Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kayna berdiri di tengah reruntuhan kristal, gaun putihnya kotor, rambutnya berantakan, dan ekspresinya... ekspresinya adalah definisi sempurna dari seseorang yang baru saja diberi hadiah ulang tahun berupa tiket lotre yang ternyata kadaluarsa.
Hukuman mati... dibatalkan? Tidak ada lagi eksekusi? Tidak ada lagi kematian resmi yang tercatat oleh negara? Artinya... aku harus mati sendiri lagi dari awal?
"Yang Mulia," ucap Kayna tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit putus asa. "Apakah keputusan ini bisa dibatalkan? Maksudku, bagaimana jika aku ternyata jahat? Bagaimana jika aku mencoba membunuh Freya lagi besok? Apakah hukumannya bisa diaktifkan kembali?"
Raja tertawa, mengira Kayna sedang bercanda. "Kau sangat rendah hati, Nona Kayla! Tapi tidak, keputusanku sudah final. Kau bebas."
BEBAS? batin Kayna, merasa dunianya runtuh.
Aku tidak mau bebas! Aku mau mati! Ini bukan kebebasan, ini hukuman seumur hidup!
Adrian menatap Kayna, dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya berkedut naik. Bukan senyum penuh, hanya seulas kecil yang nyaris tidak terlihat. Tapi di mata biru itu, ada kilauan yang membuat Kayna ingin melemparkan dirinya ke dalam reruntuhan kristal.
"Ayo pulang, pahlawan," bisik Adrian, menekankan kata 'pahlawan' dengan nada yang jelas-jelas mengejek.
Kayna menatap Adrian dengan tatapan membunuh. "Aku membencimu, Tuan Duke."
"Aku tahu," balas Adrian, menuntun Kayna keluar dari ruang perjamuan dengan tangan yang masih erat di pinggangnya. "Tapi setidaknya kau masih hidup untuk membenciku."
Di belakang mereka, Freya masih terduduk di lantai, menatap punggung Kayna dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Air matanya sudah kering, dan di matanya yang biasanya penuh kepolosan, kini ada sesuatu yang gelap dan kalkulatif.
Skripnya sudah hancur total. Pahlawan wanita seharusnya menjadi pusat perhatian, bukan penjahat yang tiba-tiba menjadi pahlawan. Dan Freya tidak suka ketika panggungnya direbut.
***
Di dalam kereta kuda yang membawa mereka kembali ke kediaman Duke, Kayna duduk di pojok, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Gaun putihnya yang dulu dirancang untuk kematian kini terlihat seperti kain lap yang mahal.
Adrian duduk di seberangnya, masih dalam seragamnya yang robek. Ia tidak berbicara selama perjalanan, hanya menatap Kayna dengan tatapan yang intens dan penuh pertanyaan.
Akhirnya, saat kereta melewati gerbang kediaman Duke, Adrian membuka suara.
"Kau benar-benar mencoba menarik Freya ke bawah lampu gantung itu, bukan?" tanyanya pelan.
Kayna tidak menoleh. "Ya."
"Dan kemudian kau menyelamatkannya."
"Refleks. Tubuh ini punya pikiran sendiri. Sangat menjengkelkan."
Adrian terdiam sejenak. Lalu, dengan suara yang begitu lembut hingga Kayna hampir tidak mendengarnya di atas derit roda kereta, ia berkata:
"Aku tidak peduli apa alasanmu. Yang aku tahu adalah kau masih hidup. Dan itu sudah cukup untukku."
Kayna menelan ludahnya. Ia ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin hidup, bahwa semua ini adalah kesalahan, bahwa Adrian seharusnya membiarkannya mati di bawah lampu gantung itu.
Tapi kata-kata itu tidak keluar.
Sebaliknya, Kayna hanya menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke jendela kereta yang dingin, dan memejamkan matanya.
Besok, batinnya. Besok aku akan mencoba lagi. Mungkin dengan racun tikus. Atau tangga. Atau....
"Kayna."
Mata Kayna terbuka. Adrian memanggilnya dengan nama itu. Bukan Kayla. Kayna.
"Bagaimana kau tahu nama itu?" bisik Kayna, jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Adrian menatapnya, matanya dalam dan penuh misteri. "Kau mengigaukannya malam pertama kau tidur di kamarku. Kau berkata, 'Semoga di kehidupan selanjutnya, aku bisa menjadi anak yang dicintai.'"
Kayna membeku.
"Aku tidak tahu siapa Kayna," lanjut Adrian pelan. "Tapi aku tahu bahwa wanita itu sangat kesakitan. Dan aku berjanji..." Adrian mengulurkan tangannya, menyentuh lembut ujung jari Kayna yang dingin. "...selama kau berada di tubuh ini, di duniaku, kau tidak akan pernah merasa tidak dicintai lagi."
Kereta kuda berhenti di depan kediaman Duke. Malam itu gelap dan dingin.
Tapi untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Kayna merasa bahwa mungkin mati bukanlah satu-satunya jalan keluar.
Dan itu adalah pikiran yang paling menakutkan dari semuanya.
..gagal terus🤣