Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Arni menunjukkan setengah badannya melalui pintu mengejutkan dua bersaudara itu, sadar ia baru saja menjadi topik pembicaraan keduanya, Arni dengan sengaja masuk kedalam kamar Angga.
"Kalian sedang membicarakan ku? Aku tak sengaja mendengar kalian menyebut namaku tadi"
"Tidak sengaja mendengar? Kau yakin kau tidak sengaja mendengar pembicaraan kami?" Tanya Angga kesal.
Menyadari kalau kakaknya belum memaafkan Arni terkait masalah mereka beberapa tahun lalu, ia segera berpamitan membawa serta Arni bersamanya, saat Steven lengah Arni justru memainkan matanya padan Angga seolah ia sedang menggoda lelaki itu.
"Sayang, kenapa kau tidak menungguku dibawah saja? Kakakku tidak suka ada perempuan lain memasukinya kamarnya, Raisa sendiri yang sudah lima tahun menikah dengannya belum pernah sekalipun tidur dengannya!" Ujar Steven pada Arni sembari terus melangkah menuruni anak tangga.
"What? Belum pernah tidur bersama?" Batin Arni tersenyum.
"Kamu jangan ke lantai dua lagi ya, kalau mau istirahat lebih baik kamu istirahat dikamarku saja. Aku bisa tidur di ruang tamu nanti" ucap Steven lagi, namun Arni yang sedang melamun tak mendengar perkataan Steven.
"Berarti dugaanku benar, Angga belum bisa melupakanku. Yaaa, aku mungkin bisa diganti, tapi tidak akan bisa dilupakan, hahaha"
"Sayang"
"Sayang"
"ARNI!"
Arni terlonjak sembari menatap wajah Steven dengan tegang, sudah beberapa kali Steven mencoba memanggil namanya namun karena ia sedang melamun ia tak mendengar panggilan Steven hingga membuat lelaki itu berteriak memanggil namanya.
"Kamu melamun? Senyum-senyum begitu melamunkan apa?"
Arni menggelengkan kepala sembari melambaikan tangannya karena takut kalau-kalau Steven mengetahui isi pikirannya.
"Eummm, sayang. Sepertinya aku harus pulang bersama mamaku, siapa tahu kak Raisa kembali ke rumah, kita harus terus mencari dan menunggunya bukan?" Ucap Arni mengalihkan pembicaraan.
Lelaki dihadapannya tersebut menganggukkan kepalanya, mengingat kabar Raisa yang sampai saat ini masih menghilang ia akhirnya melepaskan tangan Arni. Begitu gadis itu dan ibunya berpamitan untuk pulang, Steven duduk termenung di teras rumah memikirkan kemana Raisa pergi selain kerumah orangtuanya juga rumah ibu sambungnya.
"Tunggu, apa Raisa pergi ke makam ayahnya? Tapi ini sudah hari ketiga dia tidak kembali kerumah, tidak mungkin kalau dia bermalam disana kan? Apa jangan-jangan dia sakit lalu seseorang menemukannya dan membawanya ke rumah sakit? Tapi karena ponselnya mati jadi dia tidak bisa menghubungi orang dirumah!" Batin lelaki ini menebak-nebak.
Seolah alam ikut mendukung acara lamunannya angin berhembus kencang menyapu permukaan kulitnya. Steven memegangi belakang lehernya karena merasa buku kuduknya berdiri.
"Jangan-jangan.... " ucapnya.
"Ahhhk, aku harus memeriksanya!" Ucapnya mengangkat tubuhnya dari atas lantai lalu berlari ke arah parkiran.
***
Di dekat pinggiran pantai berpasir putih itu sebuah kapal nelayan berhenti untuk menarik jala mereka, kabarnya disana terdapat banyak udang berukuran besar bernilai tinggi di pasaran. Indra, lelaki berusia duapuluh delapan tahun ini membantu ayahnya yang bernama Suparmin mengumpulkan udang-udang itu kedalam kapal untuk dibawa pulang.
"Pak, kita jangan langsung pulang ya. Aku mau duduk-duduk di pinggir pantai sambil bakar beberapa udangnya. Masa kita nangkap udang tapi ngak pernah dimakan, selalu dijual kepasar!"
Pak Suparmin tersenyum menatap punggung anaknya, lelaki muda itu duduk sembari merapikan kembali jala mereka sebelum ditebar kembali. Kulitnya yang putih tampak cerah saat terkena sinar matahari terlebih karena ia hanya menggunakan kaos polos berwarna putih dengan lengan pendek.
"Gimana pekerjaan mu di kota, Nak?" Tanya pak Suparmin sembari terus mengumpulkan udang-udang tadi.
Indra duduk termenung menatap air dibawah kepal mereka, melihat anaknya hanya diam saja, Pak Suparmin mengerutkan keningnya.
"Indra!"
"Eummm, iya Pak. Lancar-lancar aja, Indra pulang cuma karena kangen aja menemani Bapak nyari udang!" Jawab Indra berbohong.
"Kangen menemani Bapak nangkap udang atau kangen mau makan udang segar?"
"Hahahaha!" Kedua lelaki itu tertawa bersamaan.
