NovelToon NovelToon
Menghempas Keluarga Benalu

Menghempas Keluarga Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.

Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Kurnag ajar!

"Sudahlah, malam malam jangan bertengkar! Arhan kamu bisa tidur di sini semalam, besok kamu harus kembali ke rumahmu dan membahas masalah ini kepada istrimu!" jelas Joko, sang ayah.

Arhan hanya mengangguk, ia segera menarik koper ya untuk masuk ke dalam salah satu kamar. Namun, baru saja ia mau membuka kamar itu. Rania segera menahan tangannya.

" Aduh, mas Arhan. Kamar itu sekarang milik Arkan, dan kamar itu milikku sama Jordi," ujarnya sambil menunjuk dua kamar.

Arhan hanya mengangguk, ia segera berjalan ke arah kamar yang berada di ujung, namun baru saja ia melangkah. Suara sang ibu kembali terdengar.

" Itu kamar ibu sama ayahmu! Disini udah ga ada kamar lagi Arhan. Kamu kalau mau tidur di sini tidur aja disofa."

Arhan terdiam di tempatnya. Ia menoleh ke arah sang ibu dengan wajah yang sulit diartikan. Sebagai anak sulung di keluarga itu, ia tidak pernah membayangkan akan diperlakukan seperti orang asing di rumah orang tuanya sendiri. Namun, melihat tatapan Imah yang sama sekali tidak menunjukkan rasa iba, Arhan hanya mampu mengembuskan napas panjang.

"Bu, masa Arhan tidur di sofa?" tanyanya, berusaha memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.

"Lantas, kamu mau tidur di mana? Ibu sudah bilang, kamar di rumah ini sudah ada penghuninya masing-masing. Kamu juga bukan anak kecil lagi yang harus disiapkan tempat tidurnya oleh orang tua," jawab Imah ketus.

Arhan mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Hari itu benar-benar terasa melelahkan baginya. Ia baru saja mengalami masalah besar dengan Nadira, istrinya sendiri, dan sekarang ia harus menghadapi sikap keluarganya yang seolah-olah tidak memberikan sedikit pun ruang untuk dirinya beristirahat dengan tenang.

"Arhan baru pulang, Bu. Arhan juga belum makan sejak tadi," keluhnya.

"Ya, terus kenapa? Memangnya kamu tidak bisa mencari makan sendiri?" sahut Imah tanpa merasa bersalah.

Joko yang sejak tadi berdiri di dekat ruang tengah akhirnya menggelengkan kepala. Ia sebenarnya memahami bahwa istrinya sedang kesal kepada Arhan. Namun, menurutnya, sikap Imah kali ini sudah keterlaluan. Bagaimanapun juga, Arhan adalah anak kandung mereka yang sedang menghadapi masalah rumah tangga.

"Bu, sudahlah. Jangan begitu juga sama anak sendiri. Arhan baru datang, setidaknya biarkan dia beristirahat dulu," tegur Joko.

Imah mendengkus pelan, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

"Memangnya aku mengusir dia? Aku sudah membolehkan dia menginap di sini. Tapi, kalau memang tidak ada kamar kosong, mau bagaimana lagi? Apa aku harus mengusir Cucu dan menantuku dari kamar mereka sendiri hanya demi memberikan tempat tidur untuknya?"

Arhan menghembuskan napasnya kasar," Kenapa sih bu, Arhan cuman mau menginap disini. Apa susahnya Arhan dikasih kamar. Lagi pula Arkan bisa tidur sama Rania. "

Rania segera menatap kesal ke arah Arhan," Ya ga bisa gitu dong mas, walau aku ibunya Arkan tetap saja Arkan sudah punya kamar. Mas itu seharusnya kembali kerumah mas, masa buat bujuk mbak Nadira aja ga bisa. "

" Denger tu Arhan, lebih baik kamu pulang kerumahmu dan bujuk istrimu itu. Masa suami mau kalah sama istrinya. "

Arhan benar benar tidak tahu apa pikiran ibunya itu, padahal masalah ini juga karena salah ibunya yang membuat Nadira marah.

" Kalau ibu ga ngambil jatah sekolah Naya dan ga ngerebut biaya sekolah Naya, Nadira ga bakal maksa cerai sama aku!" kesalnya.

Imah yang mendengar itu menatap tajam ke arah putranya, "Apa maksudmu Arkan, bukankah ibu wajar mengambil itu untuk cucu laki laki. Siapa suruh Nadira ga bisa hamil anak laki laki! Kamu juga seharusnya lebih tegas sama istrimu itu!"

Arhan menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana Imah masih bisa menganggap tindakannya sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, uang yang diambilnya merupakan biaya pendidikan Naya, cucu perempuannya sendiri yang seharusnya juga mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama dari keluarga besar mereka.

"Ibu sadar nggak sih sama apa yang ibu omongin?" tanya Arhan dengan suara tertahan.

"Naya itu cucu ibu juga! Dia juga darah daging Arhan. Kenapa ibu selalu membeda-bedakan Naya hanya karena dia perempuan?"

"Arhan!" bentak Imah. "Kamu jangan berani membentak ibu hanya karena perempuan itu! Ibu ini orang tuamu. Ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu!"

"Aku nggak membentak Ibu. Aku cuma bertanya kenapa Ibu bisa melakukan hal seperti itu kepada Naya!" balas Arhan, mulai kehilangan kesabarannya.

