen banget sama masakan Ibu dan suasana rumah."

"Iya, Bu!" timpal Harumi riang khas obrolan hangat keluarga. "Rumi juga kangen banget ditanya-tanyain Ibu tiap pagi! Oh iya, lihat nih Bu... Rumi sama Kak Ruma bawa oleh-oleh paling spesial buat Ibu, Ayah, sama Dek Niza!"

Harumi menunjukkan kantong plastik tebal berlogo warung Mbah Sambel yang dipegang Haruma.

"Iga Bakar Rempah Mbah Sambel yang di dekat Pasar Raya, Bu!" seru Harumi penuh semangat. "Satu porsi rempah gurih sedang khusus buat Ibu!"

Nisa tertawa renyah, menepuk pelan lengan kanan Harumi. "Aduh, kalian ini ya... selalu aja ingat sama perut Ibu. Terima kasih banyak ya, Nak... Ya sudah, ayo masuk ke dalam, Ibu ambilkan minum hangat..."

Namun...

Tepat di saat Nisa hendak meraih tangan kiri Harumi untuk memandunya melangkah menuju anak tangga teras...

Mata Nisa seketika terhenti kaku pada bagian lengan bawah kemeja dinas cokelat yang dikenakan Harumi.

Kain kemeja dinas di lengan kiri Harumi tampak tersobek rapi sepanjang delapan sentimeter, dan di sekeliling sobekan kain tersebut...

Terdapat rembesan noda darah merah yang membasahi saputangan kain putih yang terbebat rapi!

Deg!

Raut wajah ramah Nisa seketika berubah drastis!

Warna cerah di wajah ibu paruh baya itu luntur, berganti dengan kepanikan dan rasa cemas.

"Astagfirullahal'adzim! Rumi!" ucap Nisa seraya memegang pergelangan tangan kiri Harumi dengan jemari agak gemetar. "Ini... ini lengan kamu kenapa ada darahnya begini, Nak?! Kamu ketembak?! Kamu kena senjata penjahat?!"

Harumi tersentak kaget, refleks menyembunyikan lengannya sedikit ke belakang seraya tertawa canggung. "Eh... aduh, Ibu! Nggak apa-apa kok, Bu! Ini cuma... cuma kecakar dikit tadi pas---"

"Kecakar gimana?!" potong Nisa dengan mata sedikit berkaca-kaca menatap kain bersimbah darah itu. "Ini kain baju dinasmu sampai sobek begini, Rumi! Darahnya merembes ke saputangan! Haruma, coba jelasin sama Ibu, adikmu ini kenapa?!"

dr. Haruma melangkah maju, memegang bahu Nisa dengan kelembutan yang menenangkan.

"Ibu... tenang dulu ya, Bu," tutur Haruma lembut dengan suara jernihnya. "Rumi nggak apa-apa kok. Lukanya sudah Ruma bersihkan dan sudah berhenti pendarahannya. Tadi pas kita lagi makan siang di Warung Iga Bakar Mbah Sambel dekat pasar, ada pencopet nekat yang bawa pisau lipat."

Nisa membelalakkan matanya kaget. "Pencopet bawa pisau lipat?!"

"Iya, Bu," cerita Haruma cermat. "Pencopet itu mau nusuk Ruma dari depan. Tapi Rumi dengan cepat pasang badan ngelindungin Ruma. Lengannya sempat tergores ujung pisau lipat itu sebelum akhirnya pencopetnya dilumpuhkan total sama Rumi, dan ditangkap polisi Polsek Parung."

Mendengar cerita bahwa putri tengahnya itu nekat pasang badan menahan sabetan pisau demi melindungi kakaknya, dada Nisa berdesir hebat oleh percampuran rasa haru, cemas, dan kebanggaan yang membuncah.

Nisa menarik napas panjang, mengusap air mata cemas yang menggenang di sudut matanya. Ia meremas lembut kedua tangan Harumi.

"Ya Allah, Nak... kalian berdua ini bikin jantung Ibu mau copot rasanya," bisik Nisa dengan suara bergetar parau. "Ayo! Ayo masuk ke dalam rumah sekarang juga! Nggak ada bantahan!"

"Iya, Bu!" sahut Haruma dan Harumi serempak.

Suasana di dalam ruang tamu rumah terasa hangat dan menenangkan.

Pendaran sinar matahari sore menembus celah jendela kaca berukir kayu, memancarkan garis-garis cahaya keemasan di atas meja kayu dan deretan kursi sofa kain berwarna hijau lumut. Aroma harum minyak kayu putih dan bunga cempaka menyerbak lembut di udara.

