Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pijak Pertama di Tanah Johor
Pagi harinya, rombongan Brajamukti Center yang dipimpin Mamat, Darto, dan Bowo bergerak melintasi jembatan penghubung antara Singapura dan Johor Bahru. Di sepanjang jalanan kota industri tersebut, balho-baliho besar berukuran raksasa sudah terpasang rapi di sudut-sudut strategis, menampilkan logo yayasan dan pengumuman resmi program Transformasi Industri & Komunikasi Berintegritas.
Dato' Azman menyambut mereka di sebuah aula konvensi megah di pusat Johor Bahru. Di dalam aula tersebut, lebih dari lima ratus manajer senior, kepala operasional, hingga perwakilan ikatan pedagang ritel lokal telah berkumpul dengan raut muka bercampur penasaran.
Mereka telah mendengar rekaman konferensi pers Mamat di Jakarta yang viral di media sosial. Sebagian dari mereka mengagumi keberanian Mamat, namun tidak sedikit pula manajer berpendidikan tinggi yang merasa skeptis: bagaimana mungkin seorang mantan penipu jalanan dari Indonesia bisa memberi arahan bisnis pada perusahaan multinasional?
Saat Mamat melangkah menuju podium tanpa membawa selembar pun kertas catatan, suasana aula mendadak pekat oleh ketegangan.
Mamat memandang ke sekeliling ruangan. Ia tidak menggunakan bahasa Melayu yang dibuat-buat atau istilah manajemen modern yang rumit. Ia memulai dengan nada bicara yang sangat tenang.
"Bapak dan Ibu sekalian," buka Mamat seraya tersenyum tipis. "Saya melihat di mata sebagian dari Anda ada pertanyaan: 'Apa yang bisa diajarkan oleh orang yang pernah gagal dan salah jalan kepada kita yang sukses ini?'"
Beberapa manajer berjas rapi di barisan depan tampak sedikit bergeser di kursi mereka, terkejut oleh keterusterangan Mamat.
"Saya berdiri di sini bukan untuk mengajari Anda teori akutansi atau analisis pasar," lanjut Mamat, melangkah pelan di panggung. "Saya berdiri di sini untuk membongkar kebohongan-kebohongan kecil yang biasa Anda sembunyikan di dalam laporan bulanan Anda. Kebohongan yang membuat divisi Anda saling menyalahkan, kebohongan yang membuat staf bawah takut melapor ketika ada masalah, dan kebohongan yang pelan-pelan merogoh keuntungan perusahaan ini dari dalam."
Mamat lalu menunjuk salah satu Manajer Operasional Ritel yang duduk di barisan ketiga—seorang pria paruh baya yang tampak tegang sejak awal acara.
"Bapak yang berbaju biru," panggil Mamat ramah. "Di divisi Anda, berapa banyak masalah keterlambatan stok barang yang tidak dilaporkan ke jajaran direksi bulan lalu karena takut bonus tahunan Anda dipotong?"
Pria berbaju biru itu melotot kaget, wajahnya mendadak pucat pasi! Pertanyaan Mamat yang begitu presisi seolah-olah Mamat telah membedah pembukuan internal divisi tersebut dalam sekali pandang!
Para peserta di dalam aula seketika gempar dan kasak-kusuk! Mamat memanfaatkan intuisi tajamnya yang terasah di jalanan—kemampuan membaca bahasa tubuh, ketegangan otot wajah, dan keraguan mata seseorang—yang dipadukan dengan data awal dari Dato' Azman, untuk langsung menohok titik krisis terbesar perusahaan tersebut.
Dato' Azman yang duduk di barisan VIP terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Luar biasa... Dia langsung memotong akar masalahnya dalam hitungan menit."
selama tiga jam berikutnya, Mamat memimpin sesi pembongkaran hambatan komunikasi dengan cara yang sangat manusiawi. Ia tidak menghakimi para manajer yang berbuat salah, melainkan memberi jalan keluar yang realistis: membangun sistem pelaporan yang jujur tanpa rasa takut dihukum secara membabi buta.
Sementara Mamat fokus menuntaskan program pelatihan di Malaysia, di Indonesia gerakan Brajamukti Center terus menjangkau pelosok-pelosok yang selama ini tak tersentuh bantuan pemerintah maupun lembaga swasta.
Di pedalaman Malinau, Kalimantan Utara, tim ekspedisi yang dipimpin alumni akademi berhasil memfasilitasi pembentukan Koperasi Tani Kakao Mandiri. Petani-petani lokal dari suku Dayak yang sebelumnya selalu menjual hasil panen kakao mereka dengan harga amat murah kepada pedagang perantara nakal, kini memiliki akses penimbangan digital yang jujur dan rantai penjualan langsung ke pabrik pengolahan di Makassar.