Ia meletakkan koper yang sejak tadi dipegangnya ke lantai dengan sedikit kasar. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, sementara rahangnya mengeras menahan emosi. Ia sudah berusaha bersabar sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah tersebut. Ia juga sudah berusaha menerima kenyataan bahwa dirinya harus tidur di sofa karena tidak ada kamar kosong.

Namun, ketika ibunya kembali menyalahkan Nadira dan menganggap tindakan mengambil biaya sekolah Naya sebagai sesuatu yang pantas, Arhan benar-benar tidak bisa tinggal diam. Bagaimanapun juga, Naya adalah anaknya. Ia tidak mungkin membiarkan putrinya terus menjadi korban hanya karena neneknya menginginkan seorang cucu laki-laki.

"Memangnya salah ibu menginginkan cucu laki-laki?" Imah balas bertanya dengan nada tinggi. "Ibu cuma ingin punya cucu laki-laki yang bisa meneruskan nama keluarga kita! Apa itu salah? Dari dulu ibu sudah berharap kamu punya anak laki-laki, tapi sampai sekarang Nadira cuma bisa melahirkan anak perempuan!"

"Kalau saja kamu dari awal lebih tegas kepada Nadira, mungkin sekarang kamu sudah punya anak laki-laki! Tapi, kamu selalu saja menuruti kemauan istrimu itu. Apa-apa harus mengikuti Nadira. Sampai-sampai ibu sendiri tidak boleh menggunakan uang yang ada di rumahmu!"

Arhan menggelengkan kepala. Ia merasa percuma menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang bahkan tidak mau memahami inti permasalahannya.

"Bu, uang itu bukan uang yang bisa Ibu ambil sesuka hati. Itu uang untuk sekolah Naya! Arhan sudah bilang berkali-kali, jangan pernah mengambil uang yang sudah Arhan siapkan untuk kebutuhan anak Arhan. Kalau Ibu memang ingin memberikan sesuatu kepada Arkan, bilang saja kepada Arhan. Jangan sampai harus mengambil hak Naya!"

"Memangnya kenapa kalau ibu mengambilnya? Arkan juga cucu ibu!"

"Karena itu bukan uang untuk Arkan, Bu!" Suara Arhan menggema di ruang tengah. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mengembuskan napas panjang untuk meredakan emosinya.

"Arhan bekerja setiap hari bukan untuk melihat anak Arhan kehilangan haknya sendiri. Arhan juga bukan orang yang pelit kepada keluarga. Selama ini, kalau Ibu membutuhkan sesuatu, Arhan selalu berusaha membantu. Tapi, bukan berarti Ibu bisa seenaknya mengambil uang yang sudah Arhan sisihkan untuk masa depan Naya!"

Imah terdiam sesaat. Namun, bukannya merasa bersalah, perempuan itu justru mendengkus dengan wajah masam.

"Dasar kamu! Baru punya istri dan anak satu saja sudah berani mengajari ibu! Dulu kamu tidak seperti ini. Sejak menikah dengan Nadira, kamu jadi anak yang sulit diatur. Istri itu seharusnya mengikuti suami, bukan malah membuat suaminya melawan orang tua sendiri!"

Arhan menatap ibunya lekat-lekat.

"Jangan bawa-bawa Nadira terus, Bu. Masalah ini bukan karena Nadira membuat Arhan melawan Ibu. Arhan hanya ingin Ibu berhenti memperlakukan Naya dengan tidak adil!"

"Adil bagaimana? Ibu cuma mengambil sedikit uang untuk Arkan! Lagi pula, Arkan itu anak laki-laki. Wajar kalau ibu lebih memperhatikannya!"

"Jadi, menurut Ibu, karena Arkan laki-laki, dia berhak mendapatkan semuanya, sedangkan Naya tidak?"

Pertanyaan itu membuat Imah terdiam beberapa detik. Arhan menggelengkan kepala dengan ekspresi kecewa. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tidak mengenal arti keadilan. Padahal, perempuan di hadapannya adalah ibunya sendiri, orang yang seharusnya mengajarkan kasih sayang tanpa membeda-bedakan anak berdasarkan jenis kelamin.

"Arhan benar-benar nggak mengerti jalan pikiran Ibu. Naya itu masih kecil, Bu. Dia belum tahu apa-apa. Dia juga nggak pernah meminta dilahirkan sebagai anak perempuan. Kenapa Ibu harus menghukumnya hanya karena dia bukan anak laki-laki?"

"Jangan kurang ajar kamu, Arhan!" bentak Imah.

"Kalau mengatakan yang sebenarnya dianggap kurang ajar, lalu Arhan harus bagaimana lagi, Bu?"

1
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡
Heny
Harus berpisah biar nggak di ganggu lg km berhak menentukan sikao
Heny
Mertua pilih kasih
Adinda
laporin aja langsung kok hak orang diambil
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
falea sezi
🤣🤣 arhan liat kelakuan emak mu
Adinda
tinggalin aja punya orang tua seperti itu,apalagi anakmu gak dianggap dan cuma dijadikan atm berjalan
Adinda
jadi selama nadira jadi istri gak dikasih nafkah yang layak semua gaji arhan buat keluarganya begitu thor
Adinda
suruh suamimu nikah lagi bu imah mungkin kamu punya anak kecil laki laki🤣🤣
Adinda
keluarga parasit takut kehilangan atm berjalan kalau arhan cerai sama nadira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!