"Haruma, kamu bawa kantong iga bakarnya ke meja makan dapur ya," instruksi Nisa tegas seraya memandu Harumi duduk di sofa ruang tamu. "Terus kamu langsung mandi dan bersihkan badan di kamar mandi. Biar Ibu yang tangani pengobatan lengan adikmu ini di sini."

"Siap, Ibu!" jawab Haruma tersenyum tegar. "Kakak ke dapur dulu ya, Dek. Nanti habis mandi Kakak susul ke sini."

"Sip, Kak Haruma!" sahut Harumi santai seraya mendudukkan dirinya di atas sofa empuk.

Haruma berjalan melangkah menuju lorong tengah rumah membawa nampan iga bakar, meninggalkan Nisa dan Harumi di ruang tamu.

Nisa bergegas melangkah ke kamar tidur utama, lalu kembali dalam hitungan sepuluh detik membawa sebuah Kotak P3K kayu berukuran sedang. Di dalamnya tersusun rapi botol alkohol antiseptik, larutan iodin merah, salep antibiotik, kassa steril, dan perban gulung putih.

Nisa meletakkan kotak P3K itu di atas meja kayu, lalu duduk di samping Harumi. Jemari Nisa yang hangat dan agak kasar khas tangan seorang ibu rumah tangga yang bekerja keras melangkah perlahan menjangkau pergelangan tangan kiri Harumi.

"Ibu... aduh, sebenarnya gak usah repot gini lho, Bu," ujar Harumi tertawa renyah khas obrolan berdua, mencoba mencairkan ketegangan. "Rumi kan udah gede, Bu. Rumi ini Inspektur Polisi, Kanit Jatanras Polres lho! Luka sayat kecil begini mah udah makanan sehari-hari Rumi pas latihan taktis. Ditahan dikit juga sembuh sendiri kok, Bu."

Harumi mencoba menarik pelan pergelangan tangannya hendak mengambil alih botol antiseptik.

Namun...

Tepat di detik saat Harumi mencoba menolak pengobatan tersebut...

Nisa menatap mata Harumi lurus-lurus.

Pandangan mata wanita paruh baya itu memancarkan kilatan ketegasan jiwa keibuan yang teramat sangat kuat, mendalam, dan tak tergoyahkan sedikit pun.

Nisa menggenggam pergelangan tangan Harumi lebih erat, menahan gerakannya dengan penuh wibawa seorang ibu.

"DIAM, HARUMI!" tegur Nisa dengan intonasi suara yang tidak keras, namun begitu dalam, tegas, dan sarat akan wibawa keibuan yang menggetarkan sanubari.

Harumi seketika bungkam.

Mulutnya yang semula hendak melontarkan gurauan renyah mendadak terkatup rapat.

Matanya membelalak pelan menatap wajah ibu angkatnya.

Nisa menarik napas dalam-dalam, pandangan matanya yang teduh kini berkaca-kaca oleh emosi kehangatan kasih sayang yang melimpah ruah.

"Dengarkan Ibu baik-baik, Harumi..." pangkas Nisa dengan suara parau yang bergetar penuh kedalaman jiwa. "Mau kamu sudah jadi Inspektur Polisi berprestasi di kota... Mau kamu sudah berpangkat tinggi, punya senjata api, dan bisa memukul mundur ratusan penjahat paling garang di luar sana..."

Nisa memegang kedua pipi Harumi dengan telapak tangannya yang hangat, menatap mata putri tengahnya dari jarak dekat.

"...Di mata Ibu... Sampai kapan pun... SEGAGAH APA PUN DAN SEDEWASA APA PUN, KAMU DAN HARUMA TETAPLAH ANAK-ANAK KECIL BUAT IBU!" tegas Nisa dengan air mata yang mulai menetes perlahan membasahi pipinya.

Deg!

Kata-kata Nisa bagaikan sentuhan suci yang merobek seluruh benteng ketegaran fisik seorang Ipda Harumi.

"Kalian berdua adalah anak-anak perempuan Ibu..." lanjut Nisa dengan suara pecah oleh keharuan yang tak tertahankan. "Anak-anak kecil yang dulu Ibu rawat, Ibu usap kepalanya pas demam, dan Ibu obati dengkulnya pas jatuh. Tugas seorang Ibu itu tidak pernah selesai hanya karena anak-anaknya sudah memakai seragam dinas atau sudah dewasa! Kalau anak Ibu terluka... dada Ibu yang rasanya jauh lebih sakit, Nak!"

Nisa membuka ikatan saputangan di lengan Harumi dengan jemari tangan yang sangat lembut dan hati-hati. Ia membasahi kapas bersih dengan larutan antiseptik, lalu mengusapkan kapas itu pelan-pelan ke atas permukaan luka sayat di lengan kiri bawah Harumi.

