Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-4 Memberi Tumpangan
Jam di pergelangan tangan Damian menunjukkan pukul 22.00.
Hari yang panjang. Operasi berjalan lancar, tidak ada komplikasi berarti. Rutinitasnya sama seperti biasa. Kerja, operasi, rapat, pulang. Semuanya terasa monoton.
Damian duduk di balik kemudi mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, dan pikirannya melayang ke hal-hal lain.
Hidupnya yang tenang, tertata, dan bebas dari drama. Seharusnya.
Sampai ia melihat SEORANG GADIS DI TENGAH JALAN, melambai-lambaikan tangan dengan wajah putus asa.
Amora.
Damian mengerutkan kening.
"Apa lagi sekarang?" gumamnya.
Ia melihat sekilas keadaan sekitar. Jalanan sepi, beberapa kendaraan melintas, tapi tidak ada yang berhenti.
Amora tampak putus asa, berdiri di sebelah motor bututnya yang tampak mati total.
Damian menghela napas panjang, lalu meminggirkan mobilnya. Bukan karena dia peduli. Tapi karena ia penasaran.
Damian membuka jendela. "Ada masalah?" tanyanya datar.
Amora langsung menoleh. Matanya berbinar penuh harapan.
"Dokteeer!" serunya dramatis, seperti baru menemukan oasis di padang pasir.
Damian nyaris menyesal sudah berhenti.
"Kenapa kamu ada di tengah jalan begini?"
Amora menggaruk kepala, lalu menunjuk motornya yang benar-benar sekarat.
"Bensin habis," katanya muram.
Damian mengangkat alis. "Kamu tidak lihat indikator bensin?"
Amora merengut. "Ya lihat! Tapi indikatornya pun tidak berfungsi. Jadi, pakai ilmu kira-kira saja. Aku kira masih bisa tahan sampai rumah!"
Damian memijit pelipisnya. "Dan sekarang kamu kehabisan bensin… tanpa uang?"
Amora mengangguk pelan. "Hehe… Iya."
Damian terdiam, menatapnya lama. Setelah hari panjang di rumah sakit, ini bukan pemandangan yang ia harapkan.
"Jadi kamu berharap ada orang baik hati yang berhenti dan membantu?" tanyanya dengan nada skeptis.
Amora mengangguk penuh harapan. "Iya! Dan lihatlah! Ternyata Tuhan masih menyayangi aku karena mengirim dokter tampan untuk menyelamatkan aku dari tragedi ini!"
Damian mendesah. "Jangan lebay."
"Tapi serius, Dok! Dari tadi tidak ada yang mau berhenti! Aku kira aku bakal bermalam di sini!" Amora pun mendadak bicara santai seperti sudah kenal lama dengan Damian.
Damian melirik jam tangannya. Ia bisa saja pergi, membiarkan gadis ini mencari solusi sendiri. Tapi ia tidak tega.
Sial.
"Ayo masuk."
Amora berkedip. "Hah?"
"Aku antar kamu beli bensin."
Mata Amora langsung berbinar seperti anak kecil yang ditawari es krim gratis. Tanpa ragu, ia langsung naik ke mobil Damian.
"Tapi aku tidak ada uang, Dok," katanya pelan.
Damian menatapnya dingin. "Aku sudah menduga."
Amora cengengesan. "Boleh utang dulu?"
Damian menghela napas. "Kapan kamu bayar?"
"Saat aku kaya!"
Damian ingin banting setir.
Damian menekan gas, mobilnya melaju dengan mulus meninggalkan motor Amora yang ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.
Suasana di dalam mobil hening.
Sampai Amora mulai berulah.
"Dokter…"
"Hm?"
"Kok mobil dokter dingin banget, ya?"
Damian melirik sekilas. "Karena AC-nya nyala?"
Amora meringkuk kecil. "Tapi dinginnya beda. Seperti… aura dingin dari dokter juga menambah suasana semakin beku."
Damian menghela napas. "Kalau dingin, kenapa tidak pakai jaket?"
"Aku lupa bawa."
"Terlalu banyak hal yang kamu lupa hari ini."
Amora manyun. "Aku tuh bukan pelupa, cuma kadang over percaya diri. Tadi aku yakin bensin masih cukup, ternyata… ya gitu deh."
Damian menekan pelipisnya. Ia tidak terbiasa menghadapi orang seperti Amora—terlalu banyak bicara, terlalu ceroboh, tapi entah kenapa tetap menghibur.
"Dok?"
"Hm?"
"Dokter ini orang kaya, ya?"
Damian meliriknya sekilas. "Kenapa tanya begitu?"
Amora mengangkat bahu. "Mobil dokter keren, baju dokter selalu rapi, terus… sepertinya dokter tidak punya masalah hidup. Pasti hidupnya enak banget, kan?"
Damian terdiam sesaat.
Tidak ada yang pernah bertanya seperti itu padanya.
Atau lebih tepatnya, tidak ada yang cukup berani.
"Hidupku biasa saja."
Amora meliriknya curiga. "Yakin? Masa dokter tidak punya masalah?"
Damian tidak menjawab.
Masalah? Ia punya. Mantan istri yang selingkuh saat ia bertugas di daerah konflik. Perceraian yang dingin dan tanpa perasaan.
Hidupnya yang kini terasa monoton, hanya diisi pekerjaan dan kesepian yang tidak pernah ia akui.
Tapi, tentu saja, ia tidak akan menceritakan itu semua pada gadis ceroboh ini.
"Apa pun masalahnya, dokter pasti bisa atasi. Aku yakin!" kata Amora tiba-tiba, tersenyum lebar.
Damian menoleh sebentar.
Gadis ini… sungguh terlalu cerah.
Seakan hidupnya tidak punya beban, meskipun ia baru saja kehabisan bensin dan tidak punya uang.
"Kenapa kamu begitu optimis?" tanya Damian akhirnya.
Amora tertawa kecil. "Karena kalau aku tidak optimis, hidup bakal tambah susah!"
Damian terdiam. Jawaban itu sederhana, tapi entah kenapa terasa benar.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di pom bensin.
"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Damian.
Amora tersenyum malu. "Yang paling murah saja. Satu liter juga sudah cukup, Dok."
Damian menatapnya sebentar, lalu memutuskan membeli satu jerigen penuh.
Amora ternganga. "Dok, segitu banyak? Aku cuma butuh buat sampai rumah!"
"Kalau begitu, sisanya untuk besok dan lusa," jawab Damian santai.
Mata Amora berbinar. "Wah, dokter baik banget! Beneran bisa utang dulu, ya?"
Damian menghela napas panjang. "Kapan kamu bayar?" tanya lagi.
Amora tersenyum lebar. "Saat aku kaya!"
Damian merasa menyesal sudah bertanya.
Setelah membeli bensin, Damian mengantar Amora kembali ke motornya.
Saat Amora menuangkan bensin ke tangki, Damian bersandar di mobilnya, melipat tangan sambil mengawasi.
"Dok?"
"Hm?"
"Kenapa dokter mau nolong aku?"
Damian menghela napas. "Karena kalau aku tidak menolong, kamu mungkin akan begadang di pinggir jalan, dan aku tidak mau melihat berita besok pagi tentang seorang gadis yang menyetop mobil orang asing lalu diculik."
Amora mengedip. "Oh, dokter peduli sama aku?"
Damian menatapnya datar. "Aku peduli pada berita kriminal, bukan pada kamu."
Amora ngakak. "Jawaban dokter ini dingin banget! Tapi… makasih, ya."
Damian hanya mengangguk.
Setelah memastikan motor Amora bisa menyala lagi, Damian kembali masuk ke mobilnya.
Sebelum ia pergi, Amora melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan, Dok!"
Damian hanya melirik sebentar, lalu melaju pergi.
Saat ia melihat Amora mengecek motornya dengan wajah puas dari kaca spion, tanpa sadar, ujung bibirnya sedikit terangkat.
Mungkin malam ini tidak sepenuhnya buruk.
*******
Amora tiba di rumah dengan tubuh lelah, tetapi begitu melihat adiknya, rasa lelah itu langsung menguap.