Di pesisir Sumbawa, tim akademi berhasil mendirikan pusat pengolahan rumput laut berbasis masyarakat yang mampu menyerap ratusan tenaga kerja pemuda lokal yang sebelumnya menganggur dan terjerat judi daring.
Kabar-kabar keberhasilan dari lapangan itu mengalir setiap hari ke meja kerja Darto di Umalas melalui laporan digital. Darto yang kini mengelola sistem manajemen dana dan logistik yayasan secara ketat memastikan tidak ada satu sen pun dana yang melenceng dari peruntukannya.
Suatu sore di kantor Umalas, Darto sedang memeriksa laporan dari tim Malinau ketika Bowo melangkah masuk membawa sepucuk surat dinas berstempel lambang Garuda Emas dari Istana Negara di Jakarta.
"To! Ada kiriman surat kilat khusus dari Sekretariat Negara!" seru Bowo dengan napas agak terengah.
Darto menerima surat tersebut, membuka segelnya dengan hati-hati. Saat membaca isi surat tersebut, mata Darto mendadak membelalak lebar!
"Wo... panggil Mamat sekarang! Bikin jadwal kepulangan dari Malaysia besok pagi!" seru Darto penuh kejutan.
"Ada apa, To?!" tanya Bowo panik.
"Presiden meminta Mamat dan Brajamukti Center untuk menjadi Dewan Pertimbangan Nasional Pendampingan Ekonomi Rakyat! Presiden mau sistem Akademi kita diterapkan secara resmi di sepuluh ribu desa tertinggal di seluruh Indonesia!"
Tiga hari kemudian, di Gedung Utama Istana Merdeka, Jakarta.
Mamat, Darto, dan Bowo melangkah menyusuri koridor berlantai marmer putih yang megah. Mamat mengenakan kemeja batik tulis halus motif parang berwarna cokelat gelap buatan perajin Kalisari, dipadukan dengan celana kain hitam rapi.
Di dalam ruang audiensi utama, Presiden Republik Indonesia didampingi oleh Menteri Koperasi, Menteri Desa, serta beberapa menteri kabinet lainnya telah menunggu.
Saat Mamat melangkah masuk, Presiden berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangan dengan senyuman yang hangat.
"Selamat datang, Pak Eko Prasetyo," sapa Presiden ramah seraya menjabat tangan Mamat erat-erat. "Saya dan para menteri telah mengikuti perjalanan Anda dan Brajamukti Center. Apa yang Anda lakukan di Bali, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Malaysia adalah contoh nyata dari ekonomi kerakyatan yang memiliki jiwa."
Mamat membungkukkan badannya dengan penuh takzim dan kerendahan hati. "Terima kasih banyak atas kehormatan ini, Bapak Presiden. Namun keberhasilan ini bukanlah milik saya pribadi, melainkan milik ribuan alumni akademi dan warga desa yang berani memilih jalan kejujuran."
Presiden mengangguk-angguk terkesan. Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam tersebut, Mamat tidak memamerkan teori-teori tinggi. Ia memaparkan masalah-masalah riil di lapangan secara blak-blakan: maraknya praktik perasan tengkulak, minimnya literasi keuangan rakyat, hingga bahaya laten pinjaman daring dan judi yang merusak mental anak muda di desa.
"Bapak Presiden," kata Mamat dengan intonasi yang tegas namun santun. "Rakyat kecil di desa itu tidak butuh bantuan sosial yang sifatnya cuma sementara. Mereka butuh pendampingan yang berkelanjutan—orang-orang yang mau tinggal bersama mereka, mengajari mereka cara mengelola keuangan dengan jujur, dan melindungi mereka dari para pemerah modal."
Presiden menepuk meja pelan seraya menatap para menterinya. "Dengarkan itu, Para Menteri. Ini arahan langsung dari lapangan. Saya ingin kementerian kalian bekerja sama penuh dengan Brajamukti Center untuk mereplikasi sistem Akademi Pendamping Rakyat ini ke seluruh pelosok tanah air!"
Setelah menyelesaikan urusan kedinasan di Jakarta, Mamat meminta Darto dan Bowo untuk mengatur perjalanan mudik ke Kampung Kalisari. Mamat merasa ada satu tugas moral terakhir yang harus ia tuntaskan di tanah kerahirannya tersebut sebelum melangkah lebih jauh ke panggung nasional.
Sore itu, bus pariwisata yang membawa rombongan Mamat memasuki gerbang Desa Kalisari. Suasana desa tampak sangat meriah. Bendera-bendera kecil dan umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan desa.
Di halaman Balai Desa yang baru dan megah, ratusan warga telah berkumpul. Pak Bintoro, Pak RT Sugino, Bu Tejo, Pak Sastro, Mbak Wiwin, hingga Mbah Jambrong dan Jumadi duduk di kursi undangan terdepan.
Saat Mamat turun dari bus, warga memberikan tepuk tangan meriah yang bergemuruh! Anak-anak sekolah menyanyikan lagu selamat datang, sementara para ibu-ibu PKK sibuk menyiapkan hidangan kuliner lokal.
Mamat melangkah menuju panggung utama, menjabat tangan para sesepuh desa satu per satu dengan derai air mata haru yang tak mampu ditahannya lagi.
Di atas panggung, Mamat berdiri memandangi seluruh warga Kalisari.
"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan seluruh warga Kalisari yang saya cintai..." suara Mamat agak bergetar saat memegang mik. "Di tempat inilah, bertahun-tahun lalu, saya lahir sebagai seorang pengangguran yang tidak berguna. Di desa ini pula, saya pernah membuat resah semua orang gara-gara kebohongan dan petasan banting saya."
Warga tertawa kecil bercampur haru mendengarkan kepolosan Mamat.
"Hari ini," lanjut Mamat seraya merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah dokumen resmi. "Saya membawa dokumen pendirian Dana Abadi Pendidikan & UMKM Kalisari senilai lima miliar rupiah dari keuntungan yayasan kita. Uang ini bukan milik Mamat pribadi, tapi milik seluruh warga Kalisari! Mulai hari ini, tidak boleh ada lagi anak Kalisari yang putus sekolah, tidak boleh ada warga yang terjerat pinjol, dan tidak boleh ada lagi pemuda yang terpaksa menipu gara-gara tidak punya pekerjaan!"
Sorak-sorai dan tangis haru warga pecah di seluruh halaman balai desa! Bu Tejo dan Mbak Wiwin tampak mengusap air mata bahagia mereka dengan selendang, sementara Pak Bintoro menepuk pundak Pak RT Sugino dengan bangga.
Mbah Jambrong yang duduk di kursi rodanya mengacungkan tongkat kayunya ke udara seraya berteriak dengan suara seraknya, "MAMAT! KAMU BENERAN DUKUN SAKTI! SAKTI HATI DAN KERAJINANMU!"
Seluruh warga tertawa terpingkal-pingkal mendengar teriakan Mbah Jambrong, menyatukan seluruh kenangan pahit dan manis masa lalu dalam balutan persaudaraan yang tak akan pernah terputus.
Malam harinya, setelah pesta syukuran desa usai dan warga mulai kembali ke rumah masing-masing, Mamat berjalan sendirian menuju pekarangan belakang rumah lamanya yang kini telah direnovasi menjadi taman bacaan anak-anak desa.
Ia duduk di atas bangku kayu bawah pohon mangga, memandangi langit malam Kalisari yang bertabur bintang jernih tanpa polusi.
Darto dan Bowo melangkah mendekat dari arah jalan desa, membawa dua botol minuman soda dingin dan menduduki bangku di samping Mamat.
"Mat..." panggil Darto pelan, menyerahkan botol minuman. "Semua mimpi kita waktu tidur berimpitan di kamar kontrakan dulu... rasanya sudah terwujud semua ya?"
Bowo mengangguk mantap, menatap langit. "Malah jauh melebihi apa yang pernah kita bayangkan dalam mimpi paling gila sekalipun."
Mamat menyesap minumannya perlahan, menikmati kedamaian malam desa kelahirannya.
"Semua ini bukan mimpi kita bertiga saja, To, Wo," kata Mamat dengan suara yang sangat lembut dan tenang. "Ini adalah bukti dari janji alam semesta: bahwa ketika manusia yang paling rusak sekalipun berani jujur, mau belajar dari kesalahannya, dan mendedikasikan sisa hidupnya buat orang lain, jalan kebaikan itu akan terbuka tanpa batas."
Mamat memandangi dua sahabat sehidup-sematinya itu, menyunggingkan senyum tulus yang paling indah dalam hidupnya.
Perjalanan panjang Mamat dari seorang pengangguran kecanduan pinjol di Kalisari, menjadi dukun gadungan di kota, motivator tersohor di Jakarta, hingga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan nasional telah mencapai muara yang paling sempurna.
Di bawah naungan bintang-bintang Kalisari yang menjadi saksi bisu awal perjalanannya, Mamat telah menemukan sejatinya pencerahan jiwa: sebuah kehidupan yang murni, jujur, dan terus mengalirkan kemanfaatan abadi bagi seluruh rakyat Nusantara.