"Ibu tiup ya, Nak... Biar nggak perih..." bisik Nisa lembut, memajukan bibirnya dan menghembuskan napas hangat ke atas luka Harumi persis seperti yang selalu dilakukannya bertahun-tahun lalu saat Harumi masih remaja bersama kakaknya.

Fuuuh... Fuuuh...

Harumi diam tak bergeming di atas sofa.

Mata polwan Jatanras yang biasa memancarkan tatapan dingin nan garang di hadapan para penjahat paling kejam itu kini bergetar hebat.

Tatapan Harumi terpaku kaku pada raut wajah Nisa—wajah seorang wanita sederhana yang dipenuhi garis-garis keikhlasan, kerutan kasih sayang, dan air mata yang menetes tulus demi keselamatan dirinya.

Memori perjalanan hidup Harumi dan Haruma seketika berputar kencang di dalam benaknya.

Harumi ingat betul...

Belasan tahun yang lalu, saat ia dan Kak Haruma menjadi anak yatim piatu yang kehilangan arah, Ayah Zaki dan Ibu Nisa lah yang membukakan pintu rumah sederhana ini.

Mereka berdua menyambut Haruma dan Harumi dengan pelukan paling hangat, merawat mereka, memberi mereka makan, menyekolahkan mereka hingga menjadi dokter spesialis dan perwira polisi. Tanpa pernah sekalipun membeda-bedakan atau membuat Haruma dan Harumi merasa sebagai 'anak angkat'!

Kasih sayang Nisa kepada mereka berdua adalah kasih sayang murni tanpa syarat—sebuah ikatan cinta sejati yang jauh lebih kental dari sekadar pertalian darah!

Tes... tes... tes...

Air mata keharuan yang teramat sangat besar seketika meledak, meluncur deras membasahi kedua pipi Ipda Harumi.

Polwan muda yang dikenal sangat tangguh dan tak pernah gentar menatap moncong senjata api penjahat itu...

Mendadak terisak tangis sejadi-jadinya bagaikan seorang anak remaja berusia delapan belas tahun di depan ibunya!

"Ibuuu...!" ucap Harumi parau dengan suara yang pecah oleh tangisan haru.

Harumi langsung memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya erat-erat mengait pinggang Nisa. Harumi menyembunyikan wajahnya di dada hangat Nisa, menangis tersedu-sedu menumpahkan seluruh rasa haru, terima kasih, dan cinta kasih yang membara di dalam dadanya.

"Maafin Rumi, Ibu... Maafin Rumi..." bisik Harumi terisak-isak di balik daster batik Nisa. "Rumi janji gak bakal bikin Ibu cemas lagi... Rumi sayang banget sama Ibu... Makasih banyak ya, Bu... Makasih udah selalu sayang sama Rumi sama Kak Haruma..."

Nisa tersenyum haru dalam derai air matanya, membalas pelukan hangat putri tengahnya dengan mengusap-usap punggung dan rambut hitam Harumi penuh rasa kasih sayang.

"Iya, Nak... Anak manis Ibu..." bisik Nisa lembut, mencium puncak kepala Harumi berulang kali. "Ibu juga sayang banget sama Rumi dan Ruma. Ibu nggak pernah minta apa-apa dari kalian... Ibu cuma minta kalian selalu sehat, selamat, dan ingat kalau rumah ini selalu punya pelukan hangat buat kalian pulang."

Nisa menepuk-nepuk pelan punggung Harumi, membiarkan putri tengahnya menumpahkan seluruh beban tangis keharuannya hingga dada Harumi terasa lega dan tenang.

Beberapa menit kemudian...

Sret...

Suara pintu kamar mandi belakang terbuka. dr. Haruma melangkah keluar menuju ruang tamu.

Dokter forensik cantik itu telah selesai mandi dan bersuci. Ia mengenakan baju rumah berbahan kaos lembut berwarna abu-abu terang dengan celana kain santai, rambut hitam panjangnya yang masih agak basah terurai rapi di atas bahunya seraya dikeringkan dengan sehelai handuk putih kecil.

Namun, begitu langkah kaki Haruma mencapai ambang ruang tamu...

Pemandangan di hadapannya seketika membuat dr. Haruma menghentikan langkahnya.

Haruma membelalakkan matanya pelan, menyunggingkan senyuman manisnya yang paling renyah saat melihat adiknya—Kanit Jatanras yang tadi siang membanting pencopet dengan ketangkasan luar biasa—kini sedang bersandar lemas di pangkuan Ibu Nisa seraya mengusap hidungnya yang memerah akibat menangis sesenggukan!

Haruma melangkah mendekat, bersandar di tepi meja kayu seraya menatap adiknya dengan tatapan godaan renyah khas seorang kakak sulung.