Azka, bocah SMP berusia 14 tahun, duduk di teras rumah dengan kursi rodanya. Tatapan matanya yang biasanya berbinar kini terlihat muram.
"Azka… belum tidur?" tanya Amora, mendekat dan berjongkok di depannya.
Azka menunduk. "Aku menunggu Kakak…"
Amora mengusap lembut tangan adiknya. "Kenapa?"
Azka menggigit bibirnya, lalu berkata pelan, "Ayah pulang… mabuk."
Amora menghela napas panjang. Lagi.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, menatap adiknya penuh khawatir.
Azka menggeleng. "Ayah cuma teriak-teriak… terus banting gelas di dapur."
Amora mengepalkan tangan. Sial.
"Ayah di mana sekarang?"
Azka mengedikkan bahu. "Kayaknya udah tidur."
Amora berdiri. "Kamu sudah makan?"
Azka tersenyum kecil. "Sudah. Aku masak sendiri tadi."
Amora menatapnya penuh perasaan. Di usia yang masih muda, Azka sudah terlalu mandiri. Padahal, seharusnya ia bisa menikmati masa kecilnya tanpa perlu menghadapi kenyataan pahit.
Amora memperhatikan adiknya yang tidak seperti anak-anak lain pada umumnya. Azka lahir dengan cerebral palsy, gangguan saraf yang membuat gerakan dan koordinasi tubuhnya terganggu.
Azka masih bisa berdiri, meskipun tubuhnya tidak sepenuhnya tegak dan keseimbangannya sering goyah. Jika berjalan, langkahnya kaku dan tidak stabil, sehingga ia lebih sering menggunakan kursi roda untuk menghindari kelelahan.
Bicara pun tidak selalu mudah bagi Azka. Kadang suaranya terdengar samar atau kata-katanya sulit dipahami, terutama saat ia terlalu lelah atau gugup. Tapi Amora selalu berusaha mendengar dan mengerti setiap kata yang keluar dari mulut adiknya.
Melihat Azka seperti ini, Amora semakin merasa bertanggung jawab.
"Kakak masuk dulu, ya," kata Amora, mencium puncak kepala adiknya sebelum berjalan masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk, bau alkohol langsung menyengat.
Di ruang tamu, ayahnya tergeletak di sofa dengan kondisi berantakan. Kemejanya kusut, wajahnya merah, dan botol kosong berserakan di meja.
Amora mengepalkan tangan.
Ini bukan pertama kalinya.
Sejak usahanya bangkrut dan ibunya meninggal, ayahnya semakin parah. Ya, meskipun memang ayahnya sejak dulu suka mabuk dan judi tapi setidaknya ayahnya masih mau bekerja dan menafkahinya. Entahlah, Amora merasa hidupnya tidak pernah bahagia apalagi sejak ibunya meninggal, bebannya semakin bertambah saat melihat ayahnya yang tidak pernah berubah. Yang ada semakin parah dan semakin menggila juga malas. Dulu, pria paruh baya itu seorang pekerja keras, penyayang, dan bertanggung jawab. Sekarang? Ia lebih sering pulang dalam keadaan mabuk, menghamburkan uang yang tidak mereka miliki, dan mengabaikan anak-anaknya.
Amora melangkah mendekat, menatap pria yang dulu sangat ia hormati.
"Ayah…" panggilnya pelan.
Tidak ada respons.
"Ayah, bangun. Tidur di kamar."
Laki-laki itu bergumam tidak jelas, lalu menggerakkan tangan untuk mengusir Amora seperti lalat.
Amora mendesah. Percuma. Ia memungut botol kosong, membuangnya ke tempat sampah, lalu menutup meja dengan kain seadanya. Setidaknya, Azka tidak perlu melihat ini besok pagi.
Matanya tiba-tiba memanas.
Ia lelah.
Kenapa harus begini?
Amora ingin menyerah, ingin berteriak, ingin menangis. Tapi ia tahu, tidak ada gunanya.
Jadi, ia hanya menghela napas panjang, lalu beranjak ke kamar.
Besok, ia harus bangun pagi-pagi. Hidup harus terus berjalan.