Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. Luka Lama
Braakkk!
Suara gelas yang sengaja dilemparkan ke dinding itu hancur berhamburan. Serpihan tajamnya berserakan di atas lantai, cukup untuk membuat siapa pun enggan menyentuhnya dengan tangan kosong.
Namun, tidak bagi gadis kecil yang sedang meringkuk tepat di sebelah pecahan gelas itu. Kepalanya baru saja lolos dari amukan sang ayah.
"ANAK DURHAKA! Cuma minta seratus ribu saja kamu tidak dapat, bodoh! Lain kali kalau mengemis, jangan pakai baju bagus!"
Bentakan melengking itu menghantam tepat di telinga si gadis kecil. Jemari mungilnya yang gemetar perlahan menyentuh serpihan tajam di lantai. Namun, sebelum jemarinya sempat meraih pecahan itu, sebuah tendangan keras lebih dulu mendarat di tangan mungilnya.
Tak ada jeritan. Tak ada tangisan. Ia hanya diam, meringkuk pasrah seperti gundukan kain tak bernyawa.
"Cukup! Dia anakmu!" Suara gemetar seorang wanita baru terdengar beberapa saat kemudian.
Suara itu berasal dari ibunya, setelah beberapa saat kembali sehabis mencari pertolongan yang sia-sia. Tak ada siapa pun di sekitar tempat tinggal mereka. Hanya ada sebuah gubuk yang terisolasi di tengah lebatnya pepohonan dan semak belukar.
"DIA BUKAN ANAK SAYA! KAMU HAMIL SAMA ORANG GILA!"
Lagi-lagi, kalimat itu terngiang. Pertengkaran orang tuanya adalah makanan sehari-hari yang mulai membuat telinganya muak. Sering kali, tangan kecilnya berkali-kali menarik telinganya sendiri, berharap suara kencang di luar sana bisa sirna.
Tangan mungil yang dipenuhi luka goresan itu nyaris membusuk. Anak seusianya harusnya duduk di bangku sekolah, tertawa dan bermain bersama teman sebaya.
Aura Clarissa. Ia tidak pernah tahu mengapa harus dilahirkan ke dunia, apalagi membawa nama indah yang sama sekali tidak mencerminkan kemiskinan hidupnya.
Setiap pagi, tubuh ringkih itu harus melangkah tanpa arah, mencari kepingan rupiah agar ayahnya tak lagi mengamuk, agar ibunya tak lagi dihajar, dan agar mereka bisa melewati malam tanpa jeritan ketakutan.
.....
18 Tahun Kemudian...
Brakkk...
Botol wine kosong dihentakkan ke atas meja kaca. Itu adalah botol kelima yang dihabiskannya malam ini, tetapi guratan senyum manis di wajah cantiknya belum juga luntur. Tatapannya tetap jernih, ia sama sekali tak terlihat mabuk.
"Clara, hebat juga kamu... Demi uang receh begitu, rela minum sebanyak ini," celetuk salah seorang pria di sana.
Meja bundar itu diisi oleh lima orang. Tiga di antaranya adalah pengusaha kaya yang sedang haus hiburan malam, sedangkan satu wanita lainnya adalah Rose, sahabat Clara.
"Sudahlah, Bos. Kasih saja uangnya... Jangan dipegang terus tangan Clara," ujar Rose sembari melirik nakal ke arah jemari sahabatnya.
Clara tersenyum. Senyum tenang, matang, dan penuh kepalsuan. Senyuman khas yang biasa ia berikan kepada siapa saja yang sanggup membayar mahal waktunya.
Sentuhan fisik baginya bukan lagi masalah. Ia tahu betul berapa harga dari setiap inci kulitnya yang tersentuh.
"Bos Andri, kemarin lima belas juta. Kali ini, plus sentuhan manis ini... cukup dua puluh lima juta saja. Saya kasih diskon," bisik Clara manja tepat di telinga pria di sampingnya.
Pria bernama Andri itu tertawa puas, lalu perlahan melepas genggamannya. Pria setengah baya dengan setelan jas mahal tipe suami kaya raya yang selalu mencari celah pelarian dari rumah. Dan Clara adalah tempat berlangganan favoritnya.
"Kalau yang begini, bayar berapa?"
Tanpa peringatan, Andri menyambar bibir Clara, menekan tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciumannya. Clara tidak meronta. Ia justru menerima perlakuan itu dengan kehangatan buatan yang sempurna.
"Gila lo semua!" kekeh Rose sambil menuangkan sisa wine ke dalam gelasnya.