"Halah-halaaah...!" goda Haruma renyah dengan nada suara candaan yang amat menghibur. "Lihat tuh, Bu! Mana nih Inspektur Dua Polisi Harumi yang tadi siang garang banget melototin pencopet di warung iga?! Mana nih polwan Jatanras paling perkasa di Polres?! Kok sekarang malah mewek sesenggukan kayak anak TK kehilangan balon begitu di pangkuan Ibu?"

Harumi yang sedang diusap kepalanya oleh Nisa seketika menoleh, mengusap air mata dan hidungnya yang agak basah menggunakan tisu kain seraya cemberut manja.

"Apaan sih, Kak...!" protes Harumi renyah dengan suara serak khas usai menangis. "Orang Rumi lagi terharu banget sama Ibu! Kakak mah malah ngeledek melulu!"

"Lah, kan Kakak cuma nanya, Dek," kekeh Haruma renyah seraya tertawa bahagia. "Tadi pas dipasangi perban sama Kakak di warung belagu banget bilang cuma digigit semut rangrang. Tapi begitu diusap kepala sama Ibu langsung banjir deh nih ruang tamu."

Nisa ikut tertawa renyah, menepuk pelan paha Haruma. "Sudah, Haruma... jangan digodain terus adiknya. Nanti tangisannya nggak berhenti-berhenti lho."

"Tuh kan! Dengerin kata Ibu tuh, Kak!" seru Harumi menjulurkan lidahnya bercanda ke arah kakaknya.

Namun, di balik gurauan dan candaan renyahnya tersebut... dr. Haruma melangkah mendekati sofa. Ia meletakkan handuk kecilnya di meja, lalu duduk di sebelah kiri Nisa.

Saat Haruma menatap mata Nisa yang berkaca-kaca oleh kehangatan dan melihat perban kassa steril yang terpasang amat rapi di lengan adiknya... keharuan yang sama persis seketika meledak dahsyat di dalam dada dr. Haruma!

Mata jernih dokter forensik anggun itu membendung air mata kebahagiaan yang melimpah.

Haruma mengulurkan kedua tangannya, memegang jemari Nisa dengan kedalaman rasa kasih sayang dan rasa terima kasih yang tak terhingga dari seorang anak sulung.

"Ibu..." panggil Haruma dengan suara lembutnya yang pecah oleh keharuan mendalam.

Nisa menoleh menatap Haruma, menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling tulus. "Iya, Ruma?"

"Terima kasih banyak ya, Bu..." tutur Haruma tulus, air mata keharuan menetes pelan membasahi pipi anggunnya. "Terima kasih karena Ibu dan Ayah selalu memberikan rumah yang paling hangat buat kita berdua. Terima kasih karena Ibu nggak pernah berhenti menyayangi kita berdua seperti anak kandung Ibu sendiri."

Nisa menatap kedua putri angkatnya bergantian. Ibu paruh baya itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memanggil Haruma dan Harumi untuk masuk ke dalam naungan dadanya.

"Sini... anak-anak manis Ibu..." bisik Nisa penuh kehangatan.

Haruma dan Harumi seketika merapat, memeluk tubuh Nisa dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan.

Ketiga wanita luar biasa itu saling merangkul erat di atas sofa ruang tamu, menumpahkan seluruh rasa cinta, kasih sayang, dan rasa syukur di dalam pelukan hangat sebuah keluarga sejati.

Sinar matahari sore yang membias emas semakin terang menembus kaca jendela depan rumah. Cahaya keemasan yang indah dan hangat itu menyirami tubuh Nisa, Haruma, dan Harumi yang sedang berpelukan erat di tengah ruang tamu.

Aroma wangi bunga melati dari pekarangan luar berhembus lembut masuk menyejukkan ruangan.

Pendaran aura keemasan milik Sekar Arum memancar sangat redup dan sejuk di sekeliling jiwa Haruma, menyatu sempurna dengan Mata Batin Murni milik Harumi di bawah naungan doa tulus Nisa.

Di dalam rumah sederhana di tanah Parung sore itu, badai kejahatan koorporasi, sihir hitam pencuri usia, dan ancaman pejabat tinggi negara sejenak sirna tak berbekas.

Yang tersisa hanyalah kedamaian abadi, kehangatan cinta, dan ikatan persaudaraan yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh kekuatan apa pun di muka bumi.

Dan di dalam pelukan hangat Nisa, Haruma dan Harumi menemukan kembali energi jiwa mereka—siap untuk kembali berdiri tegap menantang kegelapan, membawa cahaya keadilan bagi Tanah Jawa.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Blom ada up kahhh???🤔
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!