Indra kembali berdiri lalu menebar jala ke perairan, sambil bersiul ia merapikan kembali pinggir-pinggiran jala agar terlihat rapi, tiba-tiba sebuah kain yang mengambang di air mengalihkan perhatiannya.
"Itu apa ya? Sampah atau... "
"Ada apa, Nak?"
"Itu Pak, lihat disana" ucap Indra menunjuk segumpalan kain yang mengambang tak jauh dari kapal mereka bersandar.
Pak Suparmin menyipitkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas segumpalan kain yang ditunjuk oleh anak laki-lakinya, menyadari kain tersebut seolah bergerak kesana-kemari lelaki itu menyalakan kembali kapalnya untuk mendekati benda yang tengah mereka perhatikan itu.
"Pak, manusia Pak!" Teriak Indra antusias.
"Benarkah?"
"Iya, Pak!"
Setelah kapal mereka berada disamping kain yang mereka perhatikan tadi, sebuah tangan muncul kepermukaan, melambai-lambai sekuat tenaganya sebelum akhirnya ia terjatuh lebih dalam kedalam air. Indra segera meloncat membuat Suparmin meneriakkan namanya dengan panik, beruntung Indra dengan sigap menarik tangan tersebut dan membawa pemilik tangan itu kedekat kapal, lelaki paruh baya itu membantu menarik keduanya masuk kembali kedalam kapal.
Seorang wanita yang sudah membiru dengan tubuh yang dingin terkulai lemas dikapal mereka, Suparmin meletakkan jarinya di leher wanita tersebut, merasakan wanita itu masih memiliki denyut nadi, ia segera menyuruh anaknya mengambil kain bersih dan kering dari tas mereka untuk menghangatkan badan wanita tersebut, mereka juga menjemur wanita ini tepat dibawah sinar matahari.
"Nak, biar Bapak saja yang mengemudikan kapal, kamu jaga dia, siapa tahu kenapa-napa!"
"Iya, Pak!"
Kapal terus berjalan menuju pemukiman penduduk hanya dalam kurun waktu dua puluh menit, Indra dan Pak Suparmin membawa wanita yang mereka temukan itu kerumah Pak RT yang kebetulan berada tak jauh dari tempat mereka menyandarkan kapal mereka, banyak warga yang merasa iba kepada wanita yang terbaring lemah itu.
"Ada apa ini?" Tanya pak RT panik saat seorang wanita dibawa ke teras rumahnya, wanita itu tampak kesulitan bernafas serta di tubuhnya terdapat banyak luka dan lebam.
"Kami menemukan wanita ini hanyut di pantai di dekat kami menjala udang Pak RT!" Jawab pak Suparmin menjelaskan.
"Benarkah, kalau begitu cepat panggil bidan desa kemari, Nak Indra ayo, tolong bawa beliau ini kedalam!" Titah pak RT kemudian.
Indra mengangguk pelan lalu dengan sigap ia menggendong wanita yang ditolongnya tadi ke dalam rumah pak RT, beruntung pak RT memiliki anak gadis seusianya untuk membantu wanita yang tengah terbaring itu mengganti pakaiannya.
Selang beberapa menit kemudian seorang bidan desa datang kerumah pak RT untuk memeriksa keadaan wanita tersebut juga memberikan perawatan pada luka-luka ditubuhnya juga sebuah cairan infus yang dapat membantu pemulihan wanita itu turut diberikan. Melihat terdapat beberapa lebam dan bekas luka lama ditubuh wanita yang baru saja dirawatnya tersebut bidan itu berdiri lalu mengajak pak RT untuk berbicara.
"Saya rasa wanita ini korban kekerasan Pak RT, melihat bagaimana banyaknya luka di sekujur tubuhnya!" Ucapnya memberitahu pak RT.
"Benarkah? Mungkin saja luka-luka itu karena dia sudah lama di air, atau terbentur ke bebatuan atau di serang hewan-hewan di air" balas pak RT menduga-duga.
Bidan itu menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia tidak setuju dengan dugaan pak RT.
"Mari ikut saya sebentar!" Ucap bidan tersebut mengajak pak RT, Indra dan pak Suparmin untuk melihat wanita yang mereka rawat itu.
Ia menarik tangan kiri wanita tersebut, menunjukkan beberapa bekas luka yang sudah mengering bersama dengan bekas luka yang lain, dan tentu saja luka tersebut berbeda dengan luka yang baru saja dibersihkannya, luka yang masih baru dan segar tersebut.
Indra menganggukkan kepalanya.
"Iya pak RT, saya juga berfikir kalau wanita ini merupakan korban kekerasan, mungkin saja beliau kabur dan berakhir terdampar di pinggir pantai!" Ucapnya.
Kebeningan mendadak mencuri waktu mereka, pak RT tampak sedang berfikir bagaimana cara mereka membantu wanita itu menemukan keluarganya.
"Begini saja Pak RT, bagaimana kalau sembari kita menunggu beliau sadar, kita bagikan fotonya di media sosial agar lebih cepat menemukan keluarganya!" Usul Indra.
"Baiklah, lakukan seperti itu, saya juga akan meminta bantuan polisi untuk mencari tahu data dirinya!" Jawab pak RT menyetujui usulan